RSS

Sabtu, 12 Desember 2009

Tentang Kemukus dan…Perselingkuhan..

Well, aku mau cerita dulu bagaimana keadaan siang itu..Siang pada hari pertama kuliah yang terasa sangat membosankan. Sudah menjadi rutinitas sich..Tapi entah mengapa aku belum merasa terbiasa dan mampu menghadapi hantu bernama kemalasan itu. Tetep aja waktu terasa berjalan sangat lelet. Mendengarkan ceramah dari seorang dosen dengan materi yang cukup asing buat aku, dengan metode yang kurang bikin aku comfort, dengan jadwal yang juga kurang bersahabat, dan suasana kelas yang lagi-lagi dak juga mau bersahabat denganku.

Jadi hari itu, aku uda uring-uringan duluan karena membayangkan suasana yang itu-itu saja dan keadaanku yang tak kunjung membaik. Tapi ya mau dak mau, suka dak suka, aku tetep harus mengayunkan kaki dan melangkah…Walaupun langganan terlambat, yang penting aku uda cukup berusaha untuk tepat waktu. Dan siang itu, pertama kalinya dalam sejarah dunia, aku datang mendahului bapak dosen itu..Dari situ aku kemudian semakin meyakini bahwa ada banyak manfaat yang bisa aku ambil jika aku mempercepat jam di hpku. Jadi kesannya aku tidak akan males-malesan lagi dan tidak akan mendegar ceramah dari hatiku sendiri, tentang aku yang ga disiplin waktu, ga bisa menghargai waktu, orang yang hanya bisa membaca surat al-ashr, dan lain-lain.

Masuk kelas, temen2 belum pada dateng. Bapak dosen tu ndak biasanya bawa sound kecil. Tu artinya bakal ada yang laen dalam kuliahnya hari ini. Audiovisual tentunya. Aku segera mencari posisi yang enak, sebab kata Yudi, posisi menentukan prestasi. Hehehe. Jadi bener juga, sesudah basa-basi dikit, bapak tu kemudian bilang bahwa ia tidak akan menghadiri MK selama dua pertemuan (sampai di sini, aku bersorak kegirangan, dalam hati…), dan karenanya, dua pertemuan MK itu akan diganti dengan tugas. Tugasnya sederhana; me-review film atau dokmentasi PKL anak SA di gunung Kemukus. Hm…Aku pernah denger nama ini, kalo ndak salah pas rapat di jurusan. Pas itu aku jadi panitia sosialisasi jurusan saat ada lomba gerak jalan antarSMA se-DIY. Jadi salah satu anggota rapat mengusulkan pemutaran film gitu…Nah filmnya ya ini…Saat itu aku dak sempet liat, karena aku kebagian di tempat jual minuman depan Pusba, bukan di stand depan MP.

Apa ya, kesan pertamaku? Kesan pertamaku ya..TANYA. Apaan sich, Kemukus nech? Abis gitu, aku harus merelakan waktu terasa berjalan sangat lambat saat laptop tu dosen dak konek-konek ke layar. Uda dicoba berkali-kali, tapi tetap ndak bisa. Tu dosen sampe naek turun kursi untuk ngidupin ohp. Tapi tetep aja di layar bacaannya no signal. Nach, kami semua hanya bengong ngeliat dosen tu. Lebih tepatnya prihatin namun tidak mau ambil tindakan. Kasian banget sebenernya. Tapi ya, karena pada akhirnya bisa konek, konsentrasiku kemudian beralih pada film itu. Palagi pas dosen tu wanti-wanti, film ini dak akan diulang dan bahwa kami tidak akan diberi filenya. Gitu katanya. Jadi aku harus full attention gitu.

Openingnya dak langsung ke dokumentasi PKL tu, tapi masih ada dokumentasi demo2 mahasiswa SA pas jurusan SA mau ditutup. Prediksiku sich..Sebab aku taunya cuma kayak gitu. Baru pas 2008, jurusan SA dibuka kembali. Sebelumnya katanya sempat ditutup, entah kapan dan kenapa. Padahal menurut aku ne jurusan ok juga, setidaknya sebagai manifestasi dari integrasi interkoneksinya Pak Amien gitu…Jadi khan agama dak hanya berdiam di menara gading doktrin dan normativitas2, tapi juga berada di tengah-tengah fenomena apapun dalam kehidupan masyarakat. Udah ah, ceramahnya. Di dokumentasi itu, aku hanya sempet liat bak Kiki. Keren gile emang seniorku yang satu ini. Aku kagum sama intelegensi dan retorikanya.

Dilanjutin malah tambah panjang dan digretif nech ntar. Jadi ternyata Kemukus itu adalah nama sebuah gunung di daerah Sragen. Aku taunya pas di opening. Tentang alasan penamannya aku dak gitu inget, tapi yang sempet terekam dalam ingatanku adalah bahwa Kemukus tu nama sebuah ketinggian, berasal dari kata kukus yang kemudian mendapat sisipan.. Jadi pas ngasih gambaran awal, dosenku tu mengatakan bahwa di gunung ini ada semacam ritual mencari pesugihan yang dipercaya mujarab oleh masyarakat. Banyak mungkin tempat-tempat yang kayak gitu. Tapi yang bikin beda adalah karena gunung Kemukus ini ternyata tidak hanya menjadi tempat mencari pesugihan, namun juga tempat melakukan hubungan seksual. Lho, apa hobongannya? Pensaran nda? Makanya terusin baca..

Jadi di gunung tu ada makam seorang pangeran, kalo ndak salah namanya pangeran Samudro. Suatu versi mengatakan dia adalah putra Pangeran Brawijaya, sedang versi lain mengatakan bahwa pangeran Samudera ne adalah putra raden Patah. Sintesis kreatifnya, ne pangeran adalah putra seorang raja yang memimpin sebuah kerajaan. Jadi orang-orang yang mencari pesugihan tu berziarah ke makam pangeran ne. Aku dak tau jelas apa kesitimewaan pangeran ne mpe nisan dia bisa dianggap sebagai wasilah agar pengunjung nisan ne bisa jadi kaya. Sekilas cerita yang disebutkan oleh seorang responden dalam PKL ini cuma mengisahkan bahwa pangeran ne terlibat cinta terlarang ma ibu tirinya. Nach loch? Aku jadi inget ceritane cacak tentang kisah cinta (yang lagi-lagi) terlarang antara anak dan ibu kandungnya; asal muasal gunung Tangkuban Perahu gtow. Dak tau bagaimana kisah cinta mereka, tiba2 diceritakan bahwa pangeran ne escape dari istananya dan menetap di gunung ini. Karena mungkin dia dak biasa dengan keadaan yang jauh berbeda dengan tempatnya semula, si pangeran kemudian sakit di situ.

Kabar sakitnya pangeran ne akhirnya sampai juga ke telinga warga kerajaan. Sayang, ayahnya dak mau jenguk dia ke gunung ini. Dak tau juga kenapa. Barangkali karena waktu itu, kisah cinta terlarang mereka uda diendus apa gimana. Tapi yang jelas, hanya ibu tirinyalah yang kemudian menyusul dan menjenguk pangeran yang sedang sakit tersebut. Nach…Setelah kedatangan ibu tiri sekaligus kekasihnya ne, si pangeran katanya kemudian meninggal.

Adegan awal dalam dokumenter ini cukup membosankan, salah satunya karena dokumennya yang uda rusak di sana-sini, jadi kadang masih suka putus-putus ga karuan gitu. Apalagi pas itu yang disorot adalah wawancara-wawancara dengan beberapa tokoh yang banyak tau dan atau berkaitan dengan gunung ini. Ya juru kunci lah, ya pak rt nya, pak lurah, hingga kepala dinas pariwisata. Jadi emang cukup mboseni, untung si narator suaranya enak didenger dan retorikanya bagus. Belakangan aku tau kalo narator ne ternyata bak Kiki.

Hm..jadi ada beberapa ritual yang dilakukan seorang peziarah yang mengunjungi tempat mencari pesugihan ini. Ritual2 tu seingatku adalah mengunjungi sendang Ontrowulan yang kabarnya dulu merupakan tempat si ibu tiri Pangeran Samudro mandi. Di sini katanya pengujung biasa mengambil aer gtow. Sedang Sendang yang kedua adlah Sendang Taruno, yang merupakan tempat mandi setelah melakukan hubungan seksual.

Hm…jadi gini, sebatas yang aku tangkap ajah ya…Kisah cinta Pangeran Samudro dan Ibu tirinya tu khan bernama lain perselingkuhan, jadi mungkin mereka berdua juga pernah melewatkan waktu bersama di gunung ini. Pacaran mungkin ya istilahnya. Mbuh lah, tapi yang jelas, kisah cinta mereka ini kemudian menjadi semacam justifikasi atau legalitas bagi pengunjung untuk juga mengulang cerita yang sama, dengan waktu dan aktor yang berbeda. Ya, maksudnya, salah satu bagian dari ritual untuk mendapatkan pesugihan itu adalah..melakukan hubungan sesksual dengan pasangan yang tidak resmi.

Faham ndak? Ya maksud aku, ketika berkunjung ke gunung ini dan berniat mencari pesugihan, maka semua syarat yang ada harus dupenuhi..termasuk juga melakukan hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangannya. Ok, sampai di sini, mungkin aku berpikir, ini syaraf, gile, ga logis sama sekali, mana mungkin perselingkuhan dilegalkan hanya dengan alasan untuk mencari pesugihan, dan beberapa lontaran dak enak lainnya. Tapi, once more, aku tengah berada dalam kelas Antropologi Agama. Aku berkapasitas sebagai seorang peneliti yang menuturkan apa adanya, bukan apa seharusnya..jadi beberapa pikiran dan keheranan itu, bukan bahan yang akan aku masukin dalam tugas reviewku, walaupun sulit rasanya untuk tidak menyinggung hal tersebut dalam tugas itu,,(Ya, meski saat ngomong perselingkuhan dan term semacamnya, memang ada sisi hatiku yang nyerinya tak terperi. Ah lebay.)

Well, akademisi harus profesional. Jadi aku pikir, tradisi yang kabarnya sudah mengakar ini adalah salah satu manifestasi manusia yang berpikiran pragmatik dan mau segalanya serba instan. Hal ini barangkali wajar, karena persaingan ekonomi dan jerat-jerat kapitalisme uda begitu tebal di negara ini. Jadi, disebabkan juga masih belum mengendapnya kepercayaan mistis-mistis dalam masyarakat Indonesia, ritual mencari pesugihan ke gunung Kemukus ini merupakan sebuah alternatif. Ya, meski, dak ada yang instan dan mudah bener. Pengunjung dan subjek ritual ini harus sejenak membekam suara nuraninya saat melewati berbagai proses dalam ritualnya mencari pesugihan. Ya, utamanya pada proses melakukan hubungan seksual.

Nek ritual-ritual sebelumnya yow, relatif sering dilakukan oleh banyak orang. Ziarah ke kuburan orang yang dianggap berpengaruh, mandi dan mengambil air di tempat yang juga dianggap memiliki hal di luar bentuk fisikya khan emang uda cukup sering dilakukan dalam ritual-ritual lain. Tapi proses yang bisa dibilang beda ma yang laen ya proses melakukan hubungan seksual. (Ingin banget aku tulis, kalo memang yang dilakukan uda ndak bae, napa masih diikuti? Apa ndak lebih baik mencontoh sisi baik dalam diri seseorang? Tidak kemudian semua sisinya? Khan tiap orang punya dua sisi yang saling bertolakbelakang? Ooooooooopss…aku bukan pendakwah yang memandang segala hal dalam kcamata hitam putih,,Hohoho,,,)

Terus apalagi ya, yang ingin aku tulis di sini? Yang jelas aku ingin nonton tu laporan PKL lagi. Banyak hal yang belum aku fahami utuh dari fragmen-fragmen sejarahnya yang mungkin emang penting untuk diketahui. Di catatnku sich ada tulisan gini, satu nisan dua jasad. Aku lupa blas bagaimana dan siapa yang ada di nisan itu. Mungkinkan Pangeran Samudero dan ibu tirinya itu? Mengapa harus dimakamkah dalam satu liang lahat? Kayak korban bencana ajah..Nah, kayaknya ne fragmen penting. Kalo aku dak tau, dak mungkin komprehensif ntar, jadinya…Terus ada juga catatan tentang Pohon Nogosari. Yang aku inget, dari pohon ini pernah jatuh seuntai bunga yang kemudian menjadi apaaaaaa gitu.

Nah, ini lagi nech, jadi karena salah satu proses dan atau syarat yang harus dilewati dalam ritual ini adalah melakukan hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan, maka secara otomatis dan bisa diperkirakan oleh siapa saja, tempat ini kemudian menjadi semacam lokalisasi prostitusi tempet nongkrongnya PSK, pria maupun wanita yang seolah-oleh dilegalkan oleh hukum adat. Beh. Ya emang kayak gitu katanya. Jadi emang logis sich..Kalo si pengunjung bawa selingkuhannya dari rumah, mungkin jadi ga gitu berhasil ya, pesugihannya? He..mungkinkah begitu? Jadi ya…Ternyata ada fenomena lain di balik di Gunung Kemukus ini selain mencari pesugihan..kendatipun keduanya sama-sama bermotif ekonomi. Ya, suatu keniscayaan emang, kalo sudah ada syarat atau proses yang demikian, bukankah seorang pengunjung pasti akan membutuhkan seorang teman kencan yang bisa membantunya menyelesaikan semua proses dalam melakukan ritual ini?

Pertanyaannya, bagaimana respon pemerintah setempat? Tomas, misalnya juga? Wah yang ne kurang tau,,soale pihak-pihak yang diwawncarai di situ kebanyakan hanya menceritakan kisah dan asal muasal gunung ini, bagaimana eksistensinya dalam mendongkrak pendapatan daerah, bagaimana kemudian pemerintah setempat melakukan perbaikan-perbaikan struktur infrastrukutur di wilayah yang dianggap sebagai objek wisata ne, dll. Ga da satupun perbincangn yang mengarah pada legalitas prostitusi yang uda menjadi bagian tak terpisahkan gitu…

Hal lain yang bisa dilihat dari Kemukus adalah..Perselingkuhan, cinta sesaat dan atau cinta lokasi (meski aja berlanjut panjang), dan tentunya paradoksa. Paradoksa yang buat aku sebuah ironi juga. Tiap orang mungkin beda-beda menanggapinya. Tapi koq aku tetap mengherankan, bagaimana kemudian seseorang (utamanya yang uda menikah) rela mengorbankan kesetiannya pada pasangan demi mencari shortcut dalam bidang ekonomi? Belum lagi ancaman kesehatan gtow di dalam praktik kayak gituan. Ya tujuannya emang mulya, sangat mulya bahkan,, namun jika caranya demikian, masih mulyakah tujuan yang ia pegang? Dan tentang cinta serta penghianatan..sebenernya, apa hubungan antarkedua kata ini? Benarkah cinta terlahir memang untuk mendapat sebuah penghianatan? (Beh..Ini jadi tendensius kalo gne..)

Yauda biar ga nyrempet ke mana-mana, mungkin ada baiknya aku bikin epilog tulisan ini aja. Epilognya sederhana ajah dech,, seperti yang sudah biasa aku pikirkan, suatu hal dan keadaan tidak hanya memuat satu unsur. Fenomena Kemukus misalnya, ada banyak sisi di situ…Ritual, warisan sejarah, kepercayaan (atau taklid?), keyakinan, pragmatisme, pertarungan madzhab proses-hasil, ekonomi, cinta, perselingkuhan…dan akhirnya semua bermuara pada satu kata; KOMPLEKSITAS!!! Banyaknya sisi yang termuat dalam satu fenonema ini pada akhirnya berpengaruh terhadap pandangan atau penilaian kita terhadap objek yang bersangkutan. Gampangnya, Kemukus dak fair jika dilihat hanya dari sisi mencari pesugihan aja, dari sisi ekonomi aja, dan dari satu sisi-satu sisi lain yang kemudian menjebak pada sikap miopi.

Senin, 07 Desember 2009

Lagi-Lagi (Tugas Kelompok): Psikologi Agama; Konversi Pengikut Al-Qiyadlah Al Islamiyah

Kepuasan Beragama;
(Pengikut) Al-Qiyadlah Al Islamiyah dalam Perspektif Konversi Agama

A. PENGANTAR
Manusia memiliki naluri yang senantiasa mengajaknya untuk mencari dan menemukan hal yang lebih baik dalam hidup. Dalam setiap hari bahkan setiap detik kehidupannya, ia berusaha memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang pas dan mencari alternatif lain yang lebih baik. Manusia dengan akal budinya kemudian menjadikan hidup sebagai sebuah proses pencarian yang tidak pernah kunjung usai. Ia selalu mencari kepuasan dalam melakukan segala hal, namun ternyata kepuasan tersebut semakin tidak ia dapatkan.

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari manusia, agama, di sisi lain merupakan suatu hal yang sangat penting bagi manusia. Pada titik tertentu, ia menjadi sebuah kebutuhan yang mustahil dilepaskan dari segala partikel diri manusia, material maupun non-material. Dalam sebagian besar perjalanannya—atau bahkan pada hakikatnya—, agama telah sangat banyak memberikan kesejukkan dan kehangatan bagi spiritual dan atau jiwa manusia yang lapar dan haus akan kesejahteraan, kemakmuran, dan ketenangan. Namun, baik disadari maupun tidak, keterbatasan kemampuan ‘pencernaan’ manusia kerap tidak mampu menggapai puncak keistimewaan tersebut. Dalam konteks ini, manusia juga lazim mengeluh dan bahkan kecewa akan kondisi ‘psiko-Ilahiyah-nya, sehingga merasa terpanggil untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal keagamaannya. Dalam konteks ini, manusia juga kerap kali melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal keagamaannya. Contoh yang paling kongkrit adalah perbaikan kuantitas dan kualitas ibadah, perbaikan sikap dalam bergaul dengan orang lain, dan sebagainya. Perbaikan-perbaikan yang demikian senyatanya merupakan hal yang sangat manusiawi, sebab hati manusia pada dasarnya selalu mengarah kepada kebaikan.

Jika demikian, perbaikan-perbaikan yang terjadi pada manusia, khususnya dalam aspek agama berkait erat dengan kondisi hati atau jiwa seseorang. Jiwa merupakan muara segala monolog sunyi yang kemudian memberikan pesan kepada anggota tubuh. Di sinilah peran psikologi dalam menganalisis kondisi kejiwaan seorang agama. Namun sayangnya, tidak ada metode yang membidik sasaran pada hal yang abstrak, dalam konteks ini adalah hati dan kondisi jiwa manusia, Sebab itulah dalam psikologipun, objek penelitian yang begitu diperhatikan adalah tingkah laku seseorang, sebab hal yang demikian –sedikit banyak—mencerminkan bagaimana kondisi jiwanya.

Perbaikan-perbaikan semacam ini lebih dikenal dengan istilah konversi dalam psikologi. Meskipun ada berbagai definisi yang memberikan pembatasan-pembatasan tertentu, akan tetapi, sebagai wacana awal dalam tulisan ini, barangkali tidak berlebihan jika kami mengartikan konversi beragama dengan sebuah perbaikan kegamaan seseorang yang dilalui setelah menjalani proses-proses tertentu.

Berbagai macam wujud konversi beragama banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik yang terjadi pada diri kita sendiri dalam taraf yang ringan maupun yang terjadi pada orang lain dengan taraf yang berbeda. Salah satu wujud konversi yang kerap kita lihat adalah terjadinya perpindahan agama dan atau aliran pemeluk agama, semisal fenomena sebagian muslimin yang masuk pada komunitas Al-Qiyadlah al-Islamiyah. Untuk itulah kami memulai penelitian ini dengan hipotesis adanya unsur konversi agama pada pengikut ajarah Al-Qiyadlah al-Islamiyah.

B. KONVERSI AGAMA; DEFINISI DAN TAHAPANNYA
Konversi agama (religious conversion) secara umum dapat diartikan dengan berubah pendirian terkait ajaran agama atau bisa juga berarti masuk agama. Max Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya. Menurut William James konversi berarti pertobatan dari merasa diri benar sendiri dan egois akhirnya menemukan kebahagiaan karena merasa dekat dengan Tuhan dan muncul pula perasaan peduli kepada orang lain. Inti konversi dari perspektif ini adalah "bangkitnya gairah" dan "penuh minat" terhadap agama yang baru dipeluknya itu. Menurut Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat yang dimaksud dengan Konversi Agama adalah terjadinya suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula. Di dalam mengalami konversi agama, prosesnya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan pertumbuhan jiwa yang dilaluinya serta pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil, di tambah lagi dengan suasana lingkungan dia hidup dan pengalaman terakhir yang menjadi puncak perubahan keyakinan itu.

Beberapa definisi yang digagas oleh para psikolog terhadap frase ini bisa dikatakan sama, meski dengan redaksi dan aksentuasi yang beragam. Definisi tersebut paling tidak menggambarkan bahwa konversi dalam pengertian ini merupakan perbaikan yang cukup signifikan, bahkan Zakiah Darajat menggunakan bahasa yang cukup ekstrim dalam hal ini, yakni dengan bahasa ‘berlawanan arah’. Clark juga menegaskan hal ini meski dengan bahasa ‘perubahan arah yang cukup berarti’. Dua sampel definisi ini bisa memfokuskan kajian kita pada kejadian-kejadian yang cukup insidental dalam keberagamaan seseorang.

Teori konversi agama (religious conversion) yang muncul pada era tahun 80-an hingga akhir abad 20 M- ini dapat diartikan dengan peristiwa perpindahan agama ataupun masuk agama. Secara etimologi, konversi berasal dari kata latin conversio yang berarti taubat, pindah, dan atau berubah (agama). Dalam Bahasa Inggris, conversion mengandung pengertian berubah dari suatu keadaan, atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from one religion, to another). Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertaubat, berubah agama, berbalik pendirian (berlawanan arah) terhadap ajaran agama yang lama atau masuk ke dalam ajaran agama yang baru yang tentunya lebih baik, lebih menentramkan dan lebih menenangkan dari ajaran agama yang lama (menurut subyek konversi).

Berikut beberapa pandangan psikolog tentang arti konversi:
a. Heirich (dalam Ramayulis, 2002) mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan masuk atau berpindah kepada suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
b. James (dalam Ramayulis, 2002) mengatakan konversi agama adalah dengan kata kata: to be converted, to be regenerated, to recive grace, to experience religion, to gain an assurance, are so many phrases which denote to the process, gradual or sudden, by which a self hit herro devide, and consciously wrong inferior and unhappy, becomes unified and consciously right superior and happy, in consequence of its firmer hold upon religious realities. Artinya: “Berubah, digenerasikan, untuk menerima kesukaan, untuk menjalani pengalaman beragama, untuk mendapatkan kepastian adalah banyaknya ungkapan pada proses baik itu berangsur-angsur atau tiba-tiba, yang di lakukan secara sadar dan terpisah-pisah, kurang bahagia dalam konsekuensi penganutnya yang berlandaskan kenyataan beragama”.
d. Menurut Thouless (1992), konversi agama adalah istilah yang pada umumnya diberikan untuk proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan, proses itu bisa terjadi secara berangsur-angsur atau secara tiba-tiba.

Dalam perspektif skop wilayah perpindahan, konversi dikatakan memiliki dua tipe; yakni konversi internal dan konversi eksternal. Konversi internal berarti sebuah konversi yang masih terjadi dalam satu rumpun agama besar, seperti pindah madzhab atau aliran, katakanlah dalam hal ini Al-Qiyadlah Al-Islamiyah. Sedangkan konversi eksternal adalah adanya perubahan antar rumpun agama. Dengan demikian bisa difahami bahwa konversi internal merupakan konversi dengan perubahan yang taraf signifikansinya masih lebih kecil dibanding konversi eksternal. Selain itu, masing-masing tipe tersebut memiliki beberapa tingkatan dengan taraf yang berbeda.

Apa yang disampaikan Moqsith tersebut senada dengan uraian Abdalla. Lebih lanjut Abdalla menjelaskan bahwa konversi internal terjadi dalam satu agama, dalam artian pola pikir dan pandangan seseorang berubah, ada yang dihilangkan dan tidak menutup kemungkinan banyak yang ditambahkan (ibadah), tetapi konsep ketuhanan tetap sama. Sedangkan konversi eksternal berarti berpindah keyakinan kepada konsep yang benar-benar berbeda dengan konsep keyakinan sebelumnya. Jika melihat dari jenis konversi yang dikemukakan oleh Moqsith dan Abdalla maka pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah termasuk dalam konversi internal.

Konversi agama, kendatipun merupakan suatu hal yang manusiawi dan wajar, akan tetapi memiliki latar belakang dan tahapan-tahapan proses yang dialami oleh subjek konversi agama. Kendatipun, mengutip penjelasan James, tidak ada yang bisa menjelaskan semua hal dalam konversi agama secara detail, sebab hal tersebut merupakan sesuatu yang bersifat abstrak., akan tetapi para psikolog telah merumuskan ciri atau gejala yang dialami subjek konversi, sebagaimana dikemukakan Ramayulis (2002) berikut:

o Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya (perubahan pandangan ini bisa terjadi sendirinya dan berasal dari kegelisahan pribadi ataupun muncul setelah menerima doktrinisasi)
o Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak. (Secara adat, seseorang yang kondisi jiwanya labil cenderung mudah menerima doktrin, terlebih jika doktrin tersebut memberikan solusi terhadap kegelisahan yang dideranya)
o Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
o Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan, perubahan tersebut disebabkan faktor petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Adanya beberapa tahapan dalam konversi merupakan suatu keniscayaan, mengingat konversi adalah aktivitas perubahan arah yang sangat besar. Hal ini juga berlaku pada konversi yang terjadi secara spontanitas, kendatipun proses atau tahapan konversi tersebut tidak se-kasatmata seperti proses yang terjadi pada konversi yang bertahap. Seperti yang diungkapkan oleh Zakiah Darajat, subjek konversi mengalami beberapa fase yang kemudian mengantarkannya pada konversi. Beberapa tahap tersebut senyatanya tidak kemudian selalu dialami oleh subjek konversi. Secara umum, awalnya subjek akan mengalami kegelisahan, mencari hal yang bisa meredakan gelisahnya, memantapkan niat konversinya, kemudian melakukan konversi.

William James menambahkan bahwa konversi merupakan akibat atau tahapan dari proses pengeraman di otak. Dalam arti, subjek konversi mengalami kegelisahan menumpuk yang sudah lama dipendamnya. Perasaan-perasaan yang terpendam tersebut biasanya berwujud ketidakpuasan terhadap fungsi agama yang dianggap kurang membumi dan kurang bisa mengakomodir persoalan-persoalan serta kebutuhan pemeluknya. Adakalanya, kegelisahan tersebut berhasil diatasi dan diredam, namun tidak jarang, kegelisahan tersebut justru menjadi dorongan untuk melakukan hal yang besar. Dorongan tersebut bisa muncul dari dalam diri subjek (subjek secara aktif mencari solusi dari kegelisahannya) ataupun muncul karena ada pengaruh dari luar.

Dilihat dari awal mula proses konversi ini, James mengatakan ada dua macam konversi, yakni konversi melalui kemauan dan konversi melalui kepasrahan. Konversi yang pertama barangkali lebih representatif terhadap contoh subjek yang secara aktif mencari solusi dari kegelisahannya. Subjek konversi memang sengaja melakukan upaya untuk mencari pencerahan-pencerahan baru. Ia merasa tidak ‘betah’ pada ‘tempat’nya yang semula dan berusaha pindah pada’ tempat’ yang lebih memberinya kepuasan. Sedangkan tipe konversi yang kedua lebih berarti kejadian-kejadian spontanitas yang dialami subjek konversi. Ia menerima pesan dari alam bawah sadarnya yang kemudian menjadi awal konversinya. Pesan bawah sadar ini pada dasarnya dan pada lazimnya tidak akan muncul seketika tanpa adanya kegelisahan-kegelisahan yang sebelumnya dialami subjek.

Para ahli agama menyatakan bahwa faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Sementara para sosiolog mengatakan bahwa konversi agama terjadi karena adanya pengaruh sosial baik yang bersifat persuasif maupun koersif. Adapun para psikolog menyatakan faktor-faktor psikologis-lah yang mempengaruhi terjadinya konversi tersebut. Konversi agama dibaca sebagai bentuk pembebasan diri dari tekanan batin yang timbul dari dalam diri (intern) maupun dari lingkungan (ekstern). Faktor intern tersebut mencakup kepribadian dan hereditas (pembawaan). Sedangkan faktor ekstern antara lain mencakup faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, perubahan status, atau bisa jadi karena faktor kemiskinan. Sementara itu para ahli pendidikan berpandangan bahwa konversi agama terjadi karena pengaruh kondisi pendidikan.

Tampaklah dari uraian di atas bahwa masing-masing pendapat muncul selaras dengan disiplin keilmuan yang ditekuni oleh masing-masing ahli. Tetapi secara umum, konversi agama mengandung dua unsur sebagaimana dikemukakan oleh M.T.L. Penido, yaitu: (1) unsur dari dalam diri (endogenous origin), yakni lahirnya kesadaran diri untuk berubah karena didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan personal; dan (2) unsur dari luar (exogenous origin), yaitu perubahan karena faktor luar diri mampu menguasai kesadaran seseorang atau suatu kelompok untuk berubah.

C. AL-QIYADLAH AL ISLAMIYAH; TAMPARAN KERAS TERHADAP AGAMA FORMAL
Al Qiyadah Al-Islamiyah adalah komunitas aliran keagamaan yang dipimpin oleh Abdussalam alias Ahmad Mushaddeq sejak 23 Juli 2006. Mushaddeq dikabarkan mendapatkan wahyu dari bertapa selama 40 hari 40 malam di gunung Bunder, daerah Bogor. Aliran ini mengajarkan tidak percaya pada Isra’ Mi’raj Nabi, tidak mengakui wajibnya shalat 5 waktu, serta mengakui bahwa Ahmad Mushaddeq adalah seorang Nabi setelah Nabi Muhammad. Ahmad Mushaddeq beranggapan bahwa ajaran yang ia terapkan terhadap alirannya adalah ajaran kebenaran. Ia beranggapan bahwa agama Islam bukanlah agama penyempurna dan Muhammad bukanlah Rasul penutup. Ia juga mengatakan bahwa ajaran yang ia bawa adalah penyempurna dari ajaran agama Islam dan ia merupakan pewaris rasul setelah nabi Muhammad.

Selain tidak percaya terhadap Isra’ Mi’raj dan tidak mengakui wajibnya shalat 5 waktu serta mengakui Ahmad Mushaddeq sebagai Rasul, aliran ini juga mengajarkan syahadat baru yaitu “Asyhadu alla Ilaha illa Allah wa asyhadu anna Al Masih Al Mau’ud Rasul Allah”, di mana umat yang tidak beriman kepada al Masih Al Mau’ud berarti kafir dan bukan muslim, aliran ini juga tidak mewajibkan puasa dan haji alasan mereka karena pada abad ini masih dianggap tahap perkembangan Islam awal setelah runtuhnya khilafah Islamiyah akibat serangan pasukan Hulaghu Khan, di samping itu kitab suci yang digunakan adalah Al Qur’an tapi meninggalkan hadits dan menafsirkannya sendiri, aliran ini juga mengenal penebusan dosa dengan menyerahkan sejumlah uang kepada Al Masih Al Mau’ud. Dengan demikian, dapat difahami bahwa konsep ketuhanan dalam Al-Qiyadlah al-Islamiyah tidaklah berbeda dengan konsep ketuhanan Islam, hanya saja syariatnya yang berbeda. Secara apologis, penulis beranggapan bahwa perbedaan syariat ini disebabkan adanya perbedaan dalam penafsiran Al-Qur’an.

Selama eksistensinya, aliran ini telah menerbitkan ajaran atau paham Al Qiyadah Al Islamiyah pada tanggal 10 Februari 2007 dengan judul “Ruhul Qudus Yang Turun Kepada Al Masih Al Mau’ud” yang menurut keyakinan para penganut paham ini adalah firman Allah yang diturunkan kepada RasulNya dalam hal ini adalah Al Masih Al Mau’ud. Buku tersebut terdiri dari 12 bab, masing-masing bab ini terbagi dalam ayat-ayat yang diyakini sebagai wahyu yang diterimanya di Gunung Bunder (konon ada di daerah Bogor).

Mengenai sasaran perekrutan aliran ini, sebagaimana yang diungkapkan Ustad Baabduh, kebanyakan terdiri dari anak-anak muda yang awam dan minim pengetahuannya tentang Islam. Perekrutannya dilakukan dengan pendekatan personal, tidak melalui pengajian terbuka atau tabligh akbar. Berawal dari kedekatan, semisal teman atau kekerabatan, seorang anggota biasanya mengajak orang terdekatnya untuk ikut mengaji di suatu tempat. Lalu di sana diajarkan konsep Al Qiyadah, sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas.

Hal ini misalnya terjadi pada seorang responden yang kami wawancarai. Dalam wawancara santai tersebut, dia mengatakan bahwa proses awal dia terlibat dalam ajaran ini adalah saat dia mendapat ajakan untuk ‘berkenalan’ dengan aliran baru. Ia merasa tidak enak untuk menolak ajakan teman baiknya tersebut dan akhirnya mengiyakan. Ia berpikir tidak ada salahnya menambah pengetahuan tentang aliran-aliran baru dalam agama. Selang beberapa hari setelah kejadian tersebut, handphonenya mulai ramai didatangi berduyun-duyun sms yang memberikan doktrin Al-Qiyadlah.

Responden kami tersebut mengatakan bahwa sebelumnya ia tidak mengalami kegelisahan teologis yang cukup berarti. Kalaupun ia sempat didera kegelisahan, maka hal ini terjadi saat dia mendapat doktrin-doktrin propagandis Al-Qiyadlah. Sebelum mendapat doktrin Al-Qiyadlah ia kerap mendapatkan ketidapuasan beragama, ia mengaku berhasil meredam pikiran-pikiran tersebut. Akan tetapi, setelah ada tawaran untuk masuk ke dalam sebuah ajaran yang –kurang lebih—memenuhi hal-hal yang dianggapnya sebagai kebutuhan namun tidak diberikan oleh Islam, kegelisahan tersebut kemudian menjadi sangat besar.

Ia juga menambahkan bahwa ada dua hal yang menjadi daya tarik dia mengikuti aliran ini. Dua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak ia dapatkan dalam agama Islam. Pertama adalah rasionalitas. Dalam keterangannya, dia mengatakan bahwa Al-Qiyadlah Al-Islamiyah memberikan doktrin yang logis dan argumentatif sehingga mudah dibenarkan oleh sasaran doktrin ini, tidak terkecuali dirinya. Faktor yang kedua adalah solidaritas yang kental antar sesama pengikut aliran. Ia mengaku mendapatkan suasana persaudaraan yang penuh kehangatan dan keakraban. Para pengikut aliran ini, dalam pengakuannya, saling tolong menolong dalam beberapa hal, semisal ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya.

D. PENUTUP
Al-Qiyadlah Al Islamiyah hanyalah salah satu dia antara aliran yang belakangan muncul dalam kancah agama-agama di Indonesia. Kemunculan aliran-aliran yang demikian tidak bisa lantas dipandang dengan kacamata hitam putih secara konsep normatif. Dalam pandangan sebagian besar muslim, aliran yang demikian barangkali dianggap sebagai aliran yang sesat dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Akan tetapi, hal lain yang sering kita lupakan adalah adanya hukum kausalitas antara peran agama besar, dalam hal ini Islam, dengan kemunculan aliran-aliran yang demikian. Paling tidak, banyaknya peminat aliran ini cukup mengetengahkan pertanyaan tentang standar atau pesona apa yang dimiliki oleh aliran-aliran baru ini sehingga banyak diminati oleh muslimin. Jawaban pertanyaan tersebut bisa menjadi awal introspeksi bagi agama-agama besar.
Senada dengan hal tersebut, pengikut aliran ini juga tidak bisa lantas kemudian di-judge sebagai pemeluk agama yang telah murtad atau mengkhianati agamanya. Kendatipun dalam dzahirnya demikian, akan tetapi dalam sisi psikologis, konversi mereka tidak sepenuhnya bersumber dari ‘kesalahan’ mereka. Ada hal-hal lain yang turut menjadi pemicu masuknya mereka dalam aliran-aliran atau sekte keagamaan.
Hipotesis kami mengenai adanya unsur-unsur konversi dalam penganut aliran Al-Qiyadlah terbukti. Hal ini dapat dillihat dari adanya sinkronisasi tahapan yang digagas psikolog dengan pengakuan para pengikut. Para pemerhati dalam masalah ini juga memberikan arah-arah sinkronisasi antara konsep-konsep konversi dengan fenomena pengikut aliran Al-Qiyadlah Al-Islamiyah.

DAFTAR PUSTAKA

Muhsonef, Fatwa MUI Propinsi DIY Tentang Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah Perspektif Hukum Islam, Yogyakarta: Perpus UIN Su-Ka, 2008
Zainuri, Muhammad, Framming Pemberitaan Tentang Al Qiyadah Al Islamiyah di Surat Kabar Republika dan Koran Tempo, Yogyakarta: Perpus. UIN Su-Ka, 2008
Sukron, Habib, Fatwa MUI Tentang Pelarangan Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah (Perspektif Khaled M. Abou el Fadl), Yogyakarta: Perpus. UIN Su-Ka, 2009
Kedaulatan Rakyat, edisi Jum’at 21 September 2007
Politik News, Teori Konversi, (Sabtu, 27 Desember 2008) dalam http://dayaknews.blogspot.com/2008/12/teori-konversi.html diakses tgl. 3 desember 2009 pkl.20.13
Konversi Agama dalam http://cholilerenmasyah.wordpress.com/2008/06/17/konversi-agama/
James, William, Perjumpaan dengan Tuhan, terj. Gunawan Admiranto, Bandung: Mizan, 2004
Darajat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2003
Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.

Presented on; Desember 08, 2009
The 1st and the bezt team; Alwi, Aji, Luzfi, Fasmi, Eeta, Faizah

Sabtu, 05 Desember 2009

Gara-Gara Overbored...(Nulis by order jadi Gen-Gegen )

Perempuan Berkalung Sorban;
Tradisionalitas dan Modernitas

Film yang diangkat dari novel karangan Abiedah el-Khaliqy ini banyak menggambarkan konflik, benturan, dan perebutan antar budaya tradisional dengan budaya modern yang berlatar kehidupan pesantren. Hal yang menjadikan film ini sedikit berbeda barangkali adalah setting yang dipilih. Perbenturan budaya modern dan budaya tradisional dalam film-film Indonesia bukanlah merupakan hal yang baru, namun demikian jika bidikan film ini adalah budaya tradisional dan budaya modern ala pesantren, maka hal yang demkian cukup menjadi alasan untuk menyebut film ini berbeda dengan yang lain.

Pesantren yang menjadi setting dalam film ini tergolong pesantren yang bercorak tradisional yang otomatis juga memuat budaya-budaya tradisional. Tema besar yang juga diusung penulis novel ini, selain benturan dua kebudayaan juga menyangkut tema kesetaraan gender. Bagaimana kemudian konsepsi tradisional dalam film ini dipertemukan dengan konsep kesetaraan gender (yang notabene merupakan salah satu wujud budaya modern) adalah adanya penggambaran marginalisasi wanita dalam ranah-ranah tertentu. Marginaliasi tersebut mendapat legitimasi dari budaya tradisional yang menggariskan kodrat wanita sebagai mahluk kelas dua yang hanya berdiam di kasur, di dapur, dan di sumur.

Metafor-metafor yang menggambarkan benturan dua konsepsi tersebut misalnya adalah saat Anisa (diperankan oleh Nasya Abigail pada masa kanak-kanak dan Revalina S. Temat pada masa dewasa) mendapat larangan keras untuk menunggang kuda, menjadi ketua kelas, dan untuk berjalan di luar area pesantren. Dalam beberapa momen ini, Annisa yang digambarkan sebagai seorang yang kritis bukannya tidak menolak. Namun demikian, ia terkalahkan oleh otoritas abi-nya (panggilan untuk ayah dalam Bahasa Arab) sebagai kepala keluarga dan pemimpin pesantren. Annisa kemudian hanya memendak keinginan-keinginannya yang dianggap aneh dan sesekali mencuri kesempatan untuk mewujudkan keinginan-keinginannya.

Puncak dari beberapa hal kurang menyenangkan pada masa kanak-kanak dan menjelang remajanya terjadi manakala ia ditinggalkan oleh teman bermain terdekat yang juga familinya, Khudori (diperankan Oka Antara) yang akan melanjutkan pendidikan. Khudori digambarkan sebagai seseorang yang selalu memahami keinginan-keinginan ‘gila’ Annisa. Selepas Aliyah, Annisa yang berkeinginan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah harus mengurungkan niatnya sebab ia dipaksa menikah dengan anak lelaki teman ayahnya. Pernikahan Annisa dengan Syamsuddin (diperankah oleh Reza Rahadian) senyatanya juga merupakan pernikahan dua pesantren yang kental dengan nuansa kapitalisme. Secara ekonomi, orang tua Syamsuddin memiliki beberapa link potensial yang bisa dijadikan sasaran proposal untuk membesarkan pesantren Al Huda.

Sampai di sini, ada beberapa representasi budaya modern yang muncul dari pikiran (dan kemudian tindakan Annisa) yang berupaya menolak ketidakadilan yang dialaminya. Annisa menginginkan adanya kebebasan dan hak yang setara antar wanita dan lelaki. Hal ini misalnya tergambar saat Annisa mempertanyakan mengapa ayahnya melarang dirinya menunggang kuda sedangkan dua saudara lelakinya tidak mendapat teguran. Annisa kemudian juga tidak habis pikir mengapa ayahnya tidak memberi idzin dan lampu hijau baginya untuk melanjutkan pendidikan sebagaimana yang didapatkan dua kakak lelakinya.

Alur cerita selanjutnya menyajikan konsepsi-konsepsi yang tidak jauh berbeda, yakni berputar di area benturan dua kebudayaan dan kesetaraan gender. Setelah menjalani pernikahan dengan Syamsuddin, sosok Annisa yang mendambakan kebebasan dan kesetaraan malah semakin menemukan keadaan yang lebih buruk dengan keadaan rumah tangga yang sama sekali tidak ia harapkan. Syamsuddin sering berlaku kasar kepadanya dan Annisa pun, dengan kekuatan fisiknya yang lemah, hanya bisa memberikan perlawanan sebisanya

Syamsuddin kemudian muncul sebagai tokoh yang amat sangat berpegang teguh pada budaya tradisional patriarki dan memandang wanita sebagai manusia kelas dua. Ia menganggap dirinya memiliki otoritas mutlak sebagai suami dan donatur terbesar pesantren milik ayah Annisa. Ia melarang Annisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah dengan alasan kodrat wanita tidaklah berada dalam wilayah publik, namun di wilayah domestik. Annisa pada dasarnya menentang pemahaman Syamsuddin tersebut, namun ia tidak memiliki cukup daya untuk terbebas dari kungkungan suaminya.

Pemikiran tradisionalis yang mendarah daging dalam diri Syamsuddin juga banyak dikendalikan oleh watak dan kebiasaannya yang kurang baik. Ia tidak memberikan kasih sayang yang tulus pada Annisa dan tidak pernah memberi perlakuan yang pantas. Ia melegitimasi segala tindakan –yang tidak berkeprimanusiaan tersebut—dengan konsep bahwa dalam rumah tangga, suami menjelma seorang raja dan isteri adalah budaknya.
Superioritas dan keangkuhan Syamsuddin ini pada gilirannya menggiring Annisa pada perceraian yang sangat ia inginkan. Dalam sebuah adegan yang penuh suspense, Syamsuddin menceraikan Annisa di hadapan khalayak setelah memfitnah Annisa tengah melakukan zina dengan Khudori yang saat itu telah kembali ke Indonesia. Ayah Annisa mendapat serangan jantung dalam adegan ini dan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.

Setelah tidak memiliki keterikatan dengan Syamsuddin, Annisa mulai mengejar ketertinggalannya dan membuka kehidupan barunya di Yogyakarta. Ia memulai pendidikan kampus, merintis karier kepenulisan, dan bekerja di sebuah LSM yang concern pada hak-hak perempuan. Dari ketiga aktivitasnya ini, Annisa berusaha mewujudkan angan-angan yang sempat ia pendam lama. Saat ini pulalah ia kembali bertemu dengan Khudori dan kemudian menikah.

Sayangnya, Annisa kembali harus berpisah dengan Khudori setelah Khudori mengalami kecelakaan lalu lintas. Di sini, representasi seorang perempuan yang ‘bisa berdiri’ tanpa topangan seorang lelaki kembali diperkuat dengan beberapa adegan yang meski menunjukkan betapa rapuhnya Annisa sepeninggal Bukhari, namun ia tetap teguh pada komitmen dan concern-nya. Terwujudnya cita-cita Annisa untuk memasyarakatkan membaca dan menulis di pesantren milik ayahnya pada ending film ini merupakan puncak dari perjuangan dan perjalanan hidupnya.

Penokohan dalam film ini cukup kuat, namun sayang, munculnya pemikiran modern dalam diri Annisa ini kurang begitu masuk akal jika mengingat bahwa ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang notabene—dalam fim tersebut—digambarkan sebagai institusi dengan kekentalan budaya tradisional. Tidak ada adegan yang paling tidak menggambarkan akses informasi Annisa kecil yang kemudian memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang kebanyakan. Ilustrasi-ilustrasi dalam film ini justru didominasi oleh indoktrinisasi (dengan ucapan maupun perbuatan) mengenai peran wanita sebagai manusia kelas dua. Dengan ini pula, tidak berlebihan kiranya jika kemudian muncul asumsi bahwa ada beberapa hal penting dalam film ini yang terkesan dipaksakan.

Budaya tradisional yang tampak dalam film ini paling tidak direpresentasikan oleh ayah Anisa dan beberapa ustadz maupun birokrat pesantren yang masih terbaku dan terbekukan oleh doktrin-doktrin klasik yang kurang beralasan. Hal ini misalnya tampak ketika Annisa mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan ketua kelas, posisinya diganti dengan teman lelakinya yang memiliki nilai lebih rendah dibanding Annisa. Dengan mengutip suatu kandungan hadist—yang mengatakan bahwa perempuan tidak layak menjadi pemimpin--, ustadz tersebut kemudian memutuskan bahwa jabatan ketua kelas yang sebenarnya merupakan milik Annisa digeser pada kandidat lain sebab kandidat tersebut adalah lelaki.

Representasi budaya tradisional tersebut juga banyak digambarkan dengan sikap taklid buta terhadap doktrin-doktrin budaya klasik yang memunculkan phobia hebat terhadap hal-hal baru. Hal ini misalnya terjadi saat Annisa mendapat murka ayahnya hanya karena mengunjungi bioskop dan pada saat birokrat pesantren yang membakar semua buku yang dianggap merupakan buku luar dengan kekhawatiran akan mencetak santri menjadi manusia liar.

Tidak dapat dipungkiri, pemikiran tradisional ini berkaitan erat dengan pemahaman yang –maaf—kaku terhadap ajaran agama dan konstruk sosial-budaya. Hal yang menjadi legitimasi dari semua pemikiran tersebut diperkuat dengan sikap para pendukung budaya ini yang tidak mau melihat perkembangan dan tuntutan zaman. Mereka memiliki keinginan yang kuat untuk tidak tercerabut dari ajaran agama hingga sama sekali tidak mau menerima hal-hal baru.

Benturan demi benturan dua kebudayaan memang terasa sangat kental dalam film ini, namun demikian, seringkali ada semacam ketidaktegasan skenario dalam hal ini. Jika sebelumnya film ini menggambarkan konfrontasi-konfrontasi dua kebudayaan, semisal pelarangan menunggang kuda, perintah untuk menikah dengan calon pilihan orang tua, dan pembakaran buku-buku yang dianggap liar, maka ending cerita ini justeri merusak semua konflik yang muncul sebelumnya. Asumsi ini tergambar jelas ketika beberapa birokrat pesantren –yang awalnya menentang keras beredarnya buku-buku bacaan nonpesantren-- kemudian dengan mudah menerima perpustakaan di lingkungan pondok dengan adegan yang sama sekali tidak argumentatif dan tidak logis.

06 Des, 2009