SEBERAPA BERBEDANYA AKU?
Im different surely..Namun seberapa berbeda? Aku sendiri merasa bahwa aku berada di antara dua kutub, kutub pertama adalah sisi yang mengandaikan aku memiliki ciri khas sendiri yang bisa menjadi simbol—yang hanya dimilikiku—dan kutub lain yang kadang menuntutku untuk..mmm…bahasa kasarnya adalah cultural shock dan bahasa halusnya adalah mengikuti perkembangan zaman. Namun so far, aku merasa bahwa kecenderungan pertama jauh lebih mendominasi. Dalam berbagai keadaan, aku lebih banyak bertahan dengan selera dan pandanganku sendiri meski dunia di sekelilingku berbeda denganku.
Contoh kecilnya, dalam hal selera nonton tivi. Meski aku mengakui bahwa aku kecanduan menonton tivi karena meniru orang lain—hehehehehe—namun dalam sebagian besar keadaan, aku tidak akan ikut-ikutan menyukai suatu hal atau kegiatan yang banyak disenangi orang lain. Aku kira hal itu jauh dari kesan keren. Awalnya keren, namun karena kebanyakan yang suka, jadi males. Aku termasuk tipikal orang yang kadang-kadang tidak ingin disamakan dengan orang lain, meski pada sisi lain dan pada momen-momen tertentu, aku malah demen cari persamaan dengan orang lain.
Well, di kosku, hampir semua penghuni menyukai dua acara yang sama sekali tidak bisa matching di otakku. Yang pertama adalah OVJ alias Opera Van Java dan yang kedua adalah film Korea. Hampir semua penghuni kos yang demen di depen tivi getol dan ngefans banget ma dua acara ini. Tapi tidak bagiku. Selain karena aku tidak mau terlalu sama dengan orang lain, meskipun dalam hal yang luar biasa remeh, aku merasa sama sekali tidak punya chemsitry terhadap dua acara itu. Banyak lah, apologiku. Terlalu lebay lah, ga etis lah, ga cinta produk dalam negeri, dan lain sebagainya. Sebab itulah, aku bisa dibilang kebal dalam segala hal yang berhubungan dengan dua acara tersebut. Whoaaa..Bandingkan dengan temen kosku yang sampai mengatur jadwal reguler untuk bisa nonton dua acara itu. Buat aku buang-buang waktu banget.
Aku malah memiliki selera minoritas yang bahkan hanya aku yang punya. Yang pertama dan yang paling dominan adalah SSTI alias Suami-Suami Takut Isteri. Meski banyak kekurangannya, namun aku merasa benar-benar terhibur saat melototin mata di depan tivi pas acara ini. Buat aku semuanya meaningfull banget… Kontan dan bisa dipastikan, temen-temen kos banyak yang memprotesku denga halus dan tidak langsung mengapa aku harus doyan nonton SSTI.
Dari contoh kecil ini, aku berpikir kembali, melihat diriku sendiri dari kacamata paling moderat yang bisa aku pakai. Dan hasilnyaaaaaaa..Hmm..Sebenere aku hanya menunggu tiga hal untuk bisa menyukai sesuatu, seseorang, keadaan, alur, atau apapun itu namanya. Yang pertama adalah mood dan yang kedua adalah moment dan yang ketiga adalah alasan. Hahahaha. Teoretis banget iki dadine. Namun, kira-kira begitulah gambaran besarnya. Hehehehe. Saat heboh-hebohnya Cinta Fitri, aku tak sama sekali menyukai film tersebut, apalagi harus meluangkan jam khusus untuk tidak absen menonton acara sinetron ne. Namun aku juga lupa kapan, bersama siapa, dan bagaimana, dimulailah episode jatuh cintaku pada sinetron ini…Natural dan apa adanya. Hehehehe
Dari situ aku kemudian berpikir bahwa, alasan berupa apologi akan selalu ada bagi orang atau sesuatu yang disukai. Sebaliknya, alasan berupa anomali akan selalu tersedia untuk hal yang tidak disukai. Teori ini, awalnya mampir di otakku di kelas Orientalisme ketika Halim tengah presentasi. Dan meski sudah menyadarinya sejak lama, dan terendap cukup lama pula, baru sore ini, di tengah irama-irama tuts ini, aku menyusun bahasaku sendiri untuk teori itu. Memang begitu, ada banyak hal terendap yang akan muncul jika kita mau berpikir, sesederhana dan serumit apapun itu.
Selain dalam tahap hal-hal yang ga serius, semisal hiburan di atas, karakter yang demikian juga kerap menjangkitiku dalam hal-hal yang cukup serius, semisal dunia akademik, dunia wawasan, dunia pengetahuan umum, dan lain sebagainya. Dalam level serius yang paling kecil, aku cukup kebal untuk tidak menonton film yang tengah booming jika aku belum punya dan belum punya mood, ataupun belum menemukan moment. Hehehe. Tak pelak, film yang belum ditontonpun bejubel memenuhi hardisk laptopku yang hampir penuh. Namun ketika sudah jatuh cinta pada sebuah film, aku bisa berulang kali menonton dan menontonnya lagi..Hehehehe
Dalam dunia akademik pun, selain dipengaruhi oleh dominasi malasku yang cukup besar, aku kadang bersikap apatis terhadap segala hal yang terjadi di sekitarku. Temen-temenku uda pada ngurus skripsi, bimbingan, seminar, ato paling minimal ngurus judul, aku masih belum memulai langkah terawal sekalipun. Oh noooo..Kadang moodyku emang berlebihan, hingga menyerempet ke hal-hal yang tidak seharusnya dan tidak selayaknya. Anyway however, aku tetep mensyukuri dan menikmati semua yang ada pada diriku.
Omong-omong soal ambisi yang meluap meruah untuk bisa menjadi diri sendiri yang tidak ada duplikatnya, minimal dalam radius 100 km—hehehehehe lebaaaay—aku kadang bersikap kurang enak, semisal nyamperin orang yang bersangkutan dan memintanya sedikit menjaga jarak kesamaan dengan diriku. Namun sebelum itu, aku sudah menyiapkan segenap hal, semisal dalam hal nama, karena cukup banyak orang yang memiliki nama akrab ITA, maka aku mensiasatinya dengan tulisan yang unik dan hanya aku yang punya, yakni EETA. Banyak orang yang agak terganggu dengan idealismeku yang kerasa ga penting ne. Namun lama-lama aku cukup berhasil mensosialisasikan empat huruf itu sebagai nama yang melekat dalam diriku..
Meski banyak penyimpangan, so far so good. Temen-temen deketku yang memiliki derajat ketelitian yang mengagumkan mulai terbiasa dengan empat huruf itu. Sebutlah misalnya Uqi dan Fitri. Lain lagi dengan Mumtaz yang suka menulis namaku dengan EATHA. Entah dia memahami maghza di balik simbol itu atau memang dia salah mencerna, aku sendiri merasa nyaman dengan panggilan itu. hehehe. Jadi kerasa banget nek itu aku, dan bukan yang lain.
Dalam panggilan ma orang lain pun, entah mengapa aku masih kerap menggunakan idealisme ini, semisal memodifikasi panggilan atau nama khusus (untuk orang-orang terdekat, semisal Faid, yayah, bunda—cicik dan mehonk—adoel untuk Hyaat, boznea untuk Lyla, Oon untuk Unyil, cck untuk R.I.P, dan lain sebagainya. Dari situ, aku bisa dipastikan akan kebakaran jenggot manakala ada orang lain yang meniru panggilanku, baik terhadp orang yang sama maupun pada orang yang berbeda. Tentunya, kadarnya bisa berbeda-beda, sesuai sikond juga. Hohoho. Sulit lah, kalo harus diteorikan…
Di sisi lain, aku malah memiliki kesukaan yang berbanding terbalik dengan idealismeku yang gajelas itu. Hehehe. Aku suka mencari kesamaan alamiah antaraku dengan orang-orang tertentu. Semisal dengan orang yang dikabarkan memiliki wajah yang hampir sama denganku. Aku sampai kurang kerjaan meng-list orang-orang yang katanya agak sama denganku. Dan hasil akhirnya adalah, aku kikik-kikik ajah…Hehehe. Malu-malu mau dan malu-malu heran. Heheheh..Praktik lain dalam mencari kesamaan adalah dengan orang-orang sekomunitas yang memiliki kedekatab kultural dan emosional. Hehehe…Dalam hal ini, aku biasanya hanya melu2 alias gajadi praktisi, semisal bikin kaus kelas, bikin kaus kos, dan lain sebagainya yang bernuansa something memorable..
Well, smpai di sini dulu tulisan kali ini. Meski sulit dan rada males, semoga aku bisa semakin mengerti diriku sendiri, mengenali tiap detailnya, mengevaluasinya, meningkatkan apa yang perlu diteruskan, dan memangkas apa yang sekiranya harus dikurangi. Hehehehe…
Tampilkan postingan dengan label NgoredZ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NgoredZ. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Januari 2011
Senin, 15 November 2010
Deket Boleh Asal Jangan Kedeketan
Entahlah, apakah judul di atas sudah cukup memenuhi kualifikasi EYD ataukah tidak. Intine, secara operasional dan pragmatis, orang yang membaca judul di atas bisa diperkirakan bisa paham dengan apa yang bercokol di kepalaku. Ya, intinya yang ada di benakku adalah, dalam konteks ini, menjalin sebuah hubungan—entah persaudaraan atau pertemenan atau yang sejenis—pada dasarnya adalah hal yang sah-sah saja, natural, manusiwi, dan wajar. Dalam pertemanan itulah, masing-masing orang yang ada di dalamnya bisa saling mengisi dan menadah. Saling memberi dan menerima. Dan dari intensitas itulah timbul semacam..mm…kedekatan batin, ikatan emosional, dan lain sebagainya yang juga banyak dipengaruhi oleh tensi kedekatan fisik.
Dalam skala yang lebih kecil lagi, aku jane terbetik keinginan untuk menulis catatan ini setelah membaca salah satu berita tentang kedatangan si Berry alias presiden AS ke Indonesia beberapa waktu yang lalu. Banyaklah, yang tersisa dari kunjungan itu. Namun yang paling menarik perhatianku adalah kejadian saat Menkominfo bersalaman dengan isteri Obama yang notabene adalah wanita. Hehehehehe. Mengapa aku tertarik, jawabannya adalah karena aku sering merasa berada dalam posisi seperti Tifatul.
Dan seperti biasa, aku tidak tengah menulis catatan yang bernuansa normatif sentris apalagi judgment. Masalah baik-buruk benar-salah, aku lebih suka menyerahkan pada orang lain, katakanlah pembaca atau orang yang pernah mengalami kejadian semacam ini. Terserahlah bagaimana penilaian masing-masing orang, yang jelas penilaian tersebut tidak lahir dari ruang hampa sejarah alias tanpa alasan sama sekali. Tidak mungkin alias impossible.
Aku sendiri, selama ini berusaha sebisa mungkin menghindari kontak kulit dengan lawan jenis. Bukan sok suci atau sok-sok yang laen, aku hanya melihatanya sebagai sebuah prinsip. Prinsip dasar yang prinsipil. Sebab itulah pada awal-awal jadi mahasiswa, aku—hampir bisa dipastika—akan merapatkan tangan jika berada dalam momen menerima uluran tangan ataupun menjadi pihak yang mengulurkan tangan. Dan aku mendapat respon yang bermacam-macam dari cowo-cowo yang berinteraksi denganku. Ada yang ekstrim menolak, ada yang moderat, dan ada juga yang apatis.
Aku sich menanggapinya biasa aja. Buat aku, kontak kulit dengan kesengajaan, selain menurunkan garansi, juga kurang pantas. Minimal buat diriku sendiri. Sehingga, walaupun aku tergolong orang yang cukup suka mensiasati aturan-aturan normatif, dalam hal ini, aku tak mau banyak bertingkah. Norma itu mentog buat aku. Namun setelah dipiki2, ternyata aturan yang aku bilang prinsipil itu hanya berlaku dalam interaksiku dengan temen2. Untuk famili dan kerabat, aku malah keseringan berkotak kulit (baca:salaman) dengan famili laki-laki—baik yang seumuran ataupun lebih tua—yang seharusnya tidak mendapat previlige itu.
Dengan temen-temen pun, kontak kulit—tangan—sulit banget dihindari. Pas lagi kerja di teamwork, lagi dalam suasana genting, keburu-buru, kontak kulit luar biasa sulit dihindari. Sehingga, dengan tingginya intensitas itu, aku merasa vibrasi atau surprising moment ketika bersentuhan tangan dengan cowo semakin menurun. Dulu, aku merasa sangat berdosa besar ketika tak sengaja—apalagi sengaja—berkontak kulit dengan cowo. Yaaaa..Hal tersebut sangat wajar rasanya, dialami olehku yang saat itu masih cukup jarang berinteraksi dengan cowo, meskipun aku punya adik laki-laki. Dan itulah salah satu hal yang dijanjikan waktu. Aku mengamininya. Bener banget…
Masalah jabat tangan itu, sedari awal, aku membuat pengecualian memang. Ada lah—tanpa harus disebutkan di sini—seorang laki-laki yang mendapat priveleg dalam urusan satu ini. Tapi yaaaaaa..Lama-lama, aku merasa perlu melonggarkan pembatasan itu. Awalnya aku dihadapkan pada kebingungan yang cukup membingungkan manakala aku tengah seforum dengan para dosen. Dan ketika acara selese, semua orang di forum itu saling bersalaman. Aku mulai ragu untuk meneguhkan prinsipku kala itu. Akhirnya aku salaman juga. Dengan apologi, berkontak kulit dengan orang-orang hebat bisa memberiku radiasi energi yang menguntungkan bagiku. Entah bisa seefektif apa…
Pada kesempatan yang lain, ketika tengah bertamu ke rumah seorang dosen, rame-rame dengan temen-temen, aku kagok bukan main ketika suami dosenku menjulurkan tangan padaku. Aku langsung menyambut uluran tangannya dan ketika itu aku berpikir satu hal; I’VE BROKE THE RULE I MADE. Karena keseringan dan akhirnya banyak momen yang memaksaku untuk bersikap lain, akhirnya aku membuat pengecualian. Untuk orang yang lebih tua, orang yang dihormati, dan orang yang memilki energi positif yang kira2 bisa ditransmisikan, tak ada salahnya berkontak kulit. Aku pun kemudian berpikir bahwa sintesis dari semua rule itu adalaaaaaahh…Salaman pada seseorang merupakan salah satu simbol bahwa aku respek sama orang itu. Whoever he is
Di lokasi KKN, aku malah lebih sering dipertemukan dengan keadaan yang membuatku tidak enak untuk menjalankan kebiasanku. Kalo pada temen-temen cowo KKN, aku sih tak masalah. Dalam artian, apapun respon mereka terhadap kebiasanku itu, aku tak gitu ambil pusing. Tapi kalo uda berhubungan dengan warga, perangkat desa, dan semua warga berjenis kelamin laki-laki dan aku berada di posisi yang mengharuskanku berkontak kulit, aku merasa bahwa aku tak sama sekali memiliki pilihan lain. Yaaaaaaa…Sebagai seorang pendatang yang ingin belajar bermasyarakart di daerah itu, mutlak bagiku untuk menunjukkan apapun yang bisa membuatku bisa mengekspresikan rasa hormat dan respekku.
Dan, entah ini apologi atau bener-bener terjadi, aku merasakan ada sensasi lain saat bersalaman dengan para warga di lokasi KKN, khususnya Mbah Hadi. Mbah Hadi selalu bisa mengingatkanku pada almarhum kakek yang luar biasa memorable buat aku. Semangatnya, sorot matanya, ceritanya, caranya bertutur, dan segala hal dalam diri Mbah Hadi selalu bisa membuatku bernostalgia dengan sosok kakek. Belum lagi dengan bapak-bapak RT yang luar biasa baik padaku dan temen-temen. Aku merasa mereka sudah setara dengan keluargaku sendiri. Persoalan di sekitar aturan prinsipil itu pun menjadi semakin rumit dan bercabang.
Hmmmm..Belakangan aku memiliki trik jitu dan cerdas terbaru. Heheheh. Berani bersalaman asal pake kaus tangan. Hehehehe. Hal ini sebenarnya juga mempertaruhkan posisi seorang senior di mata kader. He, kedengerennya fantastis banget. Padahal ya biasa ajah. Ya, teknik ini aku temukan saat PKD 2010. Tak enak dan segan rasanya kalo harus merapatkan tangan di depan kader baru yang masih ‘muallaf’ dan perlu direservasi. Tapi ya itu, aku tetep tidak menyukai segala hal yang lebay dan pass the limit, khususnya dalam hal kontak kulit atau kedeketen fisik. Aku langsung mencak-mencak—pada siapapun juga—ketika sudah melampai batas-batas kecangkolangan atau privasi aku, khususnya sebagai perempuan. Entah, dalam hal ini, aku boleh saja dibilang konservatif ato apalah. BUT THAT’S A REAL ME..Semuanya berjalan bukan tanpa alasan…
Sebab itulah ketika publik banyak menyoal perihal Tifatul yang bersalaman dengan isteri Obama, aku merasa ada banyak hal yang patut menjadi refleksiku atas permasalahan spesifik itu. Tidak perlu sebenarnya terlalu mempersoalkan Tifatul yang muslim konservatif, yang berangkat dari PKS, yang Menkominfo, ato bahkan isu mengenai siapa yang terlebih dahulu mengajak bersalaman. Kejadiannya memang demikian adanya. Sulit diteorikan, sebab semuanya terjadi begitu saja. Normativitas fiqh mungkin bisa saja men-judge tindakan Tifatul tersebut sebagai tindakan yang kurang tepat atau tidak seharusnya dilakukan, tapi masalahnya, Tifatul tak hanya memakai kacamata fiqh dalam keadan insidental itu.
Aku tidak ingin membela maupun menyudutkan Tifatul. Aku saat ini hanya berpikir sederhana sebenarnya. Yaaaaaaa…Banyak hal kecil yang dibesar-besarkan secara lebay, sehingga hal besar yang seharusnya mendapat porsi malah terbengkalai. Aku sendiri sering melakukan hal tersebut dan terjebak dalam paradigma yang demikian. Kasus salaman Mega-Hasyim saat mereka berpasangan dalam pemilu juga sempat menjadi diskursus yang cukup menghebohkan. Kala itu, dalam kacamataku yang masih cukup polos dan normatif, hal tersebut murni adalah suatu hal yang tidak pantas dilakukan. Hehehe, sampai muncul istilah menggadaikn (idealisme) agama dengan menjadikannya komoditi politik. Dan hari ini, aku ketawa ngakak mengingat aku pernah punya pikiran seperti itu…
Hehehe. Tapi ya gapapalah, suatu saat, entah itu kapan, bukan tidak mungkin aku akan kembali menertawakan tulisan yang aku tulis saat ini. Begitulah trilogi waktu, proses, dan perubahan. Tidak ada yang abadi selain ketidakabadian itu sendiri. Tidak ada yang ajeg selain ketidakajegan itu sendiri.
Above all, buat aku pribadi, saat ini, dalam keadan dan atmosfir yang demikian, hanya ingin berpikir sederhana dan lurus-lurus saja..DEKET BOLEH ASAL JANGAN KEDEKETAN. Meskipun persahabatan dan kedekatan bisa memangkas batas-batas individualisme, tetap ada batas-batas yang tidak bisa dilanggar dan menjadi harga mati. Jika tak bisa tegas dengan prinsip kecil dari diri sendiri di usia sedini ini, sangat sulit rasanya untuk bisa menghidupkan prinsip yang sudah sulit2 dipilih unutk menjadi prinsip hidup. Jadiii,,,kasian prinsipnya lah, terlanjur dipilih malah ga diladeni. Hehehehe. Dan dalam hal ini, hal yang tidak kalah penting adalah menghargai prinsip orang lain, sebab setiap orang, siapapun dan dalam keadaan apapun, memiliki prinsip. Menjaga dan mengembangkannya adalah tugas mutlak operasional masing-masing person. eheheh
Dalam skala yang lebih kecil lagi, aku jane terbetik keinginan untuk menulis catatan ini setelah membaca salah satu berita tentang kedatangan si Berry alias presiden AS ke Indonesia beberapa waktu yang lalu. Banyaklah, yang tersisa dari kunjungan itu. Namun yang paling menarik perhatianku adalah kejadian saat Menkominfo bersalaman dengan isteri Obama yang notabene adalah wanita. Hehehehehe. Mengapa aku tertarik, jawabannya adalah karena aku sering merasa berada dalam posisi seperti Tifatul.
Dan seperti biasa, aku tidak tengah menulis catatan yang bernuansa normatif sentris apalagi judgment. Masalah baik-buruk benar-salah, aku lebih suka menyerahkan pada orang lain, katakanlah pembaca atau orang yang pernah mengalami kejadian semacam ini. Terserahlah bagaimana penilaian masing-masing orang, yang jelas penilaian tersebut tidak lahir dari ruang hampa sejarah alias tanpa alasan sama sekali. Tidak mungkin alias impossible.
Aku sendiri, selama ini berusaha sebisa mungkin menghindari kontak kulit dengan lawan jenis. Bukan sok suci atau sok-sok yang laen, aku hanya melihatanya sebagai sebuah prinsip. Prinsip dasar yang prinsipil. Sebab itulah pada awal-awal jadi mahasiswa, aku—hampir bisa dipastika—akan merapatkan tangan jika berada dalam momen menerima uluran tangan ataupun menjadi pihak yang mengulurkan tangan. Dan aku mendapat respon yang bermacam-macam dari cowo-cowo yang berinteraksi denganku. Ada yang ekstrim menolak, ada yang moderat, dan ada juga yang apatis.
Aku sich menanggapinya biasa aja. Buat aku, kontak kulit dengan kesengajaan, selain menurunkan garansi, juga kurang pantas. Minimal buat diriku sendiri. Sehingga, walaupun aku tergolong orang yang cukup suka mensiasati aturan-aturan normatif, dalam hal ini, aku tak mau banyak bertingkah. Norma itu mentog buat aku. Namun setelah dipiki2, ternyata aturan yang aku bilang prinsipil itu hanya berlaku dalam interaksiku dengan temen2. Untuk famili dan kerabat, aku malah keseringan berkotak kulit (baca:salaman) dengan famili laki-laki—baik yang seumuran ataupun lebih tua—yang seharusnya tidak mendapat previlige itu.
Dengan temen-temen pun, kontak kulit—tangan—sulit banget dihindari. Pas lagi kerja di teamwork, lagi dalam suasana genting, keburu-buru, kontak kulit luar biasa sulit dihindari. Sehingga, dengan tingginya intensitas itu, aku merasa vibrasi atau surprising moment ketika bersentuhan tangan dengan cowo semakin menurun. Dulu, aku merasa sangat berdosa besar ketika tak sengaja—apalagi sengaja—berkontak kulit dengan cowo. Yaaaa..Hal tersebut sangat wajar rasanya, dialami olehku yang saat itu masih cukup jarang berinteraksi dengan cowo, meskipun aku punya adik laki-laki. Dan itulah salah satu hal yang dijanjikan waktu. Aku mengamininya. Bener banget…
Masalah jabat tangan itu, sedari awal, aku membuat pengecualian memang. Ada lah—tanpa harus disebutkan di sini—seorang laki-laki yang mendapat priveleg dalam urusan satu ini. Tapi yaaaaaa..Lama-lama, aku merasa perlu melonggarkan pembatasan itu. Awalnya aku dihadapkan pada kebingungan yang cukup membingungkan manakala aku tengah seforum dengan para dosen. Dan ketika acara selese, semua orang di forum itu saling bersalaman. Aku mulai ragu untuk meneguhkan prinsipku kala itu. Akhirnya aku salaman juga. Dengan apologi, berkontak kulit dengan orang-orang hebat bisa memberiku radiasi energi yang menguntungkan bagiku. Entah bisa seefektif apa…
Pada kesempatan yang lain, ketika tengah bertamu ke rumah seorang dosen, rame-rame dengan temen-temen, aku kagok bukan main ketika suami dosenku menjulurkan tangan padaku. Aku langsung menyambut uluran tangannya dan ketika itu aku berpikir satu hal; I’VE BROKE THE RULE I MADE. Karena keseringan dan akhirnya banyak momen yang memaksaku untuk bersikap lain, akhirnya aku membuat pengecualian. Untuk orang yang lebih tua, orang yang dihormati, dan orang yang memilki energi positif yang kira2 bisa ditransmisikan, tak ada salahnya berkontak kulit. Aku pun kemudian berpikir bahwa sintesis dari semua rule itu adalaaaaaahh…Salaman pada seseorang merupakan salah satu simbol bahwa aku respek sama orang itu. Whoever he is
Di lokasi KKN, aku malah lebih sering dipertemukan dengan keadaan yang membuatku tidak enak untuk menjalankan kebiasanku. Kalo pada temen-temen cowo KKN, aku sih tak masalah. Dalam artian, apapun respon mereka terhadap kebiasanku itu, aku tak gitu ambil pusing. Tapi kalo uda berhubungan dengan warga, perangkat desa, dan semua warga berjenis kelamin laki-laki dan aku berada di posisi yang mengharuskanku berkontak kulit, aku merasa bahwa aku tak sama sekali memiliki pilihan lain. Yaaaaaaa…Sebagai seorang pendatang yang ingin belajar bermasyarakart di daerah itu, mutlak bagiku untuk menunjukkan apapun yang bisa membuatku bisa mengekspresikan rasa hormat dan respekku.
Dan, entah ini apologi atau bener-bener terjadi, aku merasakan ada sensasi lain saat bersalaman dengan para warga di lokasi KKN, khususnya Mbah Hadi. Mbah Hadi selalu bisa mengingatkanku pada almarhum kakek yang luar biasa memorable buat aku. Semangatnya, sorot matanya, ceritanya, caranya bertutur, dan segala hal dalam diri Mbah Hadi selalu bisa membuatku bernostalgia dengan sosok kakek. Belum lagi dengan bapak-bapak RT yang luar biasa baik padaku dan temen-temen. Aku merasa mereka sudah setara dengan keluargaku sendiri. Persoalan di sekitar aturan prinsipil itu pun menjadi semakin rumit dan bercabang.
Hmmmm..Belakangan aku memiliki trik jitu dan cerdas terbaru. Heheheh. Berani bersalaman asal pake kaus tangan. Hehehehe. Hal ini sebenarnya juga mempertaruhkan posisi seorang senior di mata kader. He, kedengerennya fantastis banget. Padahal ya biasa ajah. Ya, teknik ini aku temukan saat PKD 2010. Tak enak dan segan rasanya kalo harus merapatkan tangan di depan kader baru yang masih ‘muallaf’ dan perlu direservasi. Tapi ya itu, aku tetep tidak menyukai segala hal yang lebay dan pass the limit, khususnya dalam hal kontak kulit atau kedeketen fisik. Aku langsung mencak-mencak—pada siapapun juga—ketika sudah melampai batas-batas kecangkolangan atau privasi aku, khususnya sebagai perempuan. Entah, dalam hal ini, aku boleh saja dibilang konservatif ato apalah. BUT THAT’S A REAL ME..Semuanya berjalan bukan tanpa alasan…
Sebab itulah ketika publik banyak menyoal perihal Tifatul yang bersalaman dengan isteri Obama, aku merasa ada banyak hal yang patut menjadi refleksiku atas permasalahan spesifik itu. Tidak perlu sebenarnya terlalu mempersoalkan Tifatul yang muslim konservatif, yang berangkat dari PKS, yang Menkominfo, ato bahkan isu mengenai siapa yang terlebih dahulu mengajak bersalaman. Kejadiannya memang demikian adanya. Sulit diteorikan, sebab semuanya terjadi begitu saja. Normativitas fiqh mungkin bisa saja men-judge tindakan Tifatul tersebut sebagai tindakan yang kurang tepat atau tidak seharusnya dilakukan, tapi masalahnya, Tifatul tak hanya memakai kacamata fiqh dalam keadan insidental itu.
Aku tidak ingin membela maupun menyudutkan Tifatul. Aku saat ini hanya berpikir sederhana sebenarnya. Yaaaaaaa…Banyak hal kecil yang dibesar-besarkan secara lebay, sehingga hal besar yang seharusnya mendapat porsi malah terbengkalai. Aku sendiri sering melakukan hal tersebut dan terjebak dalam paradigma yang demikian. Kasus salaman Mega-Hasyim saat mereka berpasangan dalam pemilu juga sempat menjadi diskursus yang cukup menghebohkan. Kala itu, dalam kacamataku yang masih cukup polos dan normatif, hal tersebut murni adalah suatu hal yang tidak pantas dilakukan. Hehehe, sampai muncul istilah menggadaikn (idealisme) agama dengan menjadikannya komoditi politik. Dan hari ini, aku ketawa ngakak mengingat aku pernah punya pikiran seperti itu…
Hehehe. Tapi ya gapapalah, suatu saat, entah itu kapan, bukan tidak mungkin aku akan kembali menertawakan tulisan yang aku tulis saat ini. Begitulah trilogi waktu, proses, dan perubahan. Tidak ada yang abadi selain ketidakabadian itu sendiri. Tidak ada yang ajeg selain ketidakajegan itu sendiri.
Above all, buat aku pribadi, saat ini, dalam keadan dan atmosfir yang demikian, hanya ingin berpikir sederhana dan lurus-lurus saja..DEKET BOLEH ASAL JANGAN KEDEKETAN. Meskipun persahabatan dan kedekatan bisa memangkas batas-batas individualisme, tetap ada batas-batas yang tidak bisa dilanggar dan menjadi harga mati. Jika tak bisa tegas dengan prinsip kecil dari diri sendiri di usia sedini ini, sangat sulit rasanya untuk bisa menghidupkan prinsip yang sudah sulit2 dipilih unutk menjadi prinsip hidup. Jadiii,,,kasian prinsipnya lah, terlanjur dipilih malah ga diladeni. Hehehehe. Dan dalam hal ini, hal yang tidak kalah penting adalah menghargai prinsip orang lain, sebab setiap orang, siapapun dan dalam keadaan apapun, memiliki prinsip. Menjaga dan mengembangkannya adalah tugas mutlak operasional masing-masing person. eheheh
Hmhm...
NgoredZ
Senin, 13 September 2010
Dualisme Fesbuk
Kalimat yang menjadi tajuk tulisan ini sebenarnya uda lama mengendap di kepalaku. Karena terlalu lama mengendap itulah, aku mulai melupakannya. Stomata dan inspirasi itu mulai dan perlahan luntur begetoooo…Untungnya kemarin, 22/8/2010 saat aku merayakan hari ol sedunia, pikiran itu kembali muncul dan aku tidak mau melewatkannya lagi. Inspirasi mungkin seperti pedagang kaki lima keliling, jika tidak distop saat ia lewat di depan kos, maka sedetik kemudian ia akan hilang entah ke mana. Yang tersisa hanya tinggal bunyi satu-satu yang dijadikan tanda untuk memanggil pelanggannya datang. Analogi ini khususnya berlaku bagi rumah di pemukiman padat, semisal lingkungan kosku. Heheheeheheheheheheheheheheheeheehehe..
Menulis tentang fesbuk di forum ini sebenarnya bukan kali pertama. Jika tidak ada suatu hal yang sangat mendesakku untuk menulis, aku cenderung akan melupakan dan mengentengkannya. Apalagi jika mood sedang tidak bersahabat, aku yang moody dan bisa dibilang selalu menuhankan mood ini tidak akan beranjak sedikitpun dari tempatku terdiam.
Well, langsung pada inti pembicaraan yang ingin aku angkat. Pada awalnya, aku menduga bahwa fesbuk adalah jejaring sosial yang mengasah naluri manusia untuk berkawan, mencari teman, dan menyambung kembali tali silaturrahmi yang sempat terpisahkan ruang dan waktu serta mengakhiri paradigma lost contact. Awalnya memang demikian, khususnya yang kurasakan. Aku kembali bisa bertemu dengan temen-temen lama dan orang-orang dari masa lalu melalui jejaring ini. Setelah hanya mengklik add as friend atau confirm, lalu tak sengaja bertemu di fesbuk chatting dan atau mengirimkan pesan singkat, aku sudah bisa mengantongi nomor hape temenku yang sempat hilang tanpa komunikasi.
Mudah banget dan semua orang bisa melakukannya. Bahkan slogan fesbuk pun adalah, siapapun bisa mendaftar secara gratis dan tak ada masa promo, dalam artian gratis sepanjang masa. Dari situ, dengan fitur-fitur lain yang dimiliki fesbuk, aku mulai masuk dalam golongan orang yang terkena adiktif demam jejaring sosial ini. Meski tensinya fluktuatif, tapi aku ternyata juga cukup addicted pada jejaring sosial ini.
Dan belakangan, aku baru menyadari bahwa walaupun fesbuk membuka selebar-lebarnya pintu untuk bersosial dengan orang lain, mencari teman baru atau kembali menemukan teman lama, ternyata fesbuk juga sangat mendukung pada apa yang dinamakan NARSISME. Ya, bagaimana tidak, contoh kecilnya saja, dengan fitur album, tag foto, profile picture, atau wall picture, pengguna fesbuk memiliki wadah yang amat sangat representatif untuk menyalurkan naluri narsismenya.
Aku menyadari sepenuhnya bahwa sindroma ini telah lama bercokol di kepalaku…Bagaimna tidak, sampai hari ini saja, albumku sudah sampai pada hitungan tiga puluh. Jumlah yang cukup banyak dan cukup mengkhawatirkan sebenarnya. Hehehehe. Tapi ya begetolh. Narsisme juga tak selamanya berwajah buruk. Salah satu anomali terhadap teori single face narsisme misalnya adalah slogan “ga eksis ga narsis” yang banyak terdengar. Memang dalam hal ini, aku kerap tidak menggelar pertarungan panas dalam monolog sisi kanan dan sisi kiriku saat aku terlalu kebablasan berulah di fesbuk.
Aku lama-lama merasakan bahwa fesbuk semakin membuatku sulit menjadi diri sendiri, meski di sisi lain ia membiarkanku berekspresi sekehendak hatiku. Masalahnya begini, saat nulis status, misalnya, rasanya ga ok jika belum mendapat “like” dari orang lain, atau bahkan mendapat komentar. Saat nulis note maupun mosting foto juga begitu…Yayayaya, seolah berkarya untuk komentar dan apresiasi dari orang lain saja. Padahal aku sudah meniatkan bahwa apapun itu, aku harus bisa menjadi diriku sendiri. Dan untuk mencapai itu, salah satu caranya adalah dengan menyamakan ada tidaknya serta apapun komentar dari orang lain.
Tapi btw, komentar orang lain kadang menjadi supporting instrument juga untuk terus berkarya. Palagi yang bentuknya kritik dan saran yang konstruktif. Aku sendiri merasakannya begitu. Tapi yang paling terpuaskan pada akhirnya tetaplah diri dan idealisme sendiri. Bingung aku bagaimana menentukan sikap. Seperti berada di dua kutub yang saling tarik-menarik. Antara keinginan untuk menjadi diri sendiri dan keinginan untuk mendapat apresiasi dari orang lain.
Finally,,,aku hanya ingin tetap menulis dengan diriku sendiri…Semoga saja..
(Kacau mode:on, 23 Agustus 2010)
Menulis tentang fesbuk di forum ini sebenarnya bukan kali pertama. Jika tidak ada suatu hal yang sangat mendesakku untuk menulis, aku cenderung akan melupakan dan mengentengkannya. Apalagi jika mood sedang tidak bersahabat, aku yang moody dan bisa dibilang selalu menuhankan mood ini tidak akan beranjak sedikitpun dari tempatku terdiam.
Well, langsung pada inti pembicaraan yang ingin aku angkat. Pada awalnya, aku menduga bahwa fesbuk adalah jejaring sosial yang mengasah naluri manusia untuk berkawan, mencari teman, dan menyambung kembali tali silaturrahmi yang sempat terpisahkan ruang dan waktu serta mengakhiri paradigma lost contact. Awalnya memang demikian, khususnya yang kurasakan. Aku kembali bisa bertemu dengan temen-temen lama dan orang-orang dari masa lalu melalui jejaring ini. Setelah hanya mengklik add as friend atau confirm, lalu tak sengaja bertemu di fesbuk chatting dan atau mengirimkan pesan singkat, aku sudah bisa mengantongi nomor hape temenku yang sempat hilang tanpa komunikasi.
Mudah banget dan semua orang bisa melakukannya. Bahkan slogan fesbuk pun adalah, siapapun bisa mendaftar secara gratis dan tak ada masa promo, dalam artian gratis sepanjang masa. Dari situ, dengan fitur-fitur lain yang dimiliki fesbuk, aku mulai masuk dalam golongan orang yang terkena adiktif demam jejaring sosial ini. Meski tensinya fluktuatif, tapi aku ternyata juga cukup addicted pada jejaring sosial ini.
Dan belakangan, aku baru menyadari bahwa walaupun fesbuk membuka selebar-lebarnya pintu untuk bersosial dengan orang lain, mencari teman baru atau kembali menemukan teman lama, ternyata fesbuk juga sangat mendukung pada apa yang dinamakan NARSISME. Ya, bagaimana tidak, contoh kecilnya saja, dengan fitur album, tag foto, profile picture, atau wall picture, pengguna fesbuk memiliki wadah yang amat sangat representatif untuk menyalurkan naluri narsismenya.
Aku menyadari sepenuhnya bahwa sindroma ini telah lama bercokol di kepalaku…Bagaimna tidak, sampai hari ini saja, albumku sudah sampai pada hitungan tiga puluh. Jumlah yang cukup banyak dan cukup mengkhawatirkan sebenarnya. Hehehehe. Tapi ya begetolh. Narsisme juga tak selamanya berwajah buruk. Salah satu anomali terhadap teori single face narsisme misalnya adalah slogan “ga eksis ga narsis” yang banyak terdengar. Memang dalam hal ini, aku kerap tidak menggelar pertarungan panas dalam monolog sisi kanan dan sisi kiriku saat aku terlalu kebablasan berulah di fesbuk.
Aku lama-lama merasakan bahwa fesbuk semakin membuatku sulit menjadi diri sendiri, meski di sisi lain ia membiarkanku berekspresi sekehendak hatiku. Masalahnya begini, saat nulis status, misalnya, rasanya ga ok jika belum mendapat “like” dari orang lain, atau bahkan mendapat komentar. Saat nulis note maupun mosting foto juga begitu…Yayayaya, seolah berkarya untuk komentar dan apresiasi dari orang lain saja. Padahal aku sudah meniatkan bahwa apapun itu, aku harus bisa menjadi diriku sendiri. Dan untuk mencapai itu, salah satu caranya adalah dengan menyamakan ada tidaknya serta apapun komentar dari orang lain.
Tapi btw, komentar orang lain kadang menjadi supporting instrument juga untuk terus berkarya. Palagi yang bentuknya kritik dan saran yang konstruktif. Aku sendiri merasakannya begitu. Tapi yang paling terpuaskan pada akhirnya tetaplah diri dan idealisme sendiri. Bingung aku bagaimana menentukan sikap. Seperti berada di dua kutub yang saling tarik-menarik. Antara keinginan untuk menjadi diri sendiri dan keinginan untuk mendapat apresiasi dari orang lain.
Finally,,,aku hanya ingin tetap menulis dengan diriku sendiri…Semoga saja..
(Kacau mode:on, 23 Agustus 2010)
Hmhm...
NgoredZ
Kamis, 04 Maret 2010
TOP THREE OF EETA…
3 Hal yang PALING bisa bikin aku kangen
Musik
Pena (include of tuts-tutsnya biibii)
Bantal (guling juga)
3 Aktivitas PALING bikin aku seneng
Jalan-jalan (include of wisata kuliner)
Watching movie…
Brainstorming
3 barang yang akan aku selametin pertama kali pas ada bencana*)
Biibii Nyny Hape
Dompet
Motor cs
3 Hal PALING bisa bikin aku menjauh
Rokok
Pilem horor
Jotos-jotosan
3 Hal yang PALING sering aku bawa pas keluar
Dompet
Nyny
Hape
3 Hal PALING bisa bikin aku klepek-klepek
Puisi
Petikan Gitar
Retorika
3 Makanan PALING aku suka…
Seafood (khususnya cumi-cumi cuma-cuma)
Nasi Goreng
Bebakaran
3 Taste I can’t eat without
Spicy
Savory
Fresh
3 Nomor yang akan khubungi pas aku lagi dalam bahaya*)
+ 62818-03194-XXX (ex +62817-371-XXXX)
+ 62878-6610-XXXX (ex +62817-0355-XXXX)
+ 62878-5008-XXXX (ex +62817-0300-XXXX)
3 Situs yang PERTAMA aku buka pas ol
facebook.com
mail.yahoo.com
blogger.com
3 Hal yang PALING bisa bikin aku jenuh
Membaca
Menunggu
Ritme idup yang single
3 Tempat REKREASI paling aku suka
Pantai dan aer terjun
Property of Heritage
Famous and speCta ones
3 Tempat yang lage PALING ingin aku kunjungi (untuk jalan2)
Bali
JeKaTe
Bromo
3 Tempat jalan-jalan yang dekat dengan tempatku tapi belum terjamah
Borobudur
Taman Sari
Purawisata-Taman Pintar
3 Mimpi Paling Gile
Punya kakak
Kuliah abroad
Jadi orang kaya
3 Tempat tongkrongan yang PALING sering dikunjungi (karena ga ada yang laen)
Pojok kamar
MP dan climbing kampus
Malioboro
3 Kata PALING pas gambarin aku
Simpel
Moody
Defining mine
*) Sedang menggunakan daya imajinasi yang gajebo
Musik
Pena (include of tuts-tutsnya biibii)
Bantal (guling juga)
3 Aktivitas PALING bikin aku seneng
Jalan-jalan (include of wisata kuliner)
Watching movie…
Brainstorming
3 barang yang akan aku selametin pertama kali pas ada bencana*)
Biibii Nyny Hape
Dompet
Motor cs
3 Hal PALING bisa bikin aku menjauh
Rokok
Pilem horor
Jotos-jotosan
3 Hal yang PALING sering aku bawa pas keluar
Dompet
Nyny
Hape
3 Hal PALING bisa bikin aku klepek-klepek
Puisi
Petikan Gitar
Retorika
3 Makanan PALING aku suka…
Seafood (khususnya cumi-cumi cuma-cuma)
Nasi Goreng
Bebakaran
3 Taste I can’t eat without
Spicy
Savory
Fresh
3 Nomor yang akan khubungi pas aku lagi dalam bahaya*)
+ 62818-03194-XXX (ex +62817-371-XXXX)
+ 62878-6610-XXXX (ex +62817-0355-XXXX)
+ 62878-5008-XXXX (ex +62817-0300-XXXX)
3 Situs yang PERTAMA aku buka pas ol
facebook.com
mail.yahoo.com
blogger.com
3 Hal yang PALING bisa bikin aku jenuh
Membaca
Menunggu
Ritme idup yang single
3 Tempat REKREASI paling aku suka
Pantai dan aer terjun
Property of Heritage
Famous and speCta ones
3 Tempat yang lage PALING ingin aku kunjungi (untuk jalan2)
Bali
JeKaTe
Bromo
3 Tempat jalan-jalan yang dekat dengan tempatku tapi belum terjamah
Borobudur
Taman Sari
Purawisata-Taman Pintar
3 Mimpi Paling Gile
Punya kakak
Kuliah abroad
Jadi orang kaya
3 Tempat tongkrongan yang PALING sering dikunjungi (karena ga ada yang laen)
Pojok kamar
MP dan climbing kampus
Malioboro
3 Kata PALING pas gambarin aku
Simpel
Moody
Defining mine
*) Sedang menggunakan daya imajinasi yang gajebo
Hmhm...
NgoredZ
AKU INDIVIDUAL???
Ya pasti aku jawab nda. He. Apologi memang. Meski kadang aku merasa bahwa aku harus bisa menjadi seseorang yang individual dan egois dalam beberapa momen tertentu. Bukan gimana, kadang aku pikir, menjadi mahluk yang terlalu sosialis itu ndak enak juga. Ya masalane idup khan maunya memang menyajikan dua hal yang kadang saling tarik menarik dan bertentangan. Di satu sisi kita inginnya gini, dan sedang orang laen inginnya gitu. Kalo terlalu sosialis, kasian kitanya sendiri donk..kalo bukan kita yang neserin diri sendiri, terus siapa lagi?
Contohnya aja, beberapa hari yang lalu…ada temenku yang berencana mau pinjem kamera. Hmh, aku sich sebenere ga mungkin lupa kalo aku uda berjanji ma diriku sendiri, tu kamera ga boleh bermalam di manapun tanpa aku di sampingnya. Weleh, ya intine…aku uda berkali-kali dpat wejangan dari temen2ku bahwa barang elektronik bernama kamera itu ga bisa seenaknya dipindahin tangan ke mana-mana. Risikonya besar…RENTAN RUSAK dan kalo uda rusak (naudzubillah), biaya reparasinya juga segede gunung. Jadi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, aku buat keputusan kalo kamera itu hanya boleh dibawa oleh AKU..ke manapun aku pergi.
Banyak alasan lah, mengapa aku sayang banget dan protektif abis ma kamera tu. Yang paling utama mungkin adalah karena aku membelinya dengan proses yang sangat tidak bisa dikatakan mudah. Bagaimana aku berdarah-darah menghabiskan malam, begadang bersama biibii hanya untuk bisa mengantongi barang ini. Sweet struggle banget.. makanya aku ndak ingin kameraku tu napa-napa. Aku sayang dia banget, intinye begitu.
Tapi temenku yang mau pinjem juga adalah temen yang bisa dikatakan deket, meski kami baru intens komunikasi sejak beberapa bulan yang lalu. Sungguh aku bingung harus bagaimana waktu itu..Aku harus mengorbankan kepercayaan seorang temen atau merelakan kameraku berada jauh dariku dan aku akan sangat mengkhawatirkannya. Aku bingung banget, mana yang harus aku korbanin. Aku pending aja jawabannya dengan alasan yang sebenere kurang bisa diterima. Alhamdulillah dia mau mengerti. Hhh..Endingnya, dengan alasan yang super jujur dan polos, aku bilang ajah ma temenku kalo kamera itu hanya untuk PRIVATE USAGE. Aku ndak tau dia marah, kecewa, ato gimana..tapi intine dia berusaha sebisa mungkin bersikap wajar di depan aku.
So dari satu sampel ini, aku individual donk?
Eits..tunggu dulu. Aku juga banyak mempunyai contoh lain yang membuktikan bahwa aku ndak se-individualis itu. Hehehe. Gausa disebutin lach..Ntar kesane pamer ato gimana. Oya, satu hal lagi tentang diriku dalam cerita itu, buru-buru aku menyadari bahwa kadang dalam sebagian besar momen, aku sulit memberikan kepercayaan penuh pada orang lain, terutama yang berhubungan dengan namaku. Misalane tugas kelompok. Aku berkali-kali ngumpulin tugas individu ke dosen hanya karena ngerasa bahwa aku dak sreg numpuk tugas kelompok di mana aku tidak bertindak sebagai editor dan eksekutor akhir dalam penulisan makalah. Malu-maluin kadang, tapi aku tetep keukeuh. Hmhm,,ya begetolah diriku. Makanya meski sering ngerasa berat dan misuh2, aku lebih seneng bikin tugas individual. Lebih nge-taste.
Ok, pertanyaan yang ingin aku ajukan pada dirku sendiri adalah, seberapa jauh aku punya kemungkinan untuk bersikap individualis? Kapan saja dan dalam keadaan apa saja?
Well, aku hanya boleh bersikap demikian sebutuhnya saja. Misalnya saat aku sedang dikejar deadline proyek, aku harus bersikap ekstra cuek terhadap siapapun juga. Terhadap orang-orang di sekitarku, terhadap orang-orang di pikiranku, terhadap orang-orang di hapeku, dan semuaaaaaaanya. Cucianku, setrikaan, tugas kuliah, kamar yang belum kubersihin, dan lain sebagainya. Dan yang ada di pikiranku hanya satu..; SELESAIN PROYEK SEBELUM BESOK!!! Tak pelak dalam keadaan ini, pikiranku itu jadinya linear-linear saja. Ga berwarna. Yang ada hanya kebingungan, konsentrasi, kejenuhan, laper, ngantuk, dan semua hal yang silih berganti datang menemaniku…
Ada kalanya aku malah mencari beberapa supporting tool untuk melancarkan aksi individualismeku ini. Yang paling sering ya menyendiri, mengasingkan diri, berjalan entah ke mana, terus..,menutup telinga dengan headphone sambil dengerin musik dalam volume yang above standard. Biasane cara-cara ini akan aku tempuh mana kala aku lagi introuble, ada beban pikiran yang tidak bisa terselesaikan, ada masalah yang bikin aku pusing setengah mati, dan…beberapa hal yang pokoe bikin aku dak enak untuk berinteraksi dengan orang,,,
Saat itulah biasanya, aku mulai sok-sokan menggelar monolog-monolog riuh di batin dan pikiranku. Kalo uda ndak bisa, baru aku mendatangkan motivasi eskternal berupa ndegerin musik ato nonton pilem, juga jalan-jalan ga jelas ke mana untuk sekadar memotret kehidupan. Tapi aku tetep suka sendiri. Aku pikir itu lebih menentramkan dan lebih membebaskan, sebab aku bisa bebas berekspresi..tanpa harus terhalangi karena ada temen di sampingku. Intine pas saat itu, aku merasa kalo semua yang ada di sampingku nyebelin…meski sebabnya cuma satu orang ato satu kejadian. Ga fair banget emang, tapi yang penting, aku uda berusaha (meski ga sepenuhnya berhasil) untuk mengenali titik kelemahanku dan sedikit demi sedikit mengatasinya…
Meski begitu, aku memang tidak bisa cuek pada beberapa orang tertentu, seberapa nyebelinnya mereka buat aku. Ya sebabnya sederhana, karena aku sayang mereka, maka aku perhatian ma mereka. Jadi seberapapun aku berusaha untuk dak care ma urusan mereka (dengan menggunakan kaidah lu-lu gw-gw), aku yo tetep ndak bisa. Jadi untuk urusan beberapa orang ne, aku yo..sebisa mungkin ga terlalu nampakin kalo aku sayang ma mereka. Harus tetep jaim. Bisa-bisa mereka over GR lage. Ga boleh tu..
Aku dak tau berapa porsentase individualis-sosialis yang ada dalam diriku. Apa 50-50. 70-30, ato berapapun. Agak sulit rasanya mendeteksi orang yang moody kayak aku, meski itu dilakukan dan dialami oleh aku sendere. Hehehe. Tapi yo, aku penah denger, katanya seorang kutu buku itu cenderung individualis. Aku ya jelas ga masuk dala mkualifikasi ini, karena aku males banget untuk urusan baca buku. Tapi, benarkah aku sosialis? Sementara aku sering emoh berinteraksi dengan orang yang lebih tua dibanding aku..biasana famili ato keluarga yang ga gitu intens komunikasi. Ya gatau dech, untk saat ini kayaknya aku belum bisa menentukan manakah yang lebih dominan ada pada diriku antara du kutub berseberangan itu…
Epilognya, buat aku, porsi individualis dan sosialis itu harus seimbang ajah lah..jangan mpe terlalu sosialis mpe ngorbanin diri sendiri terlalu jauh, jangan pula mpe individualis keterlaluan terus ga peduli sama sekali dengan orang sekitar.
Contohnya aja, beberapa hari yang lalu…ada temenku yang berencana mau pinjem kamera. Hmh, aku sich sebenere ga mungkin lupa kalo aku uda berjanji ma diriku sendiri, tu kamera ga boleh bermalam di manapun tanpa aku di sampingnya. Weleh, ya intine…aku uda berkali-kali dpat wejangan dari temen2ku bahwa barang elektronik bernama kamera itu ga bisa seenaknya dipindahin tangan ke mana-mana. Risikonya besar…RENTAN RUSAK dan kalo uda rusak (naudzubillah), biaya reparasinya juga segede gunung. Jadi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, aku buat keputusan kalo kamera itu hanya boleh dibawa oleh AKU..ke manapun aku pergi.
Banyak alasan lah, mengapa aku sayang banget dan protektif abis ma kamera tu. Yang paling utama mungkin adalah karena aku membelinya dengan proses yang sangat tidak bisa dikatakan mudah. Bagaimana aku berdarah-darah menghabiskan malam, begadang bersama biibii hanya untuk bisa mengantongi barang ini. Sweet struggle banget.. makanya aku ndak ingin kameraku tu napa-napa. Aku sayang dia banget, intinye begitu.
Tapi temenku yang mau pinjem juga adalah temen yang bisa dikatakan deket, meski kami baru intens komunikasi sejak beberapa bulan yang lalu. Sungguh aku bingung harus bagaimana waktu itu..Aku harus mengorbankan kepercayaan seorang temen atau merelakan kameraku berada jauh dariku dan aku akan sangat mengkhawatirkannya. Aku bingung banget, mana yang harus aku korbanin. Aku pending aja jawabannya dengan alasan yang sebenere kurang bisa diterima. Alhamdulillah dia mau mengerti. Hhh..Endingnya, dengan alasan yang super jujur dan polos, aku bilang ajah ma temenku kalo kamera itu hanya untuk PRIVATE USAGE. Aku ndak tau dia marah, kecewa, ato gimana..tapi intine dia berusaha sebisa mungkin bersikap wajar di depan aku.
So dari satu sampel ini, aku individual donk?
Eits..tunggu dulu. Aku juga banyak mempunyai contoh lain yang membuktikan bahwa aku ndak se-individualis itu. Hehehe. Gausa disebutin lach..Ntar kesane pamer ato gimana. Oya, satu hal lagi tentang diriku dalam cerita itu, buru-buru aku menyadari bahwa kadang dalam sebagian besar momen, aku sulit memberikan kepercayaan penuh pada orang lain, terutama yang berhubungan dengan namaku. Misalane tugas kelompok. Aku berkali-kali ngumpulin tugas individu ke dosen hanya karena ngerasa bahwa aku dak sreg numpuk tugas kelompok di mana aku tidak bertindak sebagai editor dan eksekutor akhir dalam penulisan makalah. Malu-maluin kadang, tapi aku tetep keukeuh. Hmhm,,ya begetolah diriku. Makanya meski sering ngerasa berat dan misuh2, aku lebih seneng bikin tugas individual. Lebih nge-taste.
Ok, pertanyaan yang ingin aku ajukan pada dirku sendiri adalah, seberapa jauh aku punya kemungkinan untuk bersikap individualis? Kapan saja dan dalam keadaan apa saja?
Well, aku hanya boleh bersikap demikian sebutuhnya saja. Misalnya saat aku sedang dikejar deadline proyek, aku harus bersikap ekstra cuek terhadap siapapun juga. Terhadap orang-orang di sekitarku, terhadap orang-orang di pikiranku, terhadap orang-orang di hapeku, dan semuaaaaaaanya. Cucianku, setrikaan, tugas kuliah, kamar yang belum kubersihin, dan lain sebagainya. Dan yang ada di pikiranku hanya satu..; SELESAIN PROYEK SEBELUM BESOK!!! Tak pelak dalam keadaan ini, pikiranku itu jadinya linear-linear saja. Ga berwarna. Yang ada hanya kebingungan, konsentrasi, kejenuhan, laper, ngantuk, dan semua hal yang silih berganti datang menemaniku…
Ada kalanya aku malah mencari beberapa supporting tool untuk melancarkan aksi individualismeku ini. Yang paling sering ya menyendiri, mengasingkan diri, berjalan entah ke mana, terus..,menutup telinga dengan headphone sambil dengerin musik dalam volume yang above standard. Biasane cara-cara ini akan aku tempuh mana kala aku lagi introuble, ada beban pikiran yang tidak bisa terselesaikan, ada masalah yang bikin aku pusing setengah mati, dan…beberapa hal yang pokoe bikin aku dak enak untuk berinteraksi dengan orang,,,
Saat itulah biasanya, aku mulai sok-sokan menggelar monolog-monolog riuh di batin dan pikiranku. Kalo uda ndak bisa, baru aku mendatangkan motivasi eskternal berupa ndegerin musik ato nonton pilem, juga jalan-jalan ga jelas ke mana untuk sekadar memotret kehidupan. Tapi aku tetep suka sendiri. Aku pikir itu lebih menentramkan dan lebih membebaskan, sebab aku bisa bebas berekspresi..tanpa harus terhalangi karena ada temen di sampingku. Intine pas saat itu, aku merasa kalo semua yang ada di sampingku nyebelin…meski sebabnya cuma satu orang ato satu kejadian. Ga fair banget emang, tapi yang penting, aku uda berusaha (meski ga sepenuhnya berhasil) untuk mengenali titik kelemahanku dan sedikit demi sedikit mengatasinya…
Meski begitu, aku memang tidak bisa cuek pada beberapa orang tertentu, seberapa nyebelinnya mereka buat aku. Ya sebabnya sederhana, karena aku sayang mereka, maka aku perhatian ma mereka. Jadi seberapapun aku berusaha untuk dak care ma urusan mereka (dengan menggunakan kaidah lu-lu gw-gw), aku yo tetep ndak bisa. Jadi untuk urusan beberapa orang ne, aku yo..sebisa mungkin ga terlalu nampakin kalo aku sayang ma mereka. Harus tetep jaim. Bisa-bisa mereka over GR lage. Ga boleh tu..
Aku dak tau berapa porsentase individualis-sosialis yang ada dalam diriku. Apa 50-50. 70-30, ato berapapun. Agak sulit rasanya mendeteksi orang yang moody kayak aku, meski itu dilakukan dan dialami oleh aku sendere. Hehehe. Tapi yo, aku penah denger, katanya seorang kutu buku itu cenderung individualis. Aku ya jelas ga masuk dala mkualifikasi ini, karena aku males banget untuk urusan baca buku. Tapi, benarkah aku sosialis? Sementara aku sering emoh berinteraksi dengan orang yang lebih tua dibanding aku..biasana famili ato keluarga yang ga gitu intens komunikasi. Ya gatau dech, untk saat ini kayaknya aku belum bisa menentukan manakah yang lebih dominan ada pada diriku antara du kutub berseberangan itu…
Epilognya, buat aku, porsi individualis dan sosialis itu harus seimbang ajah lah..jangan mpe terlalu sosialis mpe ngorbanin diri sendiri terlalu jauh, jangan pula mpe individualis keterlaluan terus ga peduli sama sekali dengan orang sekitar.
Hmhm...
NgoredZ
Jumat, 26 Februari 2010
Agar tidak dibuang saja..
Pada akhirnya…
Pada akhirnya aku memang harus berpikir bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh keangkuhan..sesuatu yang jarang dan sulit banget bisa dilakukan tanpa memaksa hati untuk angkuh. Dan salah satu di antara beberapa hal tersebut tengah terjadi dalam babak hidupku hari ini..aku memang angkuh, namun banyak hal yang bisa menaklukkan benteng itu…Tapi jika aku sudah tidak punya pilihan lain yang lebih menentramkan, aku akan kembali ke tabiat dasarku itu..Menjadi mahluk super angkuh yang bahkan tdak memedulikan apapun selain diriku…
Barangkali aku memang terlalu rapuh menyadari kepergian sebuah babak dalam kehidupanku..Aku kira itu wajar, sebab itu sangatlah manusiawi, meskipun perubahan yang terjadi padaku cukup mengancam juga…Ya udah, aku biarkan kegilaan-kegilaan itu hadir satu persatu, ntar juga reda, pikirku…Dan seiring waktu, semua kebekuan itu memang mulai tercairkan..(meski tidak dengan luka di hatiku, sejarah terlanjur memuseumkannya…). Tapi ya itu, menghapus nama seseorang dari list hatiku tidak semudah aku membuang dan merobek-robek secarik alamat rumah yang selalu menjadi tujuan dari surat-suratku…
Masalahnya kemudian, ada skenario yang sangat merugikan aku. Skenario yang justeru mengharuskan aku berbenturan dengan barang yang luar biasa ingin aku lupakan, dengan barang yang mati-matian ingin aku tinggalkan. Aku kurang tahu, apakah skenario itu memang sengaja ditulis untuk mengukuhkan kerapuhanku atau memang seleksi alam. Tapi yang jelas, penulis skenario itu sangat mengetahui kelemahanku, sehingga ia mudah melumpuhkanku dari berbagai celah.
Aku memang tidak mau berprasangka, tapi kenyataan menyiratkan demikian. Skenario itu ada di depan mataku, terjasi utuh dan tanpa cacat, meski aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak bertatap muka dengannya. Ia tersaji di meja makan tempat aku melewatkan beberapa jam kehidupanku di sana..Ia benar-benar tersaji. Aku sudah membuang pandang dan menutup dengar. Namun rupanya adegan-adegan itu memang tidak pernah mau lari dari hadapanku. Aku speechless dan nothing to do. Barangkali yang harus aku salahkan bukanlah adegan-adegan yang tak terhindarkan itu..Tapi aku sendiri!!! AKU!!
Dan untuk membohongi hati, aku harus mengandalkan keangkuhanku..Memandang segala hal dari kacamata tergelap yang aku punya. Aku tempel aja pertanyaan-pertanyaan esensialis berikut di serambi hatiku..
• Eh, siapa kamu, sampe mau bikin idupku berantakan separah ini? Yang jelas kamu bukan tokoh utama dalam roman dalam hidupku, jadi ngapaen aku setengah mati kepikiran hanya karena kamu tak sempat memberikan maaf sebelum kamu pergi?
• Kalau kau mau pergi, pergi saja..Tak usah menyusun skenario lain. Belum puas kamu bikin perih lukaku semakin pedih? Lalu ada skenario apalagi? Don’t think I care. I care nothing at all!!! Buatlah skenario sebanyak mungkin…dak akan ngaruh buat aku
• Haalauwwwwwwwwww…kamu aja bisa setenang itu menyudahi babak ini, napa aku harus menjadi pesakitan CUMA KARENA KAMU? Wah…Harus segera bangkit aku, sebelum kau lebih jauh membungihanguskan tempatku berpijak..Kau tau peta-peta kelemahanku khan? Manfaatin aja…Aku dak akan terpengaruh sedikitpun oleh skenario yang disusun kamu…
Tapi…ada hati kecilku yang melantangkan teriaknya. Ia bilang bahwa aku tak akan pernah berhasil membencimu…(membuatku membencimu adalah salah satu proyek terbesarmu khan?? Kau pasti masih ingat..), aku tidak akan pernah mengalami sebuah konversi slide back untuk membencimu...Tindakanku membohongi hati dan segala follow upnya itu tidak akan cukup mampu menghapus namamu dalam list hatiku..(Duh, mengakui apa sebenarnya kata hati paling sering bikin teriris..)
Aku tetep pada keyakinanku semula..Bahwa aku harus mengandalkan keangkuhanku…HARUS!! Jika tidak ingin kau semakin jauh dan jauh meninggalkanku dalam keterpurukan. Betapapun aku sayang kamu, betapapun pagi ini aku kangen kamu, betapapun aku ingin kau datang kembali bentaaaaaaaaaaar aja, dan betapa-betapa lainnya, keadaan memang memaksa aku harus angkuh dan membohongi hati!!! Sebab hanya dengan itu, aku dapat melarang air mata tumpah lagi dan memaksa isak sedaku mengakhiri riwayatnya HANYA KARENA KAMU!!
Well, masih banyak hal yang lebih menarik dibanding babak yang sudah pergi itu…jadi pergi aja, gausa kembali. Aku juga uda ga ngarep lagi. Tanpa kamu aku masih tetep bisa tegak berdiri!! Kamu bukan apa-apa apalagi siapaku, jadi…jangan pernah berpikir bahwa skenario apapun yang kaubikin akan berpengaruh buat aku. TIDAK SAMA SEKALI!! NOT AT ALL!
Hm..Barangkali ini adalah jalan terbaik yang bisa aku tempuh..
Ok, Ta..Kamu bisa tenang sekarang…Jangan pernah ingat bahwa dia pernah menjadi dua puluh empat jam dalam seharimu…Jangan pernah ingat bahwa kau pernah menduga bahwa dia adalah malaikat yang diutus Tuhan untukmu…Hilang satu harus tumbuh seribu dwonk..Ok?
Dan…selamat datang, untuk kebahagiaanku…
Chayoooooooooooooooooo!!!
(Aku dak atu kapan nulis catatan ne..Tapi wis tak posting ajah dulu..kasian si biibii kalo nanggung beban keberatan..)
Pada akhirnya aku memang harus berpikir bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh keangkuhan..sesuatu yang jarang dan sulit banget bisa dilakukan tanpa memaksa hati untuk angkuh. Dan salah satu di antara beberapa hal tersebut tengah terjadi dalam babak hidupku hari ini..aku memang angkuh, namun banyak hal yang bisa menaklukkan benteng itu…Tapi jika aku sudah tidak punya pilihan lain yang lebih menentramkan, aku akan kembali ke tabiat dasarku itu..Menjadi mahluk super angkuh yang bahkan tdak memedulikan apapun selain diriku…
Barangkali aku memang terlalu rapuh menyadari kepergian sebuah babak dalam kehidupanku..Aku kira itu wajar, sebab itu sangatlah manusiawi, meskipun perubahan yang terjadi padaku cukup mengancam juga…Ya udah, aku biarkan kegilaan-kegilaan itu hadir satu persatu, ntar juga reda, pikirku…Dan seiring waktu, semua kebekuan itu memang mulai tercairkan..(meski tidak dengan luka di hatiku, sejarah terlanjur memuseumkannya…). Tapi ya itu, menghapus nama seseorang dari list hatiku tidak semudah aku membuang dan merobek-robek secarik alamat rumah yang selalu menjadi tujuan dari surat-suratku…
Masalahnya kemudian, ada skenario yang sangat merugikan aku. Skenario yang justeru mengharuskan aku berbenturan dengan barang yang luar biasa ingin aku lupakan, dengan barang yang mati-matian ingin aku tinggalkan. Aku kurang tahu, apakah skenario itu memang sengaja ditulis untuk mengukuhkan kerapuhanku atau memang seleksi alam. Tapi yang jelas, penulis skenario itu sangat mengetahui kelemahanku, sehingga ia mudah melumpuhkanku dari berbagai celah.
Aku memang tidak mau berprasangka, tapi kenyataan menyiratkan demikian. Skenario itu ada di depan mataku, terjasi utuh dan tanpa cacat, meski aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak bertatap muka dengannya. Ia tersaji di meja makan tempat aku melewatkan beberapa jam kehidupanku di sana..Ia benar-benar tersaji. Aku sudah membuang pandang dan menutup dengar. Namun rupanya adegan-adegan itu memang tidak pernah mau lari dari hadapanku. Aku speechless dan nothing to do. Barangkali yang harus aku salahkan bukanlah adegan-adegan yang tak terhindarkan itu..Tapi aku sendiri!!! AKU!!
Dan untuk membohongi hati, aku harus mengandalkan keangkuhanku..Memandang segala hal dari kacamata tergelap yang aku punya. Aku tempel aja pertanyaan-pertanyaan esensialis berikut di serambi hatiku..
• Eh, siapa kamu, sampe mau bikin idupku berantakan separah ini? Yang jelas kamu bukan tokoh utama dalam roman dalam hidupku, jadi ngapaen aku setengah mati kepikiran hanya karena kamu tak sempat memberikan maaf sebelum kamu pergi?
• Kalau kau mau pergi, pergi saja..Tak usah menyusun skenario lain. Belum puas kamu bikin perih lukaku semakin pedih? Lalu ada skenario apalagi? Don’t think I care. I care nothing at all!!! Buatlah skenario sebanyak mungkin…dak akan ngaruh buat aku
• Haalauwwwwwwwwww…kamu aja bisa setenang itu menyudahi babak ini, napa aku harus menjadi pesakitan CUMA KARENA KAMU? Wah…Harus segera bangkit aku, sebelum kau lebih jauh membungihanguskan tempatku berpijak..Kau tau peta-peta kelemahanku khan? Manfaatin aja…Aku dak akan terpengaruh sedikitpun oleh skenario yang disusun kamu…
Tapi…ada hati kecilku yang melantangkan teriaknya. Ia bilang bahwa aku tak akan pernah berhasil membencimu…(membuatku membencimu adalah salah satu proyek terbesarmu khan?? Kau pasti masih ingat..), aku tidak akan pernah mengalami sebuah konversi slide back untuk membencimu...Tindakanku membohongi hati dan segala follow upnya itu tidak akan cukup mampu menghapus namamu dalam list hatiku..(Duh, mengakui apa sebenarnya kata hati paling sering bikin teriris..)
Aku tetep pada keyakinanku semula..Bahwa aku harus mengandalkan keangkuhanku…HARUS!! Jika tidak ingin kau semakin jauh dan jauh meninggalkanku dalam keterpurukan. Betapapun aku sayang kamu, betapapun pagi ini aku kangen kamu, betapapun aku ingin kau datang kembali bentaaaaaaaaaaar aja, dan betapa-betapa lainnya, keadaan memang memaksa aku harus angkuh dan membohongi hati!!! Sebab hanya dengan itu, aku dapat melarang air mata tumpah lagi dan memaksa isak sedaku mengakhiri riwayatnya HANYA KARENA KAMU!!
Well, masih banyak hal yang lebih menarik dibanding babak yang sudah pergi itu…jadi pergi aja, gausa kembali. Aku juga uda ga ngarep lagi. Tanpa kamu aku masih tetep bisa tegak berdiri!! Kamu bukan apa-apa apalagi siapaku, jadi…jangan pernah berpikir bahwa skenario apapun yang kaubikin akan berpengaruh buat aku. TIDAK SAMA SEKALI!! NOT AT ALL!
Hm..Barangkali ini adalah jalan terbaik yang bisa aku tempuh..
Ok, Ta..Kamu bisa tenang sekarang…Jangan pernah ingat bahwa dia pernah menjadi dua puluh empat jam dalam seharimu…Jangan pernah ingat bahwa kau pernah menduga bahwa dia adalah malaikat yang diutus Tuhan untukmu…Hilang satu harus tumbuh seribu dwonk..Ok?
Dan…selamat datang, untuk kebahagiaanku…
Chayoooooooooooooooooo!!!
(Aku dak atu kapan nulis catatan ne..Tapi wis tak posting ajah dulu..kasian si biibii kalo nanggung beban keberatan..)
Hmhm...
NgoredZ
Daripada kebuang sia2
Aku hanya ingin nulis pagi ini…
Aku tidak akan bertutur tentang apa yang baru saja aku alami, bagaimana kacaunya pikiranku, bagaimana diktat-diktat dan file-file itu harus aku kutinggalkan, atau bagaimana luar biasa besar sesalku. Bukan, bukan itu. Aku masih tak sanggup mengkisahkannya pada apa dan siapapun. Aku hanya ingin memendamnya dalam hati…Menyimpannya rapi sampai suatu saat aku akan membuka dan kembali membaca catatan itu. Pagi ini aku hanya ingin menulis…Hanya menulis…Apa saja yang ada di pikirku..Apapun yang bisa membuatku tenang..Konon, perasaan apapun bisa diekspresikan dengan tulisan…
Dalam hidup, terkadang ada momen-momen kurang menyenangkan yang ingin aku lompati. Setelah tau betapa buruknya kejadian yang terjadi pada suatu hari, aku sering berpikir bahwa sebenarnya hari itu tak harus ada dalam kalender peradaban manusia. Aku ingin melompatinya, sehingga kejadian apapun yang kurang menyenangkan tak harus terjadi dan tercatat di atas lembar sejarah. Tapi sayang, lompatan yang memang mustahil itu semakin di-mustahilkan oleh keberadaannya di masa lampau. Sehingga ia tidak akan bisa diubah apalagi dihindari…Dan hanya bisa ditaruh dalam laci ingatan dan berangkas masa lalu.
Sebab waktu berjalan dengan sendirinya dan ia tak mau sejenakpun berhenti. Ia tak mau sekejappun berjalan dengan melewatkan gerbong yang harus ia singgahi. Hidupnya konsisten dan stabil. Ia tak menginginkan apapun, selain bisa berjalan melewati gerbong-gerbong yang telah disediakan. Barangkali juga ia tidak mau sedikitpun lelah apalagi berpikir untuk istirah. Waktu tak bisa menjanjikan apapun selain agar manusia mau berpikir banyak hal, tentang apa yang akan dan telah dilakukan. Dan dalam konteks aku saat ini, waktu juga tidak punya cukup kekuatan untuk mengembalikan momen-momen yang sudah lewat dalam satu episode hidupku..Betapapun inginnya aku…Ya, waktu memang tidak menjanjikan banyak hal…
Aku kemudian berpikir bahwa banyak hal di dunia yang tidak bisa diselesaikan dengan teori postivistik. Banyak hal lain setelah kubu hitam dan kubu putih, banyak tokoh-tokoh lain selain protagonis dan antagonis, dan bahwa masih ada arah lain selain utara, selatan, barat, dan timur. Ada banyak sisi yang tak bisa tertangkap oleh mata telanjang yang tidak filosofis. Sebab setiap tatanan yang sudah mapanpun, pasti mengandung unsur-unsur pegecualian meski tidak bisa menggugurkan sebuah teori besar, akan tetapi cukup mampu mengetengahkan bahwa ada banyak kemungkinan baru yang justeru muncul saat sebuah teori besar dicetuskan. Seperti juga beberapa perasaan dan pikiran yang menderaku beberapa waktu terakhir ini…Aku sering berpikir bahwa ada sangat banyak hal yang tidak akan tuntas jika hanya diselesaikan dengan teori yang mengawali lahirnya anomali-anomali sebagai embrio era atomistik pada babak sejarah selanjutnya itu.
Dan alur kehidupan manusia juga begitu. Tak ada alur cerita yang benar-benar sama. Dengan suspense yang sama, dengan konflik yang serupa, dan dengan penokohan yang sama sekali tidak berbeda. Tidak ada dan tidak akan pernah ada. Sebab itulah, aku merasa cerita-cerita dan pengalaman orang lain yang sempat mampir di kepalaku hanyala sekadar referensi untuk diambil hikmahnya.
Dan nila setitik memang bukan hanya mampu merusak susu sebelanga, namun juga air seluas samudera. Aku tidak akan mengatakan bahwa ada sesal yang masih membeku di sudut tercuram hatiku. Tidak, bukan itu yang ingin aku katakan. Aku hanya ingin berkata bahwa bagi maha luas selebar samudera pun, setitik nila dapat sangat kuat untuk mengakhiri sejarah samudera itu dan menyisakan nama. Dan nila itu jualah yang sudah menciptakan jarak dalam babak-babak episode hidupku. Dalam waktu yang tidak lama, aku harus menghadapi dua runtutan keadaan yang luar biasa berbeda dan bertolak belakang…
Aku memang menyesal, sangat…Namun aku juga tau bahwa semuanya tidak akan terselesaikan dengan hikayat sesal…
Setalah tulisan ini selesai, aku ingin berangkat tidur…Biarlah, barangkali diktat dan file itu belum saatnya aku sentuh. Meski deadline sudah kulangkahi dan kepercayaan sudah aku pertaruhkan. Tapi bukannya aku juga punya kemerdekaan untuk diam dan tidak melakukan apapun? Untuk mengajak semua penjuru hatiku berteriak, dan semua pikiranku memekik?
Dan ending dari tulisan ini, aku hanya ingin menegaskan pada diriku sendiri, bahwa aku ingin…momen-momen itu kembali. Aku ingin sang protagonis itu datang lagi..Meskipun toh aku tau bahwa dia telah pergi dengan sepenuhnya (yang pernah kubahasakan dengan pergi abadi; tak kembali dan tak kan terganti) dan sama sekali tidak akan kembali, tapi aku juga tau bahwa harapan yang akan aku simpan itu cukup kuat untuk menopang rapuhku..Minimal untuk tidak terjatuh dan terinjak-injak oleh laju waktu. Dan sebab ada banyak hal yang akan dengan enjoy aku lakukan, jika harapan itu benar-benar aku genggam,..
Harapan..Yang tidak akan menjatuhkan dan menyudutkan posisiku yang sudah terpojokkan,
Even, once more I FULLY REALIZE, bahwa HARAPAN ITU TIDAK AKAN DIJAWAB OLEH TUHAN!! Tapi, siapa yang bisa menghalangi lahirnya sebuah harapan, seperti halnya juga perasaan? Bukankah Tuhan bahkan menjanjikan bahwa tanpa harapan,
Pagi mengilu, 07 Januari 2010
Untuk FLMN, semoga kau tetap membaca…
Aku tidak akan bertutur tentang apa yang baru saja aku alami, bagaimana kacaunya pikiranku, bagaimana diktat-diktat dan file-file itu harus aku kutinggalkan, atau bagaimana luar biasa besar sesalku. Bukan, bukan itu. Aku masih tak sanggup mengkisahkannya pada apa dan siapapun. Aku hanya ingin memendamnya dalam hati…Menyimpannya rapi sampai suatu saat aku akan membuka dan kembali membaca catatan itu. Pagi ini aku hanya ingin menulis…Hanya menulis…Apa saja yang ada di pikirku..Apapun yang bisa membuatku tenang..Konon, perasaan apapun bisa diekspresikan dengan tulisan…
Dalam hidup, terkadang ada momen-momen kurang menyenangkan yang ingin aku lompati. Setelah tau betapa buruknya kejadian yang terjadi pada suatu hari, aku sering berpikir bahwa sebenarnya hari itu tak harus ada dalam kalender peradaban manusia. Aku ingin melompatinya, sehingga kejadian apapun yang kurang menyenangkan tak harus terjadi dan tercatat di atas lembar sejarah. Tapi sayang, lompatan yang memang mustahil itu semakin di-mustahilkan oleh keberadaannya di masa lampau. Sehingga ia tidak akan bisa diubah apalagi dihindari…Dan hanya bisa ditaruh dalam laci ingatan dan berangkas masa lalu.
Sebab waktu berjalan dengan sendirinya dan ia tak mau sejenakpun berhenti. Ia tak mau sekejappun berjalan dengan melewatkan gerbong yang harus ia singgahi. Hidupnya konsisten dan stabil. Ia tak menginginkan apapun, selain bisa berjalan melewati gerbong-gerbong yang telah disediakan. Barangkali juga ia tidak mau sedikitpun lelah apalagi berpikir untuk istirah. Waktu tak bisa menjanjikan apapun selain agar manusia mau berpikir banyak hal, tentang apa yang akan dan telah dilakukan. Dan dalam konteks aku saat ini, waktu juga tidak punya cukup kekuatan untuk mengembalikan momen-momen yang sudah lewat dalam satu episode hidupku..Betapapun inginnya aku…Ya, waktu memang tidak menjanjikan banyak hal…
Aku kemudian berpikir bahwa banyak hal di dunia yang tidak bisa diselesaikan dengan teori postivistik. Banyak hal lain setelah kubu hitam dan kubu putih, banyak tokoh-tokoh lain selain protagonis dan antagonis, dan bahwa masih ada arah lain selain utara, selatan, barat, dan timur. Ada banyak sisi yang tak bisa tertangkap oleh mata telanjang yang tidak filosofis. Sebab setiap tatanan yang sudah mapanpun, pasti mengandung unsur-unsur pegecualian meski tidak bisa menggugurkan sebuah teori besar, akan tetapi cukup mampu mengetengahkan bahwa ada banyak kemungkinan baru yang justeru muncul saat sebuah teori besar dicetuskan. Seperti juga beberapa perasaan dan pikiran yang menderaku beberapa waktu terakhir ini…Aku sering berpikir bahwa ada sangat banyak hal yang tidak akan tuntas jika hanya diselesaikan dengan teori yang mengawali lahirnya anomali-anomali sebagai embrio era atomistik pada babak sejarah selanjutnya itu.
Dan alur kehidupan manusia juga begitu. Tak ada alur cerita yang benar-benar sama. Dengan suspense yang sama, dengan konflik yang serupa, dan dengan penokohan yang sama sekali tidak berbeda. Tidak ada dan tidak akan pernah ada. Sebab itulah, aku merasa cerita-cerita dan pengalaman orang lain yang sempat mampir di kepalaku hanyala sekadar referensi untuk diambil hikmahnya.
Dan nila setitik memang bukan hanya mampu merusak susu sebelanga, namun juga air seluas samudera. Aku tidak akan mengatakan bahwa ada sesal yang masih membeku di sudut tercuram hatiku. Tidak, bukan itu yang ingin aku katakan. Aku hanya ingin berkata bahwa bagi maha luas selebar samudera pun, setitik nila dapat sangat kuat untuk mengakhiri sejarah samudera itu dan menyisakan nama. Dan nila itu jualah yang sudah menciptakan jarak dalam babak-babak episode hidupku. Dalam waktu yang tidak lama, aku harus menghadapi dua runtutan keadaan yang luar biasa berbeda dan bertolak belakang…
Aku memang menyesal, sangat…Namun aku juga tau bahwa semuanya tidak akan terselesaikan dengan hikayat sesal…
Setalah tulisan ini selesai, aku ingin berangkat tidur…Biarlah, barangkali diktat dan file itu belum saatnya aku sentuh. Meski deadline sudah kulangkahi dan kepercayaan sudah aku pertaruhkan. Tapi bukannya aku juga punya kemerdekaan untuk diam dan tidak melakukan apapun? Untuk mengajak semua penjuru hatiku berteriak, dan semua pikiranku memekik?
Dan ending dari tulisan ini, aku hanya ingin menegaskan pada diriku sendiri, bahwa aku ingin…momen-momen itu kembali. Aku ingin sang protagonis itu datang lagi..Meskipun toh aku tau bahwa dia telah pergi dengan sepenuhnya (yang pernah kubahasakan dengan pergi abadi; tak kembali dan tak kan terganti) dan sama sekali tidak akan kembali, tapi aku juga tau bahwa harapan yang akan aku simpan itu cukup kuat untuk menopang rapuhku..Minimal untuk tidak terjatuh dan terinjak-injak oleh laju waktu. Dan sebab ada banyak hal yang akan dengan enjoy aku lakukan, jika harapan itu benar-benar aku genggam,..
Harapan..Yang tidak akan menjatuhkan dan menyudutkan posisiku yang sudah terpojokkan,
Even, once more I FULLY REALIZE, bahwa HARAPAN ITU TIDAK AKAN DIJAWAB OLEH TUHAN!! Tapi, siapa yang bisa menghalangi lahirnya sebuah harapan, seperti halnya juga perasaan? Bukankah Tuhan bahkan menjanjikan bahwa tanpa harapan,
Pagi mengilu, 07 Januari 2010
Untuk FLMN, semoga kau tetap membaca…
Hmhm...
NgoredZ
Rabu, 24 Februari 2010
Bahkan mikir pun aku dak s4..
Awalnya aku emang sempat mikir kalo ada hal tak beres yang senyatanya uda lama menggerogoti episode hidupku yang satu ini. Tapi aku baru tau kalo kejadiane separah itu..aku yang kurang respek terhadap keadaan, terlalu cuek, atau terlalu mudah menganggap semuanya baik2 saja dan tidak separah yang kubayangkan, atau apalah alasane, intine aku baru tau bahwa ada praduga gajebo yang JELAS merugikan aku..
Bukan hanya karena praduga itu ga sama sekali beralasan bahkan aku jamin kebenarannya tidak pernah akan ditemui, tapi juga karena orang yang berpraduga itu justeru adalah orang yang cukup berpengaruh dalam hidup aku. Dak rela rasanya dia punya pikiran senengatif itu sedangkan aku tidak punya seikitpun kesempatan untuk melakukan klarifikasi. Dalam hal ini aku memang sudah tidak terlalu perduli tentang bagaimana orang lain memandangku, cuma..aku ingin meyakinkan dia kalo praduga itu sama sekali tidak benar..Aku ingin dia tahu bahwa..Betapapun jahatnya aku, aku dak akan mungkin sampe berbuat setega itu. TERLEBIH PADA DIA!!
Gerimis rasanya memiris siang ini..Aku terkejut bukan main dengan hal yang baru saja kusadari, padahal ia telah ingin menunjukkannya sejak beberapa hari yang lalu. Hhh…sayang memang, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sekadar menjelaskan kalo SEMUANYA TIDAKLAH BENAR!! Tapi ya sudahlah, barangkali waktu dan proses bisa sedikit aja membuka pintu kebenaran..Bahwa –bahkan—pikiran aneh itu tidak sama sekali pernah terlintas di pikirku. ULU N DAK PERNAH MAKSUD KAYAK GITU!!
Ok, ok, calm down, Ta…Gausa terlalu dipikirin lach..Bukannya uda biasa kamu dapet anggapan miring dari orang lain? (Ya gimana aku bisa diem ajah, lha wong orang yang bersangkutan itu adalah influential person buat aku?)
Barangkali sikapku selama ini memang terlalu over sama praktik SLI tu, sebab aku pernah jadi korbannya kaleeee…dan merasa bahwa hal semacam itu tidak pernah adil dan menentramkan. Tapi jujur, aku ndak pernah punya pikiran seperti itu..SAMA SEKALI! Dengan alasan balas dendam, penasaran, ato alasan-alasan gajebo lain. NDAK PERNAH!! APALAGI MENJADIKAN KAMU SEBAGAI OBJEK EGOKU!! Ndak,,aku dak pernah kepikiran sama sekali.
Duh,,,uda dulu dech, curhat dan ngomel2nya…Cape dan laper jadinya, kebakar2 emosi sejak tadi..Heheh. SMILE UP, TA!!!
Bukan hanya karena praduga itu ga sama sekali beralasan bahkan aku jamin kebenarannya tidak pernah akan ditemui, tapi juga karena orang yang berpraduga itu justeru adalah orang yang cukup berpengaruh dalam hidup aku. Dak rela rasanya dia punya pikiran senengatif itu sedangkan aku tidak punya seikitpun kesempatan untuk melakukan klarifikasi. Dalam hal ini aku memang sudah tidak terlalu perduli tentang bagaimana orang lain memandangku, cuma..aku ingin meyakinkan dia kalo praduga itu sama sekali tidak benar..Aku ingin dia tahu bahwa..Betapapun jahatnya aku, aku dak akan mungkin sampe berbuat setega itu. TERLEBIH PADA DIA!!
Gerimis rasanya memiris siang ini..Aku terkejut bukan main dengan hal yang baru saja kusadari, padahal ia telah ingin menunjukkannya sejak beberapa hari yang lalu. Hhh…sayang memang, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sekadar menjelaskan kalo SEMUANYA TIDAKLAH BENAR!! Tapi ya sudahlah, barangkali waktu dan proses bisa sedikit aja membuka pintu kebenaran..Bahwa –bahkan—pikiran aneh itu tidak sama sekali pernah terlintas di pikirku. ULU N DAK PERNAH MAKSUD KAYAK GITU!!
Ok, ok, calm down, Ta…Gausa terlalu dipikirin lach..Bukannya uda biasa kamu dapet anggapan miring dari orang lain? (Ya gimana aku bisa diem ajah, lha wong orang yang bersangkutan itu adalah influential person buat aku?)
Barangkali sikapku selama ini memang terlalu over sama praktik SLI tu, sebab aku pernah jadi korbannya kaleeee…dan merasa bahwa hal semacam itu tidak pernah adil dan menentramkan. Tapi jujur, aku ndak pernah punya pikiran seperti itu..SAMA SEKALI! Dengan alasan balas dendam, penasaran, ato alasan-alasan gajebo lain. NDAK PERNAH!! APALAGI MENJADIKAN KAMU SEBAGAI OBJEK EGOKU!! Ndak,,aku dak pernah kepikiran sama sekali.
Duh,,,uda dulu dech, curhat dan ngomel2nya…Cape dan laper jadinya, kebakar2 emosi sejak tadi..Heheh. SMILE UP, TA!!!
Hmhm...
NgoredZ
Sabtu, 13 Februari 2010
VoLunteer Valentine
Jane aku lagi sok momentum gitu, napa harus nulis dengan judul ini. Ya setidaknya original dari aku lah, meski tidak menutup kemungkinan ada orang yang sama berpikir demikian, meski konstruksi dan aplikasinya dimungkinkan akan sangat berbeda.
Btw otw, besok katanya hari kasih sayang ato kerennya tuch, valentine’s day. Sejarahnya mungkin sudah banyak diketahui publik. Ya, bahwa sebenere tradisi ini bermula dari cerita cinta sepasang anak manusia yang menemukan aral cukup berarti di dalam perjalanannya. Banyak versi memang. Intine hal yang menjadi titik temu antar beberapa versi tersebut adalah adanya PENGORBANAN atau what is used to called by SACRIFICE. Barangkali karena faktor inilah, aku kemudian memaksakan volunteer yang hampir sama kedengerannya dengan valentine untuk kemudian disandingkan. Soale aku rasa ada juga sinkronitas arti dari dua kata tersebut.
Well, ngomongin cinta mungkin emang dak akan pernah ada abisnya. Padahal ritual percintaan ya itu-itu aja, seperti tutur Rendra. Perkenalan, jadian, pernikahan, dan perpisahan…Alur lain ya patah hati, cinta tak direstui, bertepuk sebelah tangan, atau putus di tengah jalan yang kadang bisa diterjemahkan dengan perceraian. Tapi hebatnya Tuhan memang, tidak ada alur yang persis plek sama. Kendatipun ada beberapa hal yang mempertemukan dua alur sehingga menjadikannya sama, aku yakin pasti ada digresi atau alur kecil yang kemudian membuat asumsi dua alur tersebut sama menjadi GUGUR.
Ok, aku tidak sedang ingin ngomongin cinta di sini. Aku lebih ingin ngomongin tentang pengorbanan. Meski ia adalah bagian tak terpisahkan dari cinta itu sendiri, aku koq malah emoh rasanya untuk ngomongin cinta. Males aja jane. Ga ada apa-apa yang bikin aku kayak gitu. Mmm..Ok, pengorbanan itu semacam apa ya? Aktivitas memilih satu hal yang harus ditinggalkan atau dinomorduakan demi mendapatkan suatu hal lain yang barangkali lebih menjadi orientasi utama. Pada akhirnya, asumsi ini mengantarkan aku pada satu kesimpulan bahwa hidup memang menyajikan banyaaaaaaaaak sekali pilihan. Dan kita haruslah berani memilih di antara beberapa opsi itu. Tidak jarang memang, ada lebih dari satu opsi yang ingin kita pilih. Tapi keadaan menuntut kita mengambil satu opsi saja. That’s why, kita harus benar-benar berani memilih…Mmmm..Memilih yang lebih prioritas dan mengorbankan opsi yang –katakanlah—lebih rendah prioritasnya.
Gitu ya? Intine kalo ngomong pengorbanan, maka imajinasiku akan mengembangkan sebuah layar bahwa hal yang dikorbankan itu senyatanya merupakan hal yang juga di-kemani. Tapi karena seseorang harus ngemani barang yang lebih penting, so, barang pertama tersebut kemudian ia korbankan, misalnya untuk tidak dimiliki. Kalo begitu, tidakkan pengorbanan kemudian akan setali tiga uang dengan kehidupan yang memang memiliki banyak pilihan? So, kalo emang begeto, kenapa pengorbana aktor Valentine ini kemudian pwol kesohor bahkan menjadi ikon tradisi masyarakat dunia? Ada apa dengan pengorbanannya?
Diajukan pertayaan ini—meski oleh diriku sendiri—aku kemudian ingat dengan apa yang diktakan Halim dan pernah dia tulis di makalahnya. Intine, be different, and you will be famous. Nah, different ini juga bisa diartikan dengan nyelenneh ya, mungkin? Meski konotasinya ga harus negatif kayak kata nyelenneh, akan tetapi aku mikirnya, bahwa keberbedaan memang meniscayakan popularitas yang lebih dan tentunya, curiosuty, especially from the others. Nah, barangkali, yang bikin si Valentinos tu beda adalah karena..dia melakukan pengorbanan yang waktu itu masih tergolong langka dan bikin orang terheran-heran..Yakni ngorbanin segala yang ia punya hanya demi cintanya. Beh, bukan cinta butakah itu namanya???
Ya, mungkin ini ajah yang ingin aku tulisin..Intine minimal, aku uda punya sang untuk menghadapi valentine esok hari..; Sangu yang dak hanya itu-itu aja. Idup khan butuh dinamika dan inovasi..Sebab keduanya memang idup itu sendiri. Kalo kita tetep diem, kapan akan diakui sebagai bagian dari dunia??? Ya nda???
Selamat berfilosofi aja dah,, di hari valentine. Setuju ndak setuju yo karepmu dewe. Tapi kalo hare gene masih sok esktrim2an, koq aku mikire uda dak marketable ya?? Hehehe…Pisss…Pisss…
Btw otw, besok katanya hari kasih sayang ato kerennya tuch, valentine’s day. Sejarahnya mungkin sudah banyak diketahui publik. Ya, bahwa sebenere tradisi ini bermula dari cerita cinta sepasang anak manusia yang menemukan aral cukup berarti di dalam perjalanannya. Banyak versi memang. Intine hal yang menjadi titik temu antar beberapa versi tersebut adalah adanya PENGORBANAN atau what is used to called by SACRIFICE. Barangkali karena faktor inilah, aku kemudian memaksakan volunteer yang hampir sama kedengerannya dengan valentine untuk kemudian disandingkan. Soale aku rasa ada juga sinkronitas arti dari dua kata tersebut.
Well, ngomongin cinta mungkin emang dak akan pernah ada abisnya. Padahal ritual percintaan ya itu-itu aja, seperti tutur Rendra. Perkenalan, jadian, pernikahan, dan perpisahan…Alur lain ya patah hati, cinta tak direstui, bertepuk sebelah tangan, atau putus di tengah jalan yang kadang bisa diterjemahkan dengan perceraian. Tapi hebatnya Tuhan memang, tidak ada alur yang persis plek sama. Kendatipun ada beberapa hal yang mempertemukan dua alur sehingga menjadikannya sama, aku yakin pasti ada digresi atau alur kecil yang kemudian membuat asumsi dua alur tersebut sama menjadi GUGUR.
Ok, aku tidak sedang ingin ngomongin cinta di sini. Aku lebih ingin ngomongin tentang pengorbanan. Meski ia adalah bagian tak terpisahkan dari cinta itu sendiri, aku koq malah emoh rasanya untuk ngomongin cinta. Males aja jane. Ga ada apa-apa yang bikin aku kayak gitu. Mmm..Ok, pengorbanan itu semacam apa ya? Aktivitas memilih satu hal yang harus ditinggalkan atau dinomorduakan demi mendapatkan suatu hal lain yang barangkali lebih menjadi orientasi utama. Pada akhirnya, asumsi ini mengantarkan aku pada satu kesimpulan bahwa hidup memang menyajikan banyaaaaaaaaak sekali pilihan. Dan kita haruslah berani memilih di antara beberapa opsi itu. Tidak jarang memang, ada lebih dari satu opsi yang ingin kita pilih. Tapi keadaan menuntut kita mengambil satu opsi saja. That’s why, kita harus benar-benar berani memilih…Mmmm..Memilih yang lebih prioritas dan mengorbankan opsi yang –katakanlah—lebih rendah prioritasnya.
Gitu ya? Intine kalo ngomong pengorbanan, maka imajinasiku akan mengembangkan sebuah layar bahwa hal yang dikorbankan itu senyatanya merupakan hal yang juga di-kemani. Tapi karena seseorang harus ngemani barang yang lebih penting, so, barang pertama tersebut kemudian ia korbankan, misalnya untuk tidak dimiliki. Kalo begitu, tidakkan pengorbanan kemudian akan setali tiga uang dengan kehidupan yang memang memiliki banyak pilihan? So, kalo emang begeto, kenapa pengorbana aktor Valentine ini kemudian pwol kesohor bahkan menjadi ikon tradisi masyarakat dunia? Ada apa dengan pengorbanannya?
Diajukan pertayaan ini—meski oleh diriku sendiri—aku kemudian ingat dengan apa yang diktakan Halim dan pernah dia tulis di makalahnya. Intine, be different, and you will be famous. Nah, different ini juga bisa diartikan dengan nyelenneh ya, mungkin? Meski konotasinya ga harus negatif kayak kata nyelenneh, akan tetapi aku mikirnya, bahwa keberbedaan memang meniscayakan popularitas yang lebih dan tentunya, curiosuty, especially from the others. Nah, barangkali, yang bikin si Valentinos tu beda adalah karena..dia melakukan pengorbanan yang waktu itu masih tergolong langka dan bikin orang terheran-heran..Yakni ngorbanin segala yang ia punya hanya demi cintanya. Beh, bukan cinta butakah itu namanya???
Ya, mungkin ini ajah yang ingin aku tulisin..Intine minimal, aku uda punya sang untuk menghadapi valentine esok hari..; Sangu yang dak hanya itu-itu aja. Idup khan butuh dinamika dan inovasi..Sebab keduanya memang idup itu sendiri. Kalo kita tetep diem, kapan akan diakui sebagai bagian dari dunia??? Ya nda???
Selamat berfilosofi aja dah,, di hari valentine. Setuju ndak setuju yo karepmu dewe. Tapi kalo hare gene masih sok esktrim2an, koq aku mikire uda dak marketable ya?? Hehehe…Pisss…Pisss…
Hmhm...
NgoredZ
Kamis, 11 Februari 2010
LIMITATION DAN THE POWER MORE
Keadaan under pressure kadang aku bahasakan dengan limitation. Keduanya memang bukan merupakan entitas yang sama, cuma cukup bersinggungan. Berada dalam sebuah tekanan mungkin lebih kepada deskripsi adanya sebuah tuntutan yang harus dipenuhi, sedangkan keterbatasn berarti ketikda atau kekurangmampuan untuk memaksimlkan tuntutan tersebut. Ketemu khan?
Baru-baru ini aku coba bikin teori-teori sendiri dari pengalaman kehidupan yang aku dapetin. Ya, seenggaknya karena aku uda ga seintens dulu nulis diary, aku ya harus bisa menggantinya dengan hal yang juga berharga, meski tidak harus sama. Nah, dari mengingat kejadian yang pernah aku alami dan merenungkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku kemudian mendapatkan aha (bahasa Bu Adib)..
Salah satu AHA itu adalah bahwa..Keterbatasan kerap menjadi sebuah dorongan untuk memiliki power to do more (wah..Bahasanya sok iklan banget)..Dan dalam keadaan ini, gak seharusnya manusia –terutama aku—semakin membatasi keterbatasan itu. Sebab, dalam keterbatasan apapun, pasti ada hal yang bisa dilakukan. Nah, kalo masih mau nunggu keterbatasan itu ilang, kapan actionnya? Salah-salah malah muter-muter ga selesei di wilayah wacana. Ya ndak sich?
Anyway by the way, jane teori ini pernah disampaikan oleh salah satu dosenku, pengampu mata kuliah QK pas semester empat kemarin. Aku diam-diam membenarkannya dan mulai merumuskan versiku sendiri, minimal biar bisa define me ajah. Nach jadi sebenere, keterbatasa itu bikin kita punya power lebih. Untuk melakukan sesuatu yang juga lebih. Contohnya gini, dulu pas masih di pondok, aku pernah mania banget sama dunia kata-kata dan puisi. Wis pwool pokoe. Selaen karena lingkungan, aku rasa saat itu aku tengah jatuh cinta ajah. Hehe..
Pas itu, konsumsi buku sangat terbatas dan aku tidak punya cukup banyak akses untuk bersentuhan dengan dunia keindahan kata. ya dengan orang-orang yang berkompeten, forum yang supporting my will, dan mungkin komunitas dan lingkngan yang kondusif. Hanya ada beberapa sarana yang bisa aku manfaatkan saat itu. Semuanya serba minim. Tapi keminiman itu malah bikin aku berbuat banyak hal. Waktu itu mungkin aku berpikir bahwa dalam tempat yang penuh keterbatasan itu, aku juga masih bisa berkarya. Meski dak banyak puisi yang aku konsumsi, dak banyak referensi yang aku miliki, itu semua dak kemudian berarti aku dak bisa berkarya.
Dan hasilnya memang ada! Saat itu tiap hari aku bisa nulis sebuah puisi. Arsipnya masih ada hingga saat ini. Aku membayangkan, saat itu, ketka miliuku uda mendukung ntar, aku akan semakin produktif dll. Tapi ternyata perkiraan itu cukup meleset. Buktinya sampai di Yk ini, aku malah kurang produktif bahkan bisa dibilang sama sekali tidak produktif jika dibandingkan dengan keadaan dan intensitas nulisku pas masih di pondok dulu. Faktor lain sech emang ada, tapi aku juga ga faham nama semangatku untuk menseriusi puisi justeru surut saat aku sudah berada di kota budaya ini…
Dari situ aku kemudian berpikir, bahwa keterbatasan kerap menjadi sebuah motivasi terkuat untuk memberikan dan meniciptkan hal yang lebih baik. Hm..dan teori ini cocok untk disamakan dengan keadaanku sekarang. Weh, keterbatasan yang bagaimana dwonk???
Cerita bermula saat hape yang aku pegang mulai rewel. Emang sejak awal dia uda rewel. Kena virus pertamanya. Masalah kedua sering nge-hang, dan lola. Sangat tidak kondusif dengan aku yang biasa ngetik sms cepat dan mau segalanya segera selese. He. Emang untuk urusan sms, aku doyannya pwol. Dan masalah ketiga, seperti halnya dua masalah laen, tidak berkesesudahan artinya SUSTAINABLE alias berkelanjutan. Ga selese-selses gitulah. Masalane ada di Joystick navigator.
Sebenere uda pernah aku servis pas lagi di rumah dan joystick itu resmi diganti dengan joystick lain. Inget banget aku, bapak yang ngurusi dan bayarin semua biayanya. Nach..Uda dipake lama dan enak, ga tau kapan tiba-tiba joystick itu rewel lagi. Awalnya tidak bisa arah atas, namun yang kemudian kekal hingga saat ini adalah disfungsi arah bawah. Tak pelak, aku kelabakan. Tapi enjoy juga akhirnya, sebab hape itu seakan hanya mau berfungsi jika aku yang make. Jika orang laen make, dijamin mereka kebingungan dan masih harus mendapatkan arahan dariku. Heheheh…
Yang bikin enjoy, juga, karena..aku bisa lebih kreatif saat keterbatasan itu datang. Intine, aku akan muter otak lagi untuk bisa menggunakan fitur navigator bawah dengan jalan pintas lain. Aku mulai mengakali hape itu saat dia tidak mau sama sekali berkompromi denganku. Hehe. Banyak yang berhasil sich..Meski peran navigator bawah itu tidak semuanya bisa tergantikan oleh jalan pintas yang aku bikin. Tapi minimallah, meski rewel, hape itu juga bisa membantuku dalam DEFINING MINE..Hehehe.Korban iklan banget aku ney…
Yah, meski gitu, aku sbenere uda tidak sabar untuk lepas dari hape itu dan akhirnya beli hape baru. Servis dulu, terus beli laen. Ya, intine harus ada pemasukan ini. Heheh..ya, berarti artinya aku harus kembali jadi mahluk yang mojok di pojok kamar dengan dahi berkerut dwonk?? OK, siapa takut..
Then, then, then, salah satu tugasku selanjutnya adalah….
HUNTING HAPE BARU. TAPI TIPE BERAPA YA?
Ya mbuhlah, dapetin uangnya dulu kalo gitu.
He, semangat, Ta!! Keterbatasanmu edisi ini akan berbuah hape baru. Yuk…Yuk..
Baru-baru ini aku coba bikin teori-teori sendiri dari pengalaman kehidupan yang aku dapetin. Ya, seenggaknya karena aku uda ga seintens dulu nulis diary, aku ya harus bisa menggantinya dengan hal yang juga berharga, meski tidak harus sama. Nah, dari mengingat kejadian yang pernah aku alami dan merenungkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku kemudian mendapatkan aha (bahasa Bu Adib)..
Salah satu AHA itu adalah bahwa..Keterbatasan kerap menjadi sebuah dorongan untuk memiliki power to do more (wah..Bahasanya sok iklan banget)..Dan dalam keadaan ini, gak seharusnya manusia –terutama aku—semakin membatasi keterbatasan itu. Sebab, dalam keterbatasan apapun, pasti ada hal yang bisa dilakukan. Nah, kalo masih mau nunggu keterbatasan itu ilang, kapan actionnya? Salah-salah malah muter-muter ga selesei di wilayah wacana. Ya ndak sich?
Anyway by the way, jane teori ini pernah disampaikan oleh salah satu dosenku, pengampu mata kuliah QK pas semester empat kemarin. Aku diam-diam membenarkannya dan mulai merumuskan versiku sendiri, minimal biar bisa define me ajah. Nach jadi sebenere, keterbatasa itu bikin kita punya power lebih. Untuk melakukan sesuatu yang juga lebih. Contohnya gini, dulu pas masih di pondok, aku pernah mania banget sama dunia kata-kata dan puisi. Wis pwool pokoe. Selaen karena lingkungan, aku rasa saat itu aku tengah jatuh cinta ajah. Hehe..
Pas itu, konsumsi buku sangat terbatas dan aku tidak punya cukup banyak akses untuk bersentuhan dengan dunia keindahan kata. ya dengan orang-orang yang berkompeten, forum yang supporting my will, dan mungkin komunitas dan lingkngan yang kondusif. Hanya ada beberapa sarana yang bisa aku manfaatkan saat itu. Semuanya serba minim. Tapi keminiman itu malah bikin aku berbuat banyak hal. Waktu itu mungkin aku berpikir bahwa dalam tempat yang penuh keterbatasan itu, aku juga masih bisa berkarya. Meski dak banyak puisi yang aku konsumsi, dak banyak referensi yang aku miliki, itu semua dak kemudian berarti aku dak bisa berkarya.
Dan hasilnya memang ada! Saat itu tiap hari aku bisa nulis sebuah puisi. Arsipnya masih ada hingga saat ini. Aku membayangkan, saat itu, ketka miliuku uda mendukung ntar, aku akan semakin produktif dll. Tapi ternyata perkiraan itu cukup meleset. Buktinya sampai di Yk ini, aku malah kurang produktif bahkan bisa dibilang sama sekali tidak produktif jika dibandingkan dengan keadaan dan intensitas nulisku pas masih di pondok dulu. Faktor lain sech emang ada, tapi aku juga ga faham nama semangatku untuk menseriusi puisi justeru surut saat aku sudah berada di kota budaya ini…
Dari situ aku kemudian berpikir, bahwa keterbatasan kerap menjadi sebuah motivasi terkuat untuk memberikan dan meniciptkan hal yang lebih baik. Hm..dan teori ini cocok untk disamakan dengan keadaanku sekarang. Weh, keterbatasan yang bagaimana dwonk???
Cerita bermula saat hape yang aku pegang mulai rewel. Emang sejak awal dia uda rewel. Kena virus pertamanya. Masalah kedua sering nge-hang, dan lola. Sangat tidak kondusif dengan aku yang biasa ngetik sms cepat dan mau segalanya segera selese. He. Emang untuk urusan sms, aku doyannya pwol. Dan masalah ketiga, seperti halnya dua masalah laen, tidak berkesesudahan artinya SUSTAINABLE alias berkelanjutan. Ga selese-selses gitulah. Masalane ada di Joystick navigator.
Sebenere uda pernah aku servis pas lagi di rumah dan joystick itu resmi diganti dengan joystick lain. Inget banget aku, bapak yang ngurusi dan bayarin semua biayanya. Nach..Uda dipake lama dan enak, ga tau kapan tiba-tiba joystick itu rewel lagi. Awalnya tidak bisa arah atas, namun yang kemudian kekal hingga saat ini adalah disfungsi arah bawah. Tak pelak, aku kelabakan. Tapi enjoy juga akhirnya, sebab hape itu seakan hanya mau berfungsi jika aku yang make. Jika orang laen make, dijamin mereka kebingungan dan masih harus mendapatkan arahan dariku. Heheheh…
Yang bikin enjoy, juga, karena..aku bisa lebih kreatif saat keterbatasan itu datang. Intine, aku akan muter otak lagi untuk bisa menggunakan fitur navigator bawah dengan jalan pintas lain. Aku mulai mengakali hape itu saat dia tidak mau sama sekali berkompromi denganku. Hehe. Banyak yang berhasil sich..Meski peran navigator bawah itu tidak semuanya bisa tergantikan oleh jalan pintas yang aku bikin. Tapi minimallah, meski rewel, hape itu juga bisa membantuku dalam DEFINING MINE..Hehehe.Korban iklan banget aku ney…
Yah, meski gitu, aku sbenere uda tidak sabar untuk lepas dari hape itu dan akhirnya beli hape baru. Servis dulu, terus beli laen. Ya, intine harus ada pemasukan ini. Heheh..ya, berarti artinya aku harus kembali jadi mahluk yang mojok di pojok kamar dengan dahi berkerut dwonk?? OK, siapa takut..
Then, then, then, salah satu tugasku selanjutnya adalah….
HUNTING HAPE BARU. TAPI TIPE BERAPA YA?
Ya mbuhlah, dapetin uangnya dulu kalo gitu.
He, semangat, Ta!! Keterbatasanmu edisi ini akan berbuah hape baru. Yuk…Yuk..
Hmhm...
NgoredZ
Jumat, 08 Januari 2010
Written while listening AIR MATAnya Dewa
Berdamai dengan Hati; Membiasakan Hal-Hal Baru dalam Hidup
Aku memang tidak akan melahirkan tulisan apapun dari ruang hampa sejarah. Apapun itu. Aku menulis tugas kuliah karena deadline sudah dekat, aku menulis surat kepada seseorang karena aku ingin membayangkan bagaimana ekspresinya saat membaca tulisanku dan bagaimana kemudian dia membalas suraku. Aku menulis apapun yang aku inginkan kerap hanya karena ingin mendokumentasikan waktu yang tidak akan pernah kembali. Aku menulis karena aku ingin berteriak tapi suaraku parau, aku ingin memekik tapi tak ada yang mau dengarkanku, dan aku menulis karena aku ingin luapkan apapun yang ada di pikiran, otak, hati, dan perasaanku. Dan kali ini, aku menulis, memang terinspirasi oleh sebuah kejadian..yang membawakanku beberapa keadaan..
Aku adalah tipe orang yang tidak terlalu suka perubahan. Meskipun sadar bahwa perubahan adalah keniscayaan yang disediakan waktu, sebisa mungkin aku mencoba mengurangi perubahan-perubahan tersebut. Contoh paling konkret, aku dak suka pindah kos, bagaimanapun keadaan kos yang aku diami. Aku sulit beradaptasi, dengan orang baru, dengan lingkungan baru, dengan dinding-dinding kamar dan langit-langit ruangan yang baru, cat baru, dan segala suasana yang baru. Aku lebih suka berdiam di tempatku berpijak…dengan melakukan apapun yang bisa membuat aku kerasan di dalamnya. Sehingga, aku harus menunggu sebuah alasan yang maha kuat untuk kemudian memutuskan bahwa aku akan berubah dan berpindah dari tempatku semula, menunju tempat lain yang barangkali lebih baik (konversi dwonk, kalo gitu…)
Keadaan ini cukup mendominasi semua babak dalam kehidupanku, sekalipun jiwa advonturisku masih kental. Aku memang suka hal-hal baru, namun aku hanya gemar mencarinya sebagai sebuah wawasan ajah. Aku tidak terlalu suka berdiam dalam tempat dan keadaan baru. Aku lebih suka kemapanan kalo gitu..Meski aku juga adalah orang yang mood-moodan dan cenderung cepet bosan. Hm…Jadi LB penulisan tulisan ini adalah karena aku merasa tengah sulit berdamai dengan keadaan…Keadaan yang sama sekali baru dan tidak aku harapkan. Salah satu alasanku menulis terkadang adalah karena aku ingin diriku memverbalisasi apa yang aku tulis, aku ingin diriku melakukan apa yang aku tulis, aku ingin bersikap tegas setelah aku menyelesaikan sebuah tulisan tentang ketegasan. Aku butuh konfirmasi dari luar, meskipun itu bersumber dari diriku sendiri. Barangkali, setelah menyelesaikan tulisan ini, aku bisa lebih cooling down dan tidak sekacau saat tulisan ini belum aku mulai.
Memang sulit, menghadapi keadaan dan situasi yang sama sekali berbeda dengan keadaan kita kemarin…Dua keadaan yang dipisahkan oleh jarak waktu yang tidak sama sekali lama dan dengan sebab yang belum sepenuhnya kumengerti. Aku masih belum faham mengapa aku sudah harus memijakkan kaki di babak ini, sedangkan aku masih ingin melakukan banyak hal pada babak kehidupan sebelumnya…Babak kehidupan yang secara tak kusadari ternyata cukup membuat aku kecanduan.
Sialnya, babak yang sudah terlewat itu –bisa dikatakan—mendominasi 24 jam dalam sehariku. Hampir semua waktu yang aku lewatkan bersinggungan dengan salah satu ritual dalam babak lama itu…sehingga, aku merasa kewalahan untuk merelakan bahwa babak itu sudah berlalu dan kini digantikan dengan babak baru. Sulit, sama sekali tidak semudah yang kubayangkan. Barangkali aktor dalam babak itu memang berpengaruh besar buat aku, atau justeru karena aku terlanjur menganggapnya sebagai setiap detik dalam dua pulu empat jam sehariku, meski aku tidak sama sekali menyadarinya sebelum babak itu benar-benar pergi?
Aku mati-matian menceramahi diri bahwa pergantian babak dalam kehidupan seseorang adalah sebuah keniscayaan, dan akupun sangat sering mengalami hal yang demikian. Lalu mengapa baru sekarang aku merasakan luka yang teramat perih? Mengapa baru pada momen ini aku merasa benar-benar telah kehilangan babak itu seutuhnya? Apakah sang aktor terlalu berpengaruh, atau aku yang terlalu lemah dan bergantung pada kehadirannya? Jika jawabannya yang pertama, aku bisa dengan mudah mengatasinya…Sebab aktor itu sudah dibawa pergi oleh babak yang menyajikan dirinya di hadapnku, namun jika jawabannya adalah opsi yang kedua, ini baru gawat. Ada seseorang yang menguasaiku selain aku sendiri, ada jiwa yang menghegemoni pikirku dan itu bukan jiwaku..
So, what should I do? Apakah harus tetap dengan keterdiamanku dan membiarkan semua keadaan itu merenggut apa yang seharusnya masih harus di sisiku? Dalam kasus ini, aku agaknya lebih banyak diam, untuk mengalah. Aku sadari kesalahan yang sudah kuperbuat, meski tidak sepenuhnya faham mengapa kesalahan demikian bisa membawakanku mimpi buruk sekelam ini…Aku belum ingin mereka-reka kejujuran yang disembunyikan keadaan..Aku belumlah mau mengumpulkan serakan-serakan hatiku yang kerasa uda kececer di mana-mana, untuk kemudian tau apa yang sebenarnya terjadi. Atau aku harus membiarkannya menjadi misteri yang menggumpal dan menyumbat laju kehidupanku?
Aku tidak tahu bagaimana, masih belum bisa memastikan hal seabstrak perasaan..Yang meski terkatakan oleh perbuatan, akan tetapi tidak hal-hal konkret tidak bisa sepenuhnya mewakili apa yang ingin terkatakan oleh hati. Yang jelas, aku sudah mulai sebuah proses untuk terbiasa dengan babak baru ini, aku sudah menyusun tekad untuk mengihlaskan babak lalu itu pergi dan cukup menyimpannya dalam laci terdalam hatiku..; Untuk suatu saat aku buka..
Sampai di sini aku mungkin berpikir bahwa aku memang menginginkan babak itu kembali, namun aku tidak suka berharap terlalu banyak. Sebab kalaupun harapan itu akan terjawab, bahagianya tidak setara dengan perih yang akan terasa manakala harapan itu hanya mendiami alam angan-angan. Bagaimana aku tidak berpikir demikian, ia hadir di sampingku dengan wujud dan peran yang berbeda. Ia ada di dekatku namun tak mengenalku, ia ada di hadapanku namun tidak mengingatku…Tapi biarlah, kupasrahkan saja pada waktu..Aku akan melakukan apapun yang bisa kulakukan sekarang. Aku boleh terpuruk dan mengalami kekacauan hebat dalam masa transisi itu, namun bukan AKU namanya jika aku larut dan semakin menceburkan diri dalam kekalutan itu…
Kembali ingin kutanyakan, seberapa berartikah sang aktor dalam hidupku, hingga ia sukses meninggalkan luka yang bahkan tidak terbayangkan bagaimana perihnya? Tak ada yang istimewa dalam dirinya, selain karena ia telah berhasil melakukan shifting paradigm besar-besaran dalam arus pikirku, dalam waktu yang tidak sebentar. Itu saja. Dia berarti bagiku, itu betul. Aku menyayanginya, itu sama sekali tidak salah. Aku tidak memungkirinya. Namun jika karena dia aku harus terlempar dalam stagnansi hidup sementara waktu tidak mau menungguku bangkit, itu masalah besar. Dan itu tidak boleh terjadi, seberapa berartinya dia dalam hidupku, seberapa aku sayang sama dia, AKU TETAP HARUS BANGKIT TANPA BERPEGANG PADA SIAPAPUN!! Sebab selain diri sendiri, tidak ada teman yang akan setia menemani dan mendukung kita.
Banyak hal yang sebenarnya aku sesalkan dalam masa-masa transisi ini..Namun kutau sesal itu akan berubah menjadi alasanku untuk bersyukur, sebab Tuhan pernah mengirimkannya padaku, meski ia harus kembali terenggut oleh keadaan. Dia adalah salah satu orang luar biasa dengan sikapnya yang terkesan tidak sama sekali instimewa. (Uh, STOP!! Stop talking about him!!) Terlebih aku yakin, suatu saat, aku akan berterimakasih habis-habisan pada Tuhan karena telah memberi pelajaran (dalam ujian) yang cukup berat. Dan aku harus lulus dalam ujian ini. (Barangkali tidak seperti UASku yang terpaksa harus berantakan mengikuti ritme otakku…Hm..)
Pada akhirnya, aku memang harus berdamai dengan hati..Meredam keinginan-keinginan gilaku untuk menyempurnakan egoismeku dengan meminta keadaan kembalikan babak itu, untuk membujuk waktu agar mau memflashback momen0-momen yang tidak akan kembali lagi itu. Dan untuk benar-benar berdamai, aku harus bisa melakukan banyak hal. Meredam marahku saat ia hadir di sini namun tidak untukku lagi, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa agar hatikupun menduga bahwa aku baik-baik saja, dan…membakar secarik kertas yang menuliskan peta menuju rumahnya. Semuanya memang kulakukan dengan penuh kesadaran setelah mati-matian menyatukan sukmaku yang tercecer di mana-mana. Syukurlah, kini aku merasa beban itu tidak lagi sebusuk dulu..Meski ia masih terasa berat. Barangkali aku hanya butuh sedikit proses lagi untuk kemudian terbiasa dan menikmati momen-momen dalam babak baru ini.
Dan yang pasti, ia tidak pernah benar-benar pergi..Sebab ia sudah mendiami hati, kenangan, doa, dan terkadang mimpiku. Biarlah aku menyapanya dengan bahasa rindu. Barangkali hal demikian akan lebih aman dan menentramkan…Buat aku dan buat dia. Sayang memang, aku tak sempat membekalinya pesan agar suatu saat ia mau kembali bertandang ke hadapku dengan perannya yang dulu dan mengabarkanku jika suatu saat harapannya (yang kemudian juga menjadi harapanku) sudah terjawab oleh Tuhan. Tapi biarlah, aku yakin dia masihlah bijak seperti kemarin, dan faham betapa dia berarti buat aku.
Last but not least, untuk sang aktor..Be fine there…Aku akan kangenin kamu dan momen-momen itu..Maafin aku ya..(Meski aku hakkul yakin kau tak akan membaca oretan ini…)
Mendung hatiku, pojok kamar gelap.
Aku memang tidak akan melahirkan tulisan apapun dari ruang hampa sejarah. Apapun itu. Aku menulis tugas kuliah karena deadline sudah dekat, aku menulis surat kepada seseorang karena aku ingin membayangkan bagaimana ekspresinya saat membaca tulisanku dan bagaimana kemudian dia membalas suraku. Aku menulis apapun yang aku inginkan kerap hanya karena ingin mendokumentasikan waktu yang tidak akan pernah kembali. Aku menulis karena aku ingin berteriak tapi suaraku parau, aku ingin memekik tapi tak ada yang mau dengarkanku, dan aku menulis karena aku ingin luapkan apapun yang ada di pikiran, otak, hati, dan perasaanku. Dan kali ini, aku menulis, memang terinspirasi oleh sebuah kejadian..yang membawakanku beberapa keadaan..
Aku adalah tipe orang yang tidak terlalu suka perubahan. Meskipun sadar bahwa perubahan adalah keniscayaan yang disediakan waktu, sebisa mungkin aku mencoba mengurangi perubahan-perubahan tersebut. Contoh paling konkret, aku dak suka pindah kos, bagaimanapun keadaan kos yang aku diami. Aku sulit beradaptasi, dengan orang baru, dengan lingkungan baru, dengan dinding-dinding kamar dan langit-langit ruangan yang baru, cat baru, dan segala suasana yang baru. Aku lebih suka berdiam di tempatku berpijak…dengan melakukan apapun yang bisa membuat aku kerasan di dalamnya. Sehingga, aku harus menunggu sebuah alasan yang maha kuat untuk kemudian memutuskan bahwa aku akan berubah dan berpindah dari tempatku semula, menunju tempat lain yang barangkali lebih baik (konversi dwonk, kalo gitu…)
Keadaan ini cukup mendominasi semua babak dalam kehidupanku, sekalipun jiwa advonturisku masih kental. Aku memang suka hal-hal baru, namun aku hanya gemar mencarinya sebagai sebuah wawasan ajah. Aku tidak terlalu suka berdiam dalam tempat dan keadaan baru. Aku lebih suka kemapanan kalo gitu..Meski aku juga adalah orang yang mood-moodan dan cenderung cepet bosan. Hm…Jadi LB penulisan tulisan ini adalah karena aku merasa tengah sulit berdamai dengan keadaan…Keadaan yang sama sekali baru dan tidak aku harapkan. Salah satu alasanku menulis terkadang adalah karena aku ingin diriku memverbalisasi apa yang aku tulis, aku ingin diriku melakukan apa yang aku tulis, aku ingin bersikap tegas setelah aku menyelesaikan sebuah tulisan tentang ketegasan. Aku butuh konfirmasi dari luar, meskipun itu bersumber dari diriku sendiri. Barangkali, setelah menyelesaikan tulisan ini, aku bisa lebih cooling down dan tidak sekacau saat tulisan ini belum aku mulai.
Memang sulit, menghadapi keadaan dan situasi yang sama sekali berbeda dengan keadaan kita kemarin…Dua keadaan yang dipisahkan oleh jarak waktu yang tidak sama sekali lama dan dengan sebab yang belum sepenuhnya kumengerti. Aku masih belum faham mengapa aku sudah harus memijakkan kaki di babak ini, sedangkan aku masih ingin melakukan banyak hal pada babak kehidupan sebelumnya…Babak kehidupan yang secara tak kusadari ternyata cukup membuat aku kecanduan.
Sialnya, babak yang sudah terlewat itu –bisa dikatakan—mendominasi 24 jam dalam sehariku. Hampir semua waktu yang aku lewatkan bersinggungan dengan salah satu ritual dalam babak lama itu…sehingga, aku merasa kewalahan untuk merelakan bahwa babak itu sudah berlalu dan kini digantikan dengan babak baru. Sulit, sama sekali tidak semudah yang kubayangkan. Barangkali aktor dalam babak itu memang berpengaruh besar buat aku, atau justeru karena aku terlanjur menganggapnya sebagai setiap detik dalam dua pulu empat jam sehariku, meski aku tidak sama sekali menyadarinya sebelum babak itu benar-benar pergi?
Aku mati-matian menceramahi diri bahwa pergantian babak dalam kehidupan seseorang adalah sebuah keniscayaan, dan akupun sangat sering mengalami hal yang demikian. Lalu mengapa baru sekarang aku merasakan luka yang teramat perih? Mengapa baru pada momen ini aku merasa benar-benar telah kehilangan babak itu seutuhnya? Apakah sang aktor terlalu berpengaruh, atau aku yang terlalu lemah dan bergantung pada kehadirannya? Jika jawabannya yang pertama, aku bisa dengan mudah mengatasinya…Sebab aktor itu sudah dibawa pergi oleh babak yang menyajikan dirinya di hadapnku, namun jika jawabannya adalah opsi yang kedua, ini baru gawat. Ada seseorang yang menguasaiku selain aku sendiri, ada jiwa yang menghegemoni pikirku dan itu bukan jiwaku..
So, what should I do? Apakah harus tetap dengan keterdiamanku dan membiarkan semua keadaan itu merenggut apa yang seharusnya masih harus di sisiku? Dalam kasus ini, aku agaknya lebih banyak diam, untuk mengalah. Aku sadari kesalahan yang sudah kuperbuat, meski tidak sepenuhnya faham mengapa kesalahan demikian bisa membawakanku mimpi buruk sekelam ini…Aku belum ingin mereka-reka kejujuran yang disembunyikan keadaan..Aku belumlah mau mengumpulkan serakan-serakan hatiku yang kerasa uda kececer di mana-mana, untuk kemudian tau apa yang sebenarnya terjadi. Atau aku harus membiarkannya menjadi misteri yang menggumpal dan menyumbat laju kehidupanku?
Aku tidak tahu bagaimana, masih belum bisa memastikan hal seabstrak perasaan..Yang meski terkatakan oleh perbuatan, akan tetapi tidak hal-hal konkret tidak bisa sepenuhnya mewakili apa yang ingin terkatakan oleh hati. Yang jelas, aku sudah mulai sebuah proses untuk terbiasa dengan babak baru ini, aku sudah menyusun tekad untuk mengihlaskan babak lalu itu pergi dan cukup menyimpannya dalam laci terdalam hatiku..; Untuk suatu saat aku buka..
Sampai di sini aku mungkin berpikir bahwa aku memang menginginkan babak itu kembali, namun aku tidak suka berharap terlalu banyak. Sebab kalaupun harapan itu akan terjawab, bahagianya tidak setara dengan perih yang akan terasa manakala harapan itu hanya mendiami alam angan-angan. Bagaimana aku tidak berpikir demikian, ia hadir di sampingku dengan wujud dan peran yang berbeda. Ia ada di dekatku namun tak mengenalku, ia ada di hadapanku namun tidak mengingatku…Tapi biarlah, kupasrahkan saja pada waktu..Aku akan melakukan apapun yang bisa kulakukan sekarang. Aku boleh terpuruk dan mengalami kekacauan hebat dalam masa transisi itu, namun bukan AKU namanya jika aku larut dan semakin menceburkan diri dalam kekalutan itu…
Kembali ingin kutanyakan, seberapa berartikah sang aktor dalam hidupku, hingga ia sukses meninggalkan luka yang bahkan tidak terbayangkan bagaimana perihnya? Tak ada yang istimewa dalam dirinya, selain karena ia telah berhasil melakukan shifting paradigm besar-besaran dalam arus pikirku, dalam waktu yang tidak sebentar. Itu saja. Dia berarti bagiku, itu betul. Aku menyayanginya, itu sama sekali tidak salah. Aku tidak memungkirinya. Namun jika karena dia aku harus terlempar dalam stagnansi hidup sementara waktu tidak mau menungguku bangkit, itu masalah besar. Dan itu tidak boleh terjadi, seberapa berartinya dia dalam hidupku, seberapa aku sayang sama dia, AKU TETAP HARUS BANGKIT TANPA BERPEGANG PADA SIAPAPUN!! Sebab selain diri sendiri, tidak ada teman yang akan setia menemani dan mendukung kita.
Banyak hal yang sebenarnya aku sesalkan dalam masa-masa transisi ini..Namun kutau sesal itu akan berubah menjadi alasanku untuk bersyukur, sebab Tuhan pernah mengirimkannya padaku, meski ia harus kembali terenggut oleh keadaan. Dia adalah salah satu orang luar biasa dengan sikapnya yang terkesan tidak sama sekali instimewa. (Uh, STOP!! Stop talking about him!!) Terlebih aku yakin, suatu saat, aku akan berterimakasih habis-habisan pada Tuhan karena telah memberi pelajaran (dalam ujian) yang cukup berat. Dan aku harus lulus dalam ujian ini. (Barangkali tidak seperti UASku yang terpaksa harus berantakan mengikuti ritme otakku…Hm..)
Pada akhirnya, aku memang harus berdamai dengan hati..Meredam keinginan-keinginan gilaku untuk menyempurnakan egoismeku dengan meminta keadaan kembalikan babak itu, untuk membujuk waktu agar mau memflashback momen0-momen yang tidak akan kembali lagi itu. Dan untuk benar-benar berdamai, aku harus bisa melakukan banyak hal. Meredam marahku saat ia hadir di sini namun tidak untukku lagi, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa agar hatikupun menduga bahwa aku baik-baik saja, dan…membakar secarik kertas yang menuliskan peta menuju rumahnya. Semuanya memang kulakukan dengan penuh kesadaran setelah mati-matian menyatukan sukmaku yang tercecer di mana-mana. Syukurlah, kini aku merasa beban itu tidak lagi sebusuk dulu..Meski ia masih terasa berat. Barangkali aku hanya butuh sedikit proses lagi untuk kemudian terbiasa dan menikmati momen-momen dalam babak baru ini.
Dan yang pasti, ia tidak pernah benar-benar pergi..Sebab ia sudah mendiami hati, kenangan, doa, dan terkadang mimpiku. Biarlah aku menyapanya dengan bahasa rindu. Barangkali hal demikian akan lebih aman dan menentramkan…Buat aku dan buat dia. Sayang memang, aku tak sempat membekalinya pesan agar suatu saat ia mau kembali bertandang ke hadapku dengan perannya yang dulu dan mengabarkanku jika suatu saat harapannya (yang kemudian juga menjadi harapanku) sudah terjawab oleh Tuhan. Tapi biarlah, aku yakin dia masihlah bijak seperti kemarin, dan faham betapa dia berarti buat aku.
Last but not least, untuk sang aktor..Be fine there…Aku akan kangenin kamu dan momen-momen itu..Maafin aku ya..(Meski aku hakkul yakin kau tak akan membaca oretan ini…)
Mendung hatiku, pojok kamar gelap.
Hmhm...
NgoredZ
Selasa, 05 Januari 2010
Semester Lima…
Semester lima itu uda bisa dibilang semester tuakah? Nda juga…Tapi dibilang semester bawah juga ndak tepat. Dibilang semester tengah aja kali ye..Ideale, buat mahasiswa akademis, semester lima uda bisa dibilang semester tinggi, karena bayangan proposal, seminar, skripsi, munaqasyah, dan wisuda sudah ada di depan mata. Tapi bagi mahasiswa aktivis (utamanya di ekstra), mungkin semester ini baru dianggap semester awal. Sebagian dari mereka khan bahkan ada yang bikin grup di fb yang bertajuk Calon mahasiswa semester empat belas…Jadi masih belum sampe separuh perjalanan kali yeee…
Untuk aku sendiri, mm….semester lima uda agak tua ya…walaupun aku bukan akademisi ansich yang kerjanya baca buku, tapi kalo disamain dengan masa-masa SMP dan SMA, berarti Ujian Nasional uda hampir gitu. Jadi sudah menjelang senja istilane. Harus banyak yang aku lakukan dan persiapkan. Tapi sekarang? Ritme kuliah biasa-biasa aja rasanya. Apalagi di jurusanku, ritme kuliah didominasi oleh beberapa rentetan berikut; pembagian tugas-bikin makalah-presentasi-dialog (baca:pembantaian)-revisi-ujian. Nek ndak gitu ya ke lab lipetin dahi cari hadist sambil curi-curi waktu FBan, dengerin ceramah dosen, dan nerjemahin literatur Inggris dan Arab..Yang baru tiap semester mungkin cuma dosen, temen antarangkatan, dan MK. Selain itu, semuanya biasa-biasa ajah.
Tapi aku ngerasa cukup asing dengan predikat sebagi mahasiswa semester lima ne. Alasan kronologisnya mungkin karena pas awal semester lima, aku lum bisa masuk kuliah seperti biasa pas typhus menyerangku. Jadi pas aku balek kampus waktu itu, aku langsung dihadapkn pada lembar jawaban ujian yang memintaku menulis, aku semester berapa sekarang..Kontan aku nulis semester IV waktu itu..Bahkan beberapa kali aku harus cari penghapus untuk ngilangin angka I sebelum V. Hmm..
Banyak orang yang bilang kalo masa-masa kejenuhan yang cukup membosankan dalam proses perkuliahan strata 1 ada di semester V. temen-temenku bahkan banyak yang secara langsung ngomong demikian, meski banyakan yang cuma mengungkapkan dengan bahasa tubuh alias dak sering masuk. Aku sich juga gitu, tapi absenku uda patah banget…dua bulanan setengah aku dak kul. Jika aku masih berani bolos, keselamatan UASku terancam..jadi emang tak paksa-paksaian untuk terus masuk kuliah apa dan bagaimanapun keadaannya. Ya, semacam upaya berdamai dengan keadaan dan kebosanan…lagian pas sakit, aku sempet janji ma diri sendiri, kalo suatu saat Tuhan ngasih aku kesembuhan, aku akan rajin masuk kuliah dan dak hobi bolos lagi. Cukup terealisasi sich..Meski dalam satu dua kesempatan, aku dak bisa untk dak bolos. Hehehe….
Jujur aja, aku ngerasa cukup tua sudah sekarang. Selain karena momennya baru pergantian tahun, aku merasakan demikian saat aku tau kalo aku uda punya dua generasi di bawahku…Anak Pahlawan dan anak Pembebasan. Mereka angkatan 2008 ma 2009…Hm, sedangkan aku uda jadul, angkatan 2007. Tapi angkatanku ini keren gile, karena masuk UIN hanya sembilan ratus ribu. Mulai angkatan 2008, adik-adik harus merogoh kocek mpe bilangan dua jeti kalo mau masuk UIN. Serem gile. Mm..Jadi kesannya aku uda kayak senior yang punya banyak junior. Uda jadi anak rayon, anak BEM, uda mau KKN, uda harus punya bayangan skripsi..Duh..Kalo diitung semua, bisa budeg kepalaku..
Jadi di hpku, selain ada list anak PW, kini juga uda anak PB. Aku semakin tersadarkan oleh keadaan bahwa aku uda lama menyandang gelar mahasiswa. Seharusnya dak ada jatah waktu terlalu lama untuk santai-santai dan melakukan hal yang ga jelas..Hm..Aku kadang terlalu idealis juga jika ngomong masalah senioritas. Ya harus jaim lah, ya harus nyambung ma apa yang diomongin, ya harus ngayomi lah, ya harus ngasih contoh yang bae lah..Dll. Sebenere dak perlu seidealis itu, cuma khan…rating-rating dalam senioritas junirotas tu emang dibuat untuk memfasilitasi take and give antargenerasi khan? Jadi hubungannya komplementif dan saling mengisi…Gitu ya, mungkin…
Akibatnya, saat uda diskusi, aku, mau dak mau harus angkat suara meski aku tergolong orang yang pendiam di diskusi-diskusi ekstra kampus. Apapun yang ada di otakku, tak ungkapin ajah..Minimal biar aku dak terkesan over oon gitu ma tema yang tengah dibicarakan. Masa semester lima masih oon masalah yang uda dibedah abis-abisan ma anak semester tiga, misalnya? Duh…
Hal yang juga jadi catatan di semester ini, aku ngerasa tambah enak dan solid dengan anak-anak GM. Temen2 GM buat aku tulus dan bae hati plus tidak sombong. Aku ngerasain iklim persaudaraan yang ansich ma mereka. Mungkin karena faktor etnik juga, jadi pola pikir dan kebiasaannya cenderung sama. Keroso banget, mereka adalah bagian terpenting dalam hidupku. Yang menolong saat aku lagi butuh bantuan, yang mencerahkan saat aku sedang dalam kegelapan, dan memaksaku ketawa ngakak saat aku sebenere tengah menangis. Duh..Tambah sayang emang aku ma mereka…Drastis mungkin perubahan ne. Tapi itulah keadaannya..Entah napa tiba-tiba aku merasa darah PM11q baru beranjak panas di momen-momen ini..Bukan apa-apa, sebab orang-orang yang di sebelahku juga menunjukkan cinta yang luar biasa tulus…
Di kelas, semester ini dak gitu banyak perubahan. Ritmenya tetep begitu. Aktivitasku di kampus ya tetep aja, dak gitu banyak perubahan. Hobinya muter-muter kampus perpus, ngobrol, dan surat-suratan dalam kelas. Bedanya di akhir kembara semester ini, kelasku tengah terkena sindrom classbook. Terus juga, yang bikin beda di semester ini adalah karena aku hanya memiliki dua soulmate yang akan selalu sekelas ma aku dalam tiap MK. Dak kayak pas semeseter2 awal, aku punya soulmate yang cukup banyak..jadi anak cewe maupun anak cowo. Semester ini aku hanya soulmate-an ma unyil dan ayu. Itupun ayu jarang-jarang masuk karena dia lagi menjalani masa-masa transisi. Oalah..
Dan tentang hidupku secara umum, aku merasa bahwa momen ini lebih intens menyuruhku untuk menjadi manusia yang cinta kebersihan dan tidak suka menunda pekerjaan yang bisa kukerjakan saat ini. Dak ada yang memotivasiku sama sekali, sebab dorongan-dorongan itu sudah sejak lama dikumandangkan oleh banyak orang..Teman bahkan orang tuaku. Ga tau, ngenanya ke hatiku baru sekarang…faktor kedewasaan kali ye…Hahaha, ndak juga, mungkin karena belakangan aku baru mau mood meras otak jika tempat aku berpijak sudah comfortable..
Hm…berati aku tinggal nunggu momen kapan aku bisa cinta kerapian dan keindahan ya..Utamanya dalam masalah penampilan. Hehehe. Jadi dak ada lagi tuch, temen-temen yang akan bilang kayak gini…
“Yank, kamu cantik lho..Sebenere, kalo aja mau sedikit care ma penampilan”, kata Mila (dalam hati aku bilang, lha dak care ajah aku uda cantik kata ayahku…)
“Ita itu dak tau jilbaban”, kata Mada (komentQ: Mada dilawan!!)
“Aku dak suka kamu pake jilbab ini”, kata Ayu (Sapa elluw?)
“Eh, Ta..Kamu lebih cantik pake jilbab yang kayak gitu…”, kata Mba Elly..
Lagi-lagi kata Mada dan Mila,“Cowomu tu dak pernah nyuruh kamu ngubah penampilan ya?” (Lalu kujawab dengan sesengak mungkin…Lha sapa dia, mau ngubah-ngatur aku?)
Temen-temen pondok yang uda lama dak bareng aku, “Kamu koq tetep kaya gitu sich, penampilannya..Dak ada perubahan sama sekali dengan dulu..”
Dan yang terakhir, Ksatria biasanya bilang..
“I dislike”
Tapi yo mbuhlah, aku juga dak tau dan dak ingin terlalu mikirin itu..Tar juga saatnya tiba, meski aku masih suka weddi sendiri ngebayangin ntar pake kostum wisuda..Hi,,,gimana jadinya…
Tapi yang juga baru di semester ini, aku lebih kerasan di kamarQ sendiri. Sejak semester satu dulu, aku kayaknya adalah salah seorang yang nomaden di kos sendiri..Seja pagi, aku uda ninggalin kamar untuk jogging dan cari angin pagi Jogja. Bahkan kos beberapa temanku juga selalu aku gilir..Hehehe…sampe mabit bahkan. Tapi gak tau napa, sekarang aku tiba-tiba sayang banget sama kamarku. Mungkin karena propertinya uda lumayan ada, aku jadi enak ngapa-ngapain di situ…bercengkerama dengan Biibii, ngutek-ngutek 6600 yang aku pinjem dan entah kapan akan aku balikin, ato obob..Sepulas mungkin hingga dering hp, malaikat, atau Muna menggedor-gedor kesadaranku..
Konsekuensi logisnya, aku jadi sok seniman dan sok jadi ahli interior dengan menempel apapun yang bisa aku tempel di dinding kamarku. Tulisan-tulisan dak jelas, materi kuliah ataupun lirik lagu yang ingin aku kuasai, foto-foto siapapun, dan catatan-catatan penting. Main goalnya, aku ingin bikin kamarku AKU BANGET!!
Well, semester lima akan segera menemui senjanya. Semoga memberikan banyak pelajaran dan bekal untuk hidupku ke depan. Setidaknya, semester ini harus menjadi momen yang meruntuhkan teori bahwa semester II adalah the highezt achievement I ever got. Amien…..
Untuk aku sendiri, mm….semester lima uda agak tua ya…walaupun aku bukan akademisi ansich yang kerjanya baca buku, tapi kalo disamain dengan masa-masa SMP dan SMA, berarti Ujian Nasional uda hampir gitu. Jadi sudah menjelang senja istilane. Harus banyak yang aku lakukan dan persiapkan. Tapi sekarang? Ritme kuliah biasa-biasa aja rasanya. Apalagi di jurusanku, ritme kuliah didominasi oleh beberapa rentetan berikut; pembagian tugas-bikin makalah-presentasi-dialog (baca:pembantaian)-revisi-ujian. Nek ndak gitu ya ke lab lipetin dahi cari hadist sambil curi-curi waktu FBan, dengerin ceramah dosen, dan nerjemahin literatur Inggris dan Arab..Yang baru tiap semester mungkin cuma dosen, temen antarangkatan, dan MK. Selain itu, semuanya biasa-biasa ajah.
Tapi aku ngerasa cukup asing dengan predikat sebagi mahasiswa semester lima ne. Alasan kronologisnya mungkin karena pas awal semester lima, aku lum bisa masuk kuliah seperti biasa pas typhus menyerangku. Jadi pas aku balek kampus waktu itu, aku langsung dihadapkn pada lembar jawaban ujian yang memintaku menulis, aku semester berapa sekarang..Kontan aku nulis semester IV waktu itu..Bahkan beberapa kali aku harus cari penghapus untuk ngilangin angka I sebelum V. Hmm..
Banyak orang yang bilang kalo masa-masa kejenuhan yang cukup membosankan dalam proses perkuliahan strata 1 ada di semester V. temen-temenku bahkan banyak yang secara langsung ngomong demikian, meski banyakan yang cuma mengungkapkan dengan bahasa tubuh alias dak sering masuk. Aku sich juga gitu, tapi absenku uda patah banget…dua bulanan setengah aku dak kul. Jika aku masih berani bolos, keselamatan UASku terancam..jadi emang tak paksa-paksaian untuk terus masuk kuliah apa dan bagaimanapun keadaannya. Ya, semacam upaya berdamai dengan keadaan dan kebosanan…lagian pas sakit, aku sempet janji ma diri sendiri, kalo suatu saat Tuhan ngasih aku kesembuhan, aku akan rajin masuk kuliah dan dak hobi bolos lagi. Cukup terealisasi sich..Meski dalam satu dua kesempatan, aku dak bisa untk dak bolos. Hehehe….
Jujur aja, aku ngerasa cukup tua sudah sekarang. Selain karena momennya baru pergantian tahun, aku merasakan demikian saat aku tau kalo aku uda punya dua generasi di bawahku…Anak Pahlawan dan anak Pembebasan. Mereka angkatan 2008 ma 2009…Hm, sedangkan aku uda jadul, angkatan 2007. Tapi angkatanku ini keren gile, karena masuk UIN hanya sembilan ratus ribu. Mulai angkatan 2008, adik-adik harus merogoh kocek mpe bilangan dua jeti kalo mau masuk UIN. Serem gile. Mm..Jadi kesannya aku uda kayak senior yang punya banyak junior. Uda jadi anak rayon, anak BEM, uda mau KKN, uda harus punya bayangan skripsi..Duh..Kalo diitung semua, bisa budeg kepalaku..
Jadi di hpku, selain ada list anak PW, kini juga uda anak PB. Aku semakin tersadarkan oleh keadaan bahwa aku uda lama menyandang gelar mahasiswa. Seharusnya dak ada jatah waktu terlalu lama untuk santai-santai dan melakukan hal yang ga jelas..Hm..Aku kadang terlalu idealis juga jika ngomong masalah senioritas. Ya harus jaim lah, ya harus nyambung ma apa yang diomongin, ya harus ngayomi lah, ya harus ngasih contoh yang bae lah..Dll. Sebenere dak perlu seidealis itu, cuma khan…rating-rating dalam senioritas junirotas tu emang dibuat untuk memfasilitasi take and give antargenerasi khan? Jadi hubungannya komplementif dan saling mengisi…Gitu ya, mungkin…
Akibatnya, saat uda diskusi, aku, mau dak mau harus angkat suara meski aku tergolong orang yang pendiam di diskusi-diskusi ekstra kampus. Apapun yang ada di otakku, tak ungkapin ajah..Minimal biar aku dak terkesan over oon gitu ma tema yang tengah dibicarakan. Masa semester lima masih oon masalah yang uda dibedah abis-abisan ma anak semester tiga, misalnya? Duh…
Hal yang juga jadi catatan di semester ini, aku ngerasa tambah enak dan solid dengan anak-anak GM. Temen2 GM buat aku tulus dan bae hati plus tidak sombong. Aku ngerasain iklim persaudaraan yang ansich ma mereka. Mungkin karena faktor etnik juga, jadi pola pikir dan kebiasaannya cenderung sama. Keroso banget, mereka adalah bagian terpenting dalam hidupku. Yang menolong saat aku lagi butuh bantuan, yang mencerahkan saat aku sedang dalam kegelapan, dan memaksaku ketawa ngakak saat aku sebenere tengah menangis. Duh..Tambah sayang emang aku ma mereka…Drastis mungkin perubahan ne. Tapi itulah keadaannya..Entah napa tiba-tiba aku merasa darah PM11q baru beranjak panas di momen-momen ini..Bukan apa-apa, sebab orang-orang yang di sebelahku juga menunjukkan cinta yang luar biasa tulus…
Di kelas, semester ini dak gitu banyak perubahan. Ritmenya tetep begitu. Aktivitasku di kampus ya tetep aja, dak gitu banyak perubahan. Hobinya muter-muter kampus perpus, ngobrol, dan surat-suratan dalam kelas. Bedanya di akhir kembara semester ini, kelasku tengah terkena sindrom classbook. Terus juga, yang bikin beda di semester ini adalah karena aku hanya memiliki dua soulmate yang akan selalu sekelas ma aku dalam tiap MK. Dak kayak pas semeseter2 awal, aku punya soulmate yang cukup banyak..jadi anak cewe maupun anak cowo. Semester ini aku hanya soulmate-an ma unyil dan ayu. Itupun ayu jarang-jarang masuk karena dia lagi menjalani masa-masa transisi. Oalah..
Dan tentang hidupku secara umum, aku merasa bahwa momen ini lebih intens menyuruhku untuk menjadi manusia yang cinta kebersihan dan tidak suka menunda pekerjaan yang bisa kukerjakan saat ini. Dak ada yang memotivasiku sama sekali, sebab dorongan-dorongan itu sudah sejak lama dikumandangkan oleh banyak orang..Teman bahkan orang tuaku. Ga tau, ngenanya ke hatiku baru sekarang…faktor kedewasaan kali ye…Hahaha, ndak juga, mungkin karena belakangan aku baru mau mood meras otak jika tempat aku berpijak sudah comfortable..
Hm…berati aku tinggal nunggu momen kapan aku bisa cinta kerapian dan keindahan ya..Utamanya dalam masalah penampilan. Hehehe. Jadi dak ada lagi tuch, temen-temen yang akan bilang kayak gini…
“Yank, kamu cantik lho..Sebenere, kalo aja mau sedikit care ma penampilan”, kata Mila (dalam hati aku bilang, lha dak care ajah aku uda cantik kata ayahku…)
“Ita itu dak tau jilbaban”, kata Mada (komentQ: Mada dilawan!!)
“Aku dak suka kamu pake jilbab ini”, kata Ayu (Sapa elluw?)
“Eh, Ta..Kamu lebih cantik pake jilbab yang kayak gitu…”, kata Mba Elly..
Lagi-lagi kata Mada dan Mila,“Cowomu tu dak pernah nyuruh kamu ngubah penampilan ya?” (Lalu kujawab dengan sesengak mungkin…Lha sapa dia, mau ngubah-ngatur aku?)
Temen-temen pondok yang uda lama dak bareng aku, “Kamu koq tetep kaya gitu sich, penampilannya..Dak ada perubahan sama sekali dengan dulu..”
Dan yang terakhir, Ksatria biasanya bilang..
“I dislike”
Tapi yo mbuhlah, aku juga dak tau dan dak ingin terlalu mikirin itu..Tar juga saatnya tiba, meski aku masih suka weddi sendiri ngebayangin ntar pake kostum wisuda..Hi,,,gimana jadinya…
Tapi yang juga baru di semester ini, aku lebih kerasan di kamarQ sendiri. Sejak semester satu dulu, aku kayaknya adalah salah seorang yang nomaden di kos sendiri..Seja pagi, aku uda ninggalin kamar untuk jogging dan cari angin pagi Jogja. Bahkan kos beberapa temanku juga selalu aku gilir..Hehehe…sampe mabit bahkan. Tapi gak tau napa, sekarang aku tiba-tiba sayang banget sama kamarku. Mungkin karena propertinya uda lumayan ada, aku jadi enak ngapa-ngapain di situ…bercengkerama dengan Biibii, ngutek-ngutek 6600 yang aku pinjem dan entah kapan akan aku balikin, ato obob..Sepulas mungkin hingga dering hp, malaikat, atau Muna menggedor-gedor kesadaranku..
Konsekuensi logisnya, aku jadi sok seniman dan sok jadi ahli interior dengan menempel apapun yang bisa aku tempel di dinding kamarku. Tulisan-tulisan dak jelas, materi kuliah ataupun lirik lagu yang ingin aku kuasai, foto-foto siapapun, dan catatan-catatan penting. Main goalnya, aku ingin bikin kamarku AKU BANGET!!
Well, semester lima akan segera menemui senjanya. Semoga memberikan banyak pelajaran dan bekal untuk hidupku ke depan. Setidaknya, semester ini harus menjadi momen yang meruntuhkan teori bahwa semester II adalah the highezt achievement I ever got. Amien…..
Hmhm...
NgoredZ
Sabtu, 02 Januari 2010
Legenda Sandal Eiger
Sejak aku di Yogya sekembalinya dari Madura karena sakit beberapa waktu yang lalu, aku kepincut ma sebuah sandal yang tengah nganggur seolah tanpa tuan di depan kamare Tinktink. Awalnya aku kurang gitu responsif ma sandal ne, walaupun sandalku yang uda copot belum memiliki generasi penerus alias aku belum beli yang baru. Tapi lama-lama setelah tak coba pake, aku ngerasa comfort make sandal yang sangat kegedean untuk ukuran kakiku yang meski dak mungil, tapi lumayan kecil. Mmm…meski berat juga bawanya sandal tu.
Belakangan aku tau bahwa pemilik sandal itu adalah Muna, temen kamarku. Tambah enak pikirku, jadi aku bisa lebih berlama-lama make sandal itu, karena waktu tu muna lagi pulang kampung.Eh, tapi ternyata setelah muna dateng, dia keliatan ga gitu nafsu make sandal ne. Dak tau kenapa. Dibiarin dan ditelantarin begitu aja..Jadi aku enak-enakan ajah make sandal tuch..
Perkembangan selanjutnya, pas masak-masak abis shalat ied kemarin, aku baru tau dari Mimin kalo tu sandal item metalik ternyata milik Yuda, yang dihibahkan ke Muna. Jadi ceritanya, Yuda memiliki sandal itu juga lewat kejadian yang ga tersangka dan ga terduga. Malam itu, beberapa waktu yang lalu, Yuda ikutan Mimin ke salah satu acara organ di Paris, waktu itu di Joglo. Bisa dibayangin kalo acara tu akan berlangsung mpe larut malem..pagi bahkan. Jadi, pas mau pulang dan turun dari Joglo, Yuda sudah tidak mendapati sandal yang ia bawa dari kos..Katanya uda tak cari ke mana-mana, tapi sandal tu mungkin uda kebawa ma kaki yang tidak bertanggungjawab atau tidak berkesadaran (karena lagi ngantuk) menuju entah ke arah mana.
Yuda heboh bukan kepalang. Selain karena ia terancam akan nyeker, tu sandal ternyata bukan milik dia...Tapi milik temen sekos yang entah siapa. Sebenere kalo di kosku ndak masalah...Kalo untuk sandal, satu untuk semua kayaknya. Jadi dak pake istilah ghashab..Soale semua penghuni apartemen sadar akan teori kompelememtif, tolong menolong, dan saling menyayangi antarsesama penghuni real estate. Hahaha. Tapi di balik semua kesialan, pasti ada sebuah kemujuran. Dan teori itu berlaku bagi Yuda tengah malam menjelang pagi itu…Jadi menurut cerita Mimin, di tengah kebingungan itu, Yuda berinisiatif mengambil sandal apapun yang masih ada dan belum dipake sama orla. Dan..Yuda pun tidak jadi nyeker karena dia pulang dengan sebuah sandal item yang nempel di kakinya yang tampak kelelahan..
Sandal yang entah milik siapa itulah yang kemudian setia menemaniku pergi, bahkan hingga nyampek ke Semarang dan Kebumen kemaren. Ok, kembali lagi ke legenda sandal itu, setelah ditelusuri sedatangnya dari Paris, sandl tu ternyata milik Mbak Ani..Untungnya mba satu ini orangnya bae dan kompromistis. Jadi walaupun sandal tu baru aja keluar dari toko dan diilangin Yuda, Bak Ani tetep calmdown...dan senyum2 ajah saat Yuda bilang –dengan perasaan bersalah yang amat besar—akan beliin sandal baru sebagai ganti..Aku inget saat itu Yuda heboh banget nanyain harga sandal-sandal..Huhu…
Setelah sandal tu akhirnya diganti, Yuda bisa bernafas lega. Seperti aku yang keasyikan make sandal item tu..Soale selaen bahannya ok, ne sandal juga bisa tak bawa ke mana-mana, selaen ke kampus tentu. Bisa dibawa jalan pas weekend plus ke kamar mandi. Fleksibel banget menurut aku...Hm..Ok dech, meski agak kebesaran juga. Tapi so far so good..Palagi warnanya item..Cocok ma seleraku dan bisa bikin kaku coklat tuaku keliatan lebih muda...Hehehe. Maksudnya kulitku yang item (meski dak metalik) bisa keliatan tambah putih DIKIT.
Nach...pas ikut acara di Paris kemarin, aku jalan2 di pantai ma temen2, salah satunya bareng Alwi yang juga temen kelasku. Dia ngomong kalo sandal ynag aku pake tu masuk brand yang TOP..Katanya awet, karena bahannya bagus. Dia ngomong kaya gitu bukan tanpa alasan..Alwi bilang ma aku kalo sandal Eiger yang dia kenakan saat ini adalah sandal yang dia beli pas Aliyah dulu, kelas II. Berrti sudah bertahun-tahun dwonk.. Wah..Aku jadi tambah nyaman make sandal tu ke mana-mana. Setidaknya sandal yang aku kenakan uda masuk katagori dak malu-maluin...Wah..hedonis materialistis ini namanya...
Cerita pun berlanjut, kemaren, sandal tu dipinjem temenku. Waktu itu kami lagi ngomong ngalor ngidul ndak jelas sambil makan hingga sampe ke tema sandal. Aku ceritain perihal sandal itu dan sejrahnya. Eh, dia malah berinisisatif untuk pinjem, katanya ingin nyobain. Jadi dech, kami tukeran pake sandal…Dia pake sandalku, dan aku pake sandalnya..Newera biru muda. Sama-sama sandal jepit tepi keren. Hehe…Dia kemudian pake sanda tu semalem pas kongkow ma temen2nya, di salah satu warung kopi daerah Gaten. Mato katanya, (aku mana tau tempet ngopi di Jogja..).. Hm..Ternyata pada momen itu, sandal yang dak tau punya sapa itu harus terbawa oleh kaki yang entah milik siapa. Temenku itu pulang dengan membawa sandal laen..Sama warna item..Untungnya merknya juga EIG..ER...dan tentunya sandal tu bukan sandal yang biasa aku pake..Motifnya beda dan tambah gede..Cuma kejadian ini beda dengan kasus Yuda. Temenku itu dak nyadar kalo dia bawa sandal yang salah..Sebab katanya lumayan remang-remang dan dia cuma inget kalo sandal yang ia bawa tu warnanya item…Oalah…
Kecewa sich ada..Tapi mending lach, dia bawa sandal dengan merk yang sama..Bayangin kalo misalnya dia malah bale dengan bawa sandal Swallow yang warna item. Bisa mati gaya aku..Heheh...Tapi ya itu, karena barang baru, jadinya kerasa belum gitu enak..apalagi semakin gede.. Dia sibuk minta maaf ma aku..Katanya dia dak sengaja pol dan tar malem bakal ke Mato lagi. Aku nanggapin biasa aja..Kasian juga melihat dia heboh setengah mati. Lucunya lagi, dia baru sadar kalo sandal itu bukan milik Aku baru saat aku negur dia pas kami berdua dak sengaja ketemu. Waktu itu aku perhatiin dia dari atas sampe bawah karena lagi ganteng abis mandi (hehehe)…Kami ketawa-ketawa tapi kemudian tawaku terhenti…
“Bung, sandal baru nech??”ucapku
Dia terkejut dan segera melepas sandal itu..”Khan ini milikmu?”
“Milikku ndak kayak gini!!!”selaku
“Kamu serius, Ta?”
Dan seterusnya…hingga ia bercerita dengan sedikit terbata-bata dan penuh penyesalan…
Wah, kalo kata orang fiqh, sudah berapa lama kakiku ini mendarat di atas barang syubhat? Hu..Hu.. Uda sandal pertama yang dak tau miliki siapa harus kupake ke mana-mana, sekarang malah tambah sandal kedua lagi..Hm…Masih nunggu momen apa nech, untuk beli sandal yang bener-bener milik pribadi? Kemarin aku cari di Mirota, ga ada Eiger. Aku mau tau harganya ajah padahal..Sayang banget sandal Eiger versi Paris itu dak sempet aku jepret sebelum ia tergantikan oleh Eiger versi Mato…
Belakangan aku tau bahwa pemilik sandal itu adalah Muna, temen kamarku. Tambah enak pikirku, jadi aku bisa lebih berlama-lama make sandal itu, karena waktu tu muna lagi pulang kampung.Eh, tapi ternyata setelah muna dateng, dia keliatan ga gitu nafsu make sandal ne. Dak tau kenapa. Dibiarin dan ditelantarin begitu aja..Jadi aku enak-enakan ajah make sandal tuch..
Perkembangan selanjutnya, pas masak-masak abis shalat ied kemarin, aku baru tau dari Mimin kalo tu sandal item metalik ternyata milik Yuda, yang dihibahkan ke Muna. Jadi ceritanya, Yuda memiliki sandal itu juga lewat kejadian yang ga tersangka dan ga terduga. Malam itu, beberapa waktu yang lalu, Yuda ikutan Mimin ke salah satu acara organ di Paris, waktu itu di Joglo. Bisa dibayangin kalo acara tu akan berlangsung mpe larut malem..pagi bahkan. Jadi, pas mau pulang dan turun dari Joglo, Yuda sudah tidak mendapati sandal yang ia bawa dari kos..Katanya uda tak cari ke mana-mana, tapi sandal tu mungkin uda kebawa ma kaki yang tidak bertanggungjawab atau tidak berkesadaran (karena lagi ngantuk) menuju entah ke arah mana.
Yuda heboh bukan kepalang. Selain karena ia terancam akan nyeker, tu sandal ternyata bukan milik dia...Tapi milik temen sekos yang entah siapa. Sebenere kalo di kosku ndak masalah...Kalo untuk sandal, satu untuk semua kayaknya. Jadi dak pake istilah ghashab..Soale semua penghuni apartemen sadar akan teori kompelememtif, tolong menolong, dan saling menyayangi antarsesama penghuni real estate. Hahaha. Tapi di balik semua kesialan, pasti ada sebuah kemujuran. Dan teori itu berlaku bagi Yuda tengah malam menjelang pagi itu…Jadi menurut cerita Mimin, di tengah kebingungan itu, Yuda berinisiatif mengambil sandal apapun yang masih ada dan belum dipake sama orla. Dan..Yuda pun tidak jadi nyeker karena dia pulang dengan sebuah sandal item yang nempel di kakinya yang tampak kelelahan..
Sandal yang entah milik siapa itulah yang kemudian setia menemaniku pergi, bahkan hingga nyampek ke Semarang dan Kebumen kemaren. Ok, kembali lagi ke legenda sandal itu, setelah ditelusuri sedatangnya dari Paris, sandl tu ternyata milik Mbak Ani..Untungnya mba satu ini orangnya bae dan kompromistis. Jadi walaupun sandal tu baru aja keluar dari toko dan diilangin Yuda, Bak Ani tetep calmdown...dan senyum2 ajah saat Yuda bilang –dengan perasaan bersalah yang amat besar—akan beliin sandal baru sebagai ganti..Aku inget saat itu Yuda heboh banget nanyain harga sandal-sandal..Huhu…
Setelah sandal tu akhirnya diganti, Yuda bisa bernafas lega. Seperti aku yang keasyikan make sandal item tu..Soale selaen bahannya ok, ne sandal juga bisa tak bawa ke mana-mana, selaen ke kampus tentu. Bisa dibawa jalan pas weekend plus ke kamar mandi. Fleksibel banget menurut aku...Hm..Ok dech, meski agak kebesaran juga. Tapi so far so good..Palagi warnanya item..Cocok ma seleraku dan bisa bikin kaku coklat tuaku keliatan lebih muda...Hehehe. Maksudnya kulitku yang item (meski dak metalik) bisa keliatan tambah putih DIKIT.
Nach...pas ikut acara di Paris kemarin, aku jalan2 di pantai ma temen2, salah satunya bareng Alwi yang juga temen kelasku. Dia ngomong kalo sandal ynag aku pake tu masuk brand yang TOP..Katanya awet, karena bahannya bagus. Dia ngomong kaya gitu bukan tanpa alasan..Alwi bilang ma aku kalo sandal Eiger yang dia kenakan saat ini adalah sandal yang dia beli pas Aliyah dulu, kelas II. Berrti sudah bertahun-tahun dwonk.. Wah..Aku jadi tambah nyaman make sandal tu ke mana-mana. Setidaknya sandal yang aku kenakan uda masuk katagori dak malu-maluin...Wah..hedonis materialistis ini namanya...
Cerita pun berlanjut, kemaren, sandal tu dipinjem temenku. Waktu itu kami lagi ngomong ngalor ngidul ndak jelas sambil makan hingga sampe ke tema sandal. Aku ceritain perihal sandal itu dan sejrahnya. Eh, dia malah berinisisatif untuk pinjem, katanya ingin nyobain. Jadi dech, kami tukeran pake sandal…Dia pake sandalku, dan aku pake sandalnya..Newera biru muda. Sama-sama sandal jepit tepi keren. Hehe…Dia kemudian pake sanda tu semalem pas kongkow ma temen2nya, di salah satu warung kopi daerah Gaten. Mato katanya, (aku mana tau tempet ngopi di Jogja..).. Hm..Ternyata pada momen itu, sandal yang dak tau punya sapa itu harus terbawa oleh kaki yang entah milik siapa. Temenku itu pulang dengan membawa sandal laen..Sama warna item..Untungnya merknya juga EIG..ER...dan tentunya sandal tu bukan sandal yang biasa aku pake..Motifnya beda dan tambah gede..Cuma kejadian ini beda dengan kasus Yuda. Temenku itu dak nyadar kalo dia bawa sandal yang salah..Sebab katanya lumayan remang-remang dan dia cuma inget kalo sandal yang ia bawa tu warnanya item…Oalah…
Kecewa sich ada..Tapi mending lach, dia bawa sandal dengan merk yang sama..Bayangin kalo misalnya dia malah bale dengan bawa sandal Swallow yang warna item. Bisa mati gaya aku..Heheh...Tapi ya itu, karena barang baru, jadinya kerasa belum gitu enak..apalagi semakin gede.. Dia sibuk minta maaf ma aku..Katanya dia dak sengaja pol dan tar malem bakal ke Mato lagi. Aku nanggapin biasa aja..Kasian juga melihat dia heboh setengah mati. Lucunya lagi, dia baru sadar kalo sandal itu bukan milik Aku baru saat aku negur dia pas kami berdua dak sengaja ketemu. Waktu itu aku perhatiin dia dari atas sampe bawah karena lagi ganteng abis mandi (hehehe)…Kami ketawa-ketawa tapi kemudian tawaku terhenti…
“Bung, sandal baru nech??”ucapku
Dia terkejut dan segera melepas sandal itu..”Khan ini milikmu?”
“Milikku ndak kayak gini!!!”selaku
“Kamu serius, Ta?”
Dan seterusnya…hingga ia bercerita dengan sedikit terbata-bata dan penuh penyesalan…
Wah, kalo kata orang fiqh, sudah berapa lama kakiku ini mendarat di atas barang syubhat? Hu..Hu.. Uda sandal pertama yang dak tau miliki siapa harus kupake ke mana-mana, sekarang malah tambah sandal kedua lagi..Hm…Masih nunggu momen apa nech, untuk beli sandal yang bener-bener milik pribadi? Kemarin aku cari di Mirota, ga ada Eiger. Aku mau tau harganya ajah padahal..Sayang banget sandal Eiger versi Paris itu dak sempet aku jepret sebelum ia tergantikan oleh Eiger versi Mato…
Hmhm...
NgoredZ
Sabtu, 19 Desember 2009
EnglishQ jongkok
Good Looking and Good Thinking Teenager,
Is it Possible?
By aTeiLLa MirZa
It is understoodable when there is a hope imagining a teenager who has good looking and good thinking proportionally. This hope appears from the reality which shows that it is rare to find a teenager who has the two sides of charming; charming of intelligence and charming of performance. Although it is rare, it doesn’t mean that it is difficult to be reached. And the question is, what is the shortcut to be the dreaming teenager?
Good Thinking; Smart and Skillfull
There’s a common demand addressed to us as a student, as a member of community which accept any lessons in our school. We see that there’s something we must fulfill, as like standard of value in the national final examination. And certainly, every year, we must be able to reach a certain standard to enroll study at higher class. If we can’t reach it, we will be left out and we must repeat the academic period. These all are academical demand in cognitive field.
As a short, you must be a smart ones. You must give anything to fulfill this demand. Perhaps you must be a diligent, creative, good reader, hard worker finishing all of your tasks, and any other efforts. All of us has a different ways to reach the one destination. Beside academical demand, there is a social demand which obligate you to be a skillfull ones. When anyone ask you, in which class are you sitting now and you give an answer, automatically, he will consider that you have mastered a certain thing. For example, as a student in pesantren which have been there for about one year, everone will consider you as a good reader of Koran.
According to our growth, we also begin to find where is our interest, what is our talent, and what is our life’s goal. We begin to know them in this phase. And we will also start to make that goals and dreams come true. For example, we will have a routine training and look for a condusive community which support our goal. As a result, we begin to know what skill we have that it must be maintained and improved. So, beside in our class, we also train anything we like in other place.
So it is fair to say that adolescence phase is a phase where we study, try, and train anything considered as our concern or our intereset. We are demanded to be a multitalent and a versatile ones by the tittle we have, as a student who live in pesantren, for example. When we are involved in a discussion forum, we are demanded to get connection with the theme discussed. When anyone need our help, we are demanded to show our skill helping him. There is a common idea which consider that all of student have a more knowledge and more skill than another. And that is the demand we have.
Good Looking; Great Performance
In adolescence era, we have a will and ambition to perform ourselves in front of the public well and attractively. We need a consideration as a teenager and we want the show who we are. We are not longer a children which is dependent to another. We try to be our selves and entrust on our selves by performing our unique characteristic depend on our appetite. It is often happen an inimitation or modification of other’s performance which seen as a best performance. When we see that someone perform his best and it is suitable with the taste we have, it can be assured that there will be an imimtation process.
It is a logical consequence concerning with the biological phase namely puberty happen in this phase. We will think that we have a phisically charm that obligates us to improve it. We will spend many times in front of the mirror, giving a big attention to the clothes we wear and the accessoris we have, and starting indetify which is our best performance can be shown to other, especially to our heterosexual. We will do many efforts to be good looking, such as repairing our performance, going to salon, using cosmetic, tidying our performance, and any other things.
By your improving performance, people will consider you as a mature teenager who has a big attention to performance side. You will maintain performance you have or even improve it because that is your unique feature. You are known and famous with your unique performance. The choice is also started here. You will choose which performance you will have. You can choose to be a metallic man, to be a cool man, to be a tidy man, and any other. But, a social mileu ussually will give a bigger appreciaton to man which has tidy performance.
To be Proportional
This hope do appears from the conditions show that mostly, some teenager import performance side and forget their obligation as student in intelligence side. The minority is a teenager who is an academist and book hunter but he ignore the performance side. He don’t care about the performance and consider it as a thing can be ignored at all. They think that intelligence is everything so that anything else is not important. So it is easy to find a clever and smart man who is asocial, clumsy, an inflixible.
The majority is a student with the good performance, tidy clothes, bright face, and fragrant smell. They spend many times to have a good performances so that they often ignore the cognitive and intellectual side. They prefer to be in front of the mirror better than to be in library, for example. They will cancel a studyclub appointment if they must go to a salon. They will prefer buying cosmetic that spending money for book and academical need.
Ideally, a great performance comes from a smart thinking. And soon, smart thinking comes from a great performance. A smart ones will try to give anything best, in his thinking, in his characterism, and also in his performance. Depend on his good thinking, he think that it should be a proportional position between his brain and his face. He must be a smart and a handsome man. This also happen in another side, i.e someone with the good performance. It is fair to think that it will be a shame thing when there is handsome and good looking man with an empty brain. Someone who give the attention to the performance must want to be a perfect man. As a first step, maybe he will be repair the physical performance. But as a perfecsionist, he will try to get the other charming. It is uncomplete to be a handsome man with a bad thinking.
Life is choice. We have choosen one of the two charmings first. But in the next, we must try to posse the other charming. If we fell that we have been giving a big attention to the intelligence side, for example, we will start to have a great performance when we want to attract somenonelse’ attention. And soon, for us who import the performance side, busy to make over and show our phisycal charming, a certain moment will obligate us to concentrate anything ignored before, such as when the academical examination comes or we want to pass an academical test. At that time, we will stoop a couple bundleds of book and academical lesson.
Finally, the most important thing is a will to be proportional. We sholud be a smart and handsome man. They must be two things that accept a same attention to balance our inside and outside charming. This hope is not an impossible utopia. There are some examples of a man whose great intelligence and good performance. It is not a possible thing to be attendend, although it is not easy to be happened. Allah Knows Best
Is it Possible?
By aTeiLLa MirZa
It is understoodable when there is a hope imagining a teenager who has good looking and good thinking proportionally. This hope appears from the reality which shows that it is rare to find a teenager who has the two sides of charming; charming of intelligence and charming of performance. Although it is rare, it doesn’t mean that it is difficult to be reached. And the question is, what is the shortcut to be the dreaming teenager?
Good Thinking; Smart and Skillfull
There’s a common demand addressed to us as a student, as a member of community which accept any lessons in our school. We see that there’s something we must fulfill, as like standard of value in the national final examination. And certainly, every year, we must be able to reach a certain standard to enroll study at higher class. If we can’t reach it, we will be left out and we must repeat the academic period. These all are academical demand in cognitive field.
As a short, you must be a smart ones. You must give anything to fulfill this demand. Perhaps you must be a diligent, creative, good reader, hard worker finishing all of your tasks, and any other efforts. All of us has a different ways to reach the one destination. Beside academical demand, there is a social demand which obligate you to be a skillfull ones. When anyone ask you, in which class are you sitting now and you give an answer, automatically, he will consider that you have mastered a certain thing. For example, as a student in pesantren which have been there for about one year, everone will consider you as a good reader of Koran.
According to our growth, we also begin to find where is our interest, what is our talent, and what is our life’s goal. We begin to know them in this phase. And we will also start to make that goals and dreams come true. For example, we will have a routine training and look for a condusive community which support our goal. As a result, we begin to know what skill we have that it must be maintained and improved. So, beside in our class, we also train anything we like in other place.
So it is fair to say that adolescence phase is a phase where we study, try, and train anything considered as our concern or our intereset. We are demanded to be a multitalent and a versatile ones by the tittle we have, as a student who live in pesantren, for example. When we are involved in a discussion forum, we are demanded to get connection with the theme discussed. When anyone need our help, we are demanded to show our skill helping him. There is a common idea which consider that all of student have a more knowledge and more skill than another. And that is the demand we have.
Good Looking; Great Performance
In adolescence era, we have a will and ambition to perform ourselves in front of the public well and attractively. We need a consideration as a teenager and we want the show who we are. We are not longer a children which is dependent to another. We try to be our selves and entrust on our selves by performing our unique characteristic depend on our appetite. It is often happen an inimitation or modification of other’s performance which seen as a best performance. When we see that someone perform his best and it is suitable with the taste we have, it can be assured that there will be an imimtation process.
It is a logical consequence concerning with the biological phase namely puberty happen in this phase. We will think that we have a phisically charm that obligates us to improve it. We will spend many times in front of the mirror, giving a big attention to the clothes we wear and the accessoris we have, and starting indetify which is our best performance can be shown to other, especially to our heterosexual. We will do many efforts to be good looking, such as repairing our performance, going to salon, using cosmetic, tidying our performance, and any other things.
By your improving performance, people will consider you as a mature teenager who has a big attention to performance side. You will maintain performance you have or even improve it because that is your unique feature. You are known and famous with your unique performance. The choice is also started here. You will choose which performance you will have. You can choose to be a metallic man, to be a cool man, to be a tidy man, and any other. But, a social mileu ussually will give a bigger appreciaton to man which has tidy performance.
To be Proportional
This hope do appears from the conditions show that mostly, some teenager import performance side and forget their obligation as student in intelligence side. The minority is a teenager who is an academist and book hunter but he ignore the performance side. He don’t care about the performance and consider it as a thing can be ignored at all. They think that intelligence is everything so that anything else is not important. So it is easy to find a clever and smart man who is asocial, clumsy, an inflixible.
The majority is a student with the good performance, tidy clothes, bright face, and fragrant smell. They spend many times to have a good performances so that they often ignore the cognitive and intellectual side. They prefer to be in front of the mirror better than to be in library, for example. They will cancel a studyclub appointment if they must go to a salon. They will prefer buying cosmetic that spending money for book and academical need.
Ideally, a great performance comes from a smart thinking. And soon, smart thinking comes from a great performance. A smart ones will try to give anything best, in his thinking, in his characterism, and also in his performance. Depend on his good thinking, he think that it should be a proportional position between his brain and his face. He must be a smart and a handsome man. This also happen in another side, i.e someone with the good performance. It is fair to think that it will be a shame thing when there is handsome and good looking man with an empty brain. Someone who give the attention to the performance must want to be a perfect man. As a first step, maybe he will be repair the physical performance. But as a perfecsionist, he will try to get the other charming. It is uncomplete to be a handsome man with a bad thinking.
Life is choice. We have choosen one of the two charmings first. But in the next, we must try to posse the other charming. If we fell that we have been giving a big attention to the intelligence side, for example, we will start to have a great performance when we want to attract somenonelse’ attention. And soon, for us who import the performance side, busy to make over and show our phisycal charming, a certain moment will obligate us to concentrate anything ignored before, such as when the academical examination comes or we want to pass an academical test. At that time, we will stoop a couple bundleds of book and academical lesson.
Finally, the most important thing is a will to be proportional. We sholud be a smart and handsome man. They must be two things that accept a same attention to balance our inside and outside charming. This hope is not an impossible utopia. There are some examples of a man whose great intelligence and good performance. It is not a possible thing to be attendend, although it is not easy to be happened. Allah Knows Best
Hmhm...
NgoredZ
Sabtu, 12 Desember 2009
Tentang Kemukus dan…Perselingkuhan..
Well, aku mau cerita dulu bagaimana keadaan siang itu..Siang pada hari pertama kuliah yang terasa sangat membosankan. Sudah menjadi rutinitas sich..Tapi entah mengapa aku belum merasa terbiasa dan mampu menghadapi hantu bernama kemalasan itu. Tetep aja waktu terasa berjalan sangat lelet. Mendengarkan ceramah dari seorang dosen dengan materi yang cukup asing buat aku, dengan metode yang kurang bikin aku comfort, dengan jadwal yang juga kurang bersahabat, dan suasana kelas yang lagi-lagi dak juga mau bersahabat denganku.
Jadi hari itu, aku uda uring-uringan duluan karena membayangkan suasana yang itu-itu saja dan keadaanku yang tak kunjung membaik. Tapi ya mau dak mau, suka dak suka, aku tetep harus mengayunkan kaki dan melangkah…Walaupun langganan terlambat, yang penting aku uda cukup berusaha untuk tepat waktu. Dan siang itu, pertama kalinya dalam sejarah dunia, aku datang mendahului bapak dosen itu..Dari situ aku kemudian semakin meyakini bahwa ada banyak manfaat yang bisa aku ambil jika aku mempercepat jam di hpku. Jadi kesannya aku tidak akan males-malesan lagi dan tidak akan mendegar ceramah dari hatiku sendiri, tentang aku yang ga disiplin waktu, ga bisa menghargai waktu, orang yang hanya bisa membaca surat al-ashr, dan lain-lain.
Masuk kelas, temen2 belum pada dateng. Bapak dosen tu ndak biasanya bawa sound kecil. Tu artinya bakal ada yang laen dalam kuliahnya hari ini. Audiovisual tentunya. Aku segera mencari posisi yang enak, sebab kata Yudi, posisi menentukan prestasi. Hehehe. Jadi bener juga, sesudah basa-basi dikit, bapak tu kemudian bilang bahwa ia tidak akan menghadiri MK selama dua pertemuan (sampai di sini, aku bersorak kegirangan, dalam hati…), dan karenanya, dua pertemuan MK itu akan diganti dengan tugas. Tugasnya sederhana; me-review film atau dokmentasi PKL anak SA di gunung Kemukus. Hm…Aku pernah denger nama ini, kalo ndak salah pas rapat di jurusan. Pas itu aku jadi panitia sosialisasi jurusan saat ada lomba gerak jalan antarSMA se-DIY. Jadi salah satu anggota rapat mengusulkan pemutaran film gitu…Nah filmnya ya ini…Saat itu aku dak sempet liat, karena aku kebagian di tempat jual minuman depan Pusba, bukan di stand depan MP.
Apa ya, kesan pertamaku? Kesan pertamaku ya..TANYA. Apaan sich, Kemukus nech? Abis gitu, aku harus merelakan waktu terasa berjalan sangat lambat saat laptop tu dosen dak konek-konek ke layar. Uda dicoba berkali-kali, tapi tetap ndak bisa. Tu dosen sampe naek turun kursi untuk ngidupin ohp. Tapi tetep aja di layar bacaannya no signal. Nach, kami semua hanya bengong ngeliat dosen tu. Lebih tepatnya prihatin namun tidak mau ambil tindakan. Kasian banget sebenernya. Tapi ya, karena pada akhirnya bisa konek, konsentrasiku kemudian beralih pada film itu. Palagi pas dosen tu wanti-wanti, film ini dak akan diulang dan bahwa kami tidak akan diberi filenya. Gitu katanya. Jadi aku harus full attention gitu.
Openingnya dak langsung ke dokumentasi PKL tu, tapi masih ada dokumentasi demo2 mahasiswa SA pas jurusan SA mau ditutup. Prediksiku sich..Sebab aku taunya cuma kayak gitu. Baru pas 2008, jurusan SA dibuka kembali. Sebelumnya katanya sempat ditutup, entah kapan dan kenapa. Padahal menurut aku ne jurusan ok juga, setidaknya sebagai manifestasi dari integrasi interkoneksinya Pak Amien gitu…Jadi khan agama dak hanya berdiam di menara gading doktrin dan normativitas2, tapi juga berada di tengah-tengah fenomena apapun dalam kehidupan masyarakat. Udah ah, ceramahnya. Di dokumentasi itu, aku hanya sempet liat bak Kiki. Keren gile emang seniorku yang satu ini. Aku kagum sama intelegensi dan retorikanya.
Dilanjutin malah tambah panjang dan digretif nech ntar. Jadi ternyata Kemukus itu adalah nama sebuah gunung di daerah Sragen. Aku taunya pas di opening. Tentang alasan penamannya aku dak gitu inget, tapi yang sempet terekam dalam ingatanku adalah bahwa Kemukus tu nama sebuah ketinggian, berasal dari kata kukus yang kemudian mendapat sisipan.. Jadi pas ngasih gambaran awal, dosenku tu mengatakan bahwa di gunung ini ada semacam ritual mencari pesugihan yang dipercaya mujarab oleh masyarakat. Banyak mungkin tempat-tempat yang kayak gitu. Tapi yang bikin beda adalah karena gunung Kemukus ini ternyata tidak hanya menjadi tempat mencari pesugihan, namun juga tempat melakukan hubungan seksual. Lho, apa hobongannya? Pensaran nda? Makanya terusin baca..
Jadi di gunung tu ada makam seorang pangeran, kalo ndak salah namanya pangeran Samudro. Suatu versi mengatakan dia adalah putra Pangeran Brawijaya, sedang versi lain mengatakan bahwa pangeran Samudera ne adalah putra raden Patah. Sintesis kreatifnya, ne pangeran adalah putra seorang raja yang memimpin sebuah kerajaan. Jadi orang-orang yang mencari pesugihan tu berziarah ke makam pangeran ne. Aku dak tau jelas apa kesitimewaan pangeran ne mpe nisan dia bisa dianggap sebagai wasilah agar pengunjung nisan ne bisa jadi kaya. Sekilas cerita yang disebutkan oleh seorang responden dalam PKL ini cuma mengisahkan bahwa pangeran ne terlibat cinta terlarang ma ibu tirinya. Nach loch? Aku jadi inget ceritane cacak tentang kisah cinta (yang lagi-lagi) terlarang antara anak dan ibu kandungnya; asal muasal gunung Tangkuban Perahu gtow. Dak tau bagaimana kisah cinta mereka, tiba2 diceritakan bahwa pangeran ne escape dari istananya dan menetap di gunung ini. Karena mungkin dia dak biasa dengan keadaan yang jauh berbeda dengan tempatnya semula, si pangeran kemudian sakit di situ.
Kabar sakitnya pangeran ne akhirnya sampai juga ke telinga warga kerajaan. Sayang, ayahnya dak mau jenguk dia ke gunung ini. Dak tau juga kenapa. Barangkali karena waktu itu, kisah cinta terlarang mereka uda diendus apa gimana. Tapi yang jelas, hanya ibu tirinyalah yang kemudian menyusul dan menjenguk pangeran yang sedang sakit tersebut. Nach…Setelah kedatangan ibu tiri sekaligus kekasihnya ne, si pangeran katanya kemudian meninggal.
Adegan awal dalam dokumenter ini cukup membosankan, salah satunya karena dokumennya yang uda rusak di sana-sini, jadi kadang masih suka putus-putus ga karuan gitu. Apalagi pas itu yang disorot adalah wawancara-wawancara dengan beberapa tokoh yang banyak tau dan atau berkaitan dengan gunung ini. Ya juru kunci lah, ya pak rt nya, pak lurah, hingga kepala dinas pariwisata. Jadi emang cukup mboseni, untung si narator suaranya enak didenger dan retorikanya bagus. Belakangan aku tau kalo narator ne ternyata bak Kiki.
Hm..jadi ada beberapa ritual yang dilakukan seorang peziarah yang mengunjungi tempat mencari pesugihan ini. Ritual2 tu seingatku adalah mengunjungi sendang Ontrowulan yang kabarnya dulu merupakan tempat si ibu tiri Pangeran Samudro mandi. Di sini katanya pengujung biasa mengambil aer gtow. Sedang Sendang yang kedua adlah Sendang Taruno, yang merupakan tempat mandi setelah melakukan hubungan seksual.
Hm…jadi gini, sebatas yang aku tangkap ajah ya…Kisah cinta Pangeran Samudro dan Ibu tirinya tu khan bernama lain perselingkuhan, jadi mungkin mereka berdua juga pernah melewatkan waktu bersama di gunung ini. Pacaran mungkin ya istilahnya. Mbuh lah, tapi yang jelas, kisah cinta mereka ini kemudian menjadi semacam justifikasi atau legalitas bagi pengunjung untuk juga mengulang cerita yang sama, dengan waktu dan aktor yang berbeda. Ya, maksudnya, salah satu bagian dari ritual untuk mendapatkan pesugihan itu adalah..melakukan hubungan sesksual dengan pasangan yang tidak resmi.
Faham ndak? Ya maksud aku, ketika berkunjung ke gunung ini dan berniat mencari pesugihan, maka semua syarat yang ada harus dupenuhi..termasuk juga melakukan hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangannya. Ok, sampai di sini, mungkin aku berpikir, ini syaraf, gile, ga logis sama sekali, mana mungkin perselingkuhan dilegalkan hanya dengan alasan untuk mencari pesugihan, dan beberapa lontaran dak enak lainnya. Tapi, once more, aku tengah berada dalam kelas Antropologi Agama. Aku berkapasitas sebagai seorang peneliti yang menuturkan apa adanya, bukan apa seharusnya..jadi beberapa pikiran dan keheranan itu, bukan bahan yang akan aku masukin dalam tugas reviewku, walaupun sulit rasanya untuk tidak menyinggung hal tersebut dalam tugas itu,,(Ya, meski saat ngomong perselingkuhan dan term semacamnya, memang ada sisi hatiku yang nyerinya tak terperi. Ah lebay.)
Well, akademisi harus profesional. Jadi aku pikir, tradisi yang kabarnya sudah mengakar ini adalah salah satu manifestasi manusia yang berpikiran pragmatik dan mau segalanya serba instan. Hal ini barangkali wajar, karena persaingan ekonomi dan jerat-jerat kapitalisme uda begitu tebal di negara ini. Jadi, disebabkan juga masih belum mengendapnya kepercayaan mistis-mistis dalam masyarakat Indonesia, ritual mencari pesugihan ke gunung Kemukus ini merupakan sebuah alternatif. Ya, meski, dak ada yang instan dan mudah bener. Pengunjung dan subjek ritual ini harus sejenak membekam suara nuraninya saat melewati berbagai proses dalam ritualnya mencari pesugihan. Ya, utamanya pada proses melakukan hubungan seksual.
Nek ritual-ritual sebelumnya yow, relatif sering dilakukan oleh banyak orang. Ziarah ke kuburan orang yang dianggap berpengaruh, mandi dan mengambil air di tempat yang juga dianggap memiliki hal di luar bentuk fisikya khan emang uda cukup sering dilakukan dalam ritual-ritual lain. Tapi proses yang bisa dibilang beda ma yang laen ya proses melakukan hubungan seksual. (Ingin banget aku tulis, kalo memang yang dilakukan uda ndak bae, napa masih diikuti? Apa ndak lebih baik mencontoh sisi baik dalam diri seseorang? Tidak kemudian semua sisinya? Khan tiap orang punya dua sisi yang saling bertolakbelakang? Ooooooooopss…aku bukan pendakwah yang memandang segala hal dalam kcamata hitam putih,,Hohoho,,,)
Terus apalagi ya, yang ingin aku tulis di sini? Yang jelas aku ingin nonton tu laporan PKL lagi. Banyak hal yang belum aku fahami utuh dari fragmen-fragmen sejarahnya yang mungkin emang penting untuk diketahui. Di catatnku sich ada tulisan gini, satu nisan dua jasad. Aku lupa blas bagaimana dan siapa yang ada di nisan itu. Mungkinkan Pangeran Samudero dan ibu tirinya itu? Mengapa harus dimakamkah dalam satu liang lahat? Kayak korban bencana ajah..Nah, kayaknya ne fragmen penting. Kalo aku dak tau, dak mungkin komprehensif ntar, jadinya…Terus ada juga catatan tentang Pohon Nogosari. Yang aku inget, dari pohon ini pernah jatuh seuntai bunga yang kemudian menjadi apaaaaaa gitu.
Nah, ini lagi nech, jadi karena salah satu proses dan atau syarat yang harus dilewati dalam ritual ini adalah melakukan hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan, maka secara otomatis dan bisa diperkirakan oleh siapa saja, tempat ini kemudian menjadi semacam lokalisasi prostitusi tempet nongkrongnya PSK, pria maupun wanita yang seolah-oleh dilegalkan oleh hukum adat. Beh. Ya emang kayak gitu katanya. Jadi emang logis sich..Kalo si pengunjung bawa selingkuhannya dari rumah, mungkin jadi ga gitu berhasil ya, pesugihannya? He..mungkinkah begitu? Jadi ya…Ternyata ada fenomena lain di balik di Gunung Kemukus ini selain mencari pesugihan..kendatipun keduanya sama-sama bermotif ekonomi. Ya, suatu keniscayaan emang, kalo sudah ada syarat atau proses yang demikian, bukankah seorang pengunjung pasti akan membutuhkan seorang teman kencan yang bisa membantunya menyelesaikan semua proses dalam melakukan ritual ini?
Pertanyaannya, bagaimana respon pemerintah setempat? Tomas, misalnya juga? Wah yang ne kurang tau,,soale pihak-pihak yang diwawncarai di situ kebanyakan hanya menceritakan kisah dan asal muasal gunung ini, bagaimana eksistensinya dalam mendongkrak pendapatan daerah, bagaimana kemudian pemerintah setempat melakukan perbaikan-perbaikan struktur infrastrukutur di wilayah yang dianggap sebagai objek wisata ne, dll. Ga da satupun perbincangn yang mengarah pada legalitas prostitusi yang uda menjadi bagian tak terpisahkan gitu…
Hal lain yang bisa dilihat dari Kemukus adalah..Perselingkuhan, cinta sesaat dan atau cinta lokasi (meski aja berlanjut panjang), dan tentunya paradoksa. Paradoksa yang buat aku sebuah ironi juga. Tiap orang mungkin beda-beda menanggapinya. Tapi koq aku tetap mengherankan, bagaimana kemudian seseorang (utamanya yang uda menikah) rela mengorbankan kesetiannya pada pasangan demi mencari shortcut dalam bidang ekonomi? Belum lagi ancaman kesehatan gtow di dalam praktik kayak gituan. Ya tujuannya emang mulya, sangat mulya bahkan,, namun jika caranya demikian, masih mulyakah tujuan yang ia pegang? Dan tentang cinta serta penghianatan..sebenernya, apa hubungan antarkedua kata ini? Benarkah cinta terlahir memang untuk mendapat sebuah penghianatan? (Beh..Ini jadi tendensius kalo gne..)
Yauda biar ga nyrempet ke mana-mana, mungkin ada baiknya aku bikin epilog tulisan ini aja. Epilognya sederhana ajah dech,, seperti yang sudah biasa aku pikirkan, suatu hal dan keadaan tidak hanya memuat satu unsur. Fenomena Kemukus misalnya, ada banyak sisi di situ…Ritual, warisan sejarah, kepercayaan (atau taklid?), keyakinan, pragmatisme, pertarungan madzhab proses-hasil, ekonomi, cinta, perselingkuhan…dan akhirnya semua bermuara pada satu kata; KOMPLEKSITAS!!! Banyaknya sisi yang termuat dalam satu fenonema ini pada akhirnya berpengaruh terhadap pandangan atau penilaian kita terhadap objek yang bersangkutan. Gampangnya, Kemukus dak fair jika dilihat hanya dari sisi mencari pesugihan aja, dari sisi ekonomi aja, dan dari satu sisi-satu sisi lain yang kemudian menjebak pada sikap miopi.
Jadi hari itu, aku uda uring-uringan duluan karena membayangkan suasana yang itu-itu saja dan keadaanku yang tak kunjung membaik. Tapi ya mau dak mau, suka dak suka, aku tetep harus mengayunkan kaki dan melangkah…Walaupun langganan terlambat, yang penting aku uda cukup berusaha untuk tepat waktu. Dan siang itu, pertama kalinya dalam sejarah dunia, aku datang mendahului bapak dosen itu..Dari situ aku kemudian semakin meyakini bahwa ada banyak manfaat yang bisa aku ambil jika aku mempercepat jam di hpku. Jadi kesannya aku tidak akan males-malesan lagi dan tidak akan mendegar ceramah dari hatiku sendiri, tentang aku yang ga disiplin waktu, ga bisa menghargai waktu, orang yang hanya bisa membaca surat al-ashr, dan lain-lain.
Masuk kelas, temen2 belum pada dateng. Bapak dosen tu ndak biasanya bawa sound kecil. Tu artinya bakal ada yang laen dalam kuliahnya hari ini. Audiovisual tentunya. Aku segera mencari posisi yang enak, sebab kata Yudi, posisi menentukan prestasi. Hehehe. Jadi bener juga, sesudah basa-basi dikit, bapak tu kemudian bilang bahwa ia tidak akan menghadiri MK selama dua pertemuan (sampai di sini, aku bersorak kegirangan, dalam hati…), dan karenanya, dua pertemuan MK itu akan diganti dengan tugas. Tugasnya sederhana; me-review film atau dokmentasi PKL anak SA di gunung Kemukus. Hm…Aku pernah denger nama ini, kalo ndak salah pas rapat di jurusan. Pas itu aku jadi panitia sosialisasi jurusan saat ada lomba gerak jalan antarSMA se-DIY. Jadi salah satu anggota rapat mengusulkan pemutaran film gitu…Nah filmnya ya ini…Saat itu aku dak sempet liat, karena aku kebagian di tempat jual minuman depan Pusba, bukan di stand depan MP.
Apa ya, kesan pertamaku? Kesan pertamaku ya..TANYA. Apaan sich, Kemukus nech? Abis gitu, aku harus merelakan waktu terasa berjalan sangat lambat saat laptop tu dosen dak konek-konek ke layar. Uda dicoba berkali-kali, tapi tetap ndak bisa. Tu dosen sampe naek turun kursi untuk ngidupin ohp. Tapi tetep aja di layar bacaannya no signal. Nach, kami semua hanya bengong ngeliat dosen tu. Lebih tepatnya prihatin namun tidak mau ambil tindakan. Kasian banget sebenernya. Tapi ya, karena pada akhirnya bisa konek, konsentrasiku kemudian beralih pada film itu. Palagi pas dosen tu wanti-wanti, film ini dak akan diulang dan bahwa kami tidak akan diberi filenya. Gitu katanya. Jadi aku harus full attention gitu.
Openingnya dak langsung ke dokumentasi PKL tu, tapi masih ada dokumentasi demo2 mahasiswa SA pas jurusan SA mau ditutup. Prediksiku sich..Sebab aku taunya cuma kayak gitu. Baru pas 2008, jurusan SA dibuka kembali. Sebelumnya katanya sempat ditutup, entah kapan dan kenapa. Padahal menurut aku ne jurusan ok juga, setidaknya sebagai manifestasi dari integrasi interkoneksinya Pak Amien gitu…Jadi khan agama dak hanya berdiam di menara gading doktrin dan normativitas2, tapi juga berada di tengah-tengah fenomena apapun dalam kehidupan masyarakat. Udah ah, ceramahnya. Di dokumentasi itu, aku hanya sempet liat bak Kiki. Keren gile emang seniorku yang satu ini. Aku kagum sama intelegensi dan retorikanya.
Dilanjutin malah tambah panjang dan digretif nech ntar. Jadi ternyata Kemukus itu adalah nama sebuah gunung di daerah Sragen. Aku taunya pas di opening. Tentang alasan penamannya aku dak gitu inget, tapi yang sempet terekam dalam ingatanku adalah bahwa Kemukus tu nama sebuah ketinggian, berasal dari kata kukus yang kemudian mendapat sisipan.. Jadi pas ngasih gambaran awal, dosenku tu mengatakan bahwa di gunung ini ada semacam ritual mencari pesugihan yang dipercaya mujarab oleh masyarakat. Banyak mungkin tempat-tempat yang kayak gitu. Tapi yang bikin beda adalah karena gunung Kemukus ini ternyata tidak hanya menjadi tempat mencari pesugihan, namun juga tempat melakukan hubungan seksual. Lho, apa hobongannya? Pensaran nda? Makanya terusin baca..
Jadi di gunung tu ada makam seorang pangeran, kalo ndak salah namanya pangeran Samudro. Suatu versi mengatakan dia adalah putra Pangeran Brawijaya, sedang versi lain mengatakan bahwa pangeran Samudera ne adalah putra raden Patah. Sintesis kreatifnya, ne pangeran adalah putra seorang raja yang memimpin sebuah kerajaan. Jadi orang-orang yang mencari pesugihan tu berziarah ke makam pangeran ne. Aku dak tau jelas apa kesitimewaan pangeran ne mpe nisan dia bisa dianggap sebagai wasilah agar pengunjung nisan ne bisa jadi kaya. Sekilas cerita yang disebutkan oleh seorang responden dalam PKL ini cuma mengisahkan bahwa pangeran ne terlibat cinta terlarang ma ibu tirinya. Nach loch? Aku jadi inget ceritane cacak tentang kisah cinta (yang lagi-lagi) terlarang antara anak dan ibu kandungnya; asal muasal gunung Tangkuban Perahu gtow. Dak tau bagaimana kisah cinta mereka, tiba2 diceritakan bahwa pangeran ne escape dari istananya dan menetap di gunung ini. Karena mungkin dia dak biasa dengan keadaan yang jauh berbeda dengan tempatnya semula, si pangeran kemudian sakit di situ.
Kabar sakitnya pangeran ne akhirnya sampai juga ke telinga warga kerajaan. Sayang, ayahnya dak mau jenguk dia ke gunung ini. Dak tau juga kenapa. Barangkali karena waktu itu, kisah cinta terlarang mereka uda diendus apa gimana. Tapi yang jelas, hanya ibu tirinyalah yang kemudian menyusul dan menjenguk pangeran yang sedang sakit tersebut. Nach…Setelah kedatangan ibu tiri sekaligus kekasihnya ne, si pangeran katanya kemudian meninggal.
Adegan awal dalam dokumenter ini cukup membosankan, salah satunya karena dokumennya yang uda rusak di sana-sini, jadi kadang masih suka putus-putus ga karuan gitu. Apalagi pas itu yang disorot adalah wawancara-wawancara dengan beberapa tokoh yang banyak tau dan atau berkaitan dengan gunung ini. Ya juru kunci lah, ya pak rt nya, pak lurah, hingga kepala dinas pariwisata. Jadi emang cukup mboseni, untung si narator suaranya enak didenger dan retorikanya bagus. Belakangan aku tau kalo narator ne ternyata bak Kiki.
Hm..jadi ada beberapa ritual yang dilakukan seorang peziarah yang mengunjungi tempat mencari pesugihan ini. Ritual2 tu seingatku adalah mengunjungi sendang Ontrowulan yang kabarnya dulu merupakan tempat si ibu tiri Pangeran Samudro mandi. Di sini katanya pengujung biasa mengambil aer gtow. Sedang Sendang yang kedua adlah Sendang Taruno, yang merupakan tempat mandi setelah melakukan hubungan seksual.
Hm…jadi gini, sebatas yang aku tangkap ajah ya…Kisah cinta Pangeran Samudro dan Ibu tirinya tu khan bernama lain perselingkuhan, jadi mungkin mereka berdua juga pernah melewatkan waktu bersama di gunung ini. Pacaran mungkin ya istilahnya. Mbuh lah, tapi yang jelas, kisah cinta mereka ini kemudian menjadi semacam justifikasi atau legalitas bagi pengunjung untuk juga mengulang cerita yang sama, dengan waktu dan aktor yang berbeda. Ya, maksudnya, salah satu bagian dari ritual untuk mendapatkan pesugihan itu adalah..melakukan hubungan sesksual dengan pasangan yang tidak resmi.
Faham ndak? Ya maksud aku, ketika berkunjung ke gunung ini dan berniat mencari pesugihan, maka semua syarat yang ada harus dupenuhi..termasuk juga melakukan hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangannya. Ok, sampai di sini, mungkin aku berpikir, ini syaraf, gile, ga logis sama sekali, mana mungkin perselingkuhan dilegalkan hanya dengan alasan untuk mencari pesugihan, dan beberapa lontaran dak enak lainnya. Tapi, once more, aku tengah berada dalam kelas Antropologi Agama. Aku berkapasitas sebagai seorang peneliti yang menuturkan apa adanya, bukan apa seharusnya..jadi beberapa pikiran dan keheranan itu, bukan bahan yang akan aku masukin dalam tugas reviewku, walaupun sulit rasanya untuk tidak menyinggung hal tersebut dalam tugas itu,,(Ya, meski saat ngomong perselingkuhan dan term semacamnya, memang ada sisi hatiku yang nyerinya tak terperi. Ah lebay.)
Well, akademisi harus profesional. Jadi aku pikir, tradisi yang kabarnya sudah mengakar ini adalah salah satu manifestasi manusia yang berpikiran pragmatik dan mau segalanya serba instan. Hal ini barangkali wajar, karena persaingan ekonomi dan jerat-jerat kapitalisme uda begitu tebal di negara ini. Jadi, disebabkan juga masih belum mengendapnya kepercayaan mistis-mistis dalam masyarakat Indonesia, ritual mencari pesugihan ke gunung Kemukus ini merupakan sebuah alternatif. Ya, meski, dak ada yang instan dan mudah bener. Pengunjung dan subjek ritual ini harus sejenak membekam suara nuraninya saat melewati berbagai proses dalam ritualnya mencari pesugihan. Ya, utamanya pada proses melakukan hubungan seksual.
Nek ritual-ritual sebelumnya yow, relatif sering dilakukan oleh banyak orang. Ziarah ke kuburan orang yang dianggap berpengaruh, mandi dan mengambil air di tempat yang juga dianggap memiliki hal di luar bentuk fisikya khan emang uda cukup sering dilakukan dalam ritual-ritual lain. Tapi proses yang bisa dibilang beda ma yang laen ya proses melakukan hubungan seksual. (Ingin banget aku tulis, kalo memang yang dilakukan uda ndak bae, napa masih diikuti? Apa ndak lebih baik mencontoh sisi baik dalam diri seseorang? Tidak kemudian semua sisinya? Khan tiap orang punya dua sisi yang saling bertolakbelakang? Ooooooooopss…aku bukan pendakwah yang memandang segala hal dalam kcamata hitam putih,,Hohoho,,,)
Terus apalagi ya, yang ingin aku tulis di sini? Yang jelas aku ingin nonton tu laporan PKL lagi. Banyak hal yang belum aku fahami utuh dari fragmen-fragmen sejarahnya yang mungkin emang penting untuk diketahui. Di catatnku sich ada tulisan gini, satu nisan dua jasad. Aku lupa blas bagaimana dan siapa yang ada di nisan itu. Mungkinkan Pangeran Samudero dan ibu tirinya itu? Mengapa harus dimakamkah dalam satu liang lahat? Kayak korban bencana ajah..Nah, kayaknya ne fragmen penting. Kalo aku dak tau, dak mungkin komprehensif ntar, jadinya…Terus ada juga catatan tentang Pohon Nogosari. Yang aku inget, dari pohon ini pernah jatuh seuntai bunga yang kemudian menjadi apaaaaaa gitu.
Nah, ini lagi nech, jadi karena salah satu proses dan atau syarat yang harus dilewati dalam ritual ini adalah melakukan hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan, maka secara otomatis dan bisa diperkirakan oleh siapa saja, tempat ini kemudian menjadi semacam lokalisasi prostitusi tempet nongkrongnya PSK, pria maupun wanita yang seolah-oleh dilegalkan oleh hukum adat. Beh. Ya emang kayak gitu katanya. Jadi emang logis sich..Kalo si pengunjung bawa selingkuhannya dari rumah, mungkin jadi ga gitu berhasil ya, pesugihannya? He..mungkinkah begitu? Jadi ya…Ternyata ada fenomena lain di balik di Gunung Kemukus ini selain mencari pesugihan..kendatipun keduanya sama-sama bermotif ekonomi. Ya, suatu keniscayaan emang, kalo sudah ada syarat atau proses yang demikian, bukankah seorang pengunjung pasti akan membutuhkan seorang teman kencan yang bisa membantunya menyelesaikan semua proses dalam melakukan ritual ini?
Pertanyaannya, bagaimana respon pemerintah setempat? Tomas, misalnya juga? Wah yang ne kurang tau,,soale pihak-pihak yang diwawncarai di situ kebanyakan hanya menceritakan kisah dan asal muasal gunung ini, bagaimana eksistensinya dalam mendongkrak pendapatan daerah, bagaimana kemudian pemerintah setempat melakukan perbaikan-perbaikan struktur infrastrukutur di wilayah yang dianggap sebagai objek wisata ne, dll. Ga da satupun perbincangn yang mengarah pada legalitas prostitusi yang uda menjadi bagian tak terpisahkan gitu…
Hal lain yang bisa dilihat dari Kemukus adalah..Perselingkuhan, cinta sesaat dan atau cinta lokasi (meski aja berlanjut panjang), dan tentunya paradoksa. Paradoksa yang buat aku sebuah ironi juga. Tiap orang mungkin beda-beda menanggapinya. Tapi koq aku tetap mengherankan, bagaimana kemudian seseorang (utamanya yang uda menikah) rela mengorbankan kesetiannya pada pasangan demi mencari shortcut dalam bidang ekonomi? Belum lagi ancaman kesehatan gtow di dalam praktik kayak gituan. Ya tujuannya emang mulya, sangat mulya bahkan,, namun jika caranya demikian, masih mulyakah tujuan yang ia pegang? Dan tentang cinta serta penghianatan..sebenernya, apa hubungan antarkedua kata ini? Benarkah cinta terlahir memang untuk mendapat sebuah penghianatan? (Beh..Ini jadi tendensius kalo gne..)
Yauda biar ga nyrempet ke mana-mana, mungkin ada baiknya aku bikin epilog tulisan ini aja. Epilognya sederhana ajah dech,, seperti yang sudah biasa aku pikirkan, suatu hal dan keadaan tidak hanya memuat satu unsur. Fenomena Kemukus misalnya, ada banyak sisi di situ…Ritual, warisan sejarah, kepercayaan (atau taklid?), keyakinan, pragmatisme, pertarungan madzhab proses-hasil, ekonomi, cinta, perselingkuhan…dan akhirnya semua bermuara pada satu kata; KOMPLEKSITAS!!! Banyaknya sisi yang termuat dalam satu fenonema ini pada akhirnya berpengaruh terhadap pandangan atau penilaian kita terhadap objek yang bersangkutan. Gampangnya, Kemukus dak fair jika dilihat hanya dari sisi mencari pesugihan aja, dari sisi ekonomi aja, dan dari satu sisi-satu sisi lain yang kemudian menjebak pada sikap miopi.
Hmhm...
NgoredZ
Sabtu, 05 Desember 2009
Gara-Gara Overbored...(Nulis by order jadi Gen-Gegen )
Perempuan Berkalung Sorban;
Tradisionalitas dan Modernitas
Film yang diangkat dari novel karangan Abiedah el-Khaliqy ini banyak menggambarkan konflik, benturan, dan perebutan antar budaya tradisional dengan budaya modern yang berlatar kehidupan pesantren. Hal yang menjadikan film ini sedikit berbeda barangkali adalah setting yang dipilih. Perbenturan budaya modern dan budaya tradisional dalam film-film Indonesia bukanlah merupakan hal yang baru, namun demikian jika bidikan film ini adalah budaya tradisional dan budaya modern ala pesantren, maka hal yang demkian cukup menjadi alasan untuk menyebut film ini berbeda dengan yang lain.
Pesantren yang menjadi setting dalam film ini tergolong pesantren yang bercorak tradisional yang otomatis juga memuat budaya-budaya tradisional. Tema besar yang juga diusung penulis novel ini, selain benturan dua kebudayaan juga menyangkut tema kesetaraan gender. Bagaimana kemudian konsepsi tradisional dalam film ini dipertemukan dengan konsep kesetaraan gender (yang notabene merupakan salah satu wujud budaya modern) adalah adanya penggambaran marginalisasi wanita dalam ranah-ranah tertentu. Marginaliasi tersebut mendapat legitimasi dari budaya tradisional yang menggariskan kodrat wanita sebagai mahluk kelas dua yang hanya berdiam di kasur, di dapur, dan di sumur.
Metafor-metafor yang menggambarkan benturan dua konsepsi tersebut misalnya adalah saat Anisa (diperankan oleh Nasya Abigail pada masa kanak-kanak dan Revalina S. Temat pada masa dewasa) mendapat larangan keras untuk menunggang kuda, menjadi ketua kelas, dan untuk berjalan di luar area pesantren. Dalam beberapa momen ini, Annisa yang digambarkan sebagai seorang yang kritis bukannya tidak menolak. Namun demikian, ia terkalahkan oleh otoritas abi-nya (panggilan untuk ayah dalam Bahasa Arab) sebagai kepala keluarga dan pemimpin pesantren. Annisa kemudian hanya memendak keinginan-keinginannya yang dianggap aneh dan sesekali mencuri kesempatan untuk mewujudkan keinginan-keinginannya.
Puncak dari beberapa hal kurang menyenangkan pada masa kanak-kanak dan menjelang remajanya terjadi manakala ia ditinggalkan oleh teman bermain terdekat yang juga familinya, Khudori (diperankan Oka Antara) yang akan melanjutkan pendidikan. Khudori digambarkan sebagai seseorang yang selalu memahami keinginan-keinginan ‘gila’ Annisa. Selepas Aliyah, Annisa yang berkeinginan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah harus mengurungkan niatnya sebab ia dipaksa menikah dengan anak lelaki teman ayahnya. Pernikahan Annisa dengan Syamsuddin (diperankah oleh Reza Rahadian) senyatanya juga merupakan pernikahan dua pesantren yang kental dengan nuansa kapitalisme. Secara ekonomi, orang tua Syamsuddin memiliki beberapa link potensial yang bisa dijadikan sasaran proposal untuk membesarkan pesantren Al Huda.
Sampai di sini, ada beberapa representasi budaya modern yang muncul dari pikiran (dan kemudian tindakan Annisa) yang berupaya menolak ketidakadilan yang dialaminya. Annisa menginginkan adanya kebebasan dan hak yang setara antar wanita dan lelaki. Hal ini misalnya tergambar saat Annisa mempertanyakan mengapa ayahnya melarang dirinya menunggang kuda sedangkan dua saudara lelakinya tidak mendapat teguran. Annisa kemudian juga tidak habis pikir mengapa ayahnya tidak memberi idzin dan lampu hijau baginya untuk melanjutkan pendidikan sebagaimana yang didapatkan dua kakak lelakinya.
Alur cerita selanjutnya menyajikan konsepsi-konsepsi yang tidak jauh berbeda, yakni berputar di area benturan dua kebudayaan dan kesetaraan gender. Setelah menjalani pernikahan dengan Syamsuddin, sosok Annisa yang mendambakan kebebasan dan kesetaraan malah semakin menemukan keadaan yang lebih buruk dengan keadaan rumah tangga yang sama sekali tidak ia harapkan. Syamsuddin sering berlaku kasar kepadanya dan Annisa pun, dengan kekuatan fisiknya yang lemah, hanya bisa memberikan perlawanan sebisanya
Syamsuddin kemudian muncul sebagai tokoh yang amat sangat berpegang teguh pada budaya tradisional patriarki dan memandang wanita sebagai manusia kelas dua. Ia menganggap dirinya memiliki otoritas mutlak sebagai suami dan donatur terbesar pesantren milik ayah Annisa. Ia melarang Annisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah dengan alasan kodrat wanita tidaklah berada dalam wilayah publik, namun di wilayah domestik. Annisa pada dasarnya menentang pemahaman Syamsuddin tersebut, namun ia tidak memiliki cukup daya untuk terbebas dari kungkungan suaminya.
Pemikiran tradisionalis yang mendarah daging dalam diri Syamsuddin juga banyak dikendalikan oleh watak dan kebiasaannya yang kurang baik. Ia tidak memberikan kasih sayang yang tulus pada Annisa dan tidak pernah memberi perlakuan yang pantas. Ia melegitimasi segala tindakan –yang tidak berkeprimanusiaan tersebut—dengan konsep bahwa dalam rumah tangga, suami menjelma seorang raja dan isteri adalah budaknya.
Superioritas dan keangkuhan Syamsuddin ini pada gilirannya menggiring Annisa pada perceraian yang sangat ia inginkan. Dalam sebuah adegan yang penuh suspense, Syamsuddin menceraikan Annisa di hadapan khalayak setelah memfitnah Annisa tengah melakukan zina dengan Khudori yang saat itu telah kembali ke Indonesia. Ayah Annisa mendapat serangan jantung dalam adegan ini dan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah tidak memiliki keterikatan dengan Syamsuddin, Annisa mulai mengejar ketertinggalannya dan membuka kehidupan barunya di Yogyakarta. Ia memulai pendidikan kampus, merintis karier kepenulisan, dan bekerja di sebuah LSM yang concern pada hak-hak perempuan. Dari ketiga aktivitasnya ini, Annisa berusaha mewujudkan angan-angan yang sempat ia pendam lama. Saat ini pulalah ia kembali bertemu dengan Khudori dan kemudian menikah.
Sayangnya, Annisa kembali harus berpisah dengan Khudori setelah Khudori mengalami kecelakaan lalu lintas. Di sini, representasi seorang perempuan yang ‘bisa berdiri’ tanpa topangan seorang lelaki kembali diperkuat dengan beberapa adegan yang meski menunjukkan betapa rapuhnya Annisa sepeninggal Bukhari, namun ia tetap teguh pada komitmen dan concern-nya. Terwujudnya cita-cita Annisa untuk memasyarakatkan membaca dan menulis di pesantren milik ayahnya pada ending film ini merupakan puncak dari perjuangan dan perjalanan hidupnya.
Penokohan dalam film ini cukup kuat, namun sayang, munculnya pemikiran modern dalam diri Annisa ini kurang begitu masuk akal jika mengingat bahwa ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang notabene—dalam fim tersebut—digambarkan sebagai institusi dengan kekentalan budaya tradisional. Tidak ada adegan yang paling tidak menggambarkan akses informasi Annisa kecil yang kemudian memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang kebanyakan. Ilustrasi-ilustrasi dalam film ini justru didominasi oleh indoktrinisasi (dengan ucapan maupun perbuatan) mengenai peran wanita sebagai manusia kelas dua. Dengan ini pula, tidak berlebihan kiranya jika kemudian muncul asumsi bahwa ada beberapa hal penting dalam film ini yang terkesan dipaksakan.
Budaya tradisional yang tampak dalam film ini paling tidak direpresentasikan oleh ayah Anisa dan beberapa ustadz maupun birokrat pesantren yang masih terbaku dan terbekukan oleh doktrin-doktrin klasik yang kurang beralasan. Hal ini misalnya tampak ketika Annisa mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan ketua kelas, posisinya diganti dengan teman lelakinya yang memiliki nilai lebih rendah dibanding Annisa. Dengan mengutip suatu kandungan hadist—yang mengatakan bahwa perempuan tidak layak menjadi pemimpin--, ustadz tersebut kemudian memutuskan bahwa jabatan ketua kelas yang sebenarnya merupakan milik Annisa digeser pada kandidat lain sebab kandidat tersebut adalah lelaki.
Representasi budaya tradisional tersebut juga banyak digambarkan dengan sikap taklid buta terhadap doktrin-doktrin budaya klasik yang memunculkan phobia hebat terhadap hal-hal baru. Hal ini misalnya terjadi saat Annisa mendapat murka ayahnya hanya karena mengunjungi bioskop dan pada saat birokrat pesantren yang membakar semua buku yang dianggap merupakan buku luar dengan kekhawatiran akan mencetak santri menjadi manusia liar.
Tidak dapat dipungkiri, pemikiran tradisional ini berkaitan erat dengan pemahaman yang –maaf—kaku terhadap ajaran agama dan konstruk sosial-budaya. Hal yang menjadi legitimasi dari semua pemikiran tersebut diperkuat dengan sikap para pendukung budaya ini yang tidak mau melihat perkembangan dan tuntutan zaman. Mereka memiliki keinginan yang kuat untuk tidak tercerabut dari ajaran agama hingga sama sekali tidak mau menerima hal-hal baru.
Benturan demi benturan dua kebudayaan memang terasa sangat kental dalam film ini, namun demikian, seringkali ada semacam ketidaktegasan skenario dalam hal ini. Jika sebelumnya film ini menggambarkan konfrontasi-konfrontasi dua kebudayaan, semisal pelarangan menunggang kuda, perintah untuk menikah dengan calon pilihan orang tua, dan pembakaran buku-buku yang dianggap liar, maka ending cerita ini justeri merusak semua konflik yang muncul sebelumnya. Asumsi ini tergambar jelas ketika beberapa birokrat pesantren –yang awalnya menentang keras beredarnya buku-buku bacaan nonpesantren-- kemudian dengan mudah menerima perpustakaan di lingkungan pondok dengan adegan yang sama sekali tidak argumentatif dan tidak logis.
06 Des, 2009
Tradisionalitas dan Modernitas
Film yang diangkat dari novel karangan Abiedah el-Khaliqy ini banyak menggambarkan konflik, benturan, dan perebutan antar budaya tradisional dengan budaya modern yang berlatar kehidupan pesantren. Hal yang menjadikan film ini sedikit berbeda barangkali adalah setting yang dipilih. Perbenturan budaya modern dan budaya tradisional dalam film-film Indonesia bukanlah merupakan hal yang baru, namun demikian jika bidikan film ini adalah budaya tradisional dan budaya modern ala pesantren, maka hal yang demkian cukup menjadi alasan untuk menyebut film ini berbeda dengan yang lain.
Pesantren yang menjadi setting dalam film ini tergolong pesantren yang bercorak tradisional yang otomatis juga memuat budaya-budaya tradisional. Tema besar yang juga diusung penulis novel ini, selain benturan dua kebudayaan juga menyangkut tema kesetaraan gender. Bagaimana kemudian konsepsi tradisional dalam film ini dipertemukan dengan konsep kesetaraan gender (yang notabene merupakan salah satu wujud budaya modern) adalah adanya penggambaran marginalisasi wanita dalam ranah-ranah tertentu. Marginaliasi tersebut mendapat legitimasi dari budaya tradisional yang menggariskan kodrat wanita sebagai mahluk kelas dua yang hanya berdiam di kasur, di dapur, dan di sumur.
Metafor-metafor yang menggambarkan benturan dua konsepsi tersebut misalnya adalah saat Anisa (diperankan oleh Nasya Abigail pada masa kanak-kanak dan Revalina S. Temat pada masa dewasa) mendapat larangan keras untuk menunggang kuda, menjadi ketua kelas, dan untuk berjalan di luar area pesantren. Dalam beberapa momen ini, Annisa yang digambarkan sebagai seorang yang kritis bukannya tidak menolak. Namun demikian, ia terkalahkan oleh otoritas abi-nya (panggilan untuk ayah dalam Bahasa Arab) sebagai kepala keluarga dan pemimpin pesantren. Annisa kemudian hanya memendak keinginan-keinginannya yang dianggap aneh dan sesekali mencuri kesempatan untuk mewujudkan keinginan-keinginannya.
Puncak dari beberapa hal kurang menyenangkan pada masa kanak-kanak dan menjelang remajanya terjadi manakala ia ditinggalkan oleh teman bermain terdekat yang juga familinya, Khudori (diperankan Oka Antara) yang akan melanjutkan pendidikan. Khudori digambarkan sebagai seseorang yang selalu memahami keinginan-keinginan ‘gila’ Annisa. Selepas Aliyah, Annisa yang berkeinginan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah harus mengurungkan niatnya sebab ia dipaksa menikah dengan anak lelaki teman ayahnya. Pernikahan Annisa dengan Syamsuddin (diperankah oleh Reza Rahadian) senyatanya juga merupakan pernikahan dua pesantren yang kental dengan nuansa kapitalisme. Secara ekonomi, orang tua Syamsuddin memiliki beberapa link potensial yang bisa dijadikan sasaran proposal untuk membesarkan pesantren Al Huda.
Sampai di sini, ada beberapa representasi budaya modern yang muncul dari pikiran (dan kemudian tindakan Annisa) yang berupaya menolak ketidakadilan yang dialaminya. Annisa menginginkan adanya kebebasan dan hak yang setara antar wanita dan lelaki. Hal ini misalnya tergambar saat Annisa mempertanyakan mengapa ayahnya melarang dirinya menunggang kuda sedangkan dua saudara lelakinya tidak mendapat teguran. Annisa kemudian juga tidak habis pikir mengapa ayahnya tidak memberi idzin dan lampu hijau baginya untuk melanjutkan pendidikan sebagaimana yang didapatkan dua kakak lelakinya.
Alur cerita selanjutnya menyajikan konsepsi-konsepsi yang tidak jauh berbeda, yakni berputar di area benturan dua kebudayaan dan kesetaraan gender. Setelah menjalani pernikahan dengan Syamsuddin, sosok Annisa yang mendambakan kebebasan dan kesetaraan malah semakin menemukan keadaan yang lebih buruk dengan keadaan rumah tangga yang sama sekali tidak ia harapkan. Syamsuddin sering berlaku kasar kepadanya dan Annisa pun, dengan kekuatan fisiknya yang lemah, hanya bisa memberikan perlawanan sebisanya
Syamsuddin kemudian muncul sebagai tokoh yang amat sangat berpegang teguh pada budaya tradisional patriarki dan memandang wanita sebagai manusia kelas dua. Ia menganggap dirinya memiliki otoritas mutlak sebagai suami dan donatur terbesar pesantren milik ayah Annisa. Ia melarang Annisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah dengan alasan kodrat wanita tidaklah berada dalam wilayah publik, namun di wilayah domestik. Annisa pada dasarnya menentang pemahaman Syamsuddin tersebut, namun ia tidak memiliki cukup daya untuk terbebas dari kungkungan suaminya.
Pemikiran tradisionalis yang mendarah daging dalam diri Syamsuddin juga banyak dikendalikan oleh watak dan kebiasaannya yang kurang baik. Ia tidak memberikan kasih sayang yang tulus pada Annisa dan tidak pernah memberi perlakuan yang pantas. Ia melegitimasi segala tindakan –yang tidak berkeprimanusiaan tersebut—dengan konsep bahwa dalam rumah tangga, suami menjelma seorang raja dan isteri adalah budaknya.
Superioritas dan keangkuhan Syamsuddin ini pada gilirannya menggiring Annisa pada perceraian yang sangat ia inginkan. Dalam sebuah adegan yang penuh suspense, Syamsuddin menceraikan Annisa di hadapan khalayak setelah memfitnah Annisa tengah melakukan zina dengan Khudori yang saat itu telah kembali ke Indonesia. Ayah Annisa mendapat serangan jantung dalam adegan ini dan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah tidak memiliki keterikatan dengan Syamsuddin, Annisa mulai mengejar ketertinggalannya dan membuka kehidupan barunya di Yogyakarta. Ia memulai pendidikan kampus, merintis karier kepenulisan, dan bekerja di sebuah LSM yang concern pada hak-hak perempuan. Dari ketiga aktivitasnya ini, Annisa berusaha mewujudkan angan-angan yang sempat ia pendam lama. Saat ini pulalah ia kembali bertemu dengan Khudori dan kemudian menikah.
Sayangnya, Annisa kembali harus berpisah dengan Khudori setelah Khudori mengalami kecelakaan lalu lintas. Di sini, representasi seorang perempuan yang ‘bisa berdiri’ tanpa topangan seorang lelaki kembali diperkuat dengan beberapa adegan yang meski menunjukkan betapa rapuhnya Annisa sepeninggal Bukhari, namun ia tetap teguh pada komitmen dan concern-nya. Terwujudnya cita-cita Annisa untuk memasyarakatkan membaca dan menulis di pesantren milik ayahnya pada ending film ini merupakan puncak dari perjuangan dan perjalanan hidupnya.
Penokohan dalam film ini cukup kuat, namun sayang, munculnya pemikiran modern dalam diri Annisa ini kurang begitu masuk akal jika mengingat bahwa ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang notabene—dalam fim tersebut—digambarkan sebagai institusi dengan kekentalan budaya tradisional. Tidak ada adegan yang paling tidak menggambarkan akses informasi Annisa kecil yang kemudian memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang kebanyakan. Ilustrasi-ilustrasi dalam film ini justru didominasi oleh indoktrinisasi (dengan ucapan maupun perbuatan) mengenai peran wanita sebagai manusia kelas dua. Dengan ini pula, tidak berlebihan kiranya jika kemudian muncul asumsi bahwa ada beberapa hal penting dalam film ini yang terkesan dipaksakan.
Budaya tradisional yang tampak dalam film ini paling tidak direpresentasikan oleh ayah Anisa dan beberapa ustadz maupun birokrat pesantren yang masih terbaku dan terbekukan oleh doktrin-doktrin klasik yang kurang beralasan. Hal ini misalnya tampak ketika Annisa mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan ketua kelas, posisinya diganti dengan teman lelakinya yang memiliki nilai lebih rendah dibanding Annisa. Dengan mengutip suatu kandungan hadist—yang mengatakan bahwa perempuan tidak layak menjadi pemimpin--, ustadz tersebut kemudian memutuskan bahwa jabatan ketua kelas yang sebenarnya merupakan milik Annisa digeser pada kandidat lain sebab kandidat tersebut adalah lelaki.
Representasi budaya tradisional tersebut juga banyak digambarkan dengan sikap taklid buta terhadap doktrin-doktrin budaya klasik yang memunculkan phobia hebat terhadap hal-hal baru. Hal ini misalnya terjadi saat Annisa mendapat murka ayahnya hanya karena mengunjungi bioskop dan pada saat birokrat pesantren yang membakar semua buku yang dianggap merupakan buku luar dengan kekhawatiran akan mencetak santri menjadi manusia liar.
Tidak dapat dipungkiri, pemikiran tradisional ini berkaitan erat dengan pemahaman yang –maaf—kaku terhadap ajaran agama dan konstruk sosial-budaya. Hal yang menjadi legitimasi dari semua pemikiran tersebut diperkuat dengan sikap para pendukung budaya ini yang tidak mau melihat perkembangan dan tuntutan zaman. Mereka memiliki keinginan yang kuat untuk tidak tercerabut dari ajaran agama hingga sama sekali tidak mau menerima hal-hal baru.
Benturan demi benturan dua kebudayaan memang terasa sangat kental dalam film ini, namun demikian, seringkali ada semacam ketidaktegasan skenario dalam hal ini. Jika sebelumnya film ini menggambarkan konfrontasi-konfrontasi dua kebudayaan, semisal pelarangan menunggang kuda, perintah untuk menikah dengan calon pilihan orang tua, dan pembakaran buku-buku yang dianggap liar, maka ending cerita ini justeri merusak semua konflik yang muncul sebelumnya. Asumsi ini tergambar jelas ketika beberapa birokrat pesantren –yang awalnya menentang keras beredarnya buku-buku bacaan nonpesantren-- kemudian dengan mudah menerima perpustakaan di lingkungan pondok dengan adegan yang sama sekali tidak argumentatif dan tidak logis.
06 Des, 2009
Hmhm...
NgoredZ
