Bertemu Mantan Dyan (sbelum tertinggalkan waktu terlalu lama)
Siang itu, di terik yang kemudian menggiring hujan dateng, aku ma Vita maksain diri untuk ikut dolanan bareng Dyan dan Wanda dengan tujuan yang sangat tulus..yakni MENGAJUKAN PROPOSAL. Awalnya, yang punya rencana ini adalah Wanda dan Dyan. Wanda hari itu datang lebih awal dari biasanya (bahkan mendahului aku dan Vita), jadi itu artinya, semua itu bukan tanpa alasan. Abis gitu..Kami berempat meluncur di atas dua sepeda motor. Menantang panas Jogja yang masya Allah banget waktu itu.
Dyan adalah salah satu temenku yang memiliki pedemeter cukup tinggi. Bayangin ajah, sebagai pemimpin rombongan siang itu, Dyan bahkan belum pernah tau APALAGI mengunjungi tempat yang akan kami tuju. Dia mencukupkan pengetahuan dan info yang dikantonginya dengan daerah yang akan kami tuju, yakni daerah Wirobrajan. Siapapun tau, bahwa daerah itu adalah perempatan ketiga arah barat Malioboro. Sayangnya, Dyan apalagi kami sama-sama tidak tau letak tepat RS yang akan dituju.
Alhasil, kami sempat tertesat satu jalur dan sebelum terlalu jauh tersesat, Dyan memutuskan untuk bertanya pada seorang ibu yang saat itu tengah melakukan transaksi pembelian di sebuah toko. Ternyata kami harus memutar arah dan melewati sebuah lampu merah. Wis, kami ikuti arahannya dan ga perlu terlalu menjelalatkan mata untuk menemukan tempat yang kami tuju. Ya secaraaaaaaaaa…tempat itu gede banget, mudah dilihat, tinggi pula. Menjulang, seperti menandakan superioritas dan otoritas.
Well. Ternyata ini bukan kunjungan pertamaku ke tempat ini. aku sempat ke tempat ini beberapa bulan yang lalu demi kepentingan yang berbeda. Usut punya usut, ternyata si Dyan memiliki semacam orang dalam di RS itu yang akan mempermudah jalur trayek kami. Wis abis gitu, setelah memarkir motor di tempat parkiran, kami masih harus mencari-cari kerjaan karena orang dalam yang Dyan punya masih bisa ditemui beberapa menit yang akan datang. Dyan terlihat ngomal-ngomel manja saat berbicara dengan si orang dalam lewat teleponnya.
Kami berempat ga kekurangan akal. Bermula dari—LAGI-LAGI—inisiatif Dyan, kami menyeberang dan menghampiri sederet pedagang kaki lima yang tengan mangkal di depan sebuah SD. Alamaaaaaaaaaaak..Dyan membeli semangkuk bakwan dan Vita mengeluarkan bekal yang ia bawa dari kos. Tiga orang temenku itu saling comot di mana-mana. Aku membesarkan hatiku sendiri bahwa ini hanyalah cobaan awal. Halaaaaaaaaaahhhh..
Ritual makan di TROTOAR JALAN PROTOKOL di siang yang terik itu diimbuhi dengan ritual ngobrol2 dan jeprat-jepret. Pede banget dan banget pede. Lha untuk apa seonggok barang mungil di tasku harus dibawa ke manapun ku pergi jika tak bisa mengoptimalkan setiap momen? Waaaaaaaahhh//Lebaaaaayy…Abis foto2 dan membayar uang bakwan, tu anak bertiga pada keausan. Seperti halnya pertemuan dan kebersamaan yang akan sangaaaat terasa dengan perpisahan dan atau keterpisahan, nikmatnya sehat yang sangat terasa ketika sakit, seperti itulah nikmat makan yang akan menjadi lengkap dan komplit setelah meneguk air. R Tanpa air, makanan yang sempat mampir di lidah, kerongkongan, dan jalur-jalur berikutnya akan terasa kurang taste-nya.
Sebabi itulah, dengan niat tulus untuk melepas dahaga dan menyempurnakan kenikmatan makan, kami berempat masuk ke areal sebuah SD dengan satu tujuan; MEMBELI AIR. Di koperasi sekolah tentunya. Aku memilih duduk di sebuah kursi panjang karena aku memang tidak berkepentingan dengan air yang akan dibeli. Sama sekali tidak terlintas di benakku bahwa orang-orang sekelilingku memerhatikanku, meski tidak memandang sinis. Dalam kebanyakan momen, aku memang kurang bisa PEKA terhadap sindroma-sindroma yang ada di sekitarku.
Dan siang itu, ternyata bukan aku ajah yang memiliki sensitivitas yang kurang bertaring. Tiga temenku juga begitu. Untunglah tidak berapa lama setelah itu, Wanda mendobrak kejumudan itu dan menyadarkan betapa barusan kami telah keluar dari alam kesadaran…Hehehehe..Lebayy..Intine pas itu, kami lagi berada di tengah komunitas yang memiliki sebuah perbedaan dengan kami. Perbedaan yang terlihat jelas dalam salah satu atribut yang tengah kami kenakan. Jane tidak ada yang perlu dipermasalahkan dan diherankan. Tapi andaai aja kami sadar sedari awal, mungkin…kami tidak perlu berbondong-bondong masuk ke area itu. Well, sekadar pengalaman yang pantas menjadi pelajaran. Aku masih tetap memegang teori bahwa tidak ada yang salah dalam perbedaan, kecuali jika perbedaan itu kemudian mendatangkan hal-hal yang kurag tepat (tidak dalam perspektif hitam-putih)
Wis, kami kembali menyerang dan kembali pada tempat awal. Kali ini orang dalam yang dimiliki Dyan juga masih belum bisa ditemui. Untungnya, momen menunggu kala itu bisa dipermak sedemikian rupa..jadinya terkesan tidak terlalu membosankan..Bahkan waktu terasa amat sangat cepat berjalan. Yaaaaaaaaa…karena kami berempat kemudian kembali mengeksploitasi barang kecil yang ada di tasku dengan ritual NARSISME. Bekgrondnya jane ga gitu bagus. Cuma ya karena pemandangan itu adalah new view, maka kelihatannya menyejukkan. Lagian tidak ada yang tidak indah koq, jika kita memakai kacamata filosofis tipe keindahan. Dan dokumentasi-dokumentasi itupun telah menjadi saksi bahwa kami berempat pernah bertemu dan bersama…Hegege
Agenda utama siang itu, bertemu orang dalam yang dikenal Dyan. Sebelum masuk ke gedung itu, aku iseng bertanya pada Dyan perihal jenis kelamin orang itu…Oh..ternyata LAKI-LAKI. Pertanyaan selanjutnya uda bisa aku pastiin, “CAKEP, GA????” dan kali ini Dyan menjawab dengan malu2, “menurutku sich cakeeeeeeeepppp”, dengan gaya yang Dyan bangettttt…Kami masuk dan mendapatkan orang yang kami tunggu sudah duduk manis di situ.
Yuhuuuuuuuuu…ternyata lumayan cukup menjadi penyegar di siang yang terik itu. Apalagi ditambah dengan atribut yang dikenakannya, semakin mengukuhkan dirinya sebagai orang yang berdedikasi dan bermilitansi. Heleeeeeehhh..sampai mana dah, tulisan ini. Ngalor-ngidul ra jelas. Intine tu cowok ternyata SO NOT –BAD—untuk tidak mengatakan cakep—dan dia pun terllihat amat banget profesional dengan jas putih yang dikenakannya. Kami duduk di sofa empuk dalam formasi yang terpisah. Dyan bersama orang itu, dan kami bertiga bersebelehan dengan wanita yang ….mmm…memakai baju putih kombinasi pink. Hehehheehhehe…(Wanda dan Vita pastilah mengerti, bagaimana mb ini adanya..)
Kamis, 29 Juli 2010
Senin, 26 Juli 2010
Kisah Kasih Nyata dalam Kuliah Kerja Nyata
Beh, judulnya sangat provokatif. Istilah dan pemplesetan kepanjangan ini sudah memasyarakat di kalangan civitas akademika manapun. Salah satu pemateri dalam pembekalan pun secara sengaja dan tanpa sungkan menuturkan plesetan ini. wajar ajah sich, dalam artian mungkin saja hal itu terjadi. Aku banyak mendengat selentingan cerita yang demikian, baik saat aku masih di pondok ataupun setelah aku merasakan bangku kuliah seperti saat ini.
Kaidah dan landasan berpikirnyapun sebenarnya sederhana saja, yakni intensitas kebersamaan, selain rentan menimbulkan kres dan benturan kepentingan juga memunculkan semacam…mmm..apa ya..bahasa yang paling representatif, mungkin simpati dengan tensi yang tinggi dan selanjutnya akan melahirkan perasaan suka. Naaaaaaaahhh..sampailah pada point yang uda aku ulur-ulur sejak tadi. Awalnya aku menganggap bahwa pemlesetan istilah itu hanya berhenti dalam ranah wacana, dalam arti tidak akan banyak terjadi dalam kehidupan real. Pikiran ini mungkin dipengaruhi oleh anggapan pribadiku sendiri. Hehehe..Aku pikir, too old to talk about love and dating right now. Ngomongin cinta dan pencarian temen dating hare gene tu sungguh amat telat dan ngasep sekali. Ya khususnya bagi aku yang uda semester tua.
Anggapan tersebut bisa jadi muncul dan banyak dipengaruhi oleh pengalaman pribadi aku. Yang jelas anggapan demikian tumbuh subur di otakku dan aku pun percaya, sedikit banyak, temen-temen yang sudah seusiaku mungkin juga menyadari bahwa saat ini bukanlah waktunya untuk membicarakan hal demikian. Egois mungkin, mentang-mentang aku sendiri merasa sudah cukup merasakan sensasi-sensasi itu ketika masa SMA. Tapi memang itu yang kurasakan. Parahnya, anggapan yang bercokol di kepalaku itu ternyata cukup menjadi hijab yang membuat aku SANGAT TIDAK PEKA dengan sindroma-sindroma KKN (dalam arti yangd diplesetkan) yang tengah melanda temen-temenku di posko.
What??? Tunggu dulu…Ini bukan gosip dan tulisan ini tidak aku niatkan untuk menyebutkan siapa saja temenku yang terkena sindroma ini, bagaimana gejalanya, atau bagaimana perspktifku. Tidak..Tidak…Blog ini bukanlah forum gosip, dan meski aku doyan nonton infotainment, aku berupaya agar blogku tidak akan terkontaminasi oleh kebiasaan—yang tidak sepenuhnya buruk—itu. Aku hanya ingin menulis, menulis yang membebaskan dan membiarkanku menjadi diri sendiri. Aku males kalo harus bertarung dengan diksi dan seperangkat hal lain-lain hanya untuk menghasilkan sebuah tulisan. Apalagi untuk mencari decak—tanpa kagum—dari orang lain. Bagiku masa-masa itu sudah terlewat dan hari ini aku hanya ingin menulis dengan dan dalam diriku sendiri, dengan semua style dan feature yang aku punya.
Ok, back to the laptop. Kisah Kasih Nyata atau bisa dibahasakan dengan cinlok bagi aku sebenernya sangatlah wajar adanya. Meski terang-terngan berpikir bahwa masaku saat ini bukanlah masa-masa yang demikian, aku keikut trend juga. Misalnya, saat pertama kali berkumpul dengan temen sekelompok, aku langsung mengedarkan pandangan pada temen-temen sekelompokku—terutama para cowo—untuk men-checklist apa ada temen kelompokku yang lumayan sedap dipandang. Tak ada keperluan sebenernya, cuma aku merasa hal itu selalu dan pasti dilakukan sebagian besar orang saat bertemu pertama kali dengan orang yang barangkali sebelumnya tak pernah dikenal. Apalgi dalam event ini, temen KKN adalah tim yang akan mengisi hari-hari selanjutnya dalam durasi sekitar 50 hari. Lama banget khaaaaaaaaaaaaaannn?
Buat aku sendiri, melakukan hal yang demikian bisa menolong aku untuk memiliki DO (Daftar Obrolan) dengan temen-temen sekos sesama semester enam yang juga menghadapi babak kehidupan yang sama. Tanpa harus menyebutkan bagaimana penilaian pertamaku terhadap temen-temen kelompok KKNku, malam itu setelah pertama kali kumpul, aku bener-bener melakukan ritual itu dengan temen-temen kosku. Tuker-tuker cerita laah…dengan bahasa “di kelompokku tu ada anak fakultas-----------, dia tadi---------------tapi dia juga----------------pakaiannya--------------tapi tulisannya----------------kalo wajahnya-------------menurutku dia tu---------------. Kemarin aku nanya ma temen sefakultas-jurusannya------------------katanya dia tu------------------------”
Begitulah kira-kira draft obrolan yang biasa aku lakoni bersama-sama temen kosku, khususnya sesama semester enam. Buang-buang waktu memang, tapi hal tersebut sudah menjadi semacam ritual yang kalo dalam hidangan tu menjadi desert alias penggembira…Ntar kami akan ketawa cekikikan masing-masing sambil menutup pembicaraan dengan percakapan yang demikian”Ntar kalo lagi sama-sama kumpul dan kamu ingintau ma yang namanya--------tak sms dech”..(Aku hakkul yakin jika tulisan ini dibacan Ting2 dan Unyil, mereka akan tertawa malu-malu. Lalu akhirnya terbahak. Hahahaahahahahahahhahaha)
Eh, jadi digresi. Jadi gini, buat aku pribadi, pertemuan pertama dengan anggota sekelompok hanyalah berhenti dalam hal yang demikian saja. Ada ketakutan dan harapan ketika melewati kesan pertama wajar adanya. Takut—atau lebih tepatnya males—melihat temen yang gerak-geriknya tampak tak sinkron dengan diriku dan juga berharap banyak pada orang-orang yang TErLIHAT bisa diandalkan. Dan seteleh dua pekan menjalani masa karantina ini, aku kemudian memercayai kata pepatah bahwa FIRST LOOK IS REALLY DECEIVING. Dalam sebagian kasus memang demikian, meski dalam kasus lain, kesan pertama memang tetap bertahan.
Well, ternyata, setelah semalam aku mendapatkan berita investigasi dari sumber yang terpercaya, bahwa pertemua pertama di kantin dakwah itu menyisakan beberapa bekas spesial bagi sebagian temen-temenku. Hahahaha. Aku sendiri sama sekali dak nyangka dan amat banget mengherankan, bagaimana bisa aku tidak sensitif terhadap persoalan sesintitif bernama perasaab dan ketertarikan????? Hohohhoho…Yang jelas, aku tidak terlambat mengalami masa pubertas, jadi seharusnya aku tidak terlalu lugu dengan hal itu…Tapi mengapa aku terlelu menutup mata pada fenomena yang sebenernya sudah sangat jelas di hadapanku? Tidak, aku TIDAKLAH LUGU SAMA SEKALI…Hanya mungkin, aku terlalu dipengaruhi oleh pola pikir dan pengalaman pribadi yang memaksanku menganggap bahwa…TOO OLD TO TALK ABOUT LOVE AND DATING NOWADAYS.
Setelah mendengar beberapa selentingan, aku malah maunya ketawa terus dan cekikikan tiada henti, menertawai kebodohanku sendiri. Dan kejadian ini semakin mendukung teori yang pernah aku tulis di diariku beberapa waktu yang lalu. (Lihat gambar)…sambil nulis inipun, aku masih senyum2 sendiri. Yaaaaaa…bagaimana tidak, selama ini aku berpikir bahwa perhatian, sikap “liyan”, dan segala hal yang menjurus ke situ adalah hal yang sifatnya BASA-BASI dan tidak sama sekali menunjukkan keseriusan. Aku malah lebih sensitif terhadap hal-hal yang berbau konflik. Hehehehe. Eh ternyata, setelah aku me-flashback beberapa kejadian, aku malah membenarkan bahwa semua gejala-gejala itu sebenernya merupakann suatu hal yang akan ditindaklanjuti…
Gatau dan belum bisa memastikan, bagaimana Kisah Kasih Nyata ini akan menemukan serie episodenya. Menjadi roman yang dikenang sepanjang masa, atau justeru menjadi elegi yang ditangisi. Lebay dech, bahasaku. Ya intine aku belum bisa memberikan prediksi satupun. Karena semua kemungkinan bisa diperhitungkan dan semua keadaan juga tidak bisa di-skip begitu aja. Dalam keadaan ini, aku cukup menjadi audien yang akan menulis semua uneg-unegku di forum jejaring sosial. Hehehehe. Mau ketawa lagi deccch…dan tentang seri episode, satu hal yang sama sekali tidak bisa aku pastikan adalah bahwa apakah kisah ini akan menjadi awal ataukah justeru akan berakhir setelah berakhirnya masa KKN. Atau, ada kemungkinan lain? Ya makanya itu kubilang, aku belum bisa memastikian. Tapi not bad lah, minimal cerita-cerita yang muncul selama masa ini bisa menjadi bahan tulisanku yang tidak akan bergenre gosip.
Cinta memang ajaib, tapi jauh lebih ajaib waktu. Tanya kenapa. (Bingung mau nulis epilog mode: on)
Kaidah dan landasan berpikirnyapun sebenarnya sederhana saja, yakni intensitas kebersamaan, selain rentan menimbulkan kres dan benturan kepentingan juga memunculkan semacam…mmm..apa ya..bahasa yang paling representatif, mungkin simpati dengan tensi yang tinggi dan selanjutnya akan melahirkan perasaan suka. Naaaaaaaahhh..sampailah pada point yang uda aku ulur-ulur sejak tadi. Awalnya aku menganggap bahwa pemlesetan istilah itu hanya berhenti dalam ranah wacana, dalam arti tidak akan banyak terjadi dalam kehidupan real. Pikiran ini mungkin dipengaruhi oleh anggapan pribadiku sendiri. Hehehe..Aku pikir, too old to talk about love and dating right now. Ngomongin cinta dan pencarian temen dating hare gene tu sungguh amat telat dan ngasep sekali. Ya khususnya bagi aku yang uda semester tua.
Anggapan tersebut bisa jadi muncul dan banyak dipengaruhi oleh pengalaman pribadi aku. Yang jelas anggapan demikian tumbuh subur di otakku dan aku pun percaya, sedikit banyak, temen-temen yang sudah seusiaku mungkin juga menyadari bahwa saat ini bukanlah waktunya untuk membicarakan hal demikian. Egois mungkin, mentang-mentang aku sendiri merasa sudah cukup merasakan sensasi-sensasi itu ketika masa SMA. Tapi memang itu yang kurasakan. Parahnya, anggapan yang bercokol di kepalaku itu ternyata cukup menjadi hijab yang membuat aku SANGAT TIDAK PEKA dengan sindroma-sindroma KKN (dalam arti yangd diplesetkan) yang tengah melanda temen-temenku di posko.
What??? Tunggu dulu…Ini bukan gosip dan tulisan ini tidak aku niatkan untuk menyebutkan siapa saja temenku yang terkena sindroma ini, bagaimana gejalanya, atau bagaimana perspktifku. Tidak..Tidak…Blog ini bukanlah forum gosip, dan meski aku doyan nonton infotainment, aku berupaya agar blogku tidak akan terkontaminasi oleh kebiasaan—yang tidak sepenuhnya buruk—itu. Aku hanya ingin menulis, menulis yang membebaskan dan membiarkanku menjadi diri sendiri. Aku males kalo harus bertarung dengan diksi dan seperangkat hal lain-lain hanya untuk menghasilkan sebuah tulisan. Apalagi untuk mencari decak—tanpa kagum—dari orang lain. Bagiku masa-masa itu sudah terlewat dan hari ini aku hanya ingin menulis dengan dan dalam diriku sendiri, dengan semua style dan feature yang aku punya.
Ok, back to the laptop. Kisah Kasih Nyata atau bisa dibahasakan dengan cinlok bagi aku sebenernya sangatlah wajar adanya. Meski terang-terngan berpikir bahwa masaku saat ini bukanlah masa-masa yang demikian, aku keikut trend juga. Misalnya, saat pertama kali berkumpul dengan temen sekelompok, aku langsung mengedarkan pandangan pada temen-temen sekelompokku—terutama para cowo—untuk men-checklist apa ada temen kelompokku yang lumayan sedap dipandang. Tak ada keperluan sebenernya, cuma aku merasa hal itu selalu dan pasti dilakukan sebagian besar orang saat bertemu pertama kali dengan orang yang barangkali sebelumnya tak pernah dikenal. Apalgi dalam event ini, temen KKN adalah tim yang akan mengisi hari-hari selanjutnya dalam durasi sekitar 50 hari. Lama banget khaaaaaaaaaaaaaannn?
Buat aku sendiri, melakukan hal yang demikian bisa menolong aku untuk memiliki DO (Daftar Obrolan) dengan temen-temen sekos sesama semester enam yang juga menghadapi babak kehidupan yang sama. Tanpa harus menyebutkan bagaimana penilaian pertamaku terhadap temen-temen kelompok KKNku, malam itu setelah pertama kali kumpul, aku bener-bener melakukan ritual itu dengan temen-temen kosku. Tuker-tuker cerita laah…dengan bahasa “di kelompokku tu ada anak fakultas-----------, dia tadi---------------tapi dia juga----------------pakaiannya--------------tapi tulisannya----------------kalo wajahnya-------------menurutku dia tu---------------. Kemarin aku nanya ma temen sefakultas-jurusannya------------------katanya dia tu------------------------”
Begitulah kira-kira draft obrolan yang biasa aku lakoni bersama-sama temen kosku, khususnya sesama semester enam. Buang-buang waktu memang, tapi hal tersebut sudah menjadi semacam ritual yang kalo dalam hidangan tu menjadi desert alias penggembira…Ntar kami akan ketawa cekikikan masing-masing sambil menutup pembicaraan dengan percakapan yang demikian”Ntar kalo lagi sama-sama kumpul dan kamu ingintau ma yang namanya--------tak sms dech”..(Aku hakkul yakin jika tulisan ini dibacan Ting2 dan Unyil, mereka akan tertawa malu-malu. Lalu akhirnya terbahak. Hahahaahahahahahahhahaha)
Eh, jadi digresi. Jadi gini, buat aku pribadi, pertemuan pertama dengan anggota sekelompok hanyalah berhenti dalam hal yang demikian saja. Ada ketakutan dan harapan ketika melewati kesan pertama wajar adanya. Takut—atau lebih tepatnya males—melihat temen yang gerak-geriknya tampak tak sinkron dengan diriku dan juga berharap banyak pada orang-orang yang TErLIHAT bisa diandalkan. Dan seteleh dua pekan menjalani masa karantina ini, aku kemudian memercayai kata pepatah bahwa FIRST LOOK IS REALLY DECEIVING. Dalam sebagian kasus memang demikian, meski dalam kasus lain, kesan pertama memang tetap bertahan.
Well, ternyata, setelah semalam aku mendapatkan berita investigasi dari sumber yang terpercaya, bahwa pertemua pertama di kantin dakwah itu menyisakan beberapa bekas spesial bagi sebagian temen-temenku. Hahahaha. Aku sendiri sama sekali dak nyangka dan amat banget mengherankan, bagaimana bisa aku tidak sensitif terhadap persoalan sesintitif bernama perasaab dan ketertarikan????? Hohohhoho…Yang jelas, aku tidak terlambat mengalami masa pubertas, jadi seharusnya aku tidak terlalu lugu dengan hal itu…Tapi mengapa aku terlelu menutup mata pada fenomena yang sebenernya sudah sangat jelas di hadapanku? Tidak, aku TIDAKLAH LUGU SAMA SEKALI…Hanya mungkin, aku terlalu dipengaruhi oleh pola pikir dan pengalaman pribadi yang memaksanku menganggap bahwa…TOO OLD TO TALK ABOUT LOVE AND DATING NOWADAYS.
Setelah mendengar beberapa selentingan, aku malah maunya ketawa terus dan cekikikan tiada henti, menertawai kebodohanku sendiri. Dan kejadian ini semakin mendukung teori yang pernah aku tulis di diariku beberapa waktu yang lalu. (Lihat gambar)…sambil nulis inipun, aku masih senyum2 sendiri. Yaaaaaa…bagaimana tidak, selama ini aku berpikir bahwa perhatian, sikap “liyan”, dan segala hal yang menjurus ke situ adalah hal yang sifatnya BASA-BASI dan tidak sama sekali menunjukkan keseriusan. Aku malah lebih sensitif terhadap hal-hal yang berbau konflik. Hehehehe. Eh ternyata, setelah aku me-flashback beberapa kejadian, aku malah membenarkan bahwa semua gejala-gejala itu sebenernya merupakann suatu hal yang akan ditindaklanjuti…
Gatau dan belum bisa memastikan, bagaimana Kisah Kasih Nyata ini akan menemukan serie episodenya. Menjadi roman yang dikenang sepanjang masa, atau justeru menjadi elegi yang ditangisi. Lebay dech, bahasaku. Ya intine aku belum bisa memberikan prediksi satupun. Karena semua kemungkinan bisa diperhitungkan dan semua keadaan juga tidak bisa di-skip begitu aja. Dalam keadaan ini, aku cukup menjadi audien yang akan menulis semua uneg-unegku di forum jejaring sosial. Hehehehe. Mau ketawa lagi deccch…dan tentang seri episode, satu hal yang sama sekali tidak bisa aku pastikan adalah bahwa apakah kisah ini akan menjadi awal ataukah justeru akan berakhir setelah berakhirnya masa KKN. Atau, ada kemungkinan lain? Ya makanya itu kubilang, aku belum bisa memastikian. Tapi not bad lah, minimal cerita-cerita yang muncul selama masa ini bisa menjadi bahan tulisanku yang tidak akan bergenre gosip.
Cinta memang ajaib, tapi jauh lebih ajaib waktu. Tanya kenapa. (Bingung mau nulis epilog mode: on)
Hmhm...
adventure of me..
Minggu, 25 Juli 2010
KKNe sing ra mutu po akune? (Refleksi pribadi)
25 Juli 2010, berarti uda dua pekan aku menikmati MK wajib 4 SKS yang dibebankan kepada semua mahasiswa S1. Dua pekan berlalu, berarti tinggal enam pekanan lagi babakan ini akan selesai. Entah mengapa aku selalu merasadiburu waktu dan menunggu kapan hari terakhir itu akan darang. Dalam hal ini, aku memang agak menyayangkan sikapku yang cukup sulit untuk bersosialisasi dengan orang baru yang otomatis juga memiliki karakteristik yang belum banyak kuketahui. Sikap—atau kebiasaan—yang kedua adalah ketidakmampuanku untuk bersikap manis di depan orang yang tidak aku senangi. Mentog2nya, aku hanya diam tanpa berekspresi saat berhadapan. Aku pikir cara ini lebih aman dibanding aku harus susah-susah nyemprot dan membuang energiku untuk menunjukkan bahwa aku tidak suka pada seseorang. Dan paling maksimalnya, sikap burukku ini adalah nyeletuk di hadapan seseorang tersebut dan maen belakang.
Sebenere wajar ajah jika kemudian aku merasakan banyak hal yang berbeda dengan kondisi hati dan keadaan yang terjadi di sekelilingku. Aku hanya tidak terbiasa berkompromi dengan sikap dan sifat temen-temen baruku yang mungkin sudah menjadi trademarknya. Di kelas, aku bisa berkompromi dengan sifat Ayu yang manja, dengan Unyil yang—kala itu—terlalu manut ma cowonya, serta arogansi-arogansi temenku dalam sesi diskusi dan dialog. Aku bisa berkompromi dengan semua keadaan yang tidak menyamankan itu setelah sekian lama mencoba menyelami mereka. Aku kemudian tau bahwa pada awalnya, ciri khas setiap orang tidaklah selalu menyenangkan di mata orang lain. Tapi dengan berjalannya waktu, kemauan untuk berpikir kompromistis, serta keinginan untuk berpikiran luas sedikit banyak berhasil membuat aku lebur dalam karakter-karakter temen2ku..
Jadi sebenere tidak perlu terlalu diherankan jika kemudian aku masih merasa gerah dengan kebiasaan atau sikap temen-temen baruku. Aku hanya tidak terbiasa, dan untuk hal ini aku sebenernya tidak harus terlalu ambil pusing, sebab SANGAT MUNGKIN temen-temen baruku juga tidak menyukai sikap maupun kebiasaanku. Jadi sebenerenya impas ajah…Setiap orang masih berada dalam tahap awal-awal kompromi dengan suasana dan orang-orang baru.
Otya, tentang judul di atas,,aku sebenernya mulai mergukan banyak hal. yang pertama aku merasa bahwa MK 4 SKS adalah MK yang menuntut curahan perhatian dan forsir otak serta tenaga yang tidak main-main. Aku tentu tidak akan pernah melupakan MK-MK berSKS lebih dari 2 yang cukup supportif dalam membuat aku sebagai akademisi kagok yang taunya hanya berkutat dengan lembaran-lembaran yang bagiku sangat membosankan. MK Bahasa Inggris, smt 2 dengan pengampu Pak Yusron. Bukan main melelahkan, meski hasilnya juga sangat menggembirakan. Hehehehe. Terus MK Bahasa Arab Pak Mustaqim, juga di semester II dan MK MPH semester kemarin yang bener-bener melelahkan…..
Jadi seharusnya, dalam pikiranku sebelumnya, Kuliah Lapangan yang bernama KKN ini juga akan semelelahkan seperti MK-MK yang pernah aku ambil itu. Oooppss, tapi ternyata kelelahan hanya berada dalam aktivitas bolak-balek kos-beskemp yang aku lakukan tiap hari. Mentog di situ. Ya, sementara bisa kukatakan bahwa semuanya masih mentog di situ. Sampae di beskemp, aku kebanyakan diem, tura-turu ga jelas, dan paling mentog ol. Kalo lagi bagian piket ajah, aku baru ngasih bimbel atau ngajari TPA. Selain itu masih ada lagi acara-acara RW setempat yang jane tidak terlalu padat. Jadi kesimpulannya, KKN ITU NYANTAI BANGET…
Keadaan yang demikian ini sangatlah suportif pada aku yang memiliki tensi kemalasan di atas rata-rata. Jadinya ya…aku merasa belum merasakan KKN yang sesungguhnya. Dan penyebabnya bisa jadi banyak hal. yang pertama akunya yang terlalu malas, dan yang kedua keadaan yang juga mendukung. Dua faktor ini bisa saja sama-sama bener. Tapi PR urgentku sebenernya adalah berdamai dengan diri dan kemalasanku sendiri. Aku sudah bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti, aku akan menyesal karena tidak mengoptimalkan waktu satu setengah bulan ini. Ya, prediksi itu ada..meskipun tensi kemalasanku sangat banget mengalahkannya. Aku masih hanya berpangku tangan dan melakukan pekerjaan sekenanya…
Aku bahkan merasa produktivitasku malah menurun drastis di tempat yang sebenernya bisa aku maksimalkan dengan baik itu. Sebuah buku yang selalu kutaruh dalam tas ke manapun aku pergi itu bahkan belum aku sentuh sama sekali. Padahal aku tau, aku harus segera menyelesaikan tugasku secepatnya sebelum aku disibukkan dengan berbagai hal lain. Aku merasa sulit untuk bisa akrab dengan lingkungan sekitarku. Dengan dinding-dinding kamar yang baru, dengan aroma yang sama sekali baru, dengan asap rokok yang kerap mengepul, dengan tuts-tuts yang belum aku kenal dan dia pun belum mengenalku, dan semuanya. Sebab itulah kemudian, temen-temen baruku mencium gelagatku yang selalu bersorak kegirangan setiap mendengar kata P-U-L-A-N-G. ya, sebab aku sangat merindukan romantikaku dengan kamarku, dengan dinding-dindingnya, dengan warnanya yang acak adut, dengan keadaannya yang tidak selalu rapi, dengan langit-langit yang kerap aku ajak bicara, dan dengan semua keadaan yang sudah lama mengenalku….
Tentang cerita di tempat KKNku, utamanya di beskemp, belum ada banyak hal yang berubah. Semuanya masih normal seperti biasa. Roby sudah mulai memiliki temen yang juga ikut bermalam di kamar sempit itu…Selalu ada yang mengubah dan mengupdate papan putih dan menggantinya dengan nama-nama baru setiap harii. Belakangan aku juga merasa was-was karena beredarnya isu-isu yang tidak mengenakkan seputar pembacokan atau apalah namanya yang kabarnya sudah menjamah daerahku. Sebab itu pulalah, kemarin malam (23/7/10) aku pulang beriringan dengan tiga motor, yakni motor Paijo, Wildone, dan Huda. Sugestku bener-bener akan melayang ke mana-mana mendengar kata pembacokan. Mau ngapa-ngapain kerasa was-was. Semalem (24/7/10) juga aku ma Vita pulang beriringan dengan motor Paijo. Ya ga gitu takut sich, karena pas itu Malam Minggu jadi jalanan cukup ramai.
Saat ini, aku boleh-boleh aja menunggu kapan masa KKN ini akan selesai. Tapi jauuuuuuuuuuuuuuh di bilik kejujuranku, aku pun yakin, suatu saat akan ada alasan yang membuat aku merindukan masa-masa ini. Dan aku belum tau alasan itu apa. Hehehehe.
Sebenere wajar ajah jika kemudian aku merasakan banyak hal yang berbeda dengan kondisi hati dan keadaan yang terjadi di sekelilingku. Aku hanya tidak terbiasa berkompromi dengan sikap dan sifat temen-temen baruku yang mungkin sudah menjadi trademarknya. Di kelas, aku bisa berkompromi dengan sifat Ayu yang manja, dengan Unyil yang—kala itu—terlalu manut ma cowonya, serta arogansi-arogansi temenku dalam sesi diskusi dan dialog. Aku bisa berkompromi dengan semua keadaan yang tidak menyamankan itu setelah sekian lama mencoba menyelami mereka. Aku kemudian tau bahwa pada awalnya, ciri khas setiap orang tidaklah selalu menyenangkan di mata orang lain. Tapi dengan berjalannya waktu, kemauan untuk berpikir kompromistis, serta keinginan untuk berpikiran luas sedikit banyak berhasil membuat aku lebur dalam karakter-karakter temen2ku..
Jadi sebenere tidak perlu terlalu diherankan jika kemudian aku masih merasa gerah dengan kebiasaan atau sikap temen-temen baruku. Aku hanya tidak terbiasa, dan untuk hal ini aku sebenernya tidak harus terlalu ambil pusing, sebab SANGAT MUNGKIN temen-temen baruku juga tidak menyukai sikap maupun kebiasaanku. Jadi sebenerenya impas ajah…Setiap orang masih berada dalam tahap awal-awal kompromi dengan suasana dan orang-orang baru.
Otya, tentang judul di atas,,aku sebenernya mulai mergukan banyak hal. yang pertama aku merasa bahwa MK 4 SKS adalah MK yang menuntut curahan perhatian dan forsir otak serta tenaga yang tidak main-main. Aku tentu tidak akan pernah melupakan MK-MK berSKS lebih dari 2 yang cukup supportif dalam membuat aku sebagai akademisi kagok yang taunya hanya berkutat dengan lembaran-lembaran yang bagiku sangat membosankan. MK Bahasa Inggris, smt 2 dengan pengampu Pak Yusron. Bukan main melelahkan, meski hasilnya juga sangat menggembirakan. Hehehehe. Terus MK Bahasa Arab Pak Mustaqim, juga di semester II dan MK MPH semester kemarin yang bener-bener melelahkan…..
Jadi seharusnya, dalam pikiranku sebelumnya, Kuliah Lapangan yang bernama KKN ini juga akan semelelahkan seperti MK-MK yang pernah aku ambil itu. Oooppss, tapi ternyata kelelahan hanya berada dalam aktivitas bolak-balek kos-beskemp yang aku lakukan tiap hari. Mentog di situ. Ya, sementara bisa kukatakan bahwa semuanya masih mentog di situ. Sampae di beskemp, aku kebanyakan diem, tura-turu ga jelas, dan paling mentog ol. Kalo lagi bagian piket ajah, aku baru ngasih bimbel atau ngajari TPA. Selain itu masih ada lagi acara-acara RW setempat yang jane tidak terlalu padat. Jadi kesimpulannya, KKN ITU NYANTAI BANGET…
Keadaan yang demikian ini sangatlah suportif pada aku yang memiliki tensi kemalasan di atas rata-rata. Jadinya ya…aku merasa belum merasakan KKN yang sesungguhnya. Dan penyebabnya bisa jadi banyak hal. yang pertama akunya yang terlalu malas, dan yang kedua keadaan yang juga mendukung. Dua faktor ini bisa saja sama-sama bener. Tapi PR urgentku sebenernya adalah berdamai dengan diri dan kemalasanku sendiri. Aku sudah bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti, aku akan menyesal karena tidak mengoptimalkan waktu satu setengah bulan ini. Ya, prediksi itu ada..meskipun tensi kemalasanku sangat banget mengalahkannya. Aku masih hanya berpangku tangan dan melakukan pekerjaan sekenanya…
Aku bahkan merasa produktivitasku malah menurun drastis di tempat yang sebenernya bisa aku maksimalkan dengan baik itu. Sebuah buku yang selalu kutaruh dalam tas ke manapun aku pergi itu bahkan belum aku sentuh sama sekali. Padahal aku tau, aku harus segera menyelesaikan tugasku secepatnya sebelum aku disibukkan dengan berbagai hal lain. Aku merasa sulit untuk bisa akrab dengan lingkungan sekitarku. Dengan dinding-dinding kamar yang baru, dengan aroma yang sama sekali baru, dengan asap rokok yang kerap mengepul, dengan tuts-tuts yang belum aku kenal dan dia pun belum mengenalku, dan semuanya. Sebab itulah kemudian, temen-temen baruku mencium gelagatku yang selalu bersorak kegirangan setiap mendengar kata P-U-L-A-N-G. ya, sebab aku sangat merindukan romantikaku dengan kamarku, dengan dinding-dindingnya, dengan warnanya yang acak adut, dengan keadaannya yang tidak selalu rapi, dengan langit-langit yang kerap aku ajak bicara, dan dengan semua keadaan yang sudah lama mengenalku….
Tentang cerita di tempat KKNku, utamanya di beskemp, belum ada banyak hal yang berubah. Semuanya masih normal seperti biasa. Roby sudah mulai memiliki temen yang juga ikut bermalam di kamar sempit itu…Selalu ada yang mengubah dan mengupdate papan putih dan menggantinya dengan nama-nama baru setiap harii. Belakangan aku juga merasa was-was karena beredarnya isu-isu yang tidak mengenakkan seputar pembacokan atau apalah namanya yang kabarnya sudah menjamah daerahku. Sebab itu pulalah, kemarin malam (23/7/10) aku pulang beriringan dengan tiga motor, yakni motor Paijo, Wildone, dan Huda. Sugestku bener-bener akan melayang ke mana-mana mendengar kata pembacokan. Mau ngapa-ngapain kerasa was-was. Semalem (24/7/10) juga aku ma Vita pulang beriringan dengan motor Paijo. Ya ga gitu takut sich, karena pas itu Malam Minggu jadi jalanan cukup ramai.
Saat ini, aku boleh-boleh aja menunggu kapan masa KKN ini akan selesai. Tapi jauuuuuuuuuuuuuuh di bilik kejujuranku, aku pun yakin, suatu saat akan ada alasan yang membuat aku merindukan masa-masa ini. Dan aku belum tau alasan itu apa. Hehehehe.
Hmhm...
adventure of me..
