Jane aku lagi sok momentum gitu, napa harus nulis dengan judul ini. Ya setidaknya original dari aku lah, meski tidak menutup kemungkinan ada orang yang sama berpikir demikian, meski konstruksi dan aplikasinya dimungkinkan akan sangat berbeda.
Btw otw, besok katanya hari kasih sayang ato kerennya tuch, valentine’s day. Sejarahnya mungkin sudah banyak diketahui publik. Ya, bahwa sebenere tradisi ini bermula dari cerita cinta sepasang anak manusia yang menemukan aral cukup berarti di dalam perjalanannya. Banyak versi memang. Intine hal yang menjadi titik temu antar beberapa versi tersebut adalah adanya PENGORBANAN atau what is used to called by SACRIFICE. Barangkali karena faktor inilah, aku kemudian memaksakan volunteer yang hampir sama kedengerannya dengan valentine untuk kemudian disandingkan. Soale aku rasa ada juga sinkronitas arti dari dua kata tersebut.
Well, ngomongin cinta mungkin emang dak akan pernah ada abisnya. Padahal ritual percintaan ya itu-itu aja, seperti tutur Rendra. Perkenalan, jadian, pernikahan, dan perpisahan…Alur lain ya patah hati, cinta tak direstui, bertepuk sebelah tangan, atau putus di tengah jalan yang kadang bisa diterjemahkan dengan perceraian. Tapi hebatnya Tuhan memang, tidak ada alur yang persis plek sama. Kendatipun ada beberapa hal yang mempertemukan dua alur sehingga menjadikannya sama, aku yakin pasti ada digresi atau alur kecil yang kemudian membuat asumsi dua alur tersebut sama menjadi GUGUR.
Ok, aku tidak sedang ingin ngomongin cinta di sini. Aku lebih ingin ngomongin tentang pengorbanan. Meski ia adalah bagian tak terpisahkan dari cinta itu sendiri, aku koq malah emoh rasanya untuk ngomongin cinta. Males aja jane. Ga ada apa-apa yang bikin aku kayak gitu. Mmm..Ok, pengorbanan itu semacam apa ya? Aktivitas memilih satu hal yang harus ditinggalkan atau dinomorduakan demi mendapatkan suatu hal lain yang barangkali lebih menjadi orientasi utama. Pada akhirnya, asumsi ini mengantarkan aku pada satu kesimpulan bahwa hidup memang menyajikan banyaaaaaaaaak sekali pilihan. Dan kita haruslah berani memilih di antara beberapa opsi itu. Tidak jarang memang, ada lebih dari satu opsi yang ingin kita pilih. Tapi keadaan menuntut kita mengambil satu opsi saja. That’s why, kita harus benar-benar berani memilih…Mmmm..Memilih yang lebih prioritas dan mengorbankan opsi yang –katakanlah—lebih rendah prioritasnya.
Gitu ya? Intine kalo ngomong pengorbanan, maka imajinasiku akan mengembangkan sebuah layar bahwa hal yang dikorbankan itu senyatanya merupakan hal yang juga di-kemani. Tapi karena seseorang harus ngemani barang yang lebih penting, so, barang pertama tersebut kemudian ia korbankan, misalnya untuk tidak dimiliki. Kalo begitu, tidakkan pengorbanan kemudian akan setali tiga uang dengan kehidupan yang memang memiliki banyak pilihan? So, kalo emang begeto, kenapa pengorbana aktor Valentine ini kemudian pwol kesohor bahkan menjadi ikon tradisi masyarakat dunia? Ada apa dengan pengorbanannya?
Diajukan pertayaan ini—meski oleh diriku sendiri—aku kemudian ingat dengan apa yang diktakan Halim dan pernah dia tulis di makalahnya. Intine, be different, and you will be famous. Nah, different ini juga bisa diartikan dengan nyelenneh ya, mungkin? Meski konotasinya ga harus negatif kayak kata nyelenneh, akan tetapi aku mikirnya, bahwa keberbedaan memang meniscayakan popularitas yang lebih dan tentunya, curiosuty, especially from the others. Nah, barangkali, yang bikin si Valentinos tu beda adalah karena..dia melakukan pengorbanan yang waktu itu masih tergolong langka dan bikin orang terheran-heran..Yakni ngorbanin segala yang ia punya hanya demi cintanya. Beh, bukan cinta butakah itu namanya???
Ya, mungkin ini ajah yang ingin aku tulisin..Intine minimal, aku uda punya sang untuk menghadapi valentine esok hari..; Sangu yang dak hanya itu-itu aja. Idup khan butuh dinamika dan inovasi..Sebab keduanya memang idup itu sendiri. Kalo kita tetep diem, kapan akan diakui sebagai bagian dari dunia??? Ya nda???
Selamat berfilosofi aja dah,, di hari valentine. Setuju ndak setuju yo karepmu dewe. Tapi kalo hare gene masih sok esktrim2an, koq aku mikire uda dak marketable ya?? Hehehe…Pisss…Pisss…
Sabtu, 13 Februari 2010
Kamis, 11 Februari 2010
LIMITATION DAN THE POWER MORE
Keadaan under pressure kadang aku bahasakan dengan limitation. Keduanya memang bukan merupakan entitas yang sama, cuma cukup bersinggungan. Berada dalam sebuah tekanan mungkin lebih kepada deskripsi adanya sebuah tuntutan yang harus dipenuhi, sedangkan keterbatasn berarti ketikda atau kekurangmampuan untuk memaksimlkan tuntutan tersebut. Ketemu khan?
Baru-baru ini aku coba bikin teori-teori sendiri dari pengalaman kehidupan yang aku dapetin. Ya, seenggaknya karena aku uda ga seintens dulu nulis diary, aku ya harus bisa menggantinya dengan hal yang juga berharga, meski tidak harus sama. Nah, dari mengingat kejadian yang pernah aku alami dan merenungkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku kemudian mendapatkan aha (bahasa Bu Adib)..
Salah satu AHA itu adalah bahwa..Keterbatasan kerap menjadi sebuah dorongan untuk memiliki power to do more (wah..Bahasanya sok iklan banget)..Dan dalam keadaan ini, gak seharusnya manusia –terutama aku—semakin membatasi keterbatasan itu. Sebab, dalam keterbatasan apapun, pasti ada hal yang bisa dilakukan. Nah, kalo masih mau nunggu keterbatasan itu ilang, kapan actionnya? Salah-salah malah muter-muter ga selesei di wilayah wacana. Ya ndak sich?
Anyway by the way, jane teori ini pernah disampaikan oleh salah satu dosenku, pengampu mata kuliah QK pas semester empat kemarin. Aku diam-diam membenarkannya dan mulai merumuskan versiku sendiri, minimal biar bisa define me ajah. Nach jadi sebenere, keterbatasa itu bikin kita punya power lebih. Untuk melakukan sesuatu yang juga lebih. Contohnya gini, dulu pas masih di pondok, aku pernah mania banget sama dunia kata-kata dan puisi. Wis pwool pokoe. Selaen karena lingkungan, aku rasa saat itu aku tengah jatuh cinta ajah. Hehe..
Pas itu, konsumsi buku sangat terbatas dan aku tidak punya cukup banyak akses untuk bersentuhan dengan dunia keindahan kata. ya dengan orang-orang yang berkompeten, forum yang supporting my will, dan mungkin komunitas dan lingkngan yang kondusif. Hanya ada beberapa sarana yang bisa aku manfaatkan saat itu. Semuanya serba minim. Tapi keminiman itu malah bikin aku berbuat banyak hal. Waktu itu mungkin aku berpikir bahwa dalam tempat yang penuh keterbatasan itu, aku juga masih bisa berkarya. Meski dak banyak puisi yang aku konsumsi, dak banyak referensi yang aku miliki, itu semua dak kemudian berarti aku dak bisa berkarya.
Dan hasilnya memang ada! Saat itu tiap hari aku bisa nulis sebuah puisi. Arsipnya masih ada hingga saat ini. Aku membayangkan, saat itu, ketka miliuku uda mendukung ntar, aku akan semakin produktif dll. Tapi ternyata perkiraan itu cukup meleset. Buktinya sampai di Yk ini, aku malah kurang produktif bahkan bisa dibilang sama sekali tidak produktif jika dibandingkan dengan keadaan dan intensitas nulisku pas masih di pondok dulu. Faktor lain sech emang ada, tapi aku juga ga faham nama semangatku untuk menseriusi puisi justeru surut saat aku sudah berada di kota budaya ini…
Dari situ aku kemudian berpikir, bahwa keterbatasan kerap menjadi sebuah motivasi terkuat untuk memberikan dan meniciptkan hal yang lebih baik. Hm..dan teori ini cocok untk disamakan dengan keadaanku sekarang. Weh, keterbatasan yang bagaimana dwonk???
Cerita bermula saat hape yang aku pegang mulai rewel. Emang sejak awal dia uda rewel. Kena virus pertamanya. Masalah kedua sering nge-hang, dan lola. Sangat tidak kondusif dengan aku yang biasa ngetik sms cepat dan mau segalanya segera selese. He. Emang untuk urusan sms, aku doyannya pwol. Dan masalah ketiga, seperti halnya dua masalah laen, tidak berkesesudahan artinya SUSTAINABLE alias berkelanjutan. Ga selese-selses gitulah. Masalane ada di Joystick navigator.
Sebenere uda pernah aku servis pas lagi di rumah dan joystick itu resmi diganti dengan joystick lain. Inget banget aku, bapak yang ngurusi dan bayarin semua biayanya. Nach..Uda dipake lama dan enak, ga tau kapan tiba-tiba joystick itu rewel lagi. Awalnya tidak bisa arah atas, namun yang kemudian kekal hingga saat ini adalah disfungsi arah bawah. Tak pelak, aku kelabakan. Tapi enjoy juga akhirnya, sebab hape itu seakan hanya mau berfungsi jika aku yang make. Jika orang laen make, dijamin mereka kebingungan dan masih harus mendapatkan arahan dariku. Heheheh…
Yang bikin enjoy, juga, karena..aku bisa lebih kreatif saat keterbatasan itu datang. Intine, aku akan muter otak lagi untuk bisa menggunakan fitur navigator bawah dengan jalan pintas lain. Aku mulai mengakali hape itu saat dia tidak mau sama sekali berkompromi denganku. Hehe. Banyak yang berhasil sich..Meski peran navigator bawah itu tidak semuanya bisa tergantikan oleh jalan pintas yang aku bikin. Tapi minimallah, meski rewel, hape itu juga bisa membantuku dalam DEFINING MINE..Hehehe.Korban iklan banget aku ney…
Yah, meski gitu, aku sbenere uda tidak sabar untuk lepas dari hape itu dan akhirnya beli hape baru. Servis dulu, terus beli laen. Ya, intine harus ada pemasukan ini. Heheh..ya, berarti artinya aku harus kembali jadi mahluk yang mojok di pojok kamar dengan dahi berkerut dwonk?? OK, siapa takut..
Then, then, then, salah satu tugasku selanjutnya adalah….
HUNTING HAPE BARU. TAPI TIPE BERAPA YA?
Ya mbuhlah, dapetin uangnya dulu kalo gitu.
He, semangat, Ta!! Keterbatasanmu edisi ini akan berbuah hape baru. Yuk…Yuk..
Baru-baru ini aku coba bikin teori-teori sendiri dari pengalaman kehidupan yang aku dapetin. Ya, seenggaknya karena aku uda ga seintens dulu nulis diary, aku ya harus bisa menggantinya dengan hal yang juga berharga, meski tidak harus sama. Nah, dari mengingat kejadian yang pernah aku alami dan merenungkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku kemudian mendapatkan aha (bahasa Bu Adib)..
Salah satu AHA itu adalah bahwa..Keterbatasan kerap menjadi sebuah dorongan untuk memiliki power to do more (wah..Bahasanya sok iklan banget)..Dan dalam keadaan ini, gak seharusnya manusia –terutama aku—semakin membatasi keterbatasan itu. Sebab, dalam keterbatasan apapun, pasti ada hal yang bisa dilakukan. Nah, kalo masih mau nunggu keterbatasan itu ilang, kapan actionnya? Salah-salah malah muter-muter ga selesei di wilayah wacana. Ya ndak sich?
Anyway by the way, jane teori ini pernah disampaikan oleh salah satu dosenku, pengampu mata kuliah QK pas semester empat kemarin. Aku diam-diam membenarkannya dan mulai merumuskan versiku sendiri, minimal biar bisa define me ajah. Nach jadi sebenere, keterbatasa itu bikin kita punya power lebih. Untuk melakukan sesuatu yang juga lebih. Contohnya gini, dulu pas masih di pondok, aku pernah mania banget sama dunia kata-kata dan puisi. Wis pwool pokoe. Selaen karena lingkungan, aku rasa saat itu aku tengah jatuh cinta ajah. Hehe..
Pas itu, konsumsi buku sangat terbatas dan aku tidak punya cukup banyak akses untuk bersentuhan dengan dunia keindahan kata. ya dengan orang-orang yang berkompeten, forum yang supporting my will, dan mungkin komunitas dan lingkngan yang kondusif. Hanya ada beberapa sarana yang bisa aku manfaatkan saat itu. Semuanya serba minim. Tapi keminiman itu malah bikin aku berbuat banyak hal. Waktu itu mungkin aku berpikir bahwa dalam tempat yang penuh keterbatasan itu, aku juga masih bisa berkarya. Meski dak banyak puisi yang aku konsumsi, dak banyak referensi yang aku miliki, itu semua dak kemudian berarti aku dak bisa berkarya.
Dan hasilnya memang ada! Saat itu tiap hari aku bisa nulis sebuah puisi. Arsipnya masih ada hingga saat ini. Aku membayangkan, saat itu, ketka miliuku uda mendukung ntar, aku akan semakin produktif dll. Tapi ternyata perkiraan itu cukup meleset. Buktinya sampai di Yk ini, aku malah kurang produktif bahkan bisa dibilang sama sekali tidak produktif jika dibandingkan dengan keadaan dan intensitas nulisku pas masih di pondok dulu. Faktor lain sech emang ada, tapi aku juga ga faham nama semangatku untuk menseriusi puisi justeru surut saat aku sudah berada di kota budaya ini…
Dari situ aku kemudian berpikir, bahwa keterbatasan kerap menjadi sebuah motivasi terkuat untuk memberikan dan meniciptkan hal yang lebih baik. Hm..dan teori ini cocok untk disamakan dengan keadaanku sekarang. Weh, keterbatasan yang bagaimana dwonk???
Cerita bermula saat hape yang aku pegang mulai rewel. Emang sejak awal dia uda rewel. Kena virus pertamanya. Masalah kedua sering nge-hang, dan lola. Sangat tidak kondusif dengan aku yang biasa ngetik sms cepat dan mau segalanya segera selese. He. Emang untuk urusan sms, aku doyannya pwol. Dan masalah ketiga, seperti halnya dua masalah laen, tidak berkesesudahan artinya SUSTAINABLE alias berkelanjutan. Ga selese-selses gitulah. Masalane ada di Joystick navigator.
Sebenere uda pernah aku servis pas lagi di rumah dan joystick itu resmi diganti dengan joystick lain. Inget banget aku, bapak yang ngurusi dan bayarin semua biayanya. Nach..Uda dipake lama dan enak, ga tau kapan tiba-tiba joystick itu rewel lagi. Awalnya tidak bisa arah atas, namun yang kemudian kekal hingga saat ini adalah disfungsi arah bawah. Tak pelak, aku kelabakan. Tapi enjoy juga akhirnya, sebab hape itu seakan hanya mau berfungsi jika aku yang make. Jika orang laen make, dijamin mereka kebingungan dan masih harus mendapatkan arahan dariku. Heheheh…
Yang bikin enjoy, juga, karena..aku bisa lebih kreatif saat keterbatasan itu datang. Intine, aku akan muter otak lagi untuk bisa menggunakan fitur navigator bawah dengan jalan pintas lain. Aku mulai mengakali hape itu saat dia tidak mau sama sekali berkompromi denganku. Hehe. Banyak yang berhasil sich..Meski peran navigator bawah itu tidak semuanya bisa tergantikan oleh jalan pintas yang aku bikin. Tapi minimallah, meski rewel, hape itu juga bisa membantuku dalam DEFINING MINE..Hehehe.Korban iklan banget aku ney…
Yah, meski gitu, aku sbenere uda tidak sabar untuk lepas dari hape itu dan akhirnya beli hape baru. Servis dulu, terus beli laen. Ya, intine harus ada pemasukan ini. Heheh..ya, berarti artinya aku harus kembali jadi mahluk yang mojok di pojok kamar dengan dahi berkerut dwonk?? OK, siapa takut..
Then, then, then, salah satu tugasku selanjutnya adalah….
HUNTING HAPE BARU. TAPI TIPE BERAPA YA?
Ya mbuhlah, dapetin uangnya dulu kalo gitu.
He, semangat, Ta!! Keterbatasanmu edisi ini akan berbuah hape baru. Yuk…Yuk..
Hmhm...
NgoredZ
Holiday at my Homeland
Holiday emang semacam rutinitas yang ditunggu-tunggu banyak orang. Kehadirannya menyajikan semacam ruh dan suasana baru yang –mungkin—sempat hilang dan terlupakan di tengah rigidnya kegiatan sehari-hari yang uda terschedule dengan sedetail-detailnya. Kalo orang kantoran dan anak kuliahan, hari Sabtu dan Ahad, serta hari-hari besar mungkin adalah hari di mana mereka merayakan holiday. Anak SD pe SMA biasanya akan lebih menunggu hari Ahad saja. Ada juga yang nunggu hari Jumat karena sekul libur dan kiriman akan datang (yang terakhir ne khusus untuk anak pondokan..)
Well, ngomongin holiday emang selalu bikin inget ma lagunya Scorpion yang uda lawas itu..Sekalian dech, aku mau nyinggung sedikit tentang beberapa hal yang disampaikan dalam lagu itu dan mungkin akan menarik jika dihubungkan dengan apa yang ingin aku tulis. Mmm…
Bait pertama, would me take you far away, you would like a holiday..Konteksnya sich, mungkin emang ingin ngajakin seseorang untuk liburan bareng ato jalan-jalan gitu, tapi buat aku, kalimat keduanya sangat kuat menunjukkan, bahwa semua orang pasti ingin –bahkan membutuhkan—momen-momen liburan dalam hidupnya. You would like, aku artiin dengan kamu pasti lagi ingin berlibur. Mungkin karena sumpek dengan aktivitas yang gitu-gitu aja atau bahkan memang tengah ingin mencari sisi lain yang sudah lama terlupakan dalam kehidupan seseorang.
Ngomong ini, aku jadi inget cerita salah seorang temen kelasku yang pas semster dua ngajakin kami-kami jalan ke Baron. Itu penglaman pertama aku jalan ma anak kelas ke tempat wisata, sebelumnya mungkin cuma ke tempat makan pas buka bareng bulan Ramadhan. Belakangan aku tau kalo temenku yang memprakarsai acara jalan-jalan itu tengah ada masalah karena kekasihnya dinikahin ma lelaki pilihan orang tua kekasihnya tu. Mungkin pikirane saat itu uda sekusut benang yang uda super duper ga jelas arahnya…Dari situ mungkin dia pikir, dia butuh suasana baru yang bisa menyembuhkan luka hatinya atau minimal mencari hal yang bisa membuatnya senang dan kembali bangkit serta berkata, selamat tinggal keterpurukan. Gitu.
Cocok banget jika kemudian disandingkan dengan bait lain dari lagu Holiday-nya Scorpion. Di situ ada EXCHANGE THE COLD DAY FOR THE SUN, EXCHANGE YOUR TROUBLE WITH SOME LOVE…Nah, jadi aku rasa liburan itu memang menawarkan hal-hal baru yang juga lebih mencerahkan dan menggembirakan bagi orang yang menjalaninya. Setidaknya, subjek itu akan berpikir bahwa banyak hal lain yang lebih menarik di luar kesibukannya yang itu-itu aja..Setidaknya ia akan berpikir bahwa liburan itu kemudian menjadi semacam penyeimbang dari rutinitasnya yang lurus-lurus aja. Liburan bisa bikin dia deket ma keluarga, misalnya, nyobain hal-hal baru, ngeliat panorama-panorama baru, dan lain-lain.
Karena itu jugalah liburan terkadang menjadi agenda rutin bagi sebagian orang. Dan aku emang mau niru-niru orang ini, meski dengan level yang tentunya berbeda dan disesuaikan dengan keadaanku. Intine liburan itu dak perlu ke luar kota dan ngabisin budget banyak menurutku. Asal kita uda bisa manfaatin waktu senggang yang kita punya dengan sesuatu yang lebih mencerahkan dan memompa semangat untuk kembali menekuri aktivitas—yang bisa menjadi sangat membosankan—yang menjadi kewajiban kita, itu uda bisa dinamakan liburan. Ya masing-masing orang khan selera dan keadaannya berbeda. Jadi emang harus disesuaikan, sehingga ga ada format liburan yang clear and distinct.
Namun begitu, buat aku, liburan skala gede itu indetik dengan acara jalan-jalan ke sebuah tempat baru yang menarik, bisa jadi tempat wisata atau tempat yang belum pernah aku temui sebelumnya. Biasane nek kayak ini aku lebih suka rame-rame sama temen-temen. Dan biasane juga, ada budget yang cukup harus diperhitungkan untuk menyelenggarakan liburan skala gede ini. Hmmm…Ya karena itu juga, aku jadwalin liburan yang kayak gene ne setaon dua kali ajah..Pas liburan semester. Kalo tiap pekan sich kadang juga liburan, tapi liburane dak harus mengeluarkan banyak budget gitu…heheh…
Well, next..dari tadi aku muter2 ngomong liburan sebener ingin menceritakan bahwa aku sekarang sedang BERLIBUR. Kebetulan sejak taon 2010 dan beberapa pekan sebelumnya, aku sempat berlibur ke beberapa tempat yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi dan belum sempat tak simpan dalam bentuk tulisan. Seingatku, aku ke Semarang awal bulan Desember lalu, itu kunjungan pertamaku ke Semarang.. So sweet banget pastinya, meski aku sempat kesasar. Yang jadi kenangan juga pas momen ini adalah karena aku sempat ngerasain gimana jadi orang kaya dalam beberapa menit. Beh…Aku langsung jadi super duper imajinatif untuk urusan yang satu ini. Hehehe..
Selanjutnya, aku ke Kebumen. Kayakanya satu atau dua pekan gitu setelah aku ke Semarang. Nikahan teman tapi aku sempat mampir ke rumah temen kosku dan pada akhirnya benar-benar menyatu dengan alam…Dengan masa kecilku, dengan hijau dan biru, serta dengan hobi lama yang sudah tidak tersalurkan sejak pitnya Bak Eka vacuum di kos; yakni BERSEPEDA. Hm…bener-bener refresh pikiran banget waktu itu, apalagi rute yang aku lewati bener-bener pwool baru tapi ga terlalu melelahkan. Sip…Meski banyak juga hal-hal yang kurang ngenakin, seperti STNK dan SIM yang ketinggalan, konsumsi, dll dll.
Terus ke mana lagi ya? Oya, malam taon baru. Meski pas itu aku dak bisa berpartisipasi aktif dalam pesta Duren, tapi minimal aku sudah bisa memenuhi undangan temen dan rekan kerjaku itu. Abis gitu, semarak taun baru di benteng Malioboro. Rame dan meriah kayak biasanya, meski dak sama dengan taun lalu. Aku inget banget pas setaon lalu, pertama kali ngeryain malam taun baru di luar kos, suasana meriah pwol..pesta kembang api dan tiupan terompet banget meriuhkan suasana malem itu..mungkin faktor bosen, ga mud, ato emang kurang meriah, malam itu aku keroso kurang begitu menikmati malam taun baru. Padahal cemilan dan segala hal sudah aku siapkan. Tapi tetep aja aku lagi jadwalnya badmud malam itu. Terlebih lagi, pas itu aku mati gaya karena ga bisa jeprat jepret, digcam belum punya dan batre hapeku tinggal satu…Hmm…
Dan momen ujian dengan segala rentetannya yang melelahkan kemudian bikin aku mikir banyak hal, kalo aku harus balas dendam setelah berdarah-darah dalam ujian semester lima itu. Aku cukup pesimis nilaiku bakal nae dari smester kemarin, sebab nilai UTSku hampir semuanya mengecewakan. Sayang, abis ujian, aku masih harus muter otak dan lebih meras pikiran saat kejar tayang proyek demi obsesi membeli DIGCAM. Alhamdulillah digcam Sony item metalik itu uda ada di tanganku. Terimakasih, Tuhan..Kau beri inginku dengan perjuangan yang sebenarnya tidak begitu berarti. Dan terimakasih juga untuk mister eksekutor yang pesonanya selalu menguatkan aku,,,
Then, then, aku emang harua berlibur setelah pikiranku keroso keriting banget berhadapan dengan tuts-tuts biibii dan diksi serta kamus yang bikin aku ruwet, meski kadang menyenangkan. Aku ke Glagah ma temen-temen korp, malam mingguan bareng. So sweet banget, uda aku ceritain di posting laen…Nah, abis itu, aku bermalam di Glagah, paginya aku balek ke Jogja, gak sempat tidur pulas, aku sudah berangkat lagi membelah hari ke MAGELANG..KYAI LANGGENG…Kali ni ma temen-temen kelas. Ga nyangka yang ngikut banyak, jadi perjalanane asyik. Terlebih aku uda tau rutenya, jadi dak harus terpaku pada orang di depanku. Aku malah sampai duluan di Kyai Langgeng.
Banyak hal yang menarik di Kyai Langgeng. Buat aku sendiri, juga mungkin bagi temen2. Kerosone tu, kami bener-bener bisa melepas beban di pundak dengan mencoba adrenalin dan ketegangan-ketegangan dalm permainan yang disediakan taman itu. Pwol balek ke masa-masa kecil..Tapi malah asyik, buat aku, jalan-jalan pas itu banyak mengajarkan sesuatu yang selama ini sempat aku remehkan. Konsep belajar sambil bermain, konsep kerjasama, konsep keberanian, dan banyak dech. Aku merasa otakku bener-bener kecuci gitu dengan permainan dan suasana yang ada di sekelilingku. Hmhmhm…
Abis dari Kyai Langgeng, seri liburan terakhir adalah PULANG KE MADURA ALIAS MUDIK. Sayang aku dak bisa berlama-lama di rumah dan hanya bisa berdiam di tempat yang paling banyak mengisi masa kecilku selama + 7ari. Sabtu sore aku nyampe rumah, dan ahad pagi pekan depannya aku uda harus berangkat untuk balek ke Yk, meski masih transit di mana-mana. Hm..Emang tumben banget dan ne adalah momen pertama aku mudik ke Madura pas abis semester ganjil. Biasane aku nang Jogja wae. Tapi banyak alasan lah, napa aku harus memutuskan untuk pulang..Meski dengan durasi yang sangat banget tipis. Hf. Tapi he juga.
Kembali dan tinggal di rumah selama beberapa hari cukup memberikan nuansa yang berbeda dibanding apa yang selama ini aku dapatkan di Jogja. Yang paling jelas, aku merasa dimanjakan dengan keadaan yang terkesan mau bikin aku nyantai njalani idup. Makan uda ada, nyuci uda beres, bersih-bersih kamar uda ada yang handle, dll. Hehe…Ngeroso enak pwol kalo dalam masalah ne. tapi dak enaknya juga ada, misalane aku jadi sulit ke mana-mana. Dak kayak di Yk mungkin..jAdi pas aku ingin ke suatu tempat, aku tinggal melangkah dan atau menancp gas. Sendirian bisa. Di rumah tidak sesimpel itu ternyata. Well, aku mengerti. Dan aku menikmati kepulangan itu.
Nostalgia sudah pasti. Dengan langit dan dinding-dinding kamar, dengan aroma parfum keluargaku, dengan ruas-ruas bangunan rumah yang beranjak senja, dengan suasana kebersamaan, dan juga…dengan segala hal di masa lalu, yang sangat memiliki andil dalam membesarkanku. Lingkungan sekitar, tetangga, famili, sekulku, dan tempat-tempat yang biasa aku kunjungi dahulu. Terasa mengasyikkan memang, kembali pada masa-masa itu..Meski sadar bahwa waktu tidak akan mau berbalik arah, namun nostalgia menjanjikan banyak hal. Aku rasa, aku bisa lebih banyak merenungkan perubahan-perubahan yang menjembatani masa lalu dan masa kini. Sebuah kesnicayaan hidup yang memang harus selalu ada. Sehingga pertanyaan yang bisa aku munculkan adalah WHAT SHOULD BE DONE, dan WHAT HAS BEEN ACHIVED?
Pada akhirnya, jane aku ingin bilang bahwa liburan kadang bahkan kerap mengajarkan bahwa tidak ada singel factor dalam hidup ini. Hidup butuh inovasi, sebab ia adalah sebuah dinamika yang akan tersangkut di putaran waktu jika hanya melakukan suatu tindakan yang tidak pernah berubah. Momen liburan dapat mengajak siapapun bahwa banyak hal lain dalam hidup yang tidak kalah berarti dibanding rutinitas yang uda terschedule. Liburan bikin manusia sadar bahwa kehidupan itu dak hanya di meja kerja, dak hanya di meja kuliah, dak hanya di meja dokter, dak hanya di depan komputer, dak hanya di dalam ruangan berAC, dan lain-lain. Barangkali karena itulah, manusia akan lebih mudah menyadari bahwa ia adalah partikel kecil dari kerajaan agung Tuhan, yang tidak hanya membutuhkan alur tunggal dalam kehidupan.
Bisa berpikir lebih luas ya, barangkali outpotnya. Tapi yo mbuhlah, secara teori aku dak gitu bisa merumuskan sebuah teori yang enak. Intine liburan, dari skala terkecil hingga terbesar, sangat amat banget mampu memberikan suasana lain yang kerap merupakan hal baru dalam hidup. Yang mencerahkan dan menjanjikan. Ya, itu sich cuma dari sudut pandang aku yang menganggap bahwa liburan itu adalah jadwal yang tidak boleh terlupakan dalam alur kehidupan seseorang. Heheh…
Well, ngomongin holiday emang selalu bikin inget ma lagunya Scorpion yang uda lawas itu..Sekalian dech, aku mau nyinggung sedikit tentang beberapa hal yang disampaikan dalam lagu itu dan mungkin akan menarik jika dihubungkan dengan apa yang ingin aku tulis. Mmm…
Bait pertama, would me take you far away, you would like a holiday..Konteksnya sich, mungkin emang ingin ngajakin seseorang untuk liburan bareng ato jalan-jalan gitu, tapi buat aku, kalimat keduanya sangat kuat menunjukkan, bahwa semua orang pasti ingin –bahkan membutuhkan—momen-momen liburan dalam hidupnya. You would like, aku artiin dengan kamu pasti lagi ingin berlibur. Mungkin karena sumpek dengan aktivitas yang gitu-gitu aja atau bahkan memang tengah ingin mencari sisi lain yang sudah lama terlupakan dalam kehidupan seseorang.
Ngomong ini, aku jadi inget cerita salah seorang temen kelasku yang pas semster dua ngajakin kami-kami jalan ke Baron. Itu penglaman pertama aku jalan ma anak kelas ke tempat wisata, sebelumnya mungkin cuma ke tempat makan pas buka bareng bulan Ramadhan. Belakangan aku tau kalo temenku yang memprakarsai acara jalan-jalan itu tengah ada masalah karena kekasihnya dinikahin ma lelaki pilihan orang tua kekasihnya tu. Mungkin pikirane saat itu uda sekusut benang yang uda super duper ga jelas arahnya…Dari situ mungkin dia pikir, dia butuh suasana baru yang bisa menyembuhkan luka hatinya atau minimal mencari hal yang bisa membuatnya senang dan kembali bangkit serta berkata, selamat tinggal keterpurukan. Gitu.
Cocok banget jika kemudian disandingkan dengan bait lain dari lagu Holiday-nya Scorpion. Di situ ada EXCHANGE THE COLD DAY FOR THE SUN, EXCHANGE YOUR TROUBLE WITH SOME LOVE…Nah, jadi aku rasa liburan itu memang menawarkan hal-hal baru yang juga lebih mencerahkan dan menggembirakan bagi orang yang menjalaninya. Setidaknya, subjek itu akan berpikir bahwa banyak hal lain yang lebih menarik di luar kesibukannya yang itu-itu aja..Setidaknya ia akan berpikir bahwa liburan itu kemudian menjadi semacam penyeimbang dari rutinitasnya yang lurus-lurus aja. Liburan bisa bikin dia deket ma keluarga, misalnya, nyobain hal-hal baru, ngeliat panorama-panorama baru, dan lain-lain.
Karena itu jugalah liburan terkadang menjadi agenda rutin bagi sebagian orang. Dan aku emang mau niru-niru orang ini, meski dengan level yang tentunya berbeda dan disesuaikan dengan keadaanku. Intine liburan itu dak perlu ke luar kota dan ngabisin budget banyak menurutku. Asal kita uda bisa manfaatin waktu senggang yang kita punya dengan sesuatu yang lebih mencerahkan dan memompa semangat untuk kembali menekuri aktivitas—yang bisa menjadi sangat membosankan—yang menjadi kewajiban kita, itu uda bisa dinamakan liburan. Ya masing-masing orang khan selera dan keadaannya berbeda. Jadi emang harus disesuaikan, sehingga ga ada format liburan yang clear and distinct.
Namun begitu, buat aku, liburan skala gede itu indetik dengan acara jalan-jalan ke sebuah tempat baru yang menarik, bisa jadi tempat wisata atau tempat yang belum pernah aku temui sebelumnya. Biasane nek kayak ini aku lebih suka rame-rame sama temen-temen. Dan biasane juga, ada budget yang cukup harus diperhitungkan untuk menyelenggarakan liburan skala gede ini. Hmmm…Ya karena itu juga, aku jadwalin liburan yang kayak gene ne setaon dua kali ajah..Pas liburan semester. Kalo tiap pekan sich kadang juga liburan, tapi liburane dak harus mengeluarkan banyak budget gitu…heheh…
Well, next..dari tadi aku muter2 ngomong liburan sebener ingin menceritakan bahwa aku sekarang sedang BERLIBUR. Kebetulan sejak taon 2010 dan beberapa pekan sebelumnya, aku sempat berlibur ke beberapa tempat yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi dan belum sempat tak simpan dalam bentuk tulisan. Seingatku, aku ke Semarang awal bulan Desember lalu, itu kunjungan pertamaku ke Semarang.. So sweet banget pastinya, meski aku sempat kesasar. Yang jadi kenangan juga pas momen ini adalah karena aku sempat ngerasain gimana jadi orang kaya dalam beberapa menit. Beh…Aku langsung jadi super duper imajinatif untuk urusan yang satu ini. Hehehe..
Selanjutnya, aku ke Kebumen. Kayakanya satu atau dua pekan gitu setelah aku ke Semarang. Nikahan teman tapi aku sempat mampir ke rumah temen kosku dan pada akhirnya benar-benar menyatu dengan alam…Dengan masa kecilku, dengan hijau dan biru, serta dengan hobi lama yang sudah tidak tersalurkan sejak pitnya Bak Eka vacuum di kos; yakni BERSEPEDA. Hm…bener-bener refresh pikiran banget waktu itu, apalagi rute yang aku lewati bener-bener pwool baru tapi ga terlalu melelahkan. Sip…Meski banyak juga hal-hal yang kurang ngenakin, seperti STNK dan SIM yang ketinggalan, konsumsi, dll dll.
Terus ke mana lagi ya? Oya, malam taon baru. Meski pas itu aku dak bisa berpartisipasi aktif dalam pesta Duren, tapi minimal aku sudah bisa memenuhi undangan temen dan rekan kerjaku itu. Abis gitu, semarak taun baru di benteng Malioboro. Rame dan meriah kayak biasanya, meski dak sama dengan taun lalu. Aku inget banget pas setaon lalu, pertama kali ngeryain malam taun baru di luar kos, suasana meriah pwol..pesta kembang api dan tiupan terompet banget meriuhkan suasana malem itu..mungkin faktor bosen, ga mud, ato emang kurang meriah, malam itu aku keroso kurang begitu menikmati malam taun baru. Padahal cemilan dan segala hal sudah aku siapkan. Tapi tetep aja aku lagi jadwalnya badmud malam itu. Terlebih lagi, pas itu aku mati gaya karena ga bisa jeprat jepret, digcam belum punya dan batre hapeku tinggal satu…Hmm…
Dan momen ujian dengan segala rentetannya yang melelahkan kemudian bikin aku mikir banyak hal, kalo aku harus balas dendam setelah berdarah-darah dalam ujian semester lima itu. Aku cukup pesimis nilaiku bakal nae dari smester kemarin, sebab nilai UTSku hampir semuanya mengecewakan. Sayang, abis ujian, aku masih harus muter otak dan lebih meras pikiran saat kejar tayang proyek demi obsesi membeli DIGCAM. Alhamdulillah digcam Sony item metalik itu uda ada di tanganku. Terimakasih, Tuhan..Kau beri inginku dengan perjuangan yang sebenarnya tidak begitu berarti. Dan terimakasih juga untuk mister eksekutor yang pesonanya selalu menguatkan aku,,,
Then, then, aku emang harua berlibur setelah pikiranku keroso keriting banget berhadapan dengan tuts-tuts biibii dan diksi serta kamus yang bikin aku ruwet, meski kadang menyenangkan. Aku ke Glagah ma temen-temen korp, malam mingguan bareng. So sweet banget, uda aku ceritain di posting laen…Nah, abis itu, aku bermalam di Glagah, paginya aku balek ke Jogja, gak sempat tidur pulas, aku sudah berangkat lagi membelah hari ke MAGELANG..KYAI LANGGENG…Kali ni ma temen-temen kelas. Ga nyangka yang ngikut banyak, jadi perjalanane asyik. Terlebih aku uda tau rutenya, jadi dak harus terpaku pada orang di depanku. Aku malah sampai duluan di Kyai Langgeng.
Banyak hal yang menarik di Kyai Langgeng. Buat aku sendiri, juga mungkin bagi temen2. Kerosone tu, kami bener-bener bisa melepas beban di pundak dengan mencoba adrenalin dan ketegangan-ketegangan dalm permainan yang disediakan taman itu. Pwol balek ke masa-masa kecil..Tapi malah asyik, buat aku, jalan-jalan pas itu banyak mengajarkan sesuatu yang selama ini sempat aku remehkan. Konsep belajar sambil bermain, konsep kerjasama, konsep keberanian, dan banyak dech. Aku merasa otakku bener-bener kecuci gitu dengan permainan dan suasana yang ada di sekelilingku. Hmhmhm…
Abis dari Kyai Langgeng, seri liburan terakhir adalah PULANG KE MADURA ALIAS MUDIK. Sayang aku dak bisa berlama-lama di rumah dan hanya bisa berdiam di tempat yang paling banyak mengisi masa kecilku selama + 7ari. Sabtu sore aku nyampe rumah, dan ahad pagi pekan depannya aku uda harus berangkat untuk balek ke Yk, meski masih transit di mana-mana. Hm..Emang tumben banget dan ne adalah momen pertama aku mudik ke Madura pas abis semester ganjil. Biasane aku nang Jogja wae. Tapi banyak alasan lah, napa aku harus memutuskan untuk pulang..Meski dengan durasi yang sangat banget tipis. Hf. Tapi he juga.
Kembali dan tinggal di rumah selama beberapa hari cukup memberikan nuansa yang berbeda dibanding apa yang selama ini aku dapatkan di Jogja. Yang paling jelas, aku merasa dimanjakan dengan keadaan yang terkesan mau bikin aku nyantai njalani idup. Makan uda ada, nyuci uda beres, bersih-bersih kamar uda ada yang handle, dll. Hehe…Ngeroso enak pwol kalo dalam masalah ne. tapi dak enaknya juga ada, misalane aku jadi sulit ke mana-mana. Dak kayak di Yk mungkin..jAdi pas aku ingin ke suatu tempat, aku tinggal melangkah dan atau menancp gas. Sendirian bisa. Di rumah tidak sesimpel itu ternyata. Well, aku mengerti. Dan aku menikmati kepulangan itu.
Nostalgia sudah pasti. Dengan langit dan dinding-dinding kamar, dengan aroma parfum keluargaku, dengan ruas-ruas bangunan rumah yang beranjak senja, dengan suasana kebersamaan, dan juga…dengan segala hal di masa lalu, yang sangat memiliki andil dalam membesarkanku. Lingkungan sekitar, tetangga, famili, sekulku, dan tempat-tempat yang biasa aku kunjungi dahulu. Terasa mengasyikkan memang, kembali pada masa-masa itu..Meski sadar bahwa waktu tidak akan mau berbalik arah, namun nostalgia menjanjikan banyak hal. Aku rasa, aku bisa lebih banyak merenungkan perubahan-perubahan yang menjembatani masa lalu dan masa kini. Sebuah kesnicayaan hidup yang memang harus selalu ada. Sehingga pertanyaan yang bisa aku munculkan adalah WHAT SHOULD BE DONE, dan WHAT HAS BEEN ACHIVED?
Pada akhirnya, jane aku ingin bilang bahwa liburan kadang bahkan kerap mengajarkan bahwa tidak ada singel factor dalam hidup ini. Hidup butuh inovasi, sebab ia adalah sebuah dinamika yang akan tersangkut di putaran waktu jika hanya melakukan suatu tindakan yang tidak pernah berubah. Momen liburan dapat mengajak siapapun bahwa banyak hal lain dalam hidup yang tidak kalah berarti dibanding rutinitas yang uda terschedule. Liburan bikin manusia sadar bahwa kehidupan itu dak hanya di meja kerja, dak hanya di meja kuliah, dak hanya di meja dokter, dak hanya di depan komputer, dak hanya di dalam ruangan berAC, dan lain-lain. Barangkali karena itulah, manusia akan lebih mudah menyadari bahwa ia adalah partikel kecil dari kerajaan agung Tuhan, yang tidak hanya membutuhkan alur tunggal dalam kehidupan.
Bisa berpikir lebih luas ya, barangkali outpotnya. Tapi yo mbuhlah, secara teori aku dak gitu bisa merumuskan sebuah teori yang enak. Intine liburan, dari skala terkecil hingga terbesar, sangat amat banget mampu memberikan suasana lain yang kerap merupakan hal baru dalam hidup. Yang mencerahkan dan menjanjikan. Ya, itu sich cuma dari sudut pandang aku yang menganggap bahwa liburan itu adalah jadwal yang tidak boleh terlupakan dalam alur kehidupan seseorang. Heheh…
Hmhm...
adventure of me..
