Semiotika Ferdinand D. Saussure
Masyithah Mardhatillah (07530003)
A. Pegantar
Secara garis besar, semiotika bisa diartikan sebagai salah satu cabang linguistik yang secara khusus mengkaji tanda yang telah memasyarakat dalam kehidupan manusia. Seorang ahli bahasa kenamaan, Saussure, telah sejak dahulu menyadari bahwa bahasa komunikasi antar sesama manusia ataupun antar manusia dengan lingkungannya tidak hanya terbatas pada tradisi oral saja, akan tetapi juga meliputi tradisi tulisan, gerak tubuh, dan lain sebagainya yang berwujud tanda untuk mengungkapkan suatu maksud tertentu.
Dalam hidup keseharian, dari wilayah paling privat hingga wilayah paling publik sekalipun, kita sangat sering menjumpai tanda-tanda, semisal tanda lalu lintas, rute jalur, petunjuk-petunjuk di tempat umum, dan lain sebagainya. Karena sifatnya yang selalu dinamis dan cenderung berbeda antarkomunitas, maka para ahli bahasa menginisiasi adanya suatu cabang linguistik yang khusus mengkaji persoalan tanda. Salah satu tujuan utama dari disiplin ilmu ini adalah mensistemasi konsep-konsep dan segala hal yang berhubungan dengan tanda agar sebuah tanda tertentu tidak disalahpahami dan bisa menunjukkan maksud yang ingin disampaikan.
Tanda merupakan bagian kehidupan yang memiliki dua mata pisau. Adakalanya, tanda bisa amat sangat membantu manusia (jika manusia benar-benar memahami maksud yang direpresentasikan di balik tanda), atau juga bisa malah menyesatkan manusia (misalnya dalam kasus ketika manusia salah memahami tanda). Sebab itulah tidaklah mengherankan jika seorang tokoh bernama Umberto Eco mendefinisikan semiotika sebagai sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta. Objek penelitian semiotika adalah tanda yang sangat rentan untuk disalahpahami. Sebab itulah, disiplin ilmu semiotika menjadi sebuah keniscayaan di tengah kehidupan yang sudah memakai tanda sebagai bagian tak terpisahkan.
B. Biografi Saussure
Ferdinand D. Saussure (1857-1913) adalah ilmuwan yang pertama kali mengenalkan istilah semiotika melalui dikotomi sistem tanda, yakni signifed dan signifier. Pada masa hidupnya, Saussure belum secara sistematis merumuskan konsep-konsep linguistik (termasuk semiotika) yang kemudian mengabadikan namanya ini. Dua tahun setelah Saussure meninggal dunia, dua muridnya berinisiasi untuk mengumpulkan bahan-bahan kuliah yang diberikan Saussure selama mengajar di Universitas Jenewa. Nama Saussure senyatanya melambung tinggi berkat buku yang tidak pernah sengaja ditulisnya tersebut, yakni Course in General Linguistic
Ilmuan yang juga disebut sebagai peletak dasar linguistik modern ini lahir di Jenewa pada 26 November 1857 dari keluarga Prostestan yang beremigrasi dari Perancis menuju Lorraine. Bakat dan ketertarikan Saussure terhadap bahasa sudah tampak sedari ia kecil. Hal ini misalnya terlihat ketika usianya 15 tahun, Saussure muda telah menulis esai “Essai sur les Languanges”. Ia pun kemudian memilih kajian Bahasa sebagai bidang yang ditekuninya ketika menjadi mahasiswa ataupun telah menjadi dosen.
C. Pokok-Pokok Pemikiran Saussure
Saussure memiliki ketertarikan untuk menggagas dasar-dasar semiotika karena ia berpandangan bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda kebahasaan, yang biasa disebut juga kata-kata. Kata-kata yang sudah menjadi udara dalam kehidupan manusia, bagi Saussure, merupakan tanda-tanda linguistik yang memiliki referen tertentu. Tanda-tanda linguistik yang muncul dalam bentuk kata dan kalimat (baik tradisi tulis. tradisi verbal, maupun dalam bentuk-bentuk lain) masih mungkin disalahpahami. Sebab itulah ia kemudian tergerak untuk menggagas konsep mengenai tanda yang kemudian menjadi pijakan dasar ilmu semiotika.
Dalam masterpiece-nya, Course in General Linguistics, Saussure mendefinisikan semiotika sebagai ilmu yang mempelajari struktur, jenis, tipologi, serta relasi-relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat. Dari definsi tersebut, dapat diketahui bahwa objek material ilmu semiotika adalah tanda. Sedangkan fokus area pembelajaran dalam ilmu semiotika ada tiga, yakni (hakikat) tanda, sistem yang mengaturnya, dan budaya di mana tanda tersebut berada. Bagi Saussure, bahasa bukanlah satu-satunya sistem tanda yang dipakai dalam masyarakat, sebab masih ada sistem tanda lain yang muncul bersama dengan perkembangan zaman, seperti lampu lalu lintas berwarna merah untuk berhenti, hijau untuk jalan terus, gerak tubuh dan isyarat bagi penyandang cacat, dan lain sebagainya.
Bisa jadi, karena pandangannya mengenai tanda yang dinamis ini, Saussure memiliki ketertarikan khusus untuk mengkaji tanda-tanda yang hidup dalam masyarakat. Tanda yang menjadi objek material dalam disiplin semiotika adalah tanda yang memenuhi dua kualifikasi, yakni tanda yang dapat diamati dan tanda yang menunjukkan sesuatu yang lain. Kualifikasi pertama berarti bahwa tanda yang menjadi objek material dalam semiotika adalah tanda yang konkret atau terindra, sedangkan kualifikasi kedua berarti bahwa tanda harus memiliki acuan terhadap sesuatu yang lain (untuk menyampaikan suatu maksud) yang bukan merupakan tanda itu sendiri.
Secara general, pokok-pokok pemikiran Saussure tersaji dalam eksplorasi-eskplorasi yang bersifat dikomotik dan distingtif. Dalam hal ini, ada beberapa pokok kajian yang menjadi titik tekan pembahasan Saussure, di antaranya adalah penanda dan petanda, langange, parole, dan langue, serta metode sinkroni dan diakroni. Dengan tiga konsep—yang ternyata tidak hanya dipakai dalam studi bahasa ini—Saussure ingin mengemukakan bahwa bahasa merupakan sistem yang masing-masing komponennya memiliki keterkaitan dan keterikatan serta saling mempengaruhi. Gagasan inilah yang kemudian membidani lahirnya aliran strukturalisme dalam dunia filsafat.
Konsep distingtif pertama yang ditawarkan Saussure adalah mengenai signified (penanda) dan signifier (petanda). Keduanya merupakan dua unsur yang membentuk tanda. Penanda (signifier) adalah aspek material bahasa, yakni bahasa tulis maupun lisan yang digunakan untuk menggambarkan sebuah benda (bisa berupa suara, huruf, gambar, bentuk, dan gerak). Sedangkan konsep dan penjabaran deskriptif mengenai sebuah benda dikatakan petanda (signifier). Sebagai misal ketika seseorang mengatakan “buku”, maka suara yang memperdengarkan kata “buku” dan didengar oleh orang lain merupakan penanda, sedangkan konsep buku sebagai alat untuk menulis atau bahan bacaan merupakan petanda. Adapun benda yang disebut buku, yang merupakan objek, maka disebut referen.
Bagi Saussure, berkumpulnya penanda dan petanda yang mengarah pada suatu benda tertentu merupakan syarat suatu hal bisa dikatakan tanda. Adanya hubungan antara penanda dan petanda kemudian dinamakan signifikasi yang juga menghasilkan makna. Penanda dan petanda merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Akan tetapi, seperti yang dijelaskan Saussure, hubungan antara penanda dan petanda merupakan hubungan yang arbitrer, dalam artian tidak bisa ditelusuri mengapa sebuah penanda harus memiliki petanda tertentu. Karena bersifat arbitrer (semena-mena, tidak dapat ditelusuri asal-usulnya dengan logika), maka tidak ada alasan yang bisa diberikan mengapa binatang berkaki empat yang biasa digunakan sebagai alat transportasi bisa dinamakan kuda, bukan kambing atau sapi. Meski tidak dapat ditelusuri asal-usulnya, tanda yang arbitrer tersebut tetap bisa dipahami oleh semua orang.
Selain mengenai konsep penanda dan petanda, konsep lain yang digagas Saussure adalah konsep mengenai langange, langue, dan parole. Langange adalah ujaran yang mencakup parole (sisi individu dari pribadi penutur) serta langue (kaidah, tata bahasa, dan gramatikal). Sebagai misal, kata mareriil adalah langange karena memuat dua hal, pertama, kata ini sudah lumrah diucapkan dalam masyarakat, kedua, kata tersebut memiliki keterkaitan dengan kaidah gramatika bahasa, yakni memiliki kendala yang membuatnya tidak memeuhi tata gramatika bahasa bahasa, dalam hal ini EYD. Sebab inilah, Saussure kemudian beranggapan bahwa langange bukan merupakan fakta sosial dan tidak memenuhi prinnsip keutuhan sehingga tidak bisa diteliti.
Sedangkan langue adalah bahasa konvensional yang sesuai dengan EYD dan kaidah kebahasaan, meski secara lebih luas langue ini bisa diartikan dengan sistem tanda (dalam bentuk apapun) yang mengungkapkan gagasan. Berbeda dengan langange, kualifikasi gramatikal bahasa yang terpenuhi dalam langue memungkinkan langue untuk diteliti secara ilmiah (semisal dibandingkan dengan tulisan, abjad tuna rungu, ritus simbolis, dan lain-lain), karena ia merupakan bahasa konvensional yang disepakati secara kolektif serta memenuhi kualifikasi gramatika bahasa (prinsip keutuhan). Mudahnya, langue bisa diartikan sebagai aspek kemasyarakatan bahasa yang mengandung bahasa yang sudah menjadi kesepakatan kolektif dan memenuni tata kaidah kebahasaan.
Komponen ketiga adalah parole yang merupakan aplikasi dari langue. Sama halnya dengan langange, parole adalah konsep yang tidak bisa diteliti secara ilmiah. Parole adalah bahasa sehari-hari serta keseluruhan ujaran yang hidup dalam masyarakat. Jadi, selain kasrena parole tiap masyarakat sangat dimungkinkan akan berbeda (secara bahasa maupun dialek), parole yang merupakan bahasa keseharian masyarkat cenderung tidak memerhatikan unsur-unsur kaidah tata bahasa. Titik tekan fungsional parole adalah agar suatu ujaran bisa dimengerti dan maksud si pembicara bisa tersampaikan, bukan untuk memenuhi kualifikasi gramatika bahasa.
Dari ketiga konsep tadi, tujuan linguistik adalah mencari sistem bahasa (langue) dari kenyataan yang konkret (parole). Hal inilah yang sebenarnya menjadi dasar pendekatan strukturalis, yakni tatanan wujud yang mencakup keutuhan, sebuah tatanan yang tidak sekadar merupakan kumpulan beberapa kata, akan tetapi sistem yang tiap komponen di dalamnya tunduk pada kaidah-kaidah intrinsik dan tidak memiliki kebebasan di luar struktur. Sebagai contoh, kalimat saya pergi adalah kalimat yang memenhi konsep langue dan parole. Kalimat tersebut sudah sering diucapkan dan tidak menyalahi tata kaidah kebahasaan. Akan tetapi, ketika kalimat tersebut dibalik menjadi pergi saya, maka kalimat kedua ini akan terasa janggal, karena tidak biasa diucapkan dan menyalahi tata gramatika bahasa.
Konsep ketiga yang disajikan dalam bentuk distingtif oleh Saussure adalah konsep mengenai sinkronik-diakronik. Dua konsep ini mutlak harus dieksplorasi sebab dalam pandangan Saussure, pendekatan sinkronik harus didahulukan dibanding pendekatan diakronik. Pendekatan diakronik adalah analisis tentang perubahan historis bahasa, yakni proses evolusi makna dalam berbagai periode waktu serta perkembangan dan perubahannya. Sedangkan pendekatan sinkronik adalah pendekatan bahasa pada satu momen waktu tertentu saja. Analisis yang juga disebut dengan pendekatan strukturalisme ini menginginkan adanya pendekatan yang hanya melihat struktur bahasa ansich tanpa harus memerhatikan konteks waktu, perubahan, dan sejarahnya.
Jika demikian, maka sangat jelas bahwa Saussure menginginkan adanya pendekatan kebahasaan yang diawali dengan pendekatan kebahasaan ansich tanpa harus terjebak dalam penelusuran sejarah makna sebuah kata. Saussure ingin memetakan sebuah sistem bahasa pada suatu momen tertentu saja dan bukan menelusuri sejarah evolusi makna yang melewati beberapa episode waktu.
Adapun mengenai hubungan tanda, maka Saussure menjelaskan bahwa ada tiga hubungan tanda, yakni simbolik, paradigmatik, dan sintagmatik. Hubungan simbolik adalah hubungan internal antara tanda dengan dirinya sendiri. Sedangkan dua hubungan lainnya, yakni paradigmatik dan sintagmatik adalah hubungan eksternal. Bedanya, paradigmatik adalah hubungan sebuah tanda dengan tanda lain dalam suatu sistem atau kelas, sedangkan hubungan sintagmatik adalah hubungan tanda dengan tanda lain dari sebuah struktur.
Mudahnya, hubungan sintagmatik mencoba mengetahui hubungan satu kata dengan kata yang mengiringinya atau bahkan satu huruf dengan kata yang mengiringinya. Sebagai misal, dalam kalimat the old man, maka untuk meneliti kata old, peneliti bisa merujuk pada kata the atau man. Seperti halnya untuk meneliti huruf m, maka harus juga mengkaji huruf a dan n dalam kata man. Adapun hubungan paradigmatic adalah meneliti suatu kata tertenti dengan melakukan perbandingan pada kata yang sepadan maupun kata yang berlawanan. Sebagai contoh, ketika meneliti the old man, kata peneliti bisa memulainya dengan juga mengkaji the young man, the young woman, dan lain sebagainya. Allah Knows Best
Jumat, 05 November 2010
Senin, 18 Oktober 2010
D-e-l-a-y-ed
SEJARAH PENULISAN AL-QUR’AN PADA MASA RASULULLAH SAW
Oleh Masyithah Mardhatillah (0753003)
A. Pengantar
Jaminan Allah atas reservasi (orisinalitas) Al-Qur’an yang disebutkan dalam QS Al Hijr 9 sudah tampak sejak pertama kali Al-Qur’an diturunkan pada masyarakat jazirah Arab kala itu. Jaminan ini, selain mengandaikan tidak akan adanya sabotase yang mampu mengurangi orisinalitas Al-Qur’an, juga menggambarkan adanya ‘penjagaaan’ yang cukup intens terhdap orisinalitas Al-Qur’an. Sebagai kitab yang menjadi pamungkas sekaligus penyempurna dan pengoreksi dari kitab-kitab suci yang sebelumnya diturunkan pada Nabi-nabi pendahulu Muhammad, sudah barang tentu reservasi orisinalitas Al-Qur’an merupakan sebuah keniscayaan.
Dalam sejarahnya, wahyu yang diterima Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril kemudian beliau hafalkan dalam ingatan. Catatan sejarah yang demikian setidaknya bisa dikuatkan oleh dua hal. Pertama, masyarakat Arab kala itu adalah masyarakat yang menggandrungi dunia sastra dalam hal syair dan puisi, sehingga tradisi menghafal syair dan puisi di kalangan masyarakat Arab kala itu kemudian menjadi sebuah ciri khas tersendiri. Masyarakat Arab gemar menghafal, sehingga daya ingat dan daya hafal mereka pun semakin terasah dengan keadaan yang kondusif tersebut. Sebab itulah, jika sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad menghafal dan mengingat wahyu yang disampaikan Jibril kepadanya, hal demikian wajar adanya.
Kedua, catatan sejarah bahwa nabi menghafal wahyu-wahyu yang diturunkan kepadanya juga diperkuat oleh dalil naqli berupa hadist Nabi dan kesaksian para sahabat bahwa setiap tahun, yakni setiap bulan Ramadhan, Nabi Muhammad membacakan Al-Qur’an yang dihafalnya di depan malaikat Jibril. Dalam kesempatan talaqqi ini, Jibril kerap membenarkan bacaan Nabi Muhammad. Catatan ini setidaknya menggambarkan bahwa Nabi Muhammad benar-benar menghafalkan wahyu yang diterimanya. Selain Nabi Muhammad, Al-Qur’an juga banyak dihafal oleh para sahabat yang langsung mendengar sebuah penuturan wahyu dari Nabi Muhammad.
Dalam hal ini, Nabi Muhammad memang cukup gencar mendorong dan menyemangati para sahabat untuk menghafal Al-Qur’an dan menularkan hafalannya pada sahabat lain. Sehingga, seorang sahabat yang telah mendengarkan wahyu kemudian menghafalnya dan menularkan hafalannya tersebut pada sahabat lain. Dengan cara tersebut, hafalan Al-Qur’an di ingatan para sahabat pun semakin hari semakin menunjukkan peningkatan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Singkatnya, ketika itu, Al-Qur’an direservasi dalam ingatan dan hafalan Nabi Muhammad maupun para sahabat.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, sejalan dengan bertambahnya wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sedangkan jumlah sahabat penghafal Al-Qur’an semakin menyusut (misalnya dengan gugurnya 70 orang pada persitiwa Bir Maunah) dan ada kemungkinan hafalan mereka akan semakin lemah, timbul inisiatif untuk mengantisipasi terjaganya orisinalitas Al-Qur’an dengan alternatif kedua, yakni dalam bentuk tulisan. Dengan digalakkannya penulisan ayat-ayat Al-Qur’an, Nabi Muhammad kemudian juga melarang para sahabat untuk menulis apapun selain Al-Qur’an. Hal ini merupakan salah satu antisipasi dan sikap hati-hati Nabi Muhammad dalam menjaga orisinalitas Al-Qur’an.
B. Eksplorasi; Penulisan Al-Qur’an pada Masa Rasulullah
Inisiasi pada Periode Mekkah dan Sistemasi pada Periode Madinah
Tidak ada catatan yang secara rigid menjelaskan aktor yang menginisiasi penulisan Al-Qur’an. Namun begitu, semangat untuk menjaga orisinalitas Al-Qur’an dalam bentuk tulisan senyatanya sudah tersirat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, semisal dengan bahasa al-kitab, al-suhuf, dan lain sebagainya. Dua terma tersebut setidaknya cukup menggambarkan bahwa selain berupa hafalan, wahyu Allah sebaiknya memang dituang dalam bentuk tulisan. Hal ini, secara pragmatis dan operasional, tidak hanya berfungsi untuk menjaga orisinalitas Al-Qur’an, namun juga memudahkan muslimin generasi belakangan yang akan mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.
Namun begitu, bukti tertuangnya ayat-ayat Al-Qur’an dalam bentuk tulisan para sahabat, setidaknya bisa dilihat dari kejadian ketika Umar masuk Islam. Kala itu, empat tahun sebelum hijrah, Umar yang tengah dikuasai emosinya berniat membunuh Rasulullah yang dianggapnya telah merusak kepercayaan warisan nenek moyang penduduk Mekkah. Namun begitu, sebelum bertemu Muhammad, Umar terlebih dahulu mendengar berita bahwa ada tiga orang dalam keluarganya yang telah masuk Islam. Umar pun banting setir dan bermaksud menemui keluarganya tersebut lebih dahulu sebelum bertemu Rasulullah. Ketika ditemui, adik kandungnya beserta muslimin lain tengah membaca Al-Qur’an dalam sebuah suhuf. Saat itulah timbul rasa penasaran dalam benak Umar dan akhirnya ia pun masuk Islam karena hatinya telah luluh oleh ayat Al-Qur’an yang tercantum dalam suhuf tersebut.
Adanya suhuf ini menggambarkan bahwa sahabat memiliki insiatif sendiri untuk merekam hafalan mereka dalam bentuk tertulis. Bentuk tertulis merupakan alternatif atau cadangan yang bisa menopang dan menguatkan serta mengoreksi hafalan dan ingatan mereka terhadap wahyu-wahyu Allah. Pada periode ini, penulisan Al-Qur’an baru menjadi sebatas tindakan antisipatif yang sifatnya sekunder. Apalagi, belum ditemukan bukti sejarah yang secara tegas menggambarkan perintah atau tindakan Nabi Muhammad dalam penulisan Al-Qur’an. Catatan sejarah hanya menjelaskan bahwa kala itu, Nabi Muhammad melarang sahabat untuk menulis apapun selain Al-Qur’an. Tentu saja, larangan ini sekaligus menjadi idzin bagi para sahabat untuk menulis Al-Qur’an.
Ketika di Madinah, bersamaan dengan semakin banyaknya pemeluk agama Islam dan semakin kompleksnya persoalan umat yang membutuhkan jawaban dan respon dari Al-Qur’an, Nabi Muhammad kemudian mengangkat beberapa sekretaris. Sekretaris-sekretaris ini sangat membantu Nabi Muhammad yang kala itu menjadi pemimpin agama sekaligus pemimpin negara. Tugas utama para sekretaris ini adalah mencatatan ayat Al-Qur’an yang diwahyukan pada Nabi Muhammad.
Karena pengangkatan sekretaris ini terjadi pada periode Madinah, maka secara otomatis para sekretaris ini juga harus menulis ayat-ayat yang diturunkan pada periode Makkah. Sebab itulah, dalam proses penulisannya, Nabi Muhammad kerap memberikan arahan mengenai letak-letak sebuah ayat. Bukti sejarah inilah yang kemudian mengunggulkan pendapat bahwa susunan ayat dalam Al-Qur’an memang didasarkan atas arahan Nabi Muhammad (tauqifi).
Meskipun dalam periode Madinah ini sudah terdapat sebuah sistem yang cukup apik dalam upaya penulisan Al-Qur’an, akan tetapi hingga Nabi Muhammad wafat, belum ada sebuah mushaf yang diratifikasi sebagai mushaf yang resmi. Masing-masing sekretaris memiliki mushaf-nya sendiri-sendiri. Namun demikian, perbedaan yang paling mencolok di antara beberapa mushaf tersebut hanya terletak dalam urutan surat, sebab Nabi Muhammad memang memberikan perhatian dan arahan yang cukup intens terhadap susnan ayat dalam Al-Qur’an.
Selain para sahabat, sebuah catatan juga menjelaskan bahwa Rasulullah sendiri memiliki catatan atau tulisan-tulisan Al-Qur’an. Catatan tersebut menggambarkan bahwa Nabi menyuruh Ali untuk mengambil tulisan Al-Qur’an yang ada di belakang tempat tidur Rasulullah. Ayat-ayat Al-Qur’an tertulis di atas suhuf, sutera, dan kertas. Pada kesempatan itu, Rasulullah berwasian agar Ali mengumpulkan naskah-naskah itu dan tidak menyia-nyaiakannya. Ali pun melaksanakan instruksi Rasulullah dan mengambil serta membungkus bahan-bahan tersebut.
Riwayat yang ber-setting ketika masa-masa sebelum Rasulullah wafat ini cukup beragam. Akan tetapi, beberapa riwayat tersebut sama-sama menunjukkan bahwa Rasullah menginstruksikan Ali untuk mengambil mushaf yang dimiliki dan disimpan oleh Rasulullah. Dengan demikian, ketika Rasulullah wafat, belum ada sebuah mushaf yang telah disahkan dan diresmikan oleh Rasulullah sebagai mushaf standar. Sebuah keterangan menjelaskan bahwa alasan mengapa Nabi tidak segera menetapkan mushaf yang standar adalah karena beliau masih menunggu wahyu yang akan diturunkan. Hal ini juga berkait erat dengan konsep ayat nasikh-mansukh.
Key Person
Ada beberapa perbedaan pendapat terkait jumlah atau identitas sekretaris wahyu yang diangkat Nabi, khususnya ketika periode Madinah. Dalam catatan yang dikutip oleh MM. Azami, berikut nama-nama sekretaris wahyu
1. Abban bin Sa'id
2. Abu Umama
3. Abu Ayyub al-Ansari
4. Abu Bakr as-Siddiq
5. Abu Hudhaifa
6. Abu Sufyan
7. Abu Salama
8. Abu 'Abbas
9. Ubayy bin Ka'b,
10. al-Arqam
11. Usaid bin al-Hudair
12. Aus
13. Buraida
14. Bashir
15. Thabit bin Qais
16. Ja` far bin Abi Talib
17. Jahm bin Sa'd, Suhaim
18. Hatib
19. Hudhaifa
20. Husain
21. Hanzala
22. Huwaitib
23. Khalid bin Sa'id
24. Khalid bin al-Walid
25. az-Zubair bin al-`Awwam
26. Zubair bin Arqam
27. Zaid bin Thabit
28. Sa'd bin ar-Rabi`
29. Sa'd bin `Ubada
30. Sa'id bin Sa`id
31. Shurahbil bin Hasna
32. Talha
33. `Amir bin Fuhaira
34. `Abbas
35. `Abdullah bin al-Arqam
36. `Abdullah bin Abi Bakr
37. `Abdullah bin Rawaha
38. `Abdullah bin Zaid
39. `Abdullah bin Sa'd
40. 'Abdullah bin 'Abdullah
41. 'Abdullah bin 'Amr
42. 'Uthman bin 'Affan
43. Uqba
44. al¬'Ala bin 'Uqba
45. 'All bin Abi Talib
46. 'Umar bin al-Khattab
47. 'Amr bin al-'As
48. Muhammad bin Maslama
49. Mu'adh bin Jabal
50. Mu'awiyah bin Abi Sufyan
51. Ma'n bin 'Adi
52. Mu'aqib bin Mughira
53. Mundhir
54. Muhajir
55. Yazid bin Abi Sufyan.
Lebih lanjut, Taufik Adnan Amal mengemukakan bahwa di antara beberapa sekretaris wahyu, ada empat nama yang paling sering disebut, yakni Muawiyah, Ubay bin Ka’ab, Zayd ibn Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, dan Abu Musa Al-Asyari. Adapun penghafal wahyu garda depan yang memiliki ketekunan dan kekuatan hafalan adalah Zayd bin Tsabit (orang yang terakhir membaca Al-Qur’an di hadapan Rasulullah sebelum Rasulullah wafat), Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, dan Abu Zayd Al-Anshari.
Wujud dan Perkembangan Tulisan
Penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi, khususnya pada periode Madinah belum disistemasi dalam kemasan yang praktis dan apik. Saat itu, tulisan-tulisan Al-Qur’an masih tertuang dalam benda-benda klasik, semisal di pelepah kurma, kulit, kayu, pelana, batu, kain, tulang, dan punggung unta. Zaid bin Tsabit sempat mengutarakan bahwa para sahabat menyusun Al-Qur’an di hadapan Rasulullah pada kulit binatang.
Catatan sejarah yang demikian menunjukkan bahwa sahabat sangatlah apresiatif dengans segala hal yang berhubungan dengan jaminan penjagaan orisinalitas Al-Qur’an. Sehingga, kalaupun mereka berada dalam suasana yang penuh keterbatasan dengan minimnya alat tulis yang representatif, mereka tetap berupaya mencari cara untuk bisa menulis ayat Al-Qur’an. Tindakan yang demikian tidak lain didasarkan oleh sebuah pikiran futuristik bahwa Al-Qur’an yang mereka jaga kala itu akan menjadi pedoman dan acuan hidup anak cucu mereka hingga akhir zaman.
Riwayat lain bahkan menyebutkan, beberapa sahabat yang memiliki keterbatasan fisik (semisal mengalami kebutaan) juga turu andil dalam upaya pelestarian Al-Qur’an dalam bentuk tulisan ini, yakni dengan meminta pertolongan orang lain. Dengan demikian, meski Nabi Muhammad telah mengangkat sekretaris penulis wahyu secara formal. Hal tersebut tidak kemudian membuat para sahabat lain—yang tidak termasuk dalam struktur penulis wahyu—untuk acuh-tak acuh terhadap upaya penjagaan orisinalitas Al-Qur’an.
C. Catatan Akhir
Penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi merupakan gerbang penulisan Al-Qur’an yang sangat berarti bagi proses penulisan Al-Qur’an pada masa selanjutnya, khususnya pada masa penyusunan mushaf standar masa Utsman. Sebagai kitab yang menjadi kitab pamungkas dan penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya serta akan dipakai hingga akhir zaman, maka penjagaan orisinalitas Al-Qur’an dalam berbagai bentuk dan dalam berbagai fase sejarah merupakan sebuah keniscayaan. Selain sebagai perwujudan sikap respek terhadap nilai sakralitas Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, penjagaan (orisinalitas) Al-Qur’an dewasa ini juga menjadi perwujudan dari rasa apresiasi dan terimakasih atas upaya dan dedikasi para sahabat yang berandil besar dalam penulisan (mushaf) Al-Qur’an. Allah Knows Best
Oleh Masyithah Mardhatillah (0753003)
A. Pengantar
Jaminan Allah atas reservasi (orisinalitas) Al-Qur’an yang disebutkan dalam QS Al Hijr 9 sudah tampak sejak pertama kali Al-Qur’an diturunkan pada masyarakat jazirah Arab kala itu. Jaminan ini, selain mengandaikan tidak akan adanya sabotase yang mampu mengurangi orisinalitas Al-Qur’an, juga menggambarkan adanya ‘penjagaaan’ yang cukup intens terhdap orisinalitas Al-Qur’an. Sebagai kitab yang menjadi pamungkas sekaligus penyempurna dan pengoreksi dari kitab-kitab suci yang sebelumnya diturunkan pada Nabi-nabi pendahulu Muhammad, sudah barang tentu reservasi orisinalitas Al-Qur’an merupakan sebuah keniscayaan.
Dalam sejarahnya, wahyu yang diterima Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril kemudian beliau hafalkan dalam ingatan. Catatan sejarah yang demikian setidaknya bisa dikuatkan oleh dua hal. Pertama, masyarakat Arab kala itu adalah masyarakat yang menggandrungi dunia sastra dalam hal syair dan puisi, sehingga tradisi menghafal syair dan puisi di kalangan masyarakat Arab kala itu kemudian menjadi sebuah ciri khas tersendiri. Masyarakat Arab gemar menghafal, sehingga daya ingat dan daya hafal mereka pun semakin terasah dengan keadaan yang kondusif tersebut. Sebab itulah, jika sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad menghafal dan mengingat wahyu yang disampaikan Jibril kepadanya, hal demikian wajar adanya.
Kedua, catatan sejarah bahwa nabi menghafal wahyu-wahyu yang diturunkan kepadanya juga diperkuat oleh dalil naqli berupa hadist Nabi dan kesaksian para sahabat bahwa setiap tahun, yakni setiap bulan Ramadhan, Nabi Muhammad membacakan Al-Qur’an yang dihafalnya di depan malaikat Jibril. Dalam kesempatan talaqqi ini, Jibril kerap membenarkan bacaan Nabi Muhammad. Catatan ini setidaknya menggambarkan bahwa Nabi Muhammad benar-benar menghafalkan wahyu yang diterimanya. Selain Nabi Muhammad, Al-Qur’an juga banyak dihafal oleh para sahabat yang langsung mendengar sebuah penuturan wahyu dari Nabi Muhammad.
Dalam hal ini, Nabi Muhammad memang cukup gencar mendorong dan menyemangati para sahabat untuk menghafal Al-Qur’an dan menularkan hafalannya pada sahabat lain. Sehingga, seorang sahabat yang telah mendengarkan wahyu kemudian menghafalnya dan menularkan hafalannya tersebut pada sahabat lain. Dengan cara tersebut, hafalan Al-Qur’an di ingatan para sahabat pun semakin hari semakin menunjukkan peningkatan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Singkatnya, ketika itu, Al-Qur’an direservasi dalam ingatan dan hafalan Nabi Muhammad maupun para sahabat.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, sejalan dengan bertambahnya wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sedangkan jumlah sahabat penghafal Al-Qur’an semakin menyusut (misalnya dengan gugurnya 70 orang pada persitiwa Bir Maunah) dan ada kemungkinan hafalan mereka akan semakin lemah, timbul inisiatif untuk mengantisipasi terjaganya orisinalitas Al-Qur’an dengan alternatif kedua, yakni dalam bentuk tulisan. Dengan digalakkannya penulisan ayat-ayat Al-Qur’an, Nabi Muhammad kemudian juga melarang para sahabat untuk menulis apapun selain Al-Qur’an. Hal ini merupakan salah satu antisipasi dan sikap hati-hati Nabi Muhammad dalam menjaga orisinalitas Al-Qur’an.
B. Eksplorasi; Penulisan Al-Qur’an pada Masa Rasulullah
Inisiasi pada Periode Mekkah dan Sistemasi pada Periode Madinah
Tidak ada catatan yang secara rigid menjelaskan aktor yang menginisiasi penulisan Al-Qur’an. Namun begitu, semangat untuk menjaga orisinalitas Al-Qur’an dalam bentuk tulisan senyatanya sudah tersirat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, semisal dengan bahasa al-kitab, al-suhuf, dan lain sebagainya. Dua terma tersebut setidaknya cukup menggambarkan bahwa selain berupa hafalan, wahyu Allah sebaiknya memang dituang dalam bentuk tulisan. Hal ini, secara pragmatis dan operasional, tidak hanya berfungsi untuk menjaga orisinalitas Al-Qur’an, namun juga memudahkan muslimin generasi belakangan yang akan mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.
Namun begitu, bukti tertuangnya ayat-ayat Al-Qur’an dalam bentuk tulisan para sahabat, setidaknya bisa dilihat dari kejadian ketika Umar masuk Islam. Kala itu, empat tahun sebelum hijrah, Umar yang tengah dikuasai emosinya berniat membunuh Rasulullah yang dianggapnya telah merusak kepercayaan warisan nenek moyang penduduk Mekkah. Namun begitu, sebelum bertemu Muhammad, Umar terlebih dahulu mendengar berita bahwa ada tiga orang dalam keluarganya yang telah masuk Islam. Umar pun banting setir dan bermaksud menemui keluarganya tersebut lebih dahulu sebelum bertemu Rasulullah. Ketika ditemui, adik kandungnya beserta muslimin lain tengah membaca Al-Qur’an dalam sebuah suhuf. Saat itulah timbul rasa penasaran dalam benak Umar dan akhirnya ia pun masuk Islam karena hatinya telah luluh oleh ayat Al-Qur’an yang tercantum dalam suhuf tersebut.
Adanya suhuf ini menggambarkan bahwa sahabat memiliki insiatif sendiri untuk merekam hafalan mereka dalam bentuk tertulis. Bentuk tertulis merupakan alternatif atau cadangan yang bisa menopang dan menguatkan serta mengoreksi hafalan dan ingatan mereka terhadap wahyu-wahyu Allah. Pada periode ini, penulisan Al-Qur’an baru menjadi sebatas tindakan antisipatif yang sifatnya sekunder. Apalagi, belum ditemukan bukti sejarah yang secara tegas menggambarkan perintah atau tindakan Nabi Muhammad dalam penulisan Al-Qur’an. Catatan sejarah hanya menjelaskan bahwa kala itu, Nabi Muhammad melarang sahabat untuk menulis apapun selain Al-Qur’an. Tentu saja, larangan ini sekaligus menjadi idzin bagi para sahabat untuk menulis Al-Qur’an.
Ketika di Madinah, bersamaan dengan semakin banyaknya pemeluk agama Islam dan semakin kompleksnya persoalan umat yang membutuhkan jawaban dan respon dari Al-Qur’an, Nabi Muhammad kemudian mengangkat beberapa sekretaris. Sekretaris-sekretaris ini sangat membantu Nabi Muhammad yang kala itu menjadi pemimpin agama sekaligus pemimpin negara. Tugas utama para sekretaris ini adalah mencatatan ayat Al-Qur’an yang diwahyukan pada Nabi Muhammad.
Karena pengangkatan sekretaris ini terjadi pada periode Madinah, maka secara otomatis para sekretaris ini juga harus menulis ayat-ayat yang diturunkan pada periode Makkah. Sebab itulah, dalam proses penulisannya, Nabi Muhammad kerap memberikan arahan mengenai letak-letak sebuah ayat. Bukti sejarah inilah yang kemudian mengunggulkan pendapat bahwa susunan ayat dalam Al-Qur’an memang didasarkan atas arahan Nabi Muhammad (tauqifi).
Meskipun dalam periode Madinah ini sudah terdapat sebuah sistem yang cukup apik dalam upaya penulisan Al-Qur’an, akan tetapi hingga Nabi Muhammad wafat, belum ada sebuah mushaf yang diratifikasi sebagai mushaf yang resmi. Masing-masing sekretaris memiliki mushaf-nya sendiri-sendiri. Namun demikian, perbedaan yang paling mencolok di antara beberapa mushaf tersebut hanya terletak dalam urutan surat, sebab Nabi Muhammad memang memberikan perhatian dan arahan yang cukup intens terhadap susnan ayat dalam Al-Qur’an.
Selain para sahabat, sebuah catatan juga menjelaskan bahwa Rasulullah sendiri memiliki catatan atau tulisan-tulisan Al-Qur’an. Catatan tersebut menggambarkan bahwa Nabi menyuruh Ali untuk mengambil tulisan Al-Qur’an yang ada di belakang tempat tidur Rasulullah. Ayat-ayat Al-Qur’an tertulis di atas suhuf, sutera, dan kertas. Pada kesempatan itu, Rasulullah berwasian agar Ali mengumpulkan naskah-naskah itu dan tidak menyia-nyaiakannya. Ali pun melaksanakan instruksi Rasulullah dan mengambil serta membungkus bahan-bahan tersebut.
Riwayat yang ber-setting ketika masa-masa sebelum Rasulullah wafat ini cukup beragam. Akan tetapi, beberapa riwayat tersebut sama-sama menunjukkan bahwa Rasullah menginstruksikan Ali untuk mengambil mushaf yang dimiliki dan disimpan oleh Rasulullah. Dengan demikian, ketika Rasulullah wafat, belum ada sebuah mushaf yang telah disahkan dan diresmikan oleh Rasulullah sebagai mushaf standar. Sebuah keterangan menjelaskan bahwa alasan mengapa Nabi tidak segera menetapkan mushaf yang standar adalah karena beliau masih menunggu wahyu yang akan diturunkan. Hal ini juga berkait erat dengan konsep ayat nasikh-mansukh.
Key Person
Ada beberapa perbedaan pendapat terkait jumlah atau identitas sekretaris wahyu yang diangkat Nabi, khususnya ketika periode Madinah. Dalam catatan yang dikutip oleh MM. Azami, berikut nama-nama sekretaris wahyu
1. Abban bin Sa'id
2. Abu Umama
3. Abu Ayyub al-Ansari
4. Abu Bakr as-Siddiq
5. Abu Hudhaifa
6. Abu Sufyan
7. Abu Salama
8. Abu 'Abbas
9. Ubayy bin Ka'b,
10. al-Arqam
11. Usaid bin al-Hudair
12. Aus
13. Buraida
14. Bashir
15. Thabit bin Qais
16. Ja` far bin Abi Talib
17. Jahm bin Sa'd, Suhaim
18. Hatib
19. Hudhaifa
20. Husain
21. Hanzala
22. Huwaitib
23. Khalid bin Sa'id
24. Khalid bin al-Walid
25. az-Zubair bin al-`Awwam
26. Zubair bin Arqam
27. Zaid bin Thabit
28. Sa'd bin ar-Rabi`
29. Sa'd bin `Ubada
30. Sa'id bin Sa`id
31. Shurahbil bin Hasna
32. Talha
33. `Amir bin Fuhaira
34. `Abbas
35. `Abdullah bin al-Arqam
36. `Abdullah bin Abi Bakr
37. `Abdullah bin Rawaha
38. `Abdullah bin Zaid
39. `Abdullah bin Sa'd
40. 'Abdullah bin 'Abdullah
41. 'Abdullah bin 'Amr
42. 'Uthman bin 'Affan
43. Uqba
44. al¬'Ala bin 'Uqba
45. 'All bin Abi Talib
46. 'Umar bin al-Khattab
47. 'Amr bin al-'As
48. Muhammad bin Maslama
49. Mu'adh bin Jabal
50. Mu'awiyah bin Abi Sufyan
51. Ma'n bin 'Adi
52. Mu'aqib bin Mughira
53. Mundhir
54. Muhajir
55. Yazid bin Abi Sufyan.
Lebih lanjut, Taufik Adnan Amal mengemukakan bahwa di antara beberapa sekretaris wahyu, ada empat nama yang paling sering disebut, yakni Muawiyah, Ubay bin Ka’ab, Zayd ibn Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, dan Abu Musa Al-Asyari. Adapun penghafal wahyu garda depan yang memiliki ketekunan dan kekuatan hafalan adalah Zayd bin Tsabit (orang yang terakhir membaca Al-Qur’an di hadapan Rasulullah sebelum Rasulullah wafat), Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, dan Abu Zayd Al-Anshari.
Wujud dan Perkembangan Tulisan
Penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi, khususnya pada periode Madinah belum disistemasi dalam kemasan yang praktis dan apik. Saat itu, tulisan-tulisan Al-Qur’an masih tertuang dalam benda-benda klasik, semisal di pelepah kurma, kulit, kayu, pelana, batu, kain, tulang, dan punggung unta. Zaid bin Tsabit sempat mengutarakan bahwa para sahabat menyusun Al-Qur’an di hadapan Rasulullah pada kulit binatang.
Catatan sejarah yang demikian menunjukkan bahwa sahabat sangatlah apresiatif dengans segala hal yang berhubungan dengan jaminan penjagaan orisinalitas Al-Qur’an. Sehingga, kalaupun mereka berada dalam suasana yang penuh keterbatasan dengan minimnya alat tulis yang representatif, mereka tetap berupaya mencari cara untuk bisa menulis ayat Al-Qur’an. Tindakan yang demikian tidak lain didasarkan oleh sebuah pikiran futuristik bahwa Al-Qur’an yang mereka jaga kala itu akan menjadi pedoman dan acuan hidup anak cucu mereka hingga akhir zaman.
Riwayat lain bahkan menyebutkan, beberapa sahabat yang memiliki keterbatasan fisik (semisal mengalami kebutaan) juga turu andil dalam upaya pelestarian Al-Qur’an dalam bentuk tulisan ini, yakni dengan meminta pertolongan orang lain. Dengan demikian, meski Nabi Muhammad telah mengangkat sekretaris penulis wahyu secara formal. Hal tersebut tidak kemudian membuat para sahabat lain—yang tidak termasuk dalam struktur penulis wahyu—untuk acuh-tak acuh terhadap upaya penjagaan orisinalitas Al-Qur’an.
C. Catatan Akhir
Penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi merupakan gerbang penulisan Al-Qur’an yang sangat berarti bagi proses penulisan Al-Qur’an pada masa selanjutnya, khususnya pada masa penyusunan mushaf standar masa Utsman. Sebagai kitab yang menjadi kitab pamungkas dan penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya serta akan dipakai hingga akhir zaman, maka penjagaan orisinalitas Al-Qur’an dalam berbagai bentuk dan dalam berbagai fase sejarah merupakan sebuah keniscayaan. Selain sebagai perwujudan sikap respek terhadap nilai sakralitas Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, penjagaan (orisinalitas) Al-Qur’an dewasa ini juga menjadi perwujudan dari rasa apresiasi dan terimakasih atas upaya dan dedikasi para sahabat yang berandil besar dalam penulisan (mushaf) Al-Qur’an. Allah Knows Best
Hmhm...
TugaZ dari doZhen
Rabu, 13 Oktober 2010
Kosmateku solid-kosmateku narsis
Sebenere judule dipaksaian bangeeeeeeettt..Hehehehe, enaknya sich, eksis-narsis. Tapi koq jadi pengaburan identitas yaaaaaa..jika terlalu keikut ma trend. Lagian, titik tekan yang ingin aku ulas dalam tulisanku ini memang berkait erat dengan masalah KEKOMPAKAN alias SOLIDITAS. Jadi, judul di atas memang bukan tanpa alasana. Hehehe..Meski kesannya maksa banget. Jadi begini, cerita dimulai ketika dalam forum bincang-bincang santai—di depan tivi atau di depan kamar mandi pas lagi nyuci dan ngantri—ada selentingan aspirasi untuk mengadakan makrab kos. Sebab memang tidak mungkin mengadakan ospek atau opak kos. Aspirasi tersebut setidaknya terpengaruh dari dua hal. Pertama, kosku tersayang baru saja mendemisioner pengurus angkatan lama dan melantik pengurus baru. So, masih fresh, biasane masih semangat-semangatnya melaksanakan program kerja. Jadi kalopun program kerjanya ga pernah dimusyawarhin di raker dan ga pernah ada proker rigid, keinginan untuk mengadakan makrab muncul juga. Yang kedua adalah iklim kampus yang baru saja melewati masa-masa pendaftaran-opak-makrab-sospem. Jadi keroso kena imbasnya juga….mpe penghuni kos pada ingin dan semangat berapi-api untuk ngadain makrab.
Makrab sebenere adalah kependekan dari ‘malam keakraban’. Setauku, ritual ini terbatas dan tidak universal. Di kota laen, kampus-kampus bahkan ga kenal dengan istilah makrab. Mungkin terminologi khas Jogja atau bahkan UIN. Entah, aku ga tau juga. Namun aku pernah berkali-kali tanya ke temenku yang kuliah di luar Jogja dan respon mereka sama persis plus simetris, GA TAU DAN GA PERNAH DENGAR, APA ITU MAKRAB. Well, uda jelas tujuan ritual ini adalah menjalin keakraban dengan kawan satu komunitas. Menjalin keakraban jane ya ga harus dengan seruang dan sewaktu kayak ritual makrab yang biasanya diisi dengan acara jalan-jalan dan touring ke mana-mana, cuma rasanya lebih ngetase ajah jika bisa melewatkan waktu bersama dalam suasana yang juga menyenangkan. Dan satu catatan terakhir tentang makrab, meski kepanjangannya adalah malam keakraban, akan tetpai ritual ini tidak harus dan tidak selalu dilakukan pada malam hari. (aku harus segera menutup paragraf ini sebab makrab dalam arti yang universal sudah berkali-kali menjadi skejulku, so akan sangat amat panjang jika dituturkan semuanya di sini)
Well, kali ini cerita bersetting pada hari Ahad, 10 Oktober 2010. Pagi itu, amat jauh dari kebiasaan, aku mandi pagi dengan penuh semangat dan dengan tekad untuk memerangi kedinginan. Mumpung lagi ada KM nganggur, aku tak perlu berpikir banyak untuk langsung nyolonong. Apalagi diprediksikan, pagi itu, KM akan sepenuh dan semacet jalan di jalan protokol pada jam kerja pas semuane pada mau berangkat. Jadi, setelah mandi dan melakukan persiapan seadanya, aku segera mengecek kelengkapan makrab. Jane aku tidak memegang posisi sentral dalam eo ini, sebab semua sudah terlimpahkan pada pengurus kos yang rata-rata masih duduk di semester lima dan semester tiga. Semester tujuh lebih enak dengan posisinya sebagai steering commite. Itu teorinya, namun di wilayah taktis, semuanya nyampur aduk tumpek blek. Ga peduli semester berapa.
Seksi akomodasi dan transportasi diatur sepenuhnya oleh bendahara kos, si Dety. Sedangkan masalah konsumsi sudah dihandle oleh Vero yang pagi itu sudah berdarah-darah memasak nutrijel coklat untuk bekal kami kemping. Wis heboh bangeeeeeeet…Lima hari sebelumnya, aku sudah menarik angket yang aku sebar ke seluruh penjuru kos, untuk mengetahui aspirasi mereka. Namun, sayang seribu sayang, tidak semua penghuni kos bisa ikut. Yayayaya, mereka memang memiliki kesibukan dan skejul sendiri-sendiri. Tapi memang, kebersamaan ga bisa dicari hingga pojok terujung Bringharjo. Sulit banget. Jadi karena mengidealkan seluruh kuota bisa terisi adalah suatu hal yang amat banget mustahil, maka kami pun berangkat meski tidak dengan anggota kos yang utuh. Ada lima belas orang yang turut serta dan aktif berpartisipasi untuk menyukseskan acara ini. Sayang seribu sayang yang kedua, di antara lima belas orang tersebut, tidak ada satupun penghuni baru yang turut serta. OMJJJJJJJ..But that’s a reaaaaaaaaaallll…Empat penghuni baru kos, pagi itu pada lagi mau ada acara lain dan halangan. So, memang tak ada boleh ada pemaksaan, termasuk dalam hal-hal yang sifatnya having fun kayak makrab. Idealnya, makrab dilaksanakan untuk merekatkan emosi antara mahasiswa lama dan mahasiswa baru, dan dalam hal ini antara penghuni baru dan penguni lama. Namun idealisme tinggal idealismeeeeee….
Lima belas orang yang pagi itu mengenakan baju terbaik dan menampilkan dandanan terimutnya masing-masing terbai dalam dua kloter. Kolter pertama adalah mereka yang memanfaatkan jasa alat transportasi paling mewah se-Jogja, yakni Trans Jogja. Total ada sepuluh orang. Sedangkan lima yang lainnya adalah seksi pembantu umum (yang bisa disulap menjadi seksi apapun dalam keadaan bagaimanapun) yang mengendarai sepeda motor. Aku berada dalam kloter kedua. Kami berlima dengan tiga motor. Aku dan Anggun, Jenghol dan Erma, dan DP sendirian. Sebenere, aku lebih memilih untuk rame2 di TransJogja. Namun, karena alasan budget juga plus menyediakan motor sebagai instrumen cadangan jika ntar terjadi apa-apa, akhirnya aku mutusin untuk make motor ajaaaaaaahhh…Masing-masing kloter sudah dilengkapi sebuah kamera, jadi tidak alasan untuk tidak narsis di momen-momen kebersamaan itu. Kloter pertama dengan kamera Rida, dan kloter kedua dengan kameraku. Sedangkan logistik berupa lauk, cemilan, dan air, dibawa sepenuhnya oleh kloter kedua. Bener-bener mesa’ke, tapi inilah konsekuensi. Wissssssssss,,,dua kloter itu berpisah setelah sempat jepret-jepret di depan MP.
Kloter kedua sampai di Altar ketika kloter pertama masih duduk manis di halte Wanita Tama alias belum dapet bus. Mesa’ke bangeeeeeet…Namun kloter kedua juga uda mulai kelabakan untuk mulai berteduh dan mencari tempat yang rindang…Mulai dari di depan kantor BI, berpindah ke sisi barat altar, lalu sisi utara altar, hingga akhirnya di tengah-tengah altar. Pas itu kerosone awan sedang tak ingin menaungi kami berlima. Hehehehe..Jadi, setelah kembali dan lagi-lagi berpose dengan tensi pede yang tinggi, suatu masalah baru kembali muncul. Dan semuanya belum sama sekali diprediksikan dan diperhitungkan saat semalem mengadakan konsolidasi di depan tv sambil nonton IMB. Andong yang dianggarkan akan mengantar anggota kloter pertama ke Taman Sari dari shelter TJ paling selatan di Malioboro mematok harga yang amat banget mahal. 30 REBU bagi turis lokal seperti aku dan temen-temen tenti merupakan nominal yang cukup menguras kantong. Setelah konsolidasi viahape, akhirnya muncul keputusan bahwa anggota kloter satu akan diangsur dengan menggunakan tiga motor yang dibawa kloter kedua. Tuuuuuuuuuuuuuucccccchhh,,,untung bawa motor. Jika ndak, dak sama sekali kebayang kalo harus ada ritual nyeker dalam acara seneng-seneng ini. Jadi, dari sepuluh orang yang masuk anggota kloter I, dua di antaranya memilih untuk menggunakan jasa becak. Mereka adalah ketua kos, ddk Soby dan menteri keartisan, Bak Njes yang mengaku bernama belakang Chandrawinata. Sedang delapan orang yang tersisa kemudian diangsur satu-persatu (dan kadang double) agar bisa segera sampai di TKP.
Dan untuk urusan yang satu ini, aku emoh jadi driver, sebab di antara anggota kloter kedua (yang ternyata semuanya sudah punya SIM-C), akulah driver yang paling amatir. So, aku lebih baik ngalah pada driver yang sudah mahir untuk menjemput dan mengangsur anggota kloter satu dari lampu merah perempatan Malbor mpe taman sari. Bukan apa-apa, kenyamanan berkendaraku jadi serasa berkurang saat aku harus mbonceng seseorang, sebab aku kurang bebas berekspresi dan merasa tengah memegang tanggungjawab yang demikian besar, menyelamatkan anak manusia yang ada di belakangku untuk sampai ke tujuan. Hehehehe. Lebay banget memang, tapi itulah ada dan nyatanya. Aku merasa gerogi plus serba salah jika harus mbonceng orang, apalagi yang mbonceng adalah Ibu muda kaya Ayu. Hoahoahoaohoahoaho…
Setelah menentukan division of labour dan job discription, akhirnya, di antara berlima, aku dan Ermalah yang akhirnya diputuskan untuk tidak jadi driver dan menunggu di Taman Sari. Sedang tiga yang lainnya, Anggun, Jenghol, dan DP, bertugas mengangsur temen-temen dengan tiga motor yang ada. Aku uda masrahin kunci motorku ke Anggun so,, aktivitas selanjutnya adalah W.A.I.T.I.N.G. Awalnya aku cuma berdua ma Erma, lalu disusul Riska dan Rida (yang dianter DP), dan kemudian temen-temen yang laen. Di tengah-tengah ritual angsuran ini, muncul lagi satu masalah baru. BANKU HARUS DITAMBAL KARENA ADA PAKU KECIL YANG KELINDES DAN NANCEP DI BAN DEPANKU. Kontan aku kelabakan, Seumur-umur aku ga pernah menghadapi masalah teknis yang demikian tanpa ada seorang laki-laki di sisiku, semisal bapak, elton, ksatria, atau temen-temen korpku. Bukan pengalaman pertama siy, cuma ini pertama kalinya aku harus menghandle urusan itu by me myself. Untungnya, aku masih diselamatkan oleh keadaan. Ada DP (D Prita) yang mau menemaniku mencari tempat tambal ban. Dan dari kacamataku, aku liat DP tau lebih dibanding aku dalam masalah tambal ban. Sebab itulah, aku tak sungkan bertanya padanya, apapun yang ada di kepalaku, semisal “Yang kena ban dalam pa ban depan?”, trus “Yang harus diganti ban depan po ban belakangnya???”, dan lain sebagainya. Aku hanya ingin menetralkan rasa panikku.
Dengan berjuta harap dan lelah yang uda mulai muncul, aku menyusuri jalanan sekitar Altar dan Taman sari kemudian menemukan sebuah tambal ban di kanan jalan, pas di jalan yang selalu aku lewati setiap kali akan ke Altar. Alhamdulillah, keadaan lagi-lagi menyelamatkanku. Ban motorku langsung dipermak abis ma si bapak dan aku ma DP hanya duduk-duduk memerhatikan betapa bapak itu cekatan merepair semuanya. DP lalu mengatakan bahwa pekerjaan ini tak akan menyita terlalu banyak waktu, maksimal 30 menit. Aku tau dia amat sangat bisa membaca kekahawtiranku. Ia bahkan menyarankanku untuk minta kompensasi uang tambal ban ke bendahara kos. Tapi yaaaaaaaa….Yang ada di pikiranku saat itu adalah bagaimana motorku bisa kembali sehat seperti sedia kalaaa…Hmmm…Aku mengamati proses penambalan ban motorku dari awal hingga akhir. DP juga sangat apresiatif dengan pertanyaan-pertanyaanku. Tak terasa aku merasa senang, siang itu, banyak pelajaran yang aku terima. Pelajaran kehidupan maupun pelajaran fisika. Heheheheheh…
Setelah membayar biaya tambal ban, aku dan DP segera cabut ke Taman Sari. Di sana, temen-temen uda pada nungguin kami. Mungkin uda aga lama, I did my apologize, tapi aku emang wanti2 agar aku ditunggu so ga perlu ada cerita someone’s missing di episode makrab ini. Saat aku datang, ternyata masih ada dua orang yang belum ngumpul, yakni ketua kos dan menteri keartisan. Mereka masih menghandle masalah kelaparan di sebuah angkringan pojok depan pintu masuk taman sari. Setelah didesak berbagai fraksi, akhirnya tu dua orang muncul…Dann..Next, kami akan masuk. Tiket sudah dibeli, jumlah pas. 15 lembar. Satu tiket berharga 3000. Dalam hati aku menyayangkan, mengapa aku tak menggunakan naluri preman untuk ‘curang’ dalam jumlah tiket ini. Kecurangan2 itu uda berulang kali aku lakukan, bersama temen-temen dan di tempat yang berbeda. Namun kali ini aku ga bisa melaksanakan trik itu. Bukan apa-apan, tiket sudah terlanjur dibeli dan aku tidak mau memberikan contoh yang tidak baik pada adik angkatan. Heheehehehe. Meski asa keuangan yang maha esa akan dianut siapapun, namun dalam beberapa keadaan, asas tersebut harus dikompromikan dengan asas-asas lain yang mungkin lebih penting, seperti memberikan teladan yang baik pada adik angkatannn..Heheheheh.
Okelah, kami berlimabelas masuk dengan lima belas tiket yang aku serahkan pada penjaga pintu masuk. Hadooooooohhh..nyesel banget rasanya ketika tau bahwa tu tiket sebandel ga diitung apalagi diliat asli ndaknya, tapi hanya diberi tanda bolong dua buah dengan alat yang biasa dipake untuk bolongin kertas…Tapi tak apalah, tak mengganggu manisnya kenangan pagi yang uda agak panas itu. Acara selanjutnya uda bisa dipastikan, FOTO-FOTO NARSIS MPE MATI GAYA. Aku pribadi uda mulai merasakan sindrom kebosanan untuk selalu berpose di depan kamera, apalagi sejak aku mengantongi kameraku awal tahun lalu. Namun dalam urusan foto bersama, aku memang merupakan salah satu orang yang tidak mau ketinggalan. Alasan paling utama, kebersamaan itu mahall…Dan legitnya juga masih akan terasa ketika suatu saat di jauh, kita mengenangnya. Makanya, aku bela-belain testing speaking ma salah satu turis bule untuk memotret kami berlima belas. Hehehe. Eh, tu turist malah juga mau ikut foto setelah motretin kami. Heheheheh. Lucu ah, oon juga. Plus malu-maluin karena kami tu rameeeeeeeeeee banget. Ada yang minta fotoin, ada yang sibuk ngatur self timer, ada yang mengeluh cape dan kelaparan, dan lain sebagainya.
Well, show must go on. Aku lebih banyak bertindak sebagai fotografer saat itu. Setelah menyusuri area taman tempat pemandian (yang dibagi dua untuk membedakan tempat mandi isteri resmi dan selir raja yang tak resmi) dan berlebay-lebay di sana, kami mulai tak kuasa menahan rasa lapar. So, diputuskan, untuk acara selanjutnya, KAMI MAKAN. MEMBUKA BEKAL YANG DIBAWA DARI KOS. Sebelumnya, kami uda urunan beras yang kemudian dimasak bareng untuk meminimalisasi anggaran. Untuk lauk sekaligus sambel, kami uda mesen di ketring Yu Semi. Selain itu, ada persediaan air, nutrijell, cemilan, dan kerupuk yang biasa dibikin teman makan nasi. Whahahahahah….soswiiiiiit banget acara makan siang itu. Aku uda amat banget kelaperan, ditambah eventnya rame-rame, jadi kerosone enak bangeeeeeeet,, meski sebenarnya biasa ajahhhh…
Saat makan, Rida yang siang itu ga mau makan—karena uda makan tadi pagi di kos—sempet ngerekam aktivitas kami. Video itu ternyata lucu bin ajaib, bikin cekikikan dan bikin dunia serasa sangat amat menyenangkan. Hehehe. Well, seabis makan, kami melanjutkan rute perjalanan ke tempat-tempat tua kaya terowongan dan kembali acaranya sama, FOTO-FOTO. Aku tak tau banyak tentang sejarah tempat ini. Yang pasti arsitekturnya keren gile, serasa kayak di pilm-pilm gitu. Sayang memang, ada banyak sisi di taman sari yang kurang terawat, sehingga uda beranjak sepuh dan membungkuk gitu. Kalo bangunan sejarah emang kadang bikin bingung, direparasi ntar bisa mengurangi nilai kesejarahan, dibiarin ntar malah ga kerawat. Gitulaaaaaahhh…di bangunan yang mirip terowongan itu, kami sempat kembali minta bantuan seorang pengunjung untuk memotret kami pas genap berlima belas. Meski fotonya kemudian ga apik karena pengaturan cahayanya ga beres, akan tetapi tu foto tetep oke punya laaaaaahhhh…
Dari terowongan itu, Anggun, sebagai salah satu penghuni yang pernah mengunjungi Taman Sari sebelum hari itu, mengajak kami ke sebuah bangunan tua yang lagi-lagi aku ga tau harus dibahasakan apa. Intinya, bangunan tu keren banget, meski sudah ga beraturan di mana-mana. Di tempat itu, tenaga kami uda hampir off. Temen-temen uda banyak yang mengeluh dan sudah tidak nafsu untuk berfoto-foto. Namun sebagian masih asyik berpose-pose sakarepe dewe. Aku bahkan masuk dalam list terakhir orang yang datang ke tempat parkiran untuk selanjutnya pulang. Pas itu, bertiga ma Jenghol dan bak Njes, aku masih berpose-pose seakan tiada lelah yang menghinggapi kami. Hehehe…
Abis itu, di tempat parkiran, kami menghabiskan logistik yang masih ada dan kemudian bersiap untuk pulang. Ternyata uang parkir dan uang bensin juga termasuk salah satu biaya yang ditanggung oleh pihak akomodasi dan atau transportasi. Yayayaya…senang lahhhh,,,hehehehe. Dan dalam urusan angsuran temen-temen, kami tetep mengandalkan driver yang tadi pagi bolak-balek. So itu artine, aku bisa beristirahat di masjid deket Taman Sari untuk sekalian shalat dzuhur. Sesudah semua anggota berkumpul dan telah melaksanakah ibadah shalat dzuhur (pada perjalanan pulang, kloter kedua nambah kuota satu orang, yakni Rida), kami mulai bingung mau ke mana abis ini. Mumpung ada motor, mumpung ada uang bensin, dan mumpung masih bareng-bareng. Tapi cuaca panaaaaaaaaaaaaaaaas banget waktu itu. Jadi sebelum tancap gas, kami putusin untuk langsung pulang ke kos.
Eh, gatau gimana dan kenapa, di lampu merah perempatan Gondomana, Jenghol menginstruksikan kami untuk banting setir ke Gembira Loka. Aku manut ajah, sebab tempat itu belum pernah aku kunjungi sama sekali. Rasa cape dan kantukku tiba-tiba hilang terbang entah ke mana. Dan ternyata, sampai di lokasi, udarane adem dan sejuk. Cukup tepat menjadi bargaining position bagi panas yang pagi itu amat sangat membakar..hohohho…Dan di tempat itu, aktivitas kami tetap tak berubah. FOTO-FOTO dengan tensi pedemeter yang melebihi tensi rasa lelah dan capek yang sedari tadi muncul. Pas itu, hanya satu hal yang bikin kami berhenti berpose,,yakni ketika..BATRE KAMERA HABISSS!!!!!!!! Hahahahahahahaha..Parah..parahh..
Well, anyway, epilog dari tulisan ini adalah, semoga, makrab kos masih akan menemukan seri-nya. Dan satu lagi, sajak yang sedari dulu muncul di kepalaku namun belum sempat tak tuang dalam tulisan. Sajaknya begene,,,
Jika aku masih tetap pada hatimu/dan tidak sedikitpun berkeinginan untuk pergi/hal itu sama sekali bukan tak ada yang lebih baik dan menarik dari engkau*/namun semata-mata/karena hatiku telah terambat padamu, pelabuhan terakhirku…MOKSO BANGEEEEEEEEEEEEETTTTTTT..TAPI ITULAH ADA DAN NYATANYA. I LUV MY KOZ (and my kozmate) SO MUCH VERY TOOOOOOOOOO….
*) Bangunan kos lebih bagus dan harga kos lebih murah…
Makrab sebenere adalah kependekan dari ‘malam keakraban’. Setauku, ritual ini terbatas dan tidak universal. Di kota laen, kampus-kampus bahkan ga kenal dengan istilah makrab. Mungkin terminologi khas Jogja atau bahkan UIN. Entah, aku ga tau juga. Namun aku pernah berkali-kali tanya ke temenku yang kuliah di luar Jogja dan respon mereka sama persis plus simetris, GA TAU DAN GA PERNAH DENGAR, APA ITU MAKRAB. Well, uda jelas tujuan ritual ini adalah menjalin keakraban dengan kawan satu komunitas. Menjalin keakraban jane ya ga harus dengan seruang dan sewaktu kayak ritual makrab yang biasanya diisi dengan acara jalan-jalan dan touring ke mana-mana, cuma rasanya lebih ngetase ajah jika bisa melewatkan waktu bersama dalam suasana yang juga menyenangkan. Dan satu catatan terakhir tentang makrab, meski kepanjangannya adalah malam keakraban, akan tetpai ritual ini tidak harus dan tidak selalu dilakukan pada malam hari. (aku harus segera menutup paragraf ini sebab makrab dalam arti yang universal sudah berkali-kali menjadi skejulku, so akan sangat amat panjang jika dituturkan semuanya di sini)
Well, kali ini cerita bersetting pada hari Ahad, 10 Oktober 2010. Pagi itu, amat jauh dari kebiasaan, aku mandi pagi dengan penuh semangat dan dengan tekad untuk memerangi kedinginan. Mumpung lagi ada KM nganggur, aku tak perlu berpikir banyak untuk langsung nyolonong. Apalagi diprediksikan, pagi itu, KM akan sepenuh dan semacet jalan di jalan protokol pada jam kerja pas semuane pada mau berangkat. Jadi, setelah mandi dan melakukan persiapan seadanya, aku segera mengecek kelengkapan makrab. Jane aku tidak memegang posisi sentral dalam eo ini, sebab semua sudah terlimpahkan pada pengurus kos yang rata-rata masih duduk di semester lima dan semester tiga. Semester tujuh lebih enak dengan posisinya sebagai steering commite. Itu teorinya, namun di wilayah taktis, semuanya nyampur aduk tumpek blek. Ga peduli semester berapa.
Seksi akomodasi dan transportasi diatur sepenuhnya oleh bendahara kos, si Dety. Sedangkan masalah konsumsi sudah dihandle oleh Vero yang pagi itu sudah berdarah-darah memasak nutrijel coklat untuk bekal kami kemping. Wis heboh bangeeeeeeet…Lima hari sebelumnya, aku sudah menarik angket yang aku sebar ke seluruh penjuru kos, untuk mengetahui aspirasi mereka. Namun, sayang seribu sayang, tidak semua penghuni kos bisa ikut. Yayayaya, mereka memang memiliki kesibukan dan skejul sendiri-sendiri. Tapi memang, kebersamaan ga bisa dicari hingga pojok terujung Bringharjo. Sulit banget. Jadi karena mengidealkan seluruh kuota bisa terisi adalah suatu hal yang amat banget mustahil, maka kami pun berangkat meski tidak dengan anggota kos yang utuh. Ada lima belas orang yang turut serta dan aktif berpartisipasi untuk menyukseskan acara ini. Sayang seribu sayang yang kedua, di antara lima belas orang tersebut, tidak ada satupun penghuni baru yang turut serta. OMJJJJJJJ..But that’s a reaaaaaaaaaallll…Empat penghuni baru kos, pagi itu pada lagi mau ada acara lain dan halangan. So, memang tak ada boleh ada pemaksaan, termasuk dalam hal-hal yang sifatnya having fun kayak makrab. Idealnya, makrab dilaksanakan untuk merekatkan emosi antara mahasiswa lama dan mahasiswa baru, dan dalam hal ini antara penghuni baru dan penguni lama. Namun idealisme tinggal idealismeeeeee….
Lima belas orang yang pagi itu mengenakan baju terbaik dan menampilkan dandanan terimutnya masing-masing terbai dalam dua kloter. Kolter pertama adalah mereka yang memanfaatkan jasa alat transportasi paling mewah se-Jogja, yakni Trans Jogja. Total ada sepuluh orang. Sedangkan lima yang lainnya adalah seksi pembantu umum (yang bisa disulap menjadi seksi apapun dalam keadaan bagaimanapun) yang mengendarai sepeda motor. Aku berada dalam kloter kedua. Kami berlima dengan tiga motor. Aku dan Anggun, Jenghol dan Erma, dan DP sendirian. Sebenere, aku lebih memilih untuk rame2 di TransJogja. Namun, karena alasan budget juga plus menyediakan motor sebagai instrumen cadangan jika ntar terjadi apa-apa, akhirnya aku mutusin untuk make motor ajaaaaaaahhh…Masing-masing kloter sudah dilengkapi sebuah kamera, jadi tidak alasan untuk tidak narsis di momen-momen kebersamaan itu. Kloter pertama dengan kamera Rida, dan kloter kedua dengan kameraku. Sedangkan logistik berupa lauk, cemilan, dan air, dibawa sepenuhnya oleh kloter kedua. Bener-bener mesa’ke, tapi inilah konsekuensi. Wissssssssss,,,dua kloter itu berpisah setelah sempat jepret-jepret di depan MP.
Kloter kedua sampai di Altar ketika kloter pertama masih duduk manis di halte Wanita Tama alias belum dapet bus. Mesa’ke bangeeeeeet…Namun kloter kedua juga uda mulai kelabakan untuk mulai berteduh dan mencari tempat yang rindang…Mulai dari di depan kantor BI, berpindah ke sisi barat altar, lalu sisi utara altar, hingga akhirnya di tengah-tengah altar. Pas itu kerosone awan sedang tak ingin menaungi kami berlima. Hehehehe..Jadi, setelah kembali dan lagi-lagi berpose dengan tensi pede yang tinggi, suatu masalah baru kembali muncul. Dan semuanya belum sama sekali diprediksikan dan diperhitungkan saat semalem mengadakan konsolidasi di depan tv sambil nonton IMB. Andong yang dianggarkan akan mengantar anggota kloter pertama ke Taman Sari dari shelter TJ paling selatan di Malioboro mematok harga yang amat banget mahal. 30 REBU bagi turis lokal seperti aku dan temen-temen tenti merupakan nominal yang cukup menguras kantong. Setelah konsolidasi viahape, akhirnya muncul keputusan bahwa anggota kloter satu akan diangsur dengan menggunakan tiga motor yang dibawa kloter kedua. Tuuuuuuuuuuuuuucccccchhh,,,untung bawa motor. Jika ndak, dak sama sekali kebayang kalo harus ada ritual nyeker dalam acara seneng-seneng ini. Jadi, dari sepuluh orang yang masuk anggota kloter I, dua di antaranya memilih untuk menggunakan jasa becak. Mereka adalah ketua kos, ddk Soby dan menteri keartisan, Bak Njes yang mengaku bernama belakang Chandrawinata. Sedang delapan orang yang tersisa kemudian diangsur satu-persatu (dan kadang double) agar bisa segera sampai di TKP.
Dan untuk urusan yang satu ini, aku emoh jadi driver, sebab di antara anggota kloter kedua (yang ternyata semuanya sudah punya SIM-C), akulah driver yang paling amatir. So, aku lebih baik ngalah pada driver yang sudah mahir untuk menjemput dan mengangsur anggota kloter satu dari lampu merah perempatan Malbor mpe taman sari. Bukan apa-apa, kenyamanan berkendaraku jadi serasa berkurang saat aku harus mbonceng seseorang, sebab aku kurang bebas berekspresi dan merasa tengah memegang tanggungjawab yang demikian besar, menyelamatkan anak manusia yang ada di belakangku untuk sampai ke tujuan. Hehehehe. Lebay banget memang, tapi itulah ada dan nyatanya. Aku merasa gerogi plus serba salah jika harus mbonceng orang, apalagi yang mbonceng adalah Ibu muda kaya Ayu. Hoahoahoaohoahoaho…
Setelah menentukan division of labour dan job discription, akhirnya, di antara berlima, aku dan Ermalah yang akhirnya diputuskan untuk tidak jadi driver dan menunggu di Taman Sari. Sedang tiga yang lainnya, Anggun, Jenghol, dan DP, bertugas mengangsur temen-temen dengan tiga motor yang ada. Aku uda masrahin kunci motorku ke Anggun so,, aktivitas selanjutnya adalah W.A.I.T.I.N.G. Awalnya aku cuma berdua ma Erma, lalu disusul Riska dan Rida (yang dianter DP), dan kemudian temen-temen yang laen. Di tengah-tengah ritual angsuran ini, muncul lagi satu masalah baru. BANKU HARUS DITAMBAL KARENA ADA PAKU KECIL YANG KELINDES DAN NANCEP DI BAN DEPANKU. Kontan aku kelabakan, Seumur-umur aku ga pernah menghadapi masalah teknis yang demikian tanpa ada seorang laki-laki di sisiku, semisal bapak, elton, ksatria, atau temen-temen korpku. Bukan pengalaman pertama siy, cuma ini pertama kalinya aku harus menghandle urusan itu by me myself. Untungnya, aku masih diselamatkan oleh keadaan. Ada DP (D Prita) yang mau menemaniku mencari tempat tambal ban. Dan dari kacamataku, aku liat DP tau lebih dibanding aku dalam masalah tambal ban. Sebab itulah, aku tak sungkan bertanya padanya, apapun yang ada di kepalaku, semisal “Yang kena ban dalam pa ban depan?”, trus “Yang harus diganti ban depan po ban belakangnya???”, dan lain sebagainya. Aku hanya ingin menetralkan rasa panikku.
Dengan berjuta harap dan lelah yang uda mulai muncul, aku menyusuri jalanan sekitar Altar dan Taman sari kemudian menemukan sebuah tambal ban di kanan jalan, pas di jalan yang selalu aku lewati setiap kali akan ke Altar. Alhamdulillah, keadaan lagi-lagi menyelamatkanku. Ban motorku langsung dipermak abis ma si bapak dan aku ma DP hanya duduk-duduk memerhatikan betapa bapak itu cekatan merepair semuanya. DP lalu mengatakan bahwa pekerjaan ini tak akan menyita terlalu banyak waktu, maksimal 30 menit. Aku tau dia amat sangat bisa membaca kekahawtiranku. Ia bahkan menyarankanku untuk minta kompensasi uang tambal ban ke bendahara kos. Tapi yaaaaaaaa….Yang ada di pikiranku saat itu adalah bagaimana motorku bisa kembali sehat seperti sedia kalaaa…Hmmm…Aku mengamati proses penambalan ban motorku dari awal hingga akhir. DP juga sangat apresiatif dengan pertanyaan-pertanyaanku. Tak terasa aku merasa senang, siang itu, banyak pelajaran yang aku terima. Pelajaran kehidupan maupun pelajaran fisika. Heheheheheh…
Setelah membayar biaya tambal ban, aku dan DP segera cabut ke Taman Sari. Di sana, temen-temen uda pada nungguin kami. Mungkin uda aga lama, I did my apologize, tapi aku emang wanti2 agar aku ditunggu so ga perlu ada cerita someone’s missing di episode makrab ini. Saat aku datang, ternyata masih ada dua orang yang belum ngumpul, yakni ketua kos dan menteri keartisan. Mereka masih menghandle masalah kelaparan di sebuah angkringan pojok depan pintu masuk taman sari. Setelah didesak berbagai fraksi, akhirnya tu dua orang muncul…Dann..Next, kami akan masuk. Tiket sudah dibeli, jumlah pas. 15 lembar. Satu tiket berharga 3000. Dalam hati aku menyayangkan, mengapa aku tak menggunakan naluri preman untuk ‘curang’ dalam jumlah tiket ini. Kecurangan2 itu uda berulang kali aku lakukan, bersama temen-temen dan di tempat yang berbeda. Namun kali ini aku ga bisa melaksanakan trik itu. Bukan apa-apan, tiket sudah terlanjur dibeli dan aku tidak mau memberikan contoh yang tidak baik pada adik angkatan. Heheehehehe. Meski asa keuangan yang maha esa akan dianut siapapun, namun dalam beberapa keadaan, asas tersebut harus dikompromikan dengan asas-asas lain yang mungkin lebih penting, seperti memberikan teladan yang baik pada adik angkatannn..Heheheheh.
Okelah, kami berlimabelas masuk dengan lima belas tiket yang aku serahkan pada penjaga pintu masuk. Hadooooooohhh..nyesel banget rasanya ketika tau bahwa tu tiket sebandel ga diitung apalagi diliat asli ndaknya, tapi hanya diberi tanda bolong dua buah dengan alat yang biasa dipake untuk bolongin kertas…Tapi tak apalah, tak mengganggu manisnya kenangan pagi yang uda agak panas itu. Acara selanjutnya uda bisa dipastikan, FOTO-FOTO NARSIS MPE MATI GAYA. Aku pribadi uda mulai merasakan sindrom kebosanan untuk selalu berpose di depan kamera, apalagi sejak aku mengantongi kameraku awal tahun lalu. Namun dalam urusan foto bersama, aku memang merupakan salah satu orang yang tidak mau ketinggalan. Alasan paling utama, kebersamaan itu mahall…Dan legitnya juga masih akan terasa ketika suatu saat di jauh, kita mengenangnya. Makanya, aku bela-belain testing speaking ma salah satu turis bule untuk memotret kami berlima belas. Hehehe. Eh, tu turist malah juga mau ikut foto setelah motretin kami. Heheheheh. Lucu ah, oon juga. Plus malu-maluin karena kami tu rameeeeeeeeeee banget. Ada yang minta fotoin, ada yang sibuk ngatur self timer, ada yang mengeluh cape dan kelaparan, dan lain sebagainya.
Well, show must go on. Aku lebih banyak bertindak sebagai fotografer saat itu. Setelah menyusuri area taman tempat pemandian (yang dibagi dua untuk membedakan tempat mandi isteri resmi dan selir raja yang tak resmi) dan berlebay-lebay di sana, kami mulai tak kuasa menahan rasa lapar. So, diputuskan, untuk acara selanjutnya, KAMI MAKAN. MEMBUKA BEKAL YANG DIBAWA DARI KOS. Sebelumnya, kami uda urunan beras yang kemudian dimasak bareng untuk meminimalisasi anggaran. Untuk lauk sekaligus sambel, kami uda mesen di ketring Yu Semi. Selain itu, ada persediaan air, nutrijell, cemilan, dan kerupuk yang biasa dibikin teman makan nasi. Whahahahahah….soswiiiiiit banget acara makan siang itu. Aku uda amat banget kelaperan, ditambah eventnya rame-rame, jadi kerosone enak bangeeeeeeet,, meski sebenarnya biasa ajahhhh…
Saat makan, Rida yang siang itu ga mau makan—karena uda makan tadi pagi di kos—sempet ngerekam aktivitas kami. Video itu ternyata lucu bin ajaib, bikin cekikikan dan bikin dunia serasa sangat amat menyenangkan. Hehehe. Well, seabis makan, kami melanjutkan rute perjalanan ke tempat-tempat tua kaya terowongan dan kembali acaranya sama, FOTO-FOTO. Aku tak tau banyak tentang sejarah tempat ini. Yang pasti arsitekturnya keren gile, serasa kayak di pilm-pilm gitu. Sayang memang, ada banyak sisi di taman sari yang kurang terawat, sehingga uda beranjak sepuh dan membungkuk gitu. Kalo bangunan sejarah emang kadang bikin bingung, direparasi ntar bisa mengurangi nilai kesejarahan, dibiarin ntar malah ga kerawat. Gitulaaaaaahhh…di bangunan yang mirip terowongan itu, kami sempat kembali minta bantuan seorang pengunjung untuk memotret kami pas genap berlima belas. Meski fotonya kemudian ga apik karena pengaturan cahayanya ga beres, akan tetapi tu foto tetep oke punya laaaaaahhhh…
Dari terowongan itu, Anggun, sebagai salah satu penghuni yang pernah mengunjungi Taman Sari sebelum hari itu, mengajak kami ke sebuah bangunan tua yang lagi-lagi aku ga tau harus dibahasakan apa. Intinya, bangunan tu keren banget, meski sudah ga beraturan di mana-mana. Di tempat itu, tenaga kami uda hampir off. Temen-temen uda banyak yang mengeluh dan sudah tidak nafsu untuk berfoto-foto. Namun sebagian masih asyik berpose-pose sakarepe dewe. Aku bahkan masuk dalam list terakhir orang yang datang ke tempat parkiran untuk selanjutnya pulang. Pas itu, bertiga ma Jenghol dan bak Njes, aku masih berpose-pose seakan tiada lelah yang menghinggapi kami. Hehehe…
Abis itu, di tempat parkiran, kami menghabiskan logistik yang masih ada dan kemudian bersiap untuk pulang. Ternyata uang parkir dan uang bensin juga termasuk salah satu biaya yang ditanggung oleh pihak akomodasi dan atau transportasi. Yayayaya…senang lahhhh,,,hehehehe. Dan dalam urusan angsuran temen-temen, kami tetep mengandalkan driver yang tadi pagi bolak-balek. So itu artine, aku bisa beristirahat di masjid deket Taman Sari untuk sekalian shalat dzuhur. Sesudah semua anggota berkumpul dan telah melaksanakah ibadah shalat dzuhur (pada perjalanan pulang, kloter kedua nambah kuota satu orang, yakni Rida), kami mulai bingung mau ke mana abis ini. Mumpung ada motor, mumpung ada uang bensin, dan mumpung masih bareng-bareng. Tapi cuaca panaaaaaaaaaaaaaaaas banget waktu itu. Jadi sebelum tancap gas, kami putusin untuk langsung pulang ke kos.
Eh, gatau gimana dan kenapa, di lampu merah perempatan Gondomana, Jenghol menginstruksikan kami untuk banting setir ke Gembira Loka. Aku manut ajah, sebab tempat itu belum pernah aku kunjungi sama sekali. Rasa cape dan kantukku tiba-tiba hilang terbang entah ke mana. Dan ternyata, sampai di lokasi, udarane adem dan sejuk. Cukup tepat menjadi bargaining position bagi panas yang pagi itu amat sangat membakar..hohohho…Dan di tempat itu, aktivitas kami tetap tak berubah. FOTO-FOTO dengan tensi pedemeter yang melebihi tensi rasa lelah dan capek yang sedari tadi muncul. Pas itu, hanya satu hal yang bikin kami berhenti berpose,,yakni ketika..BATRE KAMERA HABISSS!!!!!!!! Hahahahahahahaha..Parah..parahh..
Well, anyway, epilog dari tulisan ini adalah, semoga, makrab kos masih akan menemukan seri-nya. Dan satu lagi, sajak yang sedari dulu muncul di kepalaku namun belum sempat tak tuang dalam tulisan. Sajaknya begene,,,
Jika aku masih tetap pada hatimu/dan tidak sedikitpun berkeinginan untuk pergi/hal itu sama sekali bukan tak ada yang lebih baik dan menarik dari engkau*/namun semata-mata/karena hatiku telah terambat padamu, pelabuhan terakhirku…MOKSO BANGEEEEEEEEEEEEETTTTTTT..TAPI ITULAH ADA DAN NYATANYA. I LUV MY KOZ (and my kozmate) SO MUCH VERY TOOOOOOOOOO….
*) Bangunan kos lebih bagus dan harga kos lebih murah…
Hmhm...
adventure of me..
