RSS

Rabu, 10 November 2010

M.E.R.A.P.I

Ketika masih di Jakarta untuk suatu keperluan beberapa pekan yang lalu, aku mendengar kabar dari televisi maupun situs-situs di internet bahwa Merapi meletus. Tak berada di Jogja seperti biasanya, aku kurang begitu merasakan suasana letusan itu. Selain karena kosku cukup jauh dengan pusat bencana, aku belum pernah mengalami bencana yang bisa dibilang real disaster. Selama ini, paling mentog, aku hanya merasakan nyaliku berdetak satu-satu saat ada gempa kecil yang sekadar lewat atau sesekali pernah bertemu dengan putting beliung. Selain itu, buat aku, Jogja masihlah kota hunian yang menjanjikan. Meski banyak yang mengatakan bahwa Jogja hari ini tak seramah dulu, aku jauh lebih menyukai Jogja dibanding Surabaya, Semarang, apalagi Jakarta. Buat aku, Jogja adalah kota kecil yang masih lekat dengan nunansa ke’desa’annya.

Sebab itulah saat pertama kali mendengar bencana letusan Merapi di Jogja, aku serasa percaya tak percaya. Miris rasanya harus membayangkan kotaku akan dirundung duka. Tapi itulah yang aku liat di layar tivi maupun di situs-situs internet. Nama ‘CANGKRINGAN’ pun disebut-sebut sebagai kecamatan yang mengalami kerusakan cukup parah. Aku segera teringat bahwa beberapa hari sebelumnya, aku sempat mampir ke Cangkringan bersama temen-temen GM dalam rangka menghadiri acara PKD salah satu fakultas. Meski belum terlalu dekat dengan Merapi, tapi aku cukup merasa bahwa tempat yang saat itu aku pijaki saat ini tengah berada dalam zona bahaya.

Dan, satu hal pun berkelebart di pikirku. Beberapa hari lagi (aku lupa tanggal pastinya), aku dan teman-teman akan menghelat acara tahunan di wilayah Turi yang otomatis juga dekat—bahkan jauh lebih dekat dibanding Cangkringan—dengan Merapi. Aku tak tau bagaimana nasib dan keberlanjutan acara tersebut. Yang pasti sebelumnya, aku sudah menunggu-nunggu kapan momen itu akan tiba. Suasan Turi dan segala kekhasannya membuatku melempar ingatan pada Novemvber 2008 saat acara yang sama. Aku ingin mengulang suasana itu meski di tempat dan orang-orang yang berbeda, namun ternyata keinginan itu belum sejalan dengan kehendak Tuhan.

Lewat chating di salah satu situs jejaring sosial, seorang teman memberitahuku bahwa acara itu akan dipindah mendadak ke bagian selatan Jogja, yakni wilayah Bantul. Ya kecewa juga, pasalnya aku uda excited banged dan udah sedari dulu mengatur jadwal aku bisa stand-by di lokasi meski tidak 24 jam dalam sehari. Namun langkah memindahkan lokasi acara memang satu-satunya pilihan yang ada. Aku mungkin hanya kecewa, perasaan yang jauh amat sangat ringan dibanding temen-temen panitia dan fasilitator yang mungkin harus banyak memforsir pikiran, tenaga, serta uang. Well, setelah mendapat berita itu serta berita-berita lain di televisi, aku sadar bahwa Jogja bener-bener tengah mengkhawatirkan.

Sore, 26 Oktober, kalo ga salah, Merapi memuntahkan letusan yang cukup besar dan memakan korban jiwa maupun material. Salah satu korban jiwa yang nyawanya tidak dapat diselamatkan adalah Mbah Marijan, juru kunci atau sahibul bait Merapi. Sosok Mbah Marijan mulai dikenal sejak peristiwa letusan Merapi yang ga gitu besar pas 2006 kemarin, ketika aku belum di Jogja. Aku belum pernah bertemu dengan Mbah Marijan dan aku hanya mengenalnya melalui cerita dan catatan-catatan tentangnya. Sebab itulah aku tak banyak tau tentang sosok yang bersahaja ini.. Sebatas yang aku liat, Mbah Marijan adalah representasi dari generasi tua yang berpikir sederhana dan fokus. Fokus pada tugasnya dan filosofi hidupnya untuk’ menjaga’ Merapi dan menjadi dirinya sendiri. Simpel dan ga terlalu muluk plus ga kebanyakan request ma Tuhan. Hal itulah yang barangkali terlihat dari momen-momen ia menjemput maut di rumahnya—yang diberitakan meninggal dalam keadaan sujud ketika tengah shalat—ashar.

Terlepas dari benar-tidaknya serta besar-kecilnya kemungkinan adanya rekayasa dalam pembritaan tadi, aku menilai Mbah Marijan sebagai salah satu dari segelintir orang yang spirit hidupnya perlu dilestarikan. Simpel, sederhana, namun fokus pada apa yang menjadi spirit hidupnya. Sayang memang, sepanjang pengetahuanku, Mbah belum sempat melakukan kaderisasi pada calon penggantinya yang akan menjaga Merapi. Tapi dari itu semua, seperti kata pepatah arab, lisanul hal afshah min lisan al maqal. Perilaku dan tindak-tanduk Mbah Marijan sejauh ini—sepantasnya dan sebenere—menjadi teknik kaderisasi yang cukup baik. Masalane kemudian, bagaimana dengan kader-kader yang akan melanjutkan tugas mulia tersebut. Semoga, spirit Mbah Marijan masih akan hidup di tengah-tengah anak cucunya yang akan menjaga Jogja dan Merapi.

Selama tiga tahunan lebih di Jogja, aku sedkit banyak mengerti geografis Jogja. Jogja adalah Daerah Istimewa yang cukup mungil namun apik dengan empat kabupaten, yakni Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunung Kidul. Ada tiga hal yang mungkin menjadi ikon yang cukup identik dengan Jogja, yakni Parang Tritis (Laut Selatan tempat Bunda Nyai Roro Kidul), gunung Merapi, dan tugu. Dosenku pernah bilang bahwa ada paradigma mistis yang mengatakan, jika bisa ditarik garis lurus, maka ada garis linear antara tugu Jogja, gunung Merapi, dan Parang Tritis. So, Jogja ada di antara dua kutub, yakni kutub Selatan, Parang Tritis di Bantul, dan kutub utara yakni Merapi di Sleman. Kemarin, saat gempa Jogja, daerah Selatan mengalami kerusakan cukup parah. Dan hari ini, saat Merapi meletus, daerah Utara Jogja serta kabupaten lain yang berbatasan dengan Jogja (seperti Magelang dan Boyolali) harus sejenak menjadi kota mati.

Jadi, dari perhitungan sederhana semacam itu, malam itu, ketika hujan Pasir sampai di tempatku, aku berinisiatif untuk mencari suaka dan perlindungan (baca: pengunsian) ke arah selatan, Bantul atau Wonosari. Saat aku menghubungi seorang temen via telepon, dia mengatakan bahwa Wonosari menjadi final destination dari masyarakat yang harus dievakuasi. Saat itu, uda lewat tengah malam, aku sudah sampai di Jalan Wonosari, namun aku mengurungkan niat untuk terus naik karena medan yang cukup berat tidak akan mau berkompromi dengan mataku yang cukup mengantuk dan aku yang kelelahan, meski sehabis bangun tidur. Malam—atau dini hari dan pagi itu—menjadi momoen yang cukup menegangkan buat aku, barangkali karena momen pertama.

5 November waktu itu. Aku inget banget, tidurku lelap banget dan banget lelap, sebab seharian aku kecapean mempersiapkan makalah yang harus aku presentasikan besok di kelas Filsafat Bahasa. Ga tau jam berapa pastinya, temen kamarku membangunkanku dan langsung berucap banyak hal. Di luar, suasana sudah ramai. Temen-temen kos pada bangun dan semuanya merengsek ke depan televisi untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Aku masih males beranjak dari tempat tidur dan segera mencari hape yang biasanya jadi barang terakhir yang aku liat sebelum aku memutuskan untuk terlelap. Ada banyak panggilan dan beberapa sms yang intinya sama, menyuruhku untuk bangun dan mengabari bahwa kotaku tengah dilanda hujan pasir, setelah Merapi kembali meletus. Aku bener-bener panik dan kantuk lelahku hilang seketika.

Aku langsung menghubungi beberapa nomor di hapeku. Ksatria, Bapak dan Umik, Mbk Rom, serta Unyil. Minimal, orang-orang itulah yang barangkali paling banyak menyita waktu dan tempatku belakangan ini. So, aku langsung mengabari dan mengontak mereka. Dial pertama, ksatria. Dia sudah terjaga dan menyadari bahwa hujan pasir juga tengah mengguyur genting-genting kamar kecilnya. Mbak Rom, Bapakku, dan Unyil masih terlelap. Panggilan teleponku lah yang membangunkan mereka. Aku bicara seperlunya dan tetap berusaha mengkondisikan diri setenang mungkin di keadaan yang cukup genting itu. (Saat itu aku masih sempat berpikir bahwa ada satu nomor yang seharusnya juga aku dial, sekadar memberitau suara di sana bahwa aku tengah berada dalam keadaan aga genting. Tapi, aku memang wajib mengurungkan niat itu dan menganggap pikiran itu tidak pernah muncul. Bukan waktu yang tepat untuk bermain dengan perasaan)

Setelah mengumpulkan sukma dan kesadaran, aku bergegas ke depan tivi untuk bergabung dengan temen-temen kos. Di sana, sudah cukup banyak teman yang tampak terjaga sedari tadi. Pemberitaan di televisi, selain informatif, ternyata juga mengandung unsur lebay. Entah, apakah unsur ini memang harus ada dalam sebuah pemberitaan demi alasan pasar, yang pasti aku merasa pemberitaan dini hari itu cukup berlebihan. Apalgi jika konsumen berita itu adlah orang tua yang anaknya kuliah/skolah di Jogja. Bisa dibayangkan bagamana panik dan hebohnya.

Terkait dengan sisi lebay media itu, aku punya berbagai cerita dari penuturan temen-temenku. Yang pertama, dari salah satu temen yang menuturkan bahwa orangtuanya rela mengeluarkan kocek setengah juta lebih untuk membayar taksi yang membawa ketiga anaknya pulang dari Jogja menuju Banjarnegara. Yang kedua, seorang temenku yang lain memutuskan untuk mudik setelah ada pengumuman libur dari kampus. Ketika nyampai rumah, sang ibu menyambut temenku dengan penuh perasaan dan keharuan, hingga temenku tersebut membahasakan dengan “seperti menjemput orang dateng berhaji dari Mekkah” plus pake acara memeluk sambil menangis. Dan yang ketiga, cerita lain, seorang ibu yang tiga anaknya sama-sama belajar di Jogjakarta, dijauhkan dari televisi dan siara berita agar tidak berlebihan mengkhawatirkan keberadaan anaknya.

Semua ekspresi itu, memang murni berangkat dari rasa sayang dan kekahawatiran orang tua (terutama orang tua perempuan) terhadap anak-anaknya. Tapi yaaaa..mereka yang tidak tinggal di Jogja dan melihat pemberitaan yang tampak demikian heboh dan darurat, bisa dipasatikan akan berekspresi demikian. Wajarlah, adanya. Dalam menghadapi situasi yang cukup dilematis ini, langkah teraman yang aku ambil adalah dengan meyakinkan orang tuaku (bapak dan terutama umik) bahwa keadaanku di sini tidaklah segaswat seperti keadaan yang diberitakan di televisi. Aku juga berkali-kali mengatakan bahwaaa…tempat aku kos maupun tempat aku kuliah berada adalam radius yang amat banget jauh dengan lokaso bencana. Banyak lah, yang aku ucapkan berkali-kali kepada orangtuaku untuk meminimalisir kekhawatiran beliau-beliau. Well, above all, aku sudah cukup tua dan tanggap bencana untuk menyelamatkan diri sebisa mungkin. So, beliau tidak perlu mengkahawatirkanku terlalu berlebihan.

Selain orang tuaku, beberapa keluarga dan teman dekat juga selalu mengupdate suasana di Jogja, khususnya keadaanku sendiri. Meski kadang males mengangkat telepon dan membalas sms yang cukup banyak itu, aku merasa senang juga diperhatikan orang-orang yang aku sayangi dan pernah seruang dan sewaktu denganku, dahulu, di berbagai tempat dan berbagai alasan. Hehehehe. Karena paradigma ini pulalah, aku kadang protes pada temen dekat yang tidak menanyakan kabarku dengan sms yang sok manja banget, “Kau tak mengkhawatirkanku?” Heheheh..Pede banget emang, tapi aku hanya ingin mencari suasana lain di balik kondisi gempa yang cukup meresahkan dan melelahkan ini. Setidaknya, dari suasana ini juga, aku bisa tau mana temen-temenku yang memiliki rasa sayang dan peduli dengan ekspresi kekhawatiran, sindrom yang barangkali juga menjangkitiku. Hehehe. Jadi, setelah menemukan temen sealiran, aku lebih mudah mengenali gejala ini. Ga nyambung ah. Hahahaha

Selaen hujan pasir, aku juga pernah merasakan hujan air..hehehe..maksudnya hujan abu. Hujan abu ma hujan pasir sebenernya ga jauh beda. Sama-sama mengharuskan warga Jogja untuk mengenakan masker. Hujan abu..pertama kali mengguyur daerah kosku di suatu pagi, sehari setelah aku mendarat di Jogja. Bedane, hujan pasir sedikit lebih menyeramkan dibanding hujan abu. Jika ketika abu, genting kos tak berdecit dan tak menimbulkan suara apa-apa, maka saat hujan pasir datang, serasa ada irama tak beraturan yang menghinggapi atap-atap kos dan membuat penghuninya dua kali lebih resah dan lebih cemas dibanding ketika hujan abu tengah mengguyur. Semoga, hanya hujan abu dan hujan pasir yang sudi menghinggapi kota dan kosku, tidak sampai hujan kerikil apalag nomaden goat (wedhus gembel).

Untuk merapi, meski tak terprediksi, semoga bisa mengerti. Amien.

Tanpa Judul Ae

Disebut surat mungkin kurang tepat, dikatakan puisi juga tidak pas. Karangan ringan aja sebenre, sebuah karangan yang akan memaparkan sekelumit kisah tentang seseorang. Tak berat dan tak rumit.

Sesederhana itu pulalah mahluk bernama rindu, barangkali. Rindu sebenernya ya tidak perlu terlalu dibuat ribet dan rumit. Biasa ae dan seharusnya disikapi biasa aja. Idealnya gitu, dan wacanan memang amat sangat lebih mudah dibanding kepanjangan tangan wacana tersebut. Btw-btw, belum ada regulasi yang melarang seseorang untuk merindukan siapa dan apapun yang dikehendakinya. So, rindu boleh aja, asal jangan gila-gilaan. Oooppss, emang seperti apakah rindu yang gila-gilaan? Intine rindu yang ga sehat ae laaaaaaaaaah…

Dan pada diriku sekarang, what yearning I have? And how should it be? Pertanyaan yang sebenere gampang banget untuk dijawab. Tapi ya embuhlah, aku uda mulai dulu merasa kewalahan dan hampir merasa ga kuat untuk berjibaku dengan makhluk bernama rindu. Ga gitu ganas, tapi efeknya cukup mematikan. Bagaimana tidak, hampir tidak ada satu pun teori yang bisa secara saklek memetakan bagaimana ia adanya dan bagaimana ia hidup dan berkembang. Seperti, gejala pertama yang aku kenali adalah…bahwa Rindu tak harus bertemu.

Ya, bener. Gejala itu juga menjangkitiku. Aku merindukan seseorang namun aku emoh untuk bertemu dengannya. Aku tak berwacana belaka dengan pernyataanku tadi. Murni, itulah yang kurasakan. Agaknya aku mulai berpikir bahwaa…bertemu bukanlah satu-satunya penangkal atau solusi yang solutif atas mahluk bernama rindu. Orang lain barangkali ada yang merasakan seperti yang aku alami saat ini, hanya mungkin motif dan alurnya berbeda. Dan untuk kasusku sekarang, aku mulai berpikir bahwaaaaaaaa…Ada satu alasan besar mengapa aku tak ingin menebus rinduku dengan ritual semacam pertemuan kopi darat atau cengkerama digital..

Lagi-lagi aku menganggapnya sebagai suatu hal yang sederhana dan amat simpel. Aku tak ingin menebus rindu yang menumpuk itu dengan pertemuan sebab aku pun mulai yakin, bahwa material yang aku rindukan tidak lagi bisa seruang dan sewaktu bersamaku. Ia semacam hidup dalam kenangan manis yang telah usai dan tidak akan pernah terulang lagi sampai kapanpun, dengan orang yang sama maupun orang yang berbeda. Wujudnya masihlah ada dan empiris, hanya saja jiwa dan segala kenangan tentangnya terasa telah menjadi sebuah metafisika bagikuuuu.. Sebab itulah aku berpikir positivistik ajah, tak mau menghampiri metafisika yang jelas-jelas tidak empirik dan tidak berwujud. Jadi, jalan keluarnya, biarlah rindu itu menumpuk dan menemukan riwayatnya dengan natural, tanpa harus ada ritual-ritual pertamuan yang terkadang hanya menyakitkan. Hahahahahahahaaaaaaaaaaa…MELOOOOOOOOOW…

Berangkat dari semangat dan kesadaran itu, aku jadi lebih berpikir banyak tentang perasaan, keinginan, juga mungkin egoismeku. Dan kontemplasi ga jelas itu kemudian mengantarkanku pada gejala yang kedua. Gejala rindu gila yang kedua. Yakni bahwa, rindu pada seseorang tidak hanya akan kembali memflashback ingatan pada episode2 kehidupan sebelumnya, namun juga memberi banyak pintu untuk kembali berpikir. Kembali merenungkan berbagai persitiwa, bermacam proses, serentetan kenangan, dan beberapa hal yang mungkin akan sedikit banyak mengubah persepsi kita tentang orang yang tengah menjadi referen dari semua perenungan dan kenangan-kenangan masa lalu itu…

Dalam fase-fase inilah, seprti yang kurasakan, terbuka amat sangat banyak kemungkinan seseorang akan menydari betapa berharganya momen, kenangan, dan jiwa yang sudah lewat dan tak akan kembali tersebut. Kita bisa tertawa sendiri, menangis sendiri, malu-malu sendiri, dan segala hal yang barangkali bisa membuat kita lebih bijak dan lebih arif memandang kehidupan dan semua akseseorisnya. Dalam kasusku, lagi-lagi, yang ingin aku tuturkan hanyalah bahwa dalam momen tersebut, aku baru menyadari bahwaaaaaaaa..arti seseorang—you know who—yang tak akan pernah menampakkan dirinya kembali lagi tersebut amat banget terasaaaaaaaaa….Betapa tanpa skenario Tuhan yang mempertemukan aku dengannya, aku nyaris tidak mungkin menjadi ITA hari ini…

Dan malam ini, berlomba dengan denyit-denyit keyboard yang mulai kelelahan, rinduku berdentam pelan-pelan. Iramanya relatif stabil, sebab aku sudah sedari dulu merancang banyak hal agar irama dan ritme rinduku tidak sefluktuatif perasaanku. Sayang memang, langkah konkret itu harus aku lakukan dengan hal yang sebenarnya kurang masuk akal dan sangat tidak mengenakkn; Bersandiwara. Pura-pura tak punya rindu, pura-pura tak ada kangen, dan berlagak seakan semuanya baik-baik saja padahal aku tengah menyumbat mulut luka yang mengaga bersama perihnya yang merngaroma… Aku bahkan dengan rasa tega yang penuh meski dengan amat berat hati sudah menutup akses alasanku untuk bisa bertemu dengan dia—you know who—yang sebenernya menjadi muara dari semua rinduku.

Dalam perhitunganku, ketika akses-akses alasan itu sudah aku blokir, aku tak lagi perlu risau menunggu waktu bisa kembalikan masa-masa indah yang pernah melenakanku itu. Aku tak perlu lagi menunggu apakah ada kabar dari masa lalu yang akan kembali melemparkanku pada surga sementaranya. Aku meneguhkan hati—meski sampe sekarang belum teguh-teguh, ehehehehe—bahwa,,,akhir dari episode panjng yang aku jalani haruslah berujung pada keikhlasan…Biarlah ikhlas yang masih mati-matian aku pelajari ini menjadi ikon yang manis dari semua episode yang juga,,,hhh,,,too sweet to forget…Paling tidak, aku harus berpikir ulang SERIBU SERATUS KALI untuk mencabut ucapanku, menjilati lidah yang sudah aku buang, dan membuka jalur akses alasan yang sudah aku dirikan semenjulang mungkin.

Rindu mengajarkan banyak hal, semisal bersyukur atas momen dan anugerah yang sudah berlalu, bagaimana mengikhlaskan banyak hal dan menjadikannya tambang hikmah yang tak akan habis digali, namun rindu ternyata licik juga. Aku merasakan hal ini utamanya dalam hal…apologinya yang terlalu berlebihan. Entah, percaya atau tidak, sudah pernah atau belum pernah kaualami, aku rasa rindu menjadi rezim paling otoriter yang bisa dengan mudah memasukkan ‘intervensi’ seseorang ke dalam semua lini kehidupan. Mudahnya, tak jauh beda dengan salah satu lirik yang dinyanyikan Avril Lavigne, everything that I do, reminds me of youu….Dan lirik itu bukan hanya wacana yang mengawang-ngawang, Saudara-saudara!!!!!!

Aku merasakan, mengalami, dan menyaksikannya sendiri. Meski latar belakang rinduku memang support, namun aku bisa memprediksi bahwa gejala ini tak hanya menjangkitiku. Ya, pernahkah Kau merasakan bahwa ketika Kau merindukan seseorang, dia bisa hadir di setiap tempat yang pijak dan setiap waktu yang kau temui? Pada semua keadaan yang melibatkanmu, pada setiap suasana yang menjadi rutinitasmu, dan semuanya. Di setiap denyut pikiran, di setiap jengkal tempat, di semua perasaan, dan dalam 24 jam sehari serta 7 hari sepekan. Dalam hal ini, mau tidak mau, apologi yang berlebihan menjadi salah satu komponen yang akan mendukung suksesi gejala ketiga ini.

Ngeselin emang, tapi rasa rindu berikut gejala-gejalanya—yang barangkali akan sangat amat berbeda di antara masing-masing orang—adalah suatu hal yang alami an-sich dan amt sangat natural. Jadi, mustahil rasanya untuk bisa menghindar dan berlari. Aku sendiri, hingga hari ini, masih percaya, bahwa rindu akan menemukan bentuk dan riwayatnya sendiri, bersama teka-teki yang akan disingkap oleh sang waktu…

Untuk seseorang yang berada di balik pikiran dan perasaanku ketika menulis ini, aku ingin…ingin sekali mengulang kembali semua momen-momen yang tak akan datang kembali lagi. Momen bersamamu, momen mengenalmu, momen menghujatmu, momen memujamu, momen menghawatirkanmu, dan saat ini, momoen merindukanmu adalah rentetan-rentetan proses yang banyak banget berandil dalam membentuk keseluruhan diriku. Aku sama sekali tak pernah berpikir bahwa…Aku akan merindukanku segila ini, akan menyanyangimu setakterdefinisi ini…

Kalaupun kau pasti tidak akan kembali—karena aku harus selalu memastikan bahwa aku benar-benar pergi dari hidupmu—aku masih menaruh harap di batas putus asaku yang paling dalam, untuk kembali merasakan energi-energi yang sering kaupekikkan di telinga tuliku. Tidak untuk memintamu kembali datang dan bertandang, namun untuk mengabadikan sosok dan kenangan bersamamu dalam memoriku yang tak akan pernah terhapus oleh apapun…

Malam ini, atau mungkin pagi ini, aku kembali rindu pada segenapmu. Rindu pada perdebatan panjang kita yang kebanyakan tak berujung-pangkal, rindu pada diammu yang tak pernah mau aku bobol, rindu pada optimismemu, dan yang pasti, aku rindu caramu mencintaiku dan membuatku tak lagi merasa bahwa engkau adalah orang lain. Aku rindu malam-malam panjang ituuu…Jika saja kau baca tulisan ini, kau mungkin akan tau, aku kembali menangis, untuk dan karenamu. Selamat tidur, lelaplah di hatiku.

*) Written on 09-10-10

Jumat, 05 November 2010

Kwalik-walik...

Semiotika Ferdinand D. Saussure
Masyithah Mardhatillah (07530003)

A. Pegantar

Secara garis besar, semiotika bisa diartikan sebagai salah satu cabang linguistik yang secara khusus mengkaji tanda yang telah memasyarakat dalam kehidupan manusia. Seorang ahli bahasa kenamaan, Saussure, telah sejak dahulu menyadari bahwa bahasa komunikasi antar sesama manusia ataupun antar manusia dengan lingkungannya tidak hanya terbatas pada tradisi oral saja, akan tetapi juga meliputi tradisi tulisan, gerak tubuh, dan lain sebagainya yang berwujud tanda untuk mengungkapkan suatu maksud tertentu.

Dalam hidup keseharian, dari wilayah paling privat hingga wilayah paling publik sekalipun, kita sangat sering menjumpai tanda-tanda, semisal tanda lalu lintas, rute jalur, petunjuk-petunjuk di tempat umum, dan lain sebagainya. Karena sifatnya yang selalu dinamis dan cenderung berbeda antarkomunitas, maka para ahli bahasa menginisiasi adanya suatu cabang linguistik yang khusus mengkaji persoalan tanda. Salah satu tujuan utama dari disiplin ilmu ini adalah mensistemasi konsep-konsep dan segala hal yang berhubungan dengan tanda agar sebuah tanda tertentu tidak disalahpahami dan bisa menunjukkan maksud yang ingin disampaikan.

Tanda merupakan bagian kehidupan yang memiliki dua mata pisau. Adakalanya, tanda bisa amat sangat membantu manusia (jika manusia benar-benar memahami maksud yang direpresentasikan di balik tanda), atau juga bisa malah menyesatkan manusia (misalnya dalam kasus ketika manusia salah memahami tanda). Sebab itulah tidaklah mengherankan jika seorang tokoh bernama Umberto Eco mendefinisikan semiotika sebagai sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta. Objek penelitian semiotika adalah tanda yang sangat rentan untuk disalahpahami. Sebab itulah, disiplin ilmu semiotika menjadi sebuah keniscayaan di tengah kehidupan yang sudah memakai tanda sebagai bagian tak terpisahkan.


B. Biografi Saussure

Ferdinand D. Saussure (1857-1913) adalah ilmuwan yang pertama kali mengenalkan istilah semiotika melalui dikotomi sistem tanda, yakni signifed dan signifier. Pada masa hidupnya, Saussure belum secara sistematis merumuskan konsep-konsep linguistik (termasuk semiotika) yang kemudian mengabadikan namanya ini. Dua tahun setelah Saussure meninggal dunia, dua muridnya berinisiasi untuk mengumpulkan bahan-bahan kuliah yang diberikan Saussure selama mengajar di Universitas Jenewa. Nama Saussure senyatanya melambung tinggi berkat buku yang tidak pernah sengaja ditulisnya tersebut, yakni Course in General Linguistic

Ilmuan yang juga disebut sebagai peletak dasar linguistik modern ini lahir di Jenewa pada 26 November 1857 dari keluarga Prostestan yang beremigrasi dari Perancis menuju Lorraine. Bakat dan ketertarikan Saussure terhadap bahasa sudah tampak sedari ia kecil. Hal ini misalnya terlihat ketika usianya 15 tahun, Saussure muda telah menulis esai “Essai sur les Languanges”. Ia pun kemudian memilih kajian Bahasa sebagai bidang yang ditekuninya ketika menjadi mahasiswa ataupun telah menjadi dosen.


C. Pokok-Pokok Pemikiran Saussure

Saussure memiliki ketertarikan untuk menggagas dasar-dasar semiotika karena ia berpandangan bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda kebahasaan, yang biasa disebut juga kata-kata. Kata-kata yang sudah menjadi udara dalam kehidupan manusia, bagi Saussure, merupakan tanda-tanda linguistik yang memiliki referen tertentu. Tanda-tanda linguistik yang muncul dalam bentuk kata dan kalimat (baik tradisi tulis. tradisi verbal, maupun dalam bentuk-bentuk lain) masih mungkin disalahpahami. Sebab itulah ia kemudian tergerak untuk menggagas konsep mengenai tanda yang kemudian menjadi pijakan dasar ilmu semiotika.

Dalam masterpiece-nya, Course in General Linguistics, Saussure mendefinisikan semiotika sebagai ilmu yang mempelajari struktur, jenis, tipologi, serta relasi-relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat. Dari definsi tersebut, dapat diketahui bahwa objek material ilmu semiotika adalah tanda. Sedangkan fokus area pembelajaran dalam ilmu semiotika ada tiga, yakni (hakikat) tanda, sistem yang mengaturnya, dan budaya di mana tanda tersebut berada. Bagi Saussure, bahasa bukanlah satu-satunya sistem tanda yang dipakai dalam masyarakat, sebab masih ada sistem tanda lain yang muncul bersama dengan perkembangan zaman, seperti lampu lalu lintas berwarna merah untuk berhenti, hijau untuk jalan terus, gerak tubuh dan isyarat bagi penyandang cacat, dan lain sebagainya.

Bisa jadi, karena pandangannya mengenai tanda yang dinamis ini, Saussure memiliki ketertarikan khusus untuk mengkaji tanda-tanda yang hidup dalam masyarakat. Tanda yang menjadi objek material dalam disiplin semiotika adalah tanda yang memenuhi dua kualifikasi, yakni tanda yang dapat diamati dan tanda yang menunjukkan sesuatu yang lain. Kualifikasi pertama berarti bahwa tanda yang menjadi objek material dalam semiotika adalah tanda yang konkret atau terindra, sedangkan kualifikasi kedua berarti bahwa tanda harus memiliki acuan terhadap sesuatu yang lain (untuk menyampaikan suatu maksud) yang bukan merupakan tanda itu sendiri.

Secara general, pokok-pokok pemikiran Saussure tersaji dalam eksplorasi-eskplorasi yang bersifat dikomotik dan distingtif. Dalam hal ini, ada beberapa pokok kajian yang menjadi titik tekan pembahasan Saussure, di antaranya adalah penanda dan petanda, langange, parole, dan langue, serta metode sinkroni dan diakroni. Dengan tiga konsep—yang ternyata tidak hanya dipakai dalam studi bahasa ini—Saussure ingin mengemukakan bahwa bahasa merupakan sistem yang masing-masing komponennya memiliki keterkaitan dan keterikatan serta saling mempengaruhi. Gagasan inilah yang kemudian membidani lahirnya aliran strukturalisme dalam dunia filsafat.

Konsep distingtif pertama yang ditawarkan Saussure adalah mengenai signified (penanda) dan signifier (petanda). Keduanya merupakan dua unsur yang membentuk tanda. Penanda (signifier) adalah aspek material bahasa, yakni bahasa tulis maupun lisan yang digunakan untuk menggambarkan sebuah benda (bisa berupa suara, huruf, gambar, bentuk, dan gerak). Sedangkan konsep dan penjabaran deskriptif mengenai sebuah benda dikatakan petanda (signifier). Sebagai misal ketika seseorang mengatakan “buku”, maka suara yang memperdengarkan kata “buku” dan didengar oleh orang lain merupakan penanda, sedangkan konsep buku sebagai alat untuk menulis atau bahan bacaan merupakan petanda. Adapun benda yang disebut buku, yang merupakan objek, maka disebut referen.

Bagi Saussure, berkumpulnya penanda dan petanda yang mengarah pada suatu benda tertentu merupakan syarat suatu hal bisa dikatakan tanda. Adanya hubungan antara penanda dan petanda kemudian dinamakan signifikasi yang juga menghasilkan makna. Penanda dan petanda merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Akan tetapi, seperti yang dijelaskan Saussure, hubungan antara penanda dan petanda merupakan hubungan yang arbitrer, dalam artian tidak bisa ditelusuri mengapa sebuah penanda harus memiliki petanda tertentu. Karena bersifat arbitrer (semena-mena, tidak dapat ditelusuri asal-usulnya dengan logika), maka tidak ada alasan yang bisa diberikan mengapa binatang berkaki empat yang biasa digunakan sebagai alat transportasi bisa dinamakan kuda, bukan kambing atau sapi. Meski tidak dapat ditelusuri asal-usulnya, tanda yang arbitrer tersebut tetap bisa dipahami oleh semua orang.

Selain mengenai konsep penanda dan petanda, konsep lain yang digagas Saussure adalah konsep mengenai langange, langue, dan parole. Langange adalah ujaran yang mencakup parole (sisi individu dari pribadi penutur) serta langue (kaidah, tata bahasa, dan gramatikal). Sebagai misal, kata mareriil adalah langange karena memuat dua hal, pertama, kata ini sudah lumrah diucapkan dalam masyarakat, kedua, kata tersebut memiliki keterkaitan dengan kaidah gramatika bahasa, yakni memiliki kendala yang membuatnya tidak memeuhi tata gramatika bahasa bahasa, dalam hal ini EYD. Sebab inilah, Saussure kemudian beranggapan bahwa langange bukan merupakan fakta sosial dan tidak memenuhi prinnsip keutuhan sehingga tidak bisa diteliti.

Sedangkan langue adalah bahasa konvensional yang sesuai dengan EYD dan kaidah kebahasaan, meski secara lebih luas langue ini bisa diartikan dengan sistem tanda (dalam bentuk apapun) yang mengungkapkan gagasan. Berbeda dengan langange, kualifikasi gramatikal bahasa yang terpenuhi dalam langue memungkinkan langue untuk diteliti secara ilmiah (semisal dibandingkan dengan tulisan, abjad tuna rungu, ritus simbolis, dan lain-lain), karena ia merupakan bahasa konvensional yang disepakati secara kolektif serta memenuhi kualifikasi gramatika bahasa (prinsip keutuhan). Mudahnya, langue bisa diartikan sebagai aspek kemasyarakatan bahasa yang mengandung bahasa yang sudah menjadi kesepakatan kolektif dan memenuni tata kaidah kebahasaan.

Komponen ketiga adalah parole yang merupakan aplikasi dari langue. Sama halnya dengan langange, parole adalah konsep yang tidak bisa diteliti secara ilmiah. Parole adalah bahasa sehari-hari serta keseluruhan ujaran yang hidup dalam masyarakat. Jadi, selain kasrena parole tiap masyarakat sangat dimungkinkan akan berbeda (secara bahasa maupun dialek), parole yang merupakan bahasa keseharian masyarkat cenderung tidak memerhatikan unsur-unsur kaidah tata bahasa. Titik tekan fungsional parole adalah agar suatu ujaran bisa dimengerti dan maksud si pembicara bisa tersampaikan, bukan untuk memenuhi kualifikasi gramatika bahasa.

Dari ketiga konsep tadi, tujuan linguistik adalah mencari sistem bahasa (langue) dari kenyataan yang konkret (parole). Hal inilah yang sebenarnya menjadi dasar pendekatan strukturalis, yakni tatanan wujud yang mencakup keutuhan, sebuah tatanan yang tidak sekadar merupakan kumpulan beberapa kata, akan tetapi sistem yang tiap komponen di dalamnya tunduk pada kaidah-kaidah intrinsik dan tidak memiliki kebebasan di luar struktur. Sebagai contoh, kalimat saya pergi adalah kalimat yang memenhi konsep langue dan parole. Kalimat tersebut sudah sering diucapkan dan tidak menyalahi tata kaidah kebahasaan. Akan tetapi, ketika kalimat tersebut dibalik menjadi pergi saya, maka kalimat kedua ini akan terasa janggal, karena tidak biasa diucapkan dan menyalahi tata gramatika bahasa.

Konsep ketiga yang disajikan dalam bentuk distingtif oleh Saussure adalah konsep mengenai sinkronik-diakronik. Dua konsep ini mutlak harus dieksplorasi sebab dalam pandangan Saussure, pendekatan sinkronik harus didahulukan dibanding pendekatan diakronik. Pendekatan diakronik adalah analisis tentang perubahan historis bahasa, yakni proses evolusi makna dalam berbagai periode waktu serta perkembangan dan perubahannya. Sedangkan pendekatan sinkronik adalah pendekatan bahasa pada satu momen waktu tertentu saja. Analisis yang juga disebut dengan pendekatan strukturalisme ini menginginkan adanya pendekatan yang hanya melihat struktur bahasa ansich tanpa harus memerhatikan konteks waktu, perubahan, dan sejarahnya.

Jika demikian, maka sangat jelas bahwa Saussure menginginkan adanya pendekatan kebahasaan yang diawali dengan pendekatan kebahasaan ansich tanpa harus terjebak dalam penelusuran sejarah makna sebuah kata. Saussure ingin memetakan sebuah sistem bahasa pada suatu momen tertentu saja dan bukan menelusuri sejarah evolusi makna yang melewati beberapa episode waktu.

Adapun mengenai hubungan tanda, maka Saussure menjelaskan bahwa ada tiga hubungan tanda, yakni simbolik, paradigmatik, dan sintagmatik. Hubungan simbolik adalah hubungan internal antara tanda dengan dirinya sendiri. Sedangkan dua hubungan lainnya, yakni paradigmatik dan sintagmatik adalah hubungan eksternal. Bedanya, paradigmatik adalah hubungan sebuah tanda dengan tanda lain dalam suatu sistem atau kelas, sedangkan hubungan sintagmatik adalah hubungan tanda dengan tanda lain dari sebuah struktur.

Mudahnya, hubungan sintagmatik mencoba mengetahui hubungan satu kata dengan kata yang mengiringinya atau bahkan satu huruf dengan kata yang mengiringinya. Sebagai misal, dalam kalimat the old man, maka untuk meneliti kata old, peneliti bisa merujuk pada kata the atau man. Seperti halnya untuk meneliti huruf m, maka harus juga mengkaji huruf a dan n dalam kata man. Adapun hubungan paradigmatic adalah meneliti suatu kata tertenti dengan melakukan perbandingan pada kata yang sepadan maupun kata yang berlawanan. Sebagai contoh, ketika meneliti the old man, kata peneliti bisa memulainya dengan juga mengkaji the young man, the young woman, dan lain sebagainya. Allah Knows Best